
Alunan lembut musik orkestra terus mengisi dan mengiringi semua keramaian tertata di dalam aula. Para ladies dan gentleman terus saling melempar obrolan membosankan dengan sesekali tawa sopan mereka mengikuti.
Kejadian menegangkan beberapa saat lalu, seolah tidak pernah terjadi ketika melihat bagaimana keadaan aula yang sekarang tampak baik-baik saja.
Ferdinand yang terus menyesap isi gelasnya, terus melebarkan arah pandangnya ke setiap sudut aula. Kedua mata tajamnya mengintai, mencari sambil terus memasang telinga lebar-lebar.
Di sebelah Ferdinand, Francesca pun sama. Francesca terus melebarkan arah pandangnya ke segala sudut aula untuk mencari keberadaan seseorang. Seseorang yang belum juga menunjukkan batang hidungnya.
"Apa wanita itu tidak datang?"
Dengan tangan yang terus menggoyangkan gelasnya, Ferdinand akhirnya bersuara.
"Apa pria itu tidak datang?"
Francesca yang di tanya, ikut bertanya. Lalu menyesap isi gelasnya.
"Pria itu ada, tadi dia selalu melihatmu dari atas"
Ferdinand berucap acuh sambil melihat seseorang yang baru masuk dan langsung membuat kerumunan para Ladies menyerbunya. Kedua mata Ferdinand memicing tajam.
"Dan wanita itu ternyata datang"
Gumana Francesca membuat Ferdinand semakin memicingkan kedua matanya pada kerumunan yang baru terkumpul. Kerumunan seperti lebah yang langsung bisa mencium aroma bunga yang kaya akan nektar.
Dengan wajah datarnya, Francesca menepuk tangan Ferdinand dengan pelan sambil berbisik
"Pergilah.. itu pasti dia"
Dengan santai, tangan Francesca meletakkan gelasnya pada sembarang meja. Ferdinand terus menatap kerumunan mangsanya sambil berucap
"Kau yakin?"
Francesca tidak menjawab lagi pertanyaan Ferdinand. Dirinya langsung melangkah pergi saat bisa melihat seseorang yang di tunggunya muncul dan langsung menuju ke arah balkon.
Langkah Francesca yang sudah meninggalkannya, membuat Ferdinand dengan cepat menandaskan anggurnya, meletakkan gelasnya, lalu ikut melangkah menuju mangsanya.
Langkah anggun Francesca terus bergerak, mengabaikan semua mata liar para pria yang menatapnya. Mengabaikan tatapan penuh penilaian dan kipas-kipas para ladies yang terbuka karnanya.
"Anda ingin bergabung Ratu Francesca?"
Langkah Francesca terhenti sejenak untuk menatap Feroca yang bertanya. Arah pandang Francesca menatap semua wajah-wajah pria yang berkumpul bersama Feroca.
"Saya ingin menghirup udara di luar"
Tanpa memperdulikan mulut Feroca yang sudah terbuka untuk kembali berucap, Francesca kembali berjalan lurus. Melewati dan mengabaikan semua senyuman ramah dan sapaan untuknya.
Hembusan angin terus menerpa rambut coklat keemasannya. Sebelah tangannya terus bertumpu di pinggiran balkon aula istana dengan sebelah tangan lagi yang terus menjepit cerutunya.
__ADS_1
Suara pergerakan kaki terlatih yang tiba-tiba di rasakan instingya, membuat Ryes menyesap kembali cerutunya. Menunggu kaki itu menuju padanya.
Detik-detik Ryes terus menunggu hingga langkah kaki itu berhenti di sebelahnya.
Hembusan angin kembali menerpanya. Menghantarkan aroma manis buah persik dan aroma samar sensual bungan jasmin. Ryes akhirnya menoleh karna jeratan aroma yang menyenangkan hidungnya
"Your Majesty?"
Dengan cukup terkejut, Ryes langsung menegakkan punggungnya sambil menatap ke lurus ke sebelahnya. Pada Francesca yang dengan tenang hanya berdiri diam sambil menatap ke depan.
"Duke Hasting...."
Suara datar dan raut wajah tidak terbaca Francesca membuat Ryes menatapnya penuh selidik. Francesca yang terus di tatap akhirnya memutar tubuhnya. Membuat tubuh mereka sudah saling berhadap-hadapan. Saling menatap wajah masing-masing dengan angin yang terus membawa aroma mereka. Saling menghantarkan aroma menggoda di indra penciuman mereka masing-masing
Sebelah alis Ryes terangkat saat Francesca terus menatapnya dengan dalam. Tubuhnya mulai terasa terbakar di terpaan angin dingin yang berhembus semakin kencang.
Dengan tenang dan tanpa berucap apapun, tangan indah Francesca terulur. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Francesca memberikan tangannya pada seorang pria asing.
Ryes menarik separuh bibirnya dan dengan cepat melempar begitu saja tembakau yang baru terbakar separuh di jemarinya. Dengan arah pandang yang terus menatap lekat wajah Francesca. Ryes langsung menurunkan punggungnya, menyambut lengan yang sangat terasa lebut di tangannya, menundukkan sedikit kepalanya dengan sopan, lalu mendaratkan bibirnya di tangan Francesca tanpa melepas tatapannya.
