Bloody Crown

Bloody Crown
BC 39


__ADS_3

Dengan wajah muram dan kantung mata bengkak hingga kedua mata yang juga ikut membengkak, Summer kembali menatap pantulan wajahnya.


Hari sudah pagi, dan dirinya berhasil melewati malam mencekam Helsingr dengan terjaga dan menangis ketakutan, sendirian.


Sekali lagi, Summer mengusap pipinya yang tidak berhenti basah karna air mata. Dirinya semakin ketakukan kala pagi ini, entah kenapa, perasaannya mengatakan akan jauh lebih mencekam dari semalam.


Dengan pendengaran yang terus menangkap suara-suara berisik pembersihan di depan kamarnya, akhirnya Summer membuang nafas panjang. Nafas panjang yang syarat akan rasa lelah dan rasa pasrah.


TOK TOK TOK


"Your Highness"


Tubuh Summer menegang. Dirinya menjadi sangat perasa saat sedikit saja ada suara yang terdengar di sekitarnya. Seperti sekarang, dirinya menjadi sangar ragu untuk membuka pintu kamarnya dan memutuskan untuk bungkam.


Dengan langkah yang sedikit cepat, Summer langsung menuju pintu kamarnya dan dengan cekatan langsung memutar kunci pintu.


Suara kunci pintu yang di putar, tentu membuat pintu kembali di ketuk dari luar. Tapi Summer tidak peduli, dan langsung menuju ranjangnya. Menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut sambil meringkuk menutupi kedua telingannya.


Tidak perlu waktu lama untuk dirinya kembali terisak pilu. Segala doa permohonan dan gumanan akan kerinduan pada ayah dan ibunya kembali bibir terisak Summer ucapakan.


Betapa rindunya Summer pada Fredrick, betapa inginya Summer tidur di atas pangkuan Victoria. Betapa inginnya Summer mengadu pada kedua kakaknya tentang segala ketakutannya tapi, dirinya hanya bisa meringkuk di bawah selimut sambil terisak.


Sendirian... tanpa ada sandaran...


--000--


Tangan Anastasia kembali mengusap perutnya saat George kembali menatap perutnya yang masih datar. Dirinya seolah mengejek George yang sekarang hanya bisa menatap perut Anastasia dengan mata berbinar tanpa berani langcang menyentuh cucu mantunya.


"Berhentilah gapa." Teguran Francesca hanya membuat George mencibik sebal sambil melirik Francesca dengan kesal.


Pemadangan itu, membuat Anastasia tersenyum tipis dengan raut wajah yang terlihat tidak baik-baik saja.


Benar... pagi ini, sebenarnya tidak ada yang sedang dalam keadaan baik-baik saja. Meski mereka mencoba bersikap santai dan tenang, tapi hati dan pikiran mereka sebenarnya tidak ada yang bisa tenang. Hati dan pikiran mereka melayang-layang memikirkan dan merasakan segala hal.


Terlebih untuk para penjaga dan kesatria yang sedetikpun tidak melepas siaga mereka untuk Rembrantd. Sedikitpun mereka tidak ingin terjadi kesalah yang akan berakhir dengan kecerobohan dan kecolongan.

__ADS_1


Setelah menunggu bermenit-menit, akhirnya pintu ruang kerja di ketuk dengan penjaga yang mengumumkan jika yang di tunggu telah tiba, Henry datang.


Dengan wajah kusut, dan nafas sedikit memburu, Henry masuk dengan sopan ke ruang kerja Francesca, lalu berucap dengan suaranya yang terdengar lelah "Maaf saya terlambat, Your Majesty."


Kepala Franceca mengangguk singkat,yang membuat Henry langsung mengambil kursi yang sudah di tarik Jeremmy untuknya.


"Bagaimana?" Tanya Francesca langsung, saat Henry sudah mendaratkan bokongnya.


"Saya sudah mengatur pemulangan tamu, dan mencoba menenangkan keadaan." Francesca mengangguk paham dan cukup puas pada kinerja cepat Henry untuk menenangkan keadaan. "Saya juga sudah memeriksa dan memberikan perawatan terbaik untuk korban terluka dan korban yang meninggal. Santunan sudah saya berikan meski rasa kehilangan mereka tetap akan membekas." Sabung Henry dengan pasrah. "Dan parlement juga sudah bergerak untuk mengembalikan para 'tamu sahabat' kita ke Bosnia tanpa merusak ikatan yang sudah coba kita ikat." Tutup Henry dengan yakin. Dirinya yakin jika pada besan parlement-nya pasti bisa di andalkan dan benar...mereka sangat mengerti situasi tanpa perlu istana banyak menjelaskan, dan dengan cepat bergerak sendiri.


"Baiklah... bagaimana dengan suratku?" Tanya Francesca pada Jeremmy.


"Kami sudah mengirim surat ke Bosnia tentang rencana kedatangan anda, tinggal menunggu tanggapan, Your Majesty." Jawab Jeremmy cepat dan yakin.


Francesca mengangguk singkat. Lalu menatap Anastasia yang tampak serius. "Ana?"


"Iya, Your Majesty?"


"Aku mempunyai pilihan untukmu. Kau masih ingin di sini, atau ingin memilih ku kirim berada di Transia atau Vansia selama mengandung?"


Meski Francesca yakin jika jawaban Anastasia sama seperti apa yang sudah di dengarnya, tapi Francesca tetap menegaskan ini. Walau bagaimanapun, Anastasia berhak memilih dan mengatakan pilihannya dengan segela resiko yang istri Ferdinand itu pasti sudah sangat pahami dengan jelas.


