Bloody Crown

Bloody Crown
BC 35


__ADS_3

Dengan tergesah dan tidak sabaran, Ferdinand mulai memacu kakinya untuk berlari.


Dadanya berbegup kencang karna rasa membucah bahagia yang sudah sangat ingin memeluk tubuh istrinya


Satu minggu? dua minggu? atau tiga minggu dirinya tidak melihat istrinya? Entalah... tapi rasanya bagaikan sudah satu tahun Ferdinand tidak melihat Anastasia.


Anastasia yang sedang berada di kamarnya, menatap ke luar jendela sambil mengusapi perutnya yang masih datar. Bibirnya tersenyum meski baru saja mendapati pemandangan yang tadinya, hampir membuat Anastasia melemparkan sepatunya pada mereka.


Ada rasa menghangat di hatinya, saat koneksi perasaan mereka sangat kuat. Yang membuat Ferdinand bisa langsung menemukannya.


Bukan tanpa alasan Anastasia bisa setenang ini saat melihat suaminya yang sedang bermesraan dengan wanita lain. Karna, jika Ferdinand memang ingin macam-macam, tidak mungkin dirinya melakukan itu terang-terangan di istana. Francesca bisa saja langsung memenggal kepala bawah Ferdinand saat Ferdinand memang ingin macam-macam. Lagi pula, Anastasia bisa mendengar sangat jelas permintaan Ferdinand pada wanita tua cantik itu. Permintaan yang bisa mengarah pada kerusakan perlahan di Bosnia


Brakkk!!


Suara pintu yang terbuka kuat membuat Anastasia semakin tersenyum lebar.


Suaminya. Ferdinand yang di yakini Anastasia pasti langsung datang padanya, sudah seperti orang kesetanan melepaskan bajunya.


"Kau bisa merusak kancing-kancing bajumu Dinand"


Persetan! Ferdinand tidak peduli dan ingin segera, secepatnya, melepaskan baju sialan yang sudah menempel aroma wanita lain.


Setelah berhasil melepas baju sialannya. Kaki Ferdinand langsung berlari menuju Anastasia yang sudah membuka kedua tangannya.


Kedua tangan kokoh Ferdinand mendekap kuat tubuh istrinya. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Anstasia sambil menghirup nafas dalam-dalam.


"Kenapa tidak memberi tahuku jika kau pulang, sayang?"


Anastasia terkekeh geli saat lehernya mulai di gigiti kecil


"Kejutan....."


"Aku sangat merindukanmu"


Dengan tangan yang sudah mengusapi kepala dan punggung polos suaminya, kepala Anastasia mengangguk


"Aku tahu... aku juga merindukanmu"


Sambil terkekeh girang karna mendengar uncapan rindu istrinya, kedua tangan Ferdinand dengan sekali gerakan mengangkat bokong istrinya.


"Dinand!!"


Kedua kaki Anastasia dengan cepat hanya bisa melingkar di pinggang suaminya.


Dengan tergesah, Ferdinand meletakkan bokong Anastasia di atas meja rias. Sedikit merenggangkan pelukanya, lalu menatap wajah Anastasia


"Aku ketakutan. Aku pikir kau akan marah"


Dengan arah pandang yang sudah saling menatap dalam, dengan tangan yang sudah saling memebelai wajah. Anastasia mengecup singkat bibir Ferdinand lalu berucap


"Aku mencintaimu"


Tidak butuh waktu lama untuk Ferdinand langsung melahap bibir istrinya. Lalu mulai menghujami seluruh wajah Anastasia dengan ciumannya. Yang membuat Anastasia kembali terkekeh geli


"Aku lebih mencintaimu, Ana"


Setelah berucap, bibir Ferdinand kembali melahap bibir Anastasia. Memangut lembut dengan penuh kerinduan.


Anastasia membalas pangutan penuh kehangatan suaminya. Membalas rasa rindu luas yang tidak bisa mereka gambarkan hanya dengan kata-kata.


Dengan tergesah, tangan Ferdinand mulai menjalar. Mencoba menyusup di dalam tali-tali gaun Anastasia. Dirinya butuh hal yang lebih dari hanya sekedar ciuman. Rasa rindunya perlu penuntasan yang sempurna.