"Selamat malam, Your Majesty Ratu Francesca"
Tatapan dan sentuhan Ryes langsung menjalar ke sekujur tubuh Francesca. Dengan tangan yang masih ada di dalam genggaman lembut Ryes, dengan kedua mata yang terus di kunci tatapan Ryes, bibir ranum Francesca terbuka. Berucap dengan lembut dan mendayu.
"Selamat malam Duke Hasting"
Dengan sangat enggan, Ryes akhirnya dengan sopan melepas tangannya. Menegakkan punggungnya dengan kedua mata yang terus menatap Francesca dengan lekat
"Apa yang sedang anda lakukan di sini Your Majesty?"
Francesca kembali memutar tubuhnya ke arah depan. Wajah datarnya menatap ke arah taman di balkon dengan suara yang terdengar
"Mencarimu"
Kedua alia Ryes terangkat tinggi karna Francesca kembali berhasil mengejutkannya. Ryes ikut memutar tubuhnya, untuk ikut menatap ke arah taman di balkon dengan kedua tangan yang bertumpu di pinggiran balkon
"Dan... ada kepentingan apa anda mencari saya, Your Majesty?"
Angin kembali berhembus kuat. Membuat rambut mereka bertebangan dengan kuat. Membuat kedua mata Ryes tertutupi rambutnya yang tidak di tatanya dengan kaku. Membuat serpihan rambut Francesca yang menjuntai dari tatanan rambutnya bergerak kuat.
Dengan dada begemuruh penuh amarah, separuh sudut bibir Francesca terangkat sambil berucap dengan lembut
"Menikalah denganku, Duke Hasting"
Suara lembut sayup-sayup Francesca yang terbawa angin berhembus, membuat kepala Ryes langsung menoleh padanya. Arah pandangnya menatap Francesca dengan lekat dan waspada, meski tidak ada yang tahu jika jiwa Ryes sudah sangat terguncang karna ucapan Francesca.
"Apa ini sebuah lamaran? Dari seorang...." Ryes menjedah dan menatap setiap lekuk kulit berkilau lembut Francesca. "Ratu luar biasa Francia?"
__ADS_1
Francesca kembali memutar tubuhnya, kembali membuat tubuh mereka berhadap-hadapan. Dengan wajah datar dan tatapan dingin mempesonanya, Francesca mendekat pada Ryes yang hanya bisa membeku di bawah mantra tatapan Francesca.
Tangan Francesca terulur memainkan kancing-kancing kemeja dan cravat yang mencekik leher tampan Ryes. Terus bergerak pelan, bermain-main di dada bidang yang terbalut rapih setelannya. Kepala Francesca terangkat dan... tersenyum?
Lagi-lagi, untuk pertama kali dalam hidupnya, Francesca melakukan hal yang tidak pernah dirinya lakukan. Bibir ranumnya yang tersenyum tipis kembali terbuka dan berucap
"Apa aku kurang memuaskan?"
Dengan susah payah Ryes menguk ludahnya. Sial! Ryes tidak pernah merasa segugup ini dalam hidupnya. Pertama kali dalam hidupnya Ryes hanya bisa terkunci di dalam mantra suara, tatapan, sentuhan, dan terlebih senyum seorang perempuan. Ryes menarik nafas dalam untuk meraup ketenangannya, lalu berucap tegas
"Anda sempurna"
Kedua mata Ryes melebar saat tangan Francesca dengan cepat merubah arah dari Cravat-nya menuju ke tengkuk Ryes. Menarik keras tengkuk Ryes hingga wajah mereka sangat dekat, hingga hembusan nafas mereka saling menerpa wajah mereka, hingga mereka saling bisa menyelami dengan lekat kedua mata dan tatapan mereka.
"Kalau begitu, menikalah denganku. Miliki aku untukmu, Duke... Ryes"
--000--
Di sisi lain, setelah bisa melihat celanya. Ferdinand segera melangkah menuju seorang wanita paruh baya yang masih tampak luar biasa cantik di usianya. Mengingatkan Ferdinand pada aunty dan ibunya.
Dengan dada yang mulai terbakar amarah, Ferdinand mendekat dan terus mendekat sambil tersenyum tampan dan mempesona tanpa peduli pada semua tatapan yang di berikan oleh para ladies untuknya.
"Putri Delana...."
Suara berat maskulin seorang pria langsung membuat Delana menoleh. Memutar tubuhnya untuk menatap asal suara yang langsung menarik minatnya.
Kedua mata Delana berbinar saat sudah bisa melihat seluruh lekuk tampan wajah Ferdinand. Terlebih saat mata penuh penilainya, bisa menangkap setiap lekuk otot-otot keras Ferdinand yang tidak bisa tersamarkan dengan baik di balik setelan pangerannya.
Dengan senyumnya yang semakin menyilaukan, Ferdinand munduk sopan sambil menengadahkan tangannya. Meminta tangan Delana yang tanpa perlu berpikir langsung memberikan tanganya pada Ferdinand.
Ferdinand mengunci kedua mata penuh minat Delana dengan tatapan dan senyum bajingannya. Senyum yang langsung membuat Delana terbakar dengan pikiran yang langsung melayang ke atas ranjang. Terlebih, saat bibir merah tebal Ferdinand mengecup dengan dalam tangannya, lalu berucap dengan suara berat
"Selamat malam, Putri Delana"
...****...
\=\=\=💙💙💙💙
Jangan lupa like dan komennya... silahkan tinggalkan jejaknya...
__ADS_1