Francesca mengangguk untuk menerima jawaban dan pilihan Anastasia, lalu kembali bertanya pada Jeremmy. "Di mana pangeran Ferdinand?"


"Masih di pelabuhan, Your Majesty. His Highness masih mengurus dan mengatur segala sesuatu di sana, termasuk keamanan pelabuhan dan penumpang tamu yang akan kembali."


"Baiklah.." Tutup Francesca. Lalu beranjak dari kursinya yang di ikuti George, Henry dan Anastasia. "Aku harus melakukan sesuatu." Ucapan yang lebih berupa perintah untuk tidak di ikuti, membuat mereka paham. Berarti hanya Tomy yang akan mengikuti langkah Francesca selanjutnya.


Setelah Francesca keluar, George langsung memutar kursinya seratus delapan puluh derajat ke arah Anastasia. Sama halnya dengan Henry yang langsung berdiri dan berjongkok di samping kursi Anastasia. Membuat Anastasia langsung tersenyum geli. "Sabar..... satu-satu yaaa..." Pinta Anastasia dengan penuh candaan. Dirinya tahu jika dua pria itu terlihat sangat antusias untuk mencari tahu keponakan dan cicit mereka.


George masih hanya diam sambil terus menatap tangan Anastasia yang bergerak membelai perutnya. Sama halnya dengan Henry yang tersenyum sambil menatap perut Anastasia dengan penasaran. Bahkan Henry tidak peduli dengan posisi tidak anggunya yang sedang berjongkok.


"Apa dia sudah bisa bergerak?" Akhirnya George bertanya setelah menahan diri dengan sangat baik.


Anastasia terkekeh pelan sambil menggeleng. "Belum, George. Dia masih sangat kecil."

__ADS_1


"Dia laki-laki atau perempuan?" Henry ikut bertanya konyol dengan raut wajah tidak kalah konyol.


Kekehan pelan Anastasia kembali terdengar sambil menggeleng dan melirik Jeremmy yang sudah memutar bola matanya dengan malas.


Apa-apaan ini. Apa mereka bujangan yang tidak mengerti jika perut Anastasia saja masih sangat datar. Bagaimana bisa sudah bergerak, dan sudah bisa memiliki kelamin?


Anastasia tersenyum lega saat banyak pertanyaan konyol kembali di berikan Henry --pria beranak-- dan, George --seorang kakek-- yang sama-sama seperti bujangan, yang seperti baru melihat kehamilan seseorang.


Setidaknya, keputusan Anastasia untuk memberitahukan kehamilannya dengan meminta Francesca untuk mengumumkan kabar membahagiakan ini secepatnya di tengah kemelut mereka, berhasil dengan bisa sedikit menghangatkan suasana dingin dan penuh beban semua orang.


Meski Anastasia tahu, jika mungkin saja akan banyak resiko yang bisa di dapatnya jika harus tetap menetap di Francia.


***


Ryes, baru saja menghabiskan sarapannya dengan kaki terpasung di sebuah sel. Pria itu tampak santai dan tidak terganggu sedikitpun meski saat menyantap sarapannya, beberapa tikus dan kecoa berlalu lalang menemaninya.


Setidaknya, pagi hari ini cukup menyenangkan dan tidak terasa terbebani Ryes jika di bandingkan saat dirinya berada di Bosnia terlebih Helsingr.


Tidak ada segudang pekerjaan, segunung tanggung jawab, beratus rencana, dan yang terpenting adalah, dirinya tidak harus meladeni dan mesti memuaskan seseorang saat malam hari.


Sebenarnya, kematian raja Feroca untuk Ryes adalah sebuah berkah tapi juga, bencana. Di dalam hati, Ryes diam-diam merasa senang tapi juga, menyimpan kekhawatiran.


Setelah benar-benar menandaskan sarapannya, Ryes langsung melempar begitu saja piring makan dari besi miliknya pagi ini. Setidaknya, Francia masih terbilang manusiawi memperlakukan tawanan mereka. Jauh berbeda jika di bandingkan dengan Bosnia.


Jangankan untuk mendapatkan makanan layak, bahkan untuk minumpun, para penjaga sering memberikan urine mereka.


Sepertinya Ryes akan betah meski hanya terkurung di dalam sebuah tempat lembab bau, dengan di temani serangga dan hewan-hewan menjijikkan. Apa lagi, jika harus di kunjungi seorang bidadari seperti sekarang.


Sebelah sudut bibir Ryes tertarik ke atas. "Selamat pagi, Your Majesty." Sapa Ryes saat melihat Francesca bersama Tomy menuju ke pintu selnya.


Francesca menatap Ryes datar dengan raut wajah tidak kalah datar. "Apa di sini membuat anda betah, Duke Hasting?" Tanya Francesca dengan nada sangat datar saat melihat Ryes yang tanpa peduli, sudah merebahkan tubuhnya ke lantai sambil melipat kedua tangan di atas kepala.


Tomy yang melihat gestur tidak sopan Ryes hanya bisa melirik Francesca. Entahlah, Tomy tidak yakin jika pria seperti Ryes akan bisa menjadi pendamping Francesca yang juga akan mengemban tugas berat. Terlebih, Tomy yakin jika pria seperti Ryes, tidak akan bisa di buat tunduk secara cuma-cuma.


\=\=\=💛💛💛💛

__ADS_1


Silahkan like, komen dan vote-nya....


__ADS_2