Merasakan sesuatu yang sudah mengganjal miliknya, Anastasia dengan suka rela semakin membuka kakinya. Tanganya ikut meraba serta membelai apapun yang bisa di sentuhnya pada tubuh Ferdinand


"Aku benar-benar membutukanmu sayang"


Kepala Anastasia mengangguk paham sambil mengigit bibirnya saat dengan nakal, Ferdinand menggesek gundukannya yang sudah mengeras. Posisi Anastasia yang duduk dengan kaki terbuka lebar membuat Ferdinand semakin leluasa untuk menggoda.


"Ana... Anastasia"


Kedua mata Anastasia terpejam sambil menahan d*s*hannya saat jari-jari Ferdinand sudah tiba di miliknya. Membelai lembut, yang membuat seluruh kesadaran Anastasia terbang melayang hilang.


"Dinand..."


"Kau selalu cepat sekali basah sayang"


Tangan Anastasia yang tidak ingin kalah langsung masuk ke dalam celana Ferdinand. Meremas lembut sesuatu yang sudah bangun dan mulai sangat keras


"Kau juga cepat sekali keras sayang"


Ferdinand mengerang saat tangan di dalam celananya semakin bergerak, meraba seluruh bagian batangnya.


Mati-matian Anastasia menahan erangannya saat merasakan jika jari Ferdinand sudah masuk ke rahasia paling tersembunyinya.


"Jangan... jangan rusak rambut dan gaunku, Dinand"


"Aku tahu... dan sekarang apa yang harus ku lakukan sayang?"


Dengan tubuh yang sudah luluh lantah, Anastasia berucap dengan susah payah


"K-kau... harus... harus... cepat. Agar bisa kembali ke pesta"


Secepat kilat. Ferdinand menurunkan celananya tanpa menarik sebelah tangnnya yang masih bersarang di dalam Anastasia. Jaringa terus bergerak lembut dan sangat hati-hati. Gerakan yang semakin membuat istrinya pening, perlakuan yang mulai membuat Anastasia melayang


"Aku akan bermain cepat"


Kepala Anastasia mengangguk pasrah dengan kedua matanya yang hanya bisa menutup. Mulut Anastasia yang mulai tersengal kesulitan berucap mengingatkan dengan susah payah

__ADS_1


"Jangan... terlalu keras. Jangan membuat....tanda. Dan.. dan tolong buang di luar, Dinand"


Meski ada sejumpuk pertanyaan yang ingin Ferdinand ucapkan, tapi dirinya lebih memilih untuk mengunakan mulutnya pada hal lain. Menikmati leher jenjang istrinya lalu kembali memangut bibir Anastasia adalah hal yang paling di butuhkan Ferdinand.


"Apa aku harus masuk sekarang sayang?"


Ferdinand menatap Anastasia yang akhirnya kembali membuka kedua matanya. Manatap wajah Anastasia yang sudah memelas dengan semua kabut gairah di kedua matanya


"Masuklah sayang. Aku sangat menginginkanmu Dinand... Please.."


Sulutan api yang di berikan Anastasia pada kobaran gairah membara Ferdinand, membuat suaminya yang memang sudah tidak tahan itu langsung menyatukan milik mereka. Dengan perlahan dan penuh kasih sayang, Ferdinand mendorong dirinya untuk masuk


Sialan!


Ferdinand hanya bisa mengerang melayang saat rasa Anastasia langsung menyelimuti miliknya.


Anastasia hanya bisa mend**ah luluh lantah saat rasa Ferdiand sudah ada di dalamnya.


"Ohh... Dinand..."


"Ana.... ohh Ana....."


--000--


Tangan piawai Ferdinand membantu Anastasia untuk mengikat kembali tali-tali di gaun belakang istrinya. Sesekali bibir Ferdinand mendarat di punggung, kedua bahu, dan leher istrinya.


"Kenapa aku merasa ini sedikit lebih besar"


"Aahh... Dinand!"


Ferdinand terkekeh dan kembali mer**as sebelah dada Anastasia. Anastasia menepuk kuat tangan yang ada di dadanya sambil mengingatkan


"Dinand..."


"Aku belum puas. Kau belum cukup"


Dengan malas Anastasia memutar bola matanya


"Kau memang tidak pernah cukup"


"Tentu-" Dengan tangan yang akhirnya selesai mengikat dan mempebaiki kancing belakang Anastasia. Bibir Ferdinand medekat dan berbisik serak di sebelah telinga istrinya. "Kau selalu membuatku gila sayang. Aku tidak akan pernah bisa cukup"


"Kau harus kembali ke pesta"


Ferdinand mencebik tidak suka dan langsung memutar tubuh Anastasia. Hingga tubuh Anastasia menghadapnya lalu menatap Anastasia dengan wajah cemberut


"Tidakkah kau kasihan pada suamimu ini? aku masih ingin sayang"


Kembali, Anastasia memutar bola matanya dengan malas.


"Kembalilah ke pesta. Temani Frances"


TOK TOK TOK


"Your Highness"


Anastasia terkekeh geli sambil mengusapi kerutan di wajah Ferdinand.


"Pergilah Dinand. Waktu kita masih panjang"


"Ck! Ak-"


"Setelah pesta. Aku akan menjadi istri yang baik dan pengertian"


Dengan sangat patuh, seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, Ferdinand langsung mengangguk


"Baik, Your Highness... Setelah pesta tolong jangan lupakan ucapan anda. Awas jika aku tidak di layani dengan baik"


Anastasia terkekeh geli sambil mengangguk. Tangannya kembali merapikan jas Ferdinand yang sedikit berkerut


TOK TOK TOK


"Your Highness"


"Iya keparat! aku tahu!!"


"Jangan terlalu kasar pada Solar, Dinand. Dia hanya menjalankan perkerjaannya"


Dengan malas Ferdinand memutar bola matanya, lalu mendaratkan ciumam dalam pada bibir Anastasia.


"Aku pergi dulu. Istrihatalah"


Anastasia mengangguk patuh. Karna sepertinya, dirinya memang harus menumpuk tenaga agar nanti bisa melayani suaminya dengan sempurna. Suaminya yang ganas dan sudah sangat haus belaian


"Ok..."


--000--


George kembali mengeratkan kedua tangannya sambil menunduk di depan altar. Suara hatinya terus berdoa, memohon, dan berserah pada si pemilik alam semesta. Pada sang pencipta yang mengatur dan mencintakan segalanya


Edward yang menunggu di salah satu kursi kapel kembali menatap altar yang hening. Lalu kembali melirik George. Entah apa yang sedang di takutkan George, tapi Edward yakin. Jika mungkin akan ada sesuatu yang bisa menyakiti orang-orang tersayang mereka.


Akhirnya, Edward kembali ikut memenjamkan kedua matanya. Kembali akan ikut memohon dalam doanya.


"Ed, jagalah istana"


Edward yang baru saja akan kembali berdoa langsung membuka kedua matanya. Meski tidak tahu apapun yang sedang di risaukan George, tapi Edward dengan sangat patuh mengangguk

__ADS_1


"Baik tuan"


--000--


Ketenangan Francesca terganggu saat melihat Tomy yang akhirnya datang dengan raut wajah muram.


Sesuatu terjadi!


Dengan cepat Tomy menaiki tangga dan langsung membisikan sesuatu. Bisikan yang juga bisa langsung terdengar oleh Carl, dan Gregory.


"Kenapa bisa?"


"Maafkan kami, Your Majesty"


Dengan cepat Francesca berdiri dari kursi tahtanya, lalu melangkah untuk menuruni tangga.


Gerak gerik panik dan raut wajah Francesca yang semakin dingin, membuat Ryes yang memang tidak pernah melepas pandangnnya pada Francesca, langsung mengikuti langkah Francesca.


Dengan dada berdebar kuat karna merasa kecolongan, Francesca langsung melepas mahkotanya. Memegang kuat mahkotanya dengan tangan yang mulai gemetar. Kakinya dengan cepat menuju camp kesatria bersama Tomy, Gregory, dan Carl.


"Katakan pada Ferdinand untuk membubarkan pesta. Dan katakan pada para tamu yang datang dari luar untuk tidak membali ke rumah asal mereka malam ini"


Dengan paham, Carl langsung mengangguk


"Baik Your Majesty"


Carl langsung berlari untuk menuju ke arah kamar utama, tempat di mana mungkin Ferdinand berada. Mengabaikan keberadaan Ryes yang dirinya ketahui, jika sejak Francesca meninggalkan aula, mereka sudah di ikuti Ryes


--000--


Kepala yang terus tertutup kain dengan kedua tangan terikat dan mulut yang di ikat kain itu, akhirnya menggeliat tidak nyaman.


Hentakan kaki kuda masih terus bergerak dengan sangat cepat. Yang membuat gadis itu semakin menggeliat karna belum bisa menyadari apa yang sedang terjadi padanya.


Saat dirinya bisa merasakan tangannya yang terikat, mulut yang di tutup, dan arah pandangnya yang gelap. Gadis itu mulai meronta-ronta dengan panik.


Tidak... jangan lagi...


Teriakan tersumbat gadis itu mulai memenuhi suara di dalam kereta kuda yang sedang melaju kencang.


Tubuh gadis itu semakin meronta-ronta kuat, hingga tidak lama, hentakan kaki kuda memelan. Tapi tidak menghentikan pergerakan gadis itu


Yang membuat pria di depannya akhirnya menarik penutup kepala gadis itu.


Kedua mata yang baru saja di bebaskan dari kegelapan kembali mengejap-ngejap. Mencoba memahami keadaan


Hingga lagi-lagi. Dirinya mendapati hal yang pernah terjadi pada dirinya. Lagi-lagi, gadis itu mengalaminya, penculikan.


Dengan cepat pintu kereta terbuka, yang membuat tubuh gadis langsung di tarik untuk ikut keluar


Gadis itu kembali mencoba meronta dan beriak dengan percuma. Hingga kakinya mendarat ke tanah. Arah pandangnya melebar. Selain akhirnya bisa memahami jika mereka sedang berada di tengah-tengah hutan, kedua bola mata abu-abunya juga bisa melihat empat kuda besar yang membawa orang-orang berpakaian yang di kenalnya.


"Diam dan menurut"


Hanya itu kata-kata yang di ucapkan pria yang sekarang sudah mengangkat tubuhnya untuk ikut naik ke atas kuda.


Di atas kuda, gadis itu kembali meronta. Yang membuat pria di belakangnya berbisik dingin


"Diamlah Summer. Atau aku akan melemparmu ke tengah-tengah hutan ini"


Tidak ada raut wajah menyebalkan, tidak ada nada penuh candaan yang di bisikan pria itu. Dia serius... tunangannya sangat serius dan tampak... berbeda. Sangat berbeda hingga Summer mulai menggigil takut dan hanya bisa pasrah saat pria itu membawa kuda untuk mulai berlari.


Merasa terus di tatap, tungannya kembali berucap


"Sekali melompat, kau akan ku tinggal dan silahkan menjadi makanan binatang buas di dalam hutan ini, Summer"


Bola mata Summer bergetar. Punggungnya mengggigil karna ngeri meski tunangannya, terus menempelkan tubuh mereka


--000--


Hentakan kaki kuda yang terus bergerak, membuat tangan Delana membuka jendela kereta kudanya.


Arah pandangnya menatap langit malam yang semakin mendung di penuhi awan muram.


Bulan semakin bersembunyi, bintang-bintang semakin hilang, dan pekatnya malam semakin mencekam.


Sebelah tangannya yang terus gemetar mengepal kuat. Dirinya yang hanya bisa pasrah tidak bisa berbuat apapun. Dirinya yang penuh penolakan hanya bisa menurut dan mengikuti, kemana nyawanya bisa selamat. Hanya bisa pasrah pada kubu yang akan menjamin nyawanya.


"Your Highness.. Anda terus gemetaran"


"Akan ada orang yang lebih gemetaran dariku nanti"


Delana berucap datar pada pelayannya yang juga ada di dalam kereta kuda itu. Pelayannya yang hanya bisa ikut gemetaran karna takut


--000--


Setelah membubarkan pesta. Ferdinand bersama Solar dan Carl langsung menuju ke camp kesatria. Menuju tempat di mana Francesca dan yang lain pasti sudah menunggunya.


Saat sedang dalam langkah menuju camp, kepala Ferdinand menatap langit malam yang sangat terlihat sangat mendung. Sangat muram hingga membuat dada Ferdinand berdesir hebat


Rahang Ferdinand mengetat dengan segala desiran buruk yang mulai bersarang di dalam dadanya.


Tidak... tidak lagi...


Ferdinand sangat memohon jika tidak akan ada sesuatu lagi yang akan membuatnya kehilangan orang-orang yang di sayanginya.


\=\=\=💚💚💚💚

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya...


__ADS_2