Bloody Crown

Bloody Crown
BC 31


__ADS_3

Jika yang di lakukan Regan untuk membunuh waktu adalah menyeret-nyeret Summer untuk menemaninya berkeliling di Francia. Tidak jauh berbeda dengan Ryes yang menyeret kedua temannya untuk mempelajari dan menilai Francia.


Regan yang sedang berada di sebuah toko perhiasan akhirnya bisa tersenyum puas saat melihat Ryes yang akhirnya! demi Tuhan akhirnya! memisahkan diri dari mereka. Dari perjalanan yang Regan sebut dengan kencan.


"Aku tidak perlu perhiasan! ayo pergi bersama Duke Ryes, Regan"


Dengan acuh, Regan mengedipkan kedua bahunya sambil mulai melihat-lihat isi toko


"Regan!"


"Diamlah sayang. Atau aku akan menciumu di sini"


Sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal, Summer menuju ke sebuah sofa yang di sediakan toko untuk tempat para 'penunggu' menunggu.


Ada beberapa ladies yang juga duduk di sebrang sofa tempat Summer meletakkan bokongnya. Sayup-sayup dirinya bisa mendengar ucapan mereka dari balik kipas-kipas terbuka lebar di depan wajah para ladies itu.


Francesca. Topik mereka berisi tentang sidiki acara yang akan berlangsung besok dengan sebagian besar yang membahas kakaknya, Ratu Francia.


Summer sangat menikmati dan larut dalam acara mengupingnya hingga tidak menyadari jika beberapa dari mereka, para ladies sudah membuat fokus tatapan di lain arah.


Dengan malas, Summer memutar kedua bola matanya. Dirinya sedikit terlambat menyadari jika tunangannya sudah di serbu perhatian para ladies. Well... ambil saja pria itu jika mereka menginginkannya. Dengan sangat bersyukur Summer akan memberikannya.


"Terimakasih lady. Anda baik sekali"


Suara Regan membuat Summer jadi menatap Regan. Menatap tunangannya yang sedang bertingkah sok ramah dan tebar pesona.


"Aahh.. anda terlalu memuji my lord"


Satu alis Summer menukik.-- lord? siapa yang sedang bermain peran di sini?


Telinga Summer terus di bukanya dengan sangat lebar. Mendengarkan suara-suara gosip, dan sesekali mendengarkan percakapan Regan yang semakin lama semakin terdengar intens.


"Penginapan? Ohh.. saya juga kebetulan menginap di sana"


"Iya lady. Saya baru tiba hari ini dari Bosnia. Dan karna sekarang di Bosnia sedang krisis barang-barang mewah, saya jadi lebih memilih menyerbu tempat-tempat sosialita Francia. Tapi..." Regan tersenyum mematikan pada wanita di depannya. "Saya sedikit kesulitan memilih kamar"


"Benarkah? kebetulan sekali... jika anda tidak keberatan, saya bisa merekomendasikan kamar terbaik yang mereka miliki, My Lord. Senang sekali mendapatkan teman di satu penginapan"


Percakapan Regan yang sudah menjurus ke acara inap menginap membuat Summer jadi melupakan gosip, dan menaruh perhatian penuh pada Regan.


"Aahh.. anda benar-benar sangat baik hati lady. Nanti kita bisa saling-" Regan sedikit mendekat pada wanita di sampingnya lalu berbisik. "Saling mengunjungi, jika anda tidak keberatan"


"Tentu saja tidak my lord!"


Lady itu tampak tersipu dan langsung menutupi senyumnya dengan malu-malu. Dirinya tampak menunggu Regan tapi Regan hanya tersenyum sambil memilah-milah barang, tidak berniat meminta perkenalan secara gentlemen


Beberapa saat terjadi kecanggungan di antara mereka. Dan Summer menunggu, sejauh mana lady itu akan melanggar batas dan melupakan kehormatannya


Hingga yang di tunggu Summer akhirnya tiba


"My lord, kita belum berkenalan"


Tangan Regan yang baru saja meletakkan sebuah perhiasan kuda langsung bergerak ke arah wanita di depannya.


Dan Summer dengan cepat ikut bergerak


"Sayang..."


Tangan Regan yang baru menengadah ke arah wanita di depannya langsung di sambar Summer. Dengan santai dan dengan senyum merekah di bibirnya, Summer langsung meletakkan tangan Regan ke perutnya. Tidak peduli dengan tatapan semua orang apa lagi wanita di depannya


"Aku lapar sayang. Perutku terus berbunyi"


Entah apa yang di lakukan Summer, tapi perut Regan benar-benar langsung tergelitik sangat geli. Dirinya hanya bisa mengangguk tidak mengerti. Menatap Summer yang sendang tersenyum manis di paksakan.


"Siapa dia my lord?"


Summer langsung menatap si pemilik suara, lalu menatap Regan


"Siapa wanita ini, sayang?"


Kedua sudut bibir Regan berkedut-kedut karna ingin sekali terkekeh


"Ahh.. lady ini-"


"Sayang? apakah dia kekasih anda my lord?"


Hhmm? cukup tidak sopan. Itulah yang di pikirkan Summer untuk wanita di depannya. Wanita yang terlihat matang dan pasti, sudah menikah atau mungkin sudah pernah menikah.


"Aahh... dia-" Regan menjedah dan melirik Summer yang sudah saling menatap dengan wanita di depan mereka. "Dia Summer"


Dahi Summer mengeryit. Si sialan itu ternyata benar-benar menyebalkan.


"Summer?"


Wanita itu berucap sambil menatap setiap jengkal bentuk Summer. Satu alisnya terangkat saat menatap wajah Summer dengan terang-terangan. Sangat lancang!


"Apa Summer ini adik anda? how cute..." Wanita itu tersenyum angkuh pada Summer. "Kapan pesta debutmu lady?"


Mulut Summer langsung menganga lebar. Dirinya benar-benar terkejut dengan ucapan penuh ejekan wanita di depannya. Sedangkan Regan, kedua matanya sudah mengejap-ngejap seolah tidak bisa mencerna dengan baik ucapan jelas wanita di depannya.


Setelah menarik nafas dalam beberapa kali untuk menyerap segala hal yang bernama kesabaran. Summer kembali menatap wanita di depannya. Menyingkirkan tangan Regan yang terus menempel di perutnya. Menaikkan dengan tinggi dagunya. Mengambil gestur anggunya.


"Saya tidak perlu melakukan debut untuk di perkenalkan lady"


Melihat betapa sombongnya gestur Summer, lady di depannya ikut mengambil gesturnya. Yang membuat alis Summer mengerut dalam


Dengan dagu terangkat tinggi, lady itu menatap Regan sambil tersenyum


"Adik anda sangat lucu dan menggemaskan my lord. Apa benar anda tidak akan mendebutkannya?"


Regan hanya bisa tergagap tanpa bisa menjawab, hingga suara wanita di depan mereka kembali terdengar

__ADS_1


"Lady... anda harus debut. Nanti saat anda sudah melakukan debut, saya akan memperlenalkan para gentlemen pada anda. An-"


"Lancang!"


Bibir Summer berdesis dengan wajah yang sudah merah padam. Dirinya benar-benar menyesal mencoba menyelamatkan wanita itu. Harusnya Summer biarkan saja wanita itu termakan rayuan iblis Regan. Dasar bodoh! sok cantik lagi!


"Iya? anda berbicara pada saya lady?"


"Ck! Memang siapa lagi? anda sangat lancang lady!"


Guratan wajah wanita itu berubah. Seperti siap untuk mencakar wajah Summer.


"Anda yang lancang lady! apa-apaan ini?" Wanita itu menatap Regan yang hanya diam dan dengan santainya hanya menonton mereka. "My lord, apa adik anda memiliki penyakit di dalam kepalanya?"


Melihat keributan yang akan pecah di dalam tokonya. Pemilik toko dan beberapa pengunjung langsung mendekat ke arah wanita lawan Summer


"Lady.... tolong jangan buat keributan" Pemilik toko itu mentap Summer dengan menunduk sopan. "Your Highness.. maafkan saya yang lancang ini. Tapi ijinkan saya untuk mencoba menjelaskan pada lady ini"


"Your Highness?"


Wanita itu terngaga menatap Summer yang sudah tidak peduli, dan malah tampak cemberut manja saat Regan sambil terkekeh mengusap-ngusap rambutnya hingga berantakan


"Iya lady. Mungkin anda pendatang atau tamu Francia. Mereka ini-" Pemilik toko itu memberikan gestur sopannya saat menunjuk Summer dan Regan. "His Highness Pangeran Regan Bosnia dan tunagangannya, Her Highness Putri Summer kami"


--000--


Semakin lama, Ryes yang sedang menikmati cerutunya, semakin merasa jika asap yang di hisapnya terasa hambar.


Obrolan-obrolan di keramaian sebuah tempat pacuan kuda yang di datanginya membuat Ryes semakin lama semakin gerah.


Arah pandangnya melebar. Mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa sedikit mengalihkan perhatiannya dari obrolan para gentlemen yang terus membicarakan seseorang, Francesca. Meski sejauh telinganya terbuka, Regan hanya mendengarkan kata-kata pujian, tapi tetap saja. Rasanya sangat jengah dan mengganggu


Hingga akhirnya, kedua bola mata sebiru samudranya mengangkap dua orang yang di kenalnya. Berjalan beriringan dengan akrab, meski tidak ada sentuhan akrab. Tapi, siapa saja yang melihat mereka pasti tahu jika mereka cukup dekat.


Ferdinand dan Delana. Ternyata mereka berdua siang ini menghabiskan waktu bersama. Benarkan apa yang di katakan Ryes, jika Delana akan sibuk di Francia?


"Sejak kapan mereka begitu?"


Dari ekor matanya, Ryes melirik Benji yang akhirnya bersuara


"Entahlah..."


Kepala Benji mengangguk-ngangguk seperti paham. Lalu kembali berucap


"Ratu es cantik itu sebentar lagi akan menjadi istri orang Rai"


Dengan pelan, Benji berucap sambil memperhatikan respon Ryes. Ryes yang ternyata hanya diam sambil terus menghirup dan menghembuskan asap cerutunya


Benji dan Basco saling melirik sejenak. Lalu Basco menimpali


"Kau yakin, tidak ingin menerima pinangannya Rai?"


"Aku sudah menolaknya"


Jawaban acuh dan tampak tidak menunjukkan arti apapun dari Ryes membuat kedua teman kembar tapi tak serupanya itu cukup terkejut. Hingga wajah mereka berdua tampak terlihat semakin bodoh.


"Kau memang luar biasa Rai. Selain menolak seorang Ratu, kau juga menolak seorang gadis yang sempurna seperti dia"


Basco berucap dengan wajah yang masih tampak tidak percaya. Sedangkan Benji langsung memutar bola matanya dengan malas.


"Sempurna apanya Bas. Gadis itu memang seorang Ratu, tapi sedingin kutub. Uuh! lebih baik Rai mencari wanita yang lebih hangat"


"Atau penghangat?"


Suara pria yang tiba-tiba ikut masuk di dalam obrolan mereka, membuat kepala Benji dan Basco lengsung berputar ke belakang. Sedangkan Ryes tampak tidak peduli


"Akhirnya kami menemukan kalian..."


Suara seorang gadis yang berucap sambil mendaratkan bokongnya di depan kursi Ryes, membuat dua kembar itu saling melirik dalam diam.


"Sepanjang waktu kalian hanya di sini, Rai?"


"Memang mau kemana lagi?"


Ryes menjawab perntayaan Regan dengan acuh. Regan dan Summer yang entah kenapa tiba-tiba datang dan semakin membuat suasana hati Ryes semakin buruk.


"Duke Ryes... apa kau tidak suka jika kami ke sini?"


Summer bertanya dengan suara selembut mungkin. Sebenarnya, Summer tidak terbiasa untuk bersikap sok akrab pada seorang pria, yang dirinya lalukan sekarang. Tapi, Summer penasaran pada pria pilihan Francesca itu.


"Tidak. Anda bisa kemana pun yang anda inginkan, Your Highness"


Senyum di bibir Summer kembali terbit dan mulai menatap Ryes penuh dengan tatapan menyelidik dan menilai. Tatapan yang akhirnya membuat Regan berucap


"Jangan terlalu lama menatapnya, kau bisa terpesona sayang"


Merasa tertangkap basah, kedua mata Summer mengejap sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal sama sekali.


Keheningan di meja mereka terjadi beberapa saat. Hingga suara Basco dan Benji mulai bersorak saat pengumungan kuda mana yang yang nenjadi menang.


"Yeaah! taruhanku menang!"


Dengan malas Basco menimpali


"Yeah... Kau benar Ben"


Dengan raut wajah muram, Basco langsung merobek kertas taruhannya. Sedang kan Ryes langsung menyodorkan kertas taruhannya pada Basco.


Semua mata di meja langsung menatap tangan Ryes. Termasuk Basco yang langsung meyambar kertas yang di sodorkan padanya.


"Aku juga menang!!"

__ADS_1


"Ck! itu bukan menang Bas"


Dengan malas Benji mengingatkan Basco yang lupa diri. Tapi sepertinya, Basco tidak peduli dan langsung berlari menuju ke meja taruhan. Benji yang melihat itu, tidak ingin ketinggalan dan ikut menyusul kembarannya.


Mereka bertiga masih duduk dalam keheningan. Hingga Summer kembali mencoba membuka percakapan.


"Kenapa anda memberikan kertas taruhan anda Duke Ryes?"


Sambil menghembuskan asap di mulutnya dengan jarak yang di jauhkan dari Summer, Ryes hanya mengedipkan kedua bahunya dengan acuh.


"Anda lebih tertatik pada kertas saya dari pada itu?"


Ucapan dan kedipan dagu Ryes. Membuat Summer mengikuti ke arah yang di tunjukkan Ryes.


Setelah melihat, kedua alis Summer langsung mengerut dalam.


"Dinand?"


Gumanan Summer langsung membuat Regan melirik Ryes yang sudah lebih dulu sudah meliriknya. Lalu arah pandang Regan menatap Summer


"Ingin menyapa kakakmu?"


Summer terlihat menimang sebentar, hingga helaan nafas panjangnya berhembus.


"Tidak. Aku sedang marah padanya"


"Kenapa?"


Percakapan antara Regan dan Summer membuat Ryes hanya diam dan memasang telinganya lebar-lebar. Arah pandangnya, kembali menatap sekitar. Hingga tanpa sengaja, tatapannya dan Delana bertemu.


Delana tampak mengeryitkan dahinya sejenak. Lalu mengerling pada Ryes yang hanya membalas kerlingan genit itu dengan tersenyum.


Hingga tidak lama, orang yang berada di sebelah Delana menyadari apa yang terjadi.


Ferdinand. Memasang tampang dan gestur tidak tahu apapun. Melanjutkan pembicaraannya pada seorang gentelmen seolah tidak melihat apapun yang di lakukan Ryes.


Padahal... dirinya memang tidak peduli, dan sebenarnya sudah lebih dahulu tahu keberadaan orang-orang Bosnia serta adiknya yang menyusul datang bersama tunangan keparatnya.


--000--


Setelah melihat jika George sudah menutup table mannernya, mengahabiskan makan siangnya, Edward langsung bergerak cepat menyingkirkan nampan makan George.


Dirinya langsung keluar kamar dan menyerahkan nampan makan itu pada siapun yang lewat.


Hingga dirinya kembali masuk dan langsung duduk di sebuah kursi. George yang sudah berdiri dari kursinya menuju ke depan jendela kamarnya yang terbuka lebar. Membuat hembusan samar angin siang di penghujung musim panas menerpa wajahnya.


"Dia bukan pria biasa George. Aku bisa jamin itu hanya dengan merasakan kehadirannya"


Edward membuka percakapan mereka. Yang membuat kepala George mengangguk singkat.


"Sepertinya memang begitu. Behati-hatilah Ed"


Edward mengangguk patuh. Hingga tidak lama, Edward menangkap tatapan dan raut wajah George yang tampak sama. Tatapan yang sama saat George sedang mengkhwatirkan sesuatu


"Ada apa George?"


"Sesuatu... Sesuatu yang besar akan datang Ed"


Dahi Edward mengeryit


"Kenapa? apa yang akan datang George?"


Jari George terangkat ke atar langit cerah penghujung musim panas.


"Langit cerah akan turun hujan"


Dahi Edward semakin mengeryit hebat


"Apa maksutnya?"


George kembali menurunkan jarinya. Tanganya terlipat ke depan dada dengan arah pandangnya yang menatap jauh ke depan.


"Intuisi ku Ed. Sudah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini"


Tangan Edward menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal tanpa sebab


Apa ini karna efek kembali ke istana jadi membuat George aneh?


"Aku tidak mengerti George. Jelas-jelaslah dalam menjelaskan"


Tangan George kembali menunjuk ke atas langit cerah.


"Keluarga adalah segalanya"


Dengan sabar Edward menunggu lanjutan ucapan George. Tapi, George tetap tidak membuka mulutnya lagi. Yang membuat Edward menjadi sedikit takut.


"Seberapa besar yang akan datang George?"


Gigi George mengerutuk kuat. Beberapa gigi ompongnya terasa ngilu saat bergesekan dengan giginya yang lain. Karna George, benar-benar sedang menahan perasaannya


"Entalah Ed... tapi bisa saja akan ada banyak air mata-" George membuang nafas panjang, lalu kembali berucap. "Sepertinya, aku mulai gila Ed. Istana membuat intuisi ku kembali menajam tanpa sebab" George menoleh pada Edward yang tampak menunjukkan wajah cemas. "Lupakan ucapanku Ed. Ini hanya perasaan yang tidak jelas. Bukan dari intuisi hasil sebuah bukti"


Apa benar begitu? Edward tahu George mengucapkan kata terakhirnya dengan raut wajah yang penuh dengan ketidak pastian. Karna selama dirinya melayani George, pria tua itu tidak pernah salah dalam intuisinya. Apa lagi menolak intuisinya sendiri.


"Ayo Ed, aku ingin berdoa ke kapel"


Benar kan... George pasti sekarang sedang sangat mengkhawatirkan sesuatu hingga mengajaknha untuk berdoa


"Aku ambil mantelmu dulu"


\=\=\=💚💚💚💚

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya...


__ADS_2