Bloody Crown

Bloody Crown
BC 41


__ADS_3


...***...


Malam ini, triliunan tetesan air hujan kembali membasahi bumi di bagian Bosnia. Langit kelam dan pekat sesekali terpecah karna sambaran petir. Suara menggelegar petir, sesekali membelah suara derasnya hujan.


Summer, lagi-lagi merapatkan dirinya yang meringkuk bagai janin di atas ranjang kamar. Suara hujan, petir dan dinginnya udara yang masuk dari jendela terbuka tidak juga membuat gadis itu berniat bangkit dan ingin bangun dari tidurnya.


Setelah melewati dua hari dengan penuh ketakutan hingga dirinya tidak bisa memejamkan mata, baru sore hari tadi dirinya menyerah dengan memejamkan mata dalam keadaan tubuh lemah tidak bertenaga.


Dua hari, Summer tidak juga mengisi perut dan sesekali hanya mengaliri tenggorokan dengan air putih yang selalu tersedia di dalam kamar. Gadis itu terlalu takut dan terus merasa di kejar-kejar bayangan pedang berlumur darah Regan.


Darah-darah yang berterbangan dari batang leher dan kepala Raja Feroca, terus dan terus mengisi ingatan Summer. Tubuh-tubuh tergeletak penuh darah tanpa nyawa yang di lihatnya malam itu, kembali membangkitkan ingatan-ingatan kejadian yang masih terasa basah di hati dan ingatannya.


Summer, sudah dua kali menjadi saksi dari kebengisan dan kekejaman Raja Bosnia yang baru, Regan. Baik itu di Rembrand, dan juga Helsingr.


Lagi-lagi angin berhembus kencang. Masuk menggetarkan dengan kuat pintu jendela yang terbuka lebar. Masuk ke dalam kamarnya yang sunyi dan tampak mati. Summer hanya bisa dan ingin kembali merapatkan diri di dalam selimut tanpa berkeinginan untuk hanya sekedar menatap penutup jendela kamar yang terus bersuara karna hembusan angin kencang.


Hingga beberapa saat, saat tidur lelah penuh bebannya terganggu, perasaan di awasi membuat kedua mata terpejamnya langsung terbuka. Kedua iris abu-abu berbias gelaspnya, tampak gelap di dalam kamar yang tidak sedikitpun mendapatkan pencahayaan dari bantuan lilin. Hanya sayup-sayup sinar dari luar yang sesekali memotong kegelapan kamarnya.


Dengan tubuh lemas dan jantung yang berdegup kencang, Summer mencoba melirik ke arah depan. Menatap pintu jendal kamar yang bergerak, ke arah sekitar ranjang kosong di depannya, lalu.... ke arah cermin.


Tubuh Summer, langsung tersentak saat sosok bayangan di kegelapan tertangkap retina matanya. Sosok itu duduk tenang tanpa bergerak. Sangat tenang, dan bertolak belakang dengan keadaan tubuh dan jantung Summer yang sudah bergetar kencang.


Mencoba membulatkan seluruh sisa keberaniannya, Summer mencoba menatap ke atas. Pada wajah yang sosoknya masih Summer anggap setengah tidak nyata tapi....


Kedua bola mata biru cerah yang menyala di tengah kegelapan sekitar, membuat tubuh Summer langsung melopat bangun dan berbalik.


"Re.... Regan...." Lirihnya dengan suara sangat halus dan penuh getaran ketakutan.


Sosok yang ingin Summer anggap tidak nyata. Sosok yang sekarang Summer lihat dan sangat ingin dirinya anggap hanya halusinasi, terus duduk tenang sambil memutar-mutar gelas.


Pria itu duduk diam, menatap depan, bungkam, dan tampak.... menakutkan. Sangat mengerikan, dan memberikan teror ketakutan untuk siapa saja yang sekarang berada di sekitarnya, terlebih Summer.


Dengan penuh ketakutan, dan sekujur tubuh yang menggigil karna angin malam atau karna sosok yang di lihatnya sekarang, kedua tangan Summer hanya bisa mencengkam kuat-kuat selimut yang masih membalut tubuh mungilnya. Tubuh Summer tidak bisa terangkat bahkan hanya untuk sekedar bergerak karna sangat terasa lemah, terlebih karna terus bergetar ketakutan.

__ADS_1


Sebelah tangan yang terus memegang gelas beling bening itu berhenti bergerak memutar isi gelas. Jari telunjuk yang mencekam gelas bergerak ke arah samping. Menunjuk ke arah nakas.


Meski tangis ketakutan Summer sudah ada di penghujung, tapi isi kepalanya masih bisa mencerna untuk mengikuti ke mana arah jari telunjuk panjang itu terarah. Saat arah pandang Summer sudah bisa mengkap nakas di tengah kegelapan, secara naluri kepalanya menggeleng lemah.


Gelengan kepala Summer kembali membuat tangan yang sudah berhenti memutar isi gelas, kembali bergerak untuk menggerakkan cairan merah yang sudah tinggal sedikit.


"Makan, atau aku yang akan membuatmu makan?"


Pertanyaan yang lebih berupa ancaman itu, tetap membuat kepala Summer menggeleng penuh ketakutan.


Bagaimana bisa dirinya makan? Bagaimana bisa dirinya mengunyah dan meneguk makanan yang bisa saja berisi racun? Tapi, hal yang paling tidak bisa membuat Summer untuk makan adalah, sekujur tubuhnya yang bahkan tidak mampu untuk bergerak. Tubuh lemahnya yang terus bergetar hebat.


Setelah gelengan penolakan Summer, keheningan kembali mencekam. Suara-suara tetesan hujan deras bahkan suara petir seolah tidak ada di pendengaran Summer. Indra pendengarannya hanya bisa awas dan mengawasi suara pria itu. Regan, yang entah kenapa, bagaimana, dan dari kapan ada di dalam kamarnya.


Kesadaran Summer kembali saat sosok tubuh yang tadi setia duduk tenang tiba-tiba bangkit berdiri sambil meletakkan gelas. Menyebar teror luar biasa menakutkan untuk Summer.


Dengan sekuat tenaga Summer mencoba bergerak untuk bangkit dari ranjang dan berniat untuk menuju pintu tapi, percuma. Sekujur tubuhnya terlalu lemah dan terasa berat.


Langkah demi langkah itu mendekat pelan. Sangat pelan hingga Summer yakin, bahkan tanpa ada suara hujan dan petir sekalipun, pijakan langkah itu tidak akan bisa di tangkap pendengarnya. "Re... Regan...." Summer kembali berguman lirih pada sosok yang sudah berada di bibir ranjang. Terlalu pengecut dan takut dirinya menatap wajah itu, membuat Summer hanya bisa menatap depan dengan kedua arah pandang yang buram.


Tapi....


"Makanlah."


Suara itu terdengar pelan dan halus, di ikuti dengan usapan pelan ke sebelah pipi dingin Summer.


Meski ada sedikit rasa lega karna bayangan jika mungkin Regan akan menyakitnya tidak terjadi, Summer tetap tidak berani membuka kedua mata. Gadis itu tetap terus memejamkan mata hingga dagunya di angkat yang membuat kepala menundukknya, ikut terangkat dengan lembut. Dan sekali lagi,


"Makanlah."


Dengan mengerahkan dan mengeluarkan sisa-sisa keberanian, kedua mata terpejamnya terbuka. Yang langsung bertabrakan dengan wajah Regan.


Di tengah gelapnya langit malam dan kegelapan tanpa pencahayaan kamar, Summer tidak bisa melihat dan mengamati dengan baik bentuk wajah ataupun raut wajah seperti apa yang di miliki tunangannya sekarang. Tapi satu yang pasti, guratan yang tersirat dari air raut wajah Regan hanya menunjukkan.... kesedihan.


Dengan rambut yang tidak tertata, angin yang berhembus masuk ke dalam kamar menggerakkan rambut yang hampir sewarna dengan warna rambutnya. Regan... dengan segala teror yang menguar dari sekujur tubuhnya, sangat bertolak belakang dengan raut wajah dan tatapannya. Membuat Summer yang entah kenapa dan bagaimana tergerak untuk... mengangguk patuh.

__ADS_1


Setelah mendapat anggukan, kedua tangan yang sedang menyentuh dan menahan kepala Summer terlepas. Lalu, tanpa mengatakan apapun, tanpa menjelaskan arti dan maksutnya, tubuh Regan langsung berbalik. Bergerak pelan hingga berada di depan pintu keluar.


Arah pandang Summer hanya terus terhipnotis untuk mengikuti setiap langkah Regan yang akhirnya menghilang dari pintu kamar yang tertutup. Hilang dengan meninggalkan rasa penuh kejanggalan untuk Summer.


Sangat mengganjal, dan sangat meninggalkan banyak pertanyaan.


--000--


Edward dan Henry, kembali saling melirik saat George yang ada di depannya sekarang masi diam dengan kedua tangan bertaut di depan wajah keriputnya. Pria tua bangka itu terus diam hingga bermenit-menit terlewati. Membuat Edward beberapa kali hampir mengeluarkan suara jika saja, Henry tidak terus menahan mulutnya yang akan terbuka siap untuk mengucapkan pertanyaan.


"Berapa usia kandungan Putri Anastasia?"


Akhirnya, suara George terdengar. Yang tertuju pada Ruth. Ruth yang sudah bermenit-menit hanya berdiri setelah di panggil ke dalam ruang kerja Ratu.


Ruth melirik Henry dan Edward sejenak, lalu kembali menatap George. Siap untuk menjawab. Tapi, belum sempat suaranya keluar, suara George membuat jawaban Ruth tertahan.


"Jaga dengan baik kandungan itu. Sedikitpun, tidak boleh ada yang kurang terlebih--" George menjedah, lantas menurunkan kedua tangan bertautnya ke atas meja. "Ada kesalahan, Ruth."


Ruth langsung mengangguk patuh. "Baik tuan."


"Baiklah, kembalilah ke tempatmu dan terus perhatikan setiap detail kebutuhan calon bayi Putri Anastasia."


Kepala Ruth kembali mengangguk patuh dan menjawab dengan mengerti. Lalu langsung pemit undur diri tanpa paham jika.... raut wajah George yang sudah tidak tertutupi tangan lagi itu, tampak tidak biasa.


Yang hanya bisa di tangkap oleh Edward.


Edward sangat tahu jika, raut wajah itu menggambarkan jika ada sesuatu yang sedang di khawatirkan pria tua yang sudah di layaninnya hampir dua kali lipat usiannya.


Ada sesuatu, yang membuat tatapan kedua bola mata abu-abu tua itu menggambarkan sebuah kesedihan, dan juga.... menyembunyikan ketakutan.



***


Silahkan jejak komen, like dan vote-nya....

__ADS_1


__ADS_2