Bloody Crown

Bloody Crown
BC 23


__ADS_3

"Selamat sore kapt"


Kepala Edward mengangguk singkat pada para penjaga koridor ruang kerja Francesca yang menyapanya. Dirinya melirik George yang sekarang pasti sedang mempunyai raut wajah malas, walaupun di hari yang cerah, wajah pria tua itu sedang di tutupi penutup kepala. Tapi Edward tahu betul, jika George pasti sangat merasa malas kembali lagi ke tempat mereka berpijak sekarang. Tempat yang sebagian besar waktu George habiskan selama hidupnya, dan tempat yang selalu membuat George bergelut dengan rasa setress


"Apa Her Majesty dan His Highness sudah kembali?"


"Sudah kapt. Her Majesty dan His Highness sudah kembali pagi tadi"


"Apa mereka ada di ruang Her Majesty?"


Pengawal itu melirik George sekilas, lalu kambali menjawab


"Her Majesty masih di ruang rapat. Dan His Highness sepertinya masih memeriksa camp, kapt"


"Baiklah"


Edward kembali memimpin langkah mereka. Saat sudah menjauh dari para penjaga koridor, lalu Edward berbisik


"Kau pasti sangat merindukan tempat ini kan?"


Dari balik tudungnya, George memutar kedua bola matanya dengan malas.


Saat langkah mereka sudah berada di depan pintu ruang kerja Francesca, dua oranh penjaga langsung mengambil gestur menjaga pintu. Dan seseorang dari mereka langsung menyapa Edward.


"Selamat sore kapt"


"Apa kami bisa masuk?"


Dua penjaga itu saling melirik sekilas, lalu terjadi keheningan sejenak. Edward yang melihat raut wajah bingung dan ragu-ragu mereka langsung kembali berucap.


"Apa sekarang statusku sudah menjadi kesatria dan pengawal biasa hingga tidak bisa masuk ke dalam sana?"


Para penjaga itu kembali saling melirik, lalu sama-sama melirik pria yang sedang memakai jubah dengan penutup kepala.


Edward yang akhirnya mengerti kenapa langkahnya di tahan, kembali berucap


"Aku yang akan bertanggung jawab dengan orang ini. Tenanglah"


Akhirnya mereka berdua langsung menggeser tubuh mereka yang sempat memblokir pintu.


"Silahkan Kapt"


Edward kembali memimpin langkah mereka dan langsung membuka pintu. Dirinya pura-pura mengabaikan tatapan penuh selidik para penjaga yang di tujukan pada George.


Setelah mereka masuk dan menjauh dari pintu, Edward melirik George yang sedang membuka penutup kepala lalu jubahnya.


"Bagaimana rasanya di curigai oleh para penjaga ruanganmu George"


Dengan acuh, George mengedipkan kedua bahunya sambil melangkah menuju mantan meja kerjanya.


Bibir tua George tersenyum miris dengan tangan yang mulai meraba permukaan meja. Meja yang dulu selalu membuatnya pusing dan setress.


Banyak ingatan menyebalkan yang mulai masuk di dalam ingatan George. Banyak masalah-masalah yang kembali di ingat George. Masalah-masalah yang membuat George sering tidak tidur dan harus terus berada di meja itu.


Dengan santai, Edward mulai membuatkan teh yang selalu sudah tersedia di sana. Edward akhirnya diam dan membiarkan George menikmati ingatannya.


George terus menelusuri setiap sudut tempat ruang kerja itu. Dirinya menatap lekat benda-benda, kabinet, lemari, meja, kursi, kotak-kotak surat, dan semua hal yang ternyata tidak berubah sedikitpun. Hingga bibir tua George kembali tersenyum. Kali ini bibirnya menyunggingkan senyum hangat


"Tidak ada yang berubah, Ed"


"Ya... sedikitpun tidak berubah"


Langkah George mulai mendekat pada lukisan-lukisan yang terpajang di sepanjang dinding. Lukisan-lukisan yang juga sama seperti dulu, lukisan keluarganya yang sudah bertambah dan menggambarkan bentuk para cucunya yang sudah dewasa. Di sana juga sudah bertambah lukisan dirinya dan Anastasia.


"Fredrick sangat menyayangi menantunya"


Sambil meletakkan cangkir teh yang sudah selesai di buatnya, Edward mengangguk


"Mereka semua sangat menyayangi Her Highness Putri Anastasia"


Brakkk!!


Suara pintu yang tiba-tiba terbuka kuat membuat George dan Edward langsung memutar kepala mereka.


Di sana, Francesca masuk bersama para kestaria yang sepertinya baru selesai menemani Francesca melakukan tugasnya.


Senyum hangat George langsung tercetak dk bibirnya, dengan cepat kaki tuanya langsung melangkah saat Jeremmy sudah menutup pintu.


Dengan mengambil gestur sopannya, George menatap Francesca sambil bersuara sopan.


"Selamat sore Your Ma-- Opss!!"


Ucapan George langsung terhenti dan mulutnya hanya bisa terkekeh geli saat tubuh tuanya langsung di serang tubrukan pelukan Francesca.


Sebelah tangan George membalas pelukan, dan sebelah tangannya lagi langsung membelai kepala cucu kesayangannya yang semakin mengeratkan pelukan mereka.


"Gapa..."


Masih dengan kekehan gelinya, George mengangguk.


"Iya sweetheart.. aku sudah sampai"


Tidak lama, pintu kembali di buka dan dengan cepat kembali di tutup. Ferdinand sudah datang bersama Solar, Carl, dan Gregory.


Mereka yang baru masuk menaikkan alis mereka saat melihat pemandangan peluk memeluk antara cucuk dan kakeknya.

__ADS_1


Dengan perlahan, Francesca akhirnya melepas pelukan mereka. Kedua tangan Francesca langsung menangkup wajah George. Kedua bola mata abu-abunya menatap lekat wajah George.


Dan perlakuan Francesca itu, kembali membuat George terkekeh sambil berucap


"Aku sehat dan baik-baik saja nak"


Sambil mengangguk dan melepaskan tangannya, Francesca berucap


"Aku dengar kemarin-kemarin gapa sempat sakit?"


"Sedikit sayang. Hanya sedikit. Saat itu bahkan aku masih bisa mengalahkan Edward dengan tubuh gagah ku ini"


Ucapan George hanya membuat semua pria di sana memutar bola mata mereka dengan malas. Sok sekali tua bangka itu!


Setelah yakin jika gapa kesayangannya memang benar-benar sehat, Francesca mulai mengambil jarak mereka.


George yang masih tersenyum hangat, menatap Ferdinand yang masih terus menatapnya dengan lekat. Menatap dengan tatapan sama seperti yang di lakukan Francesca, memeriksa keadaan George.


"Dinand"


George berucap sambil membentangkan kedua tangannya lebar-lebar pada Ferdinand. Dan apa yang di lakukan George itu, langsung membuat kedua alis Ferdinand mengerut dalam dengan raut wajahnya yang sudah berubah


Karna tidak mendapatkan respon, George kembali berucap


"Peluk juga gapamu ini Dinand"


Hah?... Ferdinand memutar kedua bola matanya dengan malas. Dan tanpa sedikitpun menunjukkan minat untuk menerima permintaan George, Ferdinand dengan acuh langsung melengos dan melangkah menuju meja panjang yang sudah di tempati Francesca.


Bibir George langsung mencebik ketika secara mentah-mentah dirinya di tolak oleh satu-satunya cucu laki-lakinya


"Hei kau tidak mengkhawatirkan gapa mu ini?"


"Jangan menggelikan gapa"


Dengan bibir yang semakin mencebik dan wajah merengut, George mengabaikan suara-suara kekehan para kesatria yang mulai memenuhi suara di ruangan


"Kau sama saja seperti ayahmu. Apa salahnya memeluk pria tua lemah kesepian seperti aku ini?"


Sekali lagi, Ferdinand memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Jangan banyak drama George. Aku tidak sudi memeluk tubuh seorang pria, apa lagi tubuh pria bau tanah"


Plaakk!


"Anak nakal! kau benar-benar mirip ayahmu yang menyebalkan!"


Sambil mengusapi kepalanya yang baru saja di pukul kuat tangan George. Ferdinand mendengus sambil melirik sinis pada Geroge yang sudah mengambil kusi di sebelahnya.


See? tidak ada yang perlu di khawatirkan dari pria bau tanah itu. Bahkan Pukulan tangannya saja lebih menyakitkan dari pukulan tangan ibunya.


"Apa?"


Ferdinand semakin menatap George dengan sinis sambil berucap kesal


"Kenapa kau masih hidup gapa?"


Plaakk!!


Sekali lagi, tangan George melayang di kepala Ferdinand. Ferdinand yang sekali lagi mengusapi kepalanya terus menatap George dengan sinis sambil kembali berucap kesal


"Kau benar-benar semakin menyebalkan gapa"


"Kau yang menyebalkan! dasar cucu sialan"


Dan perdebatan mereka..... terus terjadi.....


Para kesatria hanya terkekeh geli dan sesekali terbahak saat mereka mendengarkan dan menonton gelut perkataan antara George dan cucunya.


Sedangkan Francesca dengan tenang hanya menyesap tehnya. Biarlah... biarkan saja..... mereka berdua memang akan selalu ribut jika bertemu. Karna jika tidak ada keributan dari mereka berdua, maka bisa saja itu menjadi pertanda buruk. Seperti pertanda jika matahari akan terbit dari barat misalnya.


Keramaian di dalam ruangan itu semakin ramai saat Edward dan Jeremmy ikut ambil bagian untuk membully George. George yang hanya sendirian terus membalas dengan kesal sambil sesekali melemparkan apa saja yang bisa di lemparnya.


Dan karna semakin kesal. Tanpa sadar, tangan George melempar gumpalan kertas yang ternyata menuju ke kepala Francesca.


Dalam sekejap semua suara-suara langsung hening. Edward yang harusnya menjadi pemilik lemparan tangan George, mulai memanasi.


"Lancang sekali. Kau harus di penggal karna sudah melukai Her Majesty, George. Ayo ke alun-alun sekarang"


"Bajingan tengik! kau ingin memenggalku hah?-" Kertas dan benda-benda apapun kembali melayang ke semua arah. "Kau tidak akan bisa! Aku yang akan memenggalmu terlebih dulu Edward sialan!"


"Oohh.... sangat seram dan menakutkan..... gapa membuat kami sangat ketakutan hingga gemetaran"


"HAHAHHAHAHAHAHA....."


Dan nada ucapan penuh ejekan Ferdinand itu, kembali membuat keributan di sana semakin meriah.


Francesca hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Ya Tuhan... kenapa para pria di sekitarnya tidak ada yang benar-benar tumbuh dewasa? Dan lihatlah sekarang, bahkan Carl, Solar dan Gregory sudah ikut-ikutan terbahak kencang.


Kecuali Tomy yang sudah datang pada meja panjang sambil membawa kotak perkamen untuk di letakkan ke depan meja Francesca dengan mulut yang terus mengatup dan berwajah datar. Tetap hanya diam dan sudah mengambil posisi berdiri sangat dekat dengan Francesca. Tomy pasti tidak ingin ada benda nyasar lagi yang kembali melayang pada nonannya.


Dan benar saja, sebuah kertas kembali terbang nyasar menuju Francesca yang dengan cepat langsung di tangkis Tomy.


Tomy memutar bola matanya dengan malas, lalu melirk Francesca sambil berucap.


"Apa anda ingin kudapan, Your Majesty?"

__ADS_1


Francesca langsung menggeleng dan mulai membuka tumpukan perkamen


"kudapan di sini hanya akan berakhir dengan terbang sia-sia Tom. Kasihan pelayan yang akan membersihkannya nanti"


Kepala Tomy mengangguk paham dan mulai membawa kotak-kotak perkamen lain di tengah-tengah keramaian para pria dewasa tapi tidak dewasa di sana.


Hingga beberapa menit Francesca selesai melihat-lihat gulungan perkamen, suaranya terdengar


"Apa kalian masih belum selesai?"


Ferdinand yang baru saja akan kembali membuka mulutnya untuk membalas mulut George, langsung mengatupkan mulutnya lagi. Mereka semua juga langsung kembali membenarkan posisi berdiri dan duduk mereka.


Ketika merasa kehingan dan ketenangan sudah kembali, Francesca kembali berucap.


"Kemarin surat gapa meminta peta kerajaan Odessa kan?"


George mengangguk sopan


"Iya Your M-"


"Jangan begini gapa"


Bibir George menekuk sambil menatap Francesca yang sudah menatapnya dengan pandangan tidak suka. Dan George dengan cepat memperbaiki ucapannya


"Iya Frans. Aku minta peta secara mendetail"


Kepala Francesca mengangguk singkat, lalu melirik Jeremmy yang dengan cepat langsung menjelaskan pada George


"Harusnya sekarang Farel sedang dalam perjalanan untuk kembali ke Francia, dan mungkin besok akan segera sampai"


Kepala George mengangguk paham. Lalu raut wajahnya mulai berubah serius. Sama seperti wajah-wajah para pria di sana saat Francesca sudah menegakkan kedua bahunya.


"Gapa, sebenarnya saat di Bosnia, aku meminang seseorang"


"Meminang? siapa? kenapa?"


Kedua alis George sudah mengerut dalam, posisi duduk santainya sudah mulai tegang. Raut wajahnya jelas menunjukkan rasa penasaran dan juga penilaian. Dan gestur yang sudah sangat lama tidak di lihat para kesatria di sana, membuat mereka jadi ikut menghilangkan gestur santai mereka.


"Duke Ryes Hasting Bosnia"


"APAAA!!! NO WAY FANS!!"


Merasa keadaan semakin serius, Francesca kembali berucap dengan nada datar seriusnya


"Aku tidak punya cara lain gapa. Aku harus memasukkan sendiri srigala ke dalam rumah kita agar mereka tidak berpikir untuk menyerang"


Tangan George mulai memijat pelipisnya yang sudah berdenyut nyeri. Raut wajahnya jelas menunjukkan bentuk penolakan keras.


"Hasting adalah anak haram. Dia hanya seorang pria bergelar Duke tanpa wilayah, sayang. Apa jadinya jika kau memiliki Pangeran pendamping seorang anak haram?-" Kepala George menggeleng kuat. "Tidak-tidak bisa Frans"


Francesca mengerti dan bisa memahami penolakan keras dari George. Ini juga dirinya alami ketika sempat merundingkan keputusan ini bersama Ferdinand dan Henry.


Dirinya yang seorang Ratu, setidaknya harus memiliki pendamping yang bergelar baik dari silsilah keluarga yang baik. Karna siapapun pendampingnya akan menjadi Pangeran pendampingnya di atas tahta. Dan dalam sejarah Francia, semua Ratu pendamping dan beberapa Pangeran pendamping selalu orang-orang terpilih di antar yang tepilih


Tapi seperti yang Francesca katakan, dirinya benar-benar harus melakukan apapun untuk meminimalkan atau 'mungkin' menghilangkan serangan. Karna Francesca pikir, jika dirinya dengan suka rela memasukkan musuh ke dalam rumahnya sendiri, dan mengikat mereka. Bosnia, 'mungkin' tidak memiliki pemikiran untuk melakukan penyerangan secara mendadak. Karna mereka akan merasa sudah menggenggam Francia secara tidak langsung


Dan jika memang dirinya bisa membuat Bosnia bisa jadi berpikir seperti itu, Francesca akan melakukan apapun agar tidak terjadi serangan apa lagi perang. Karna dirinya dan ayahnya sebenarnya memang sangat membenci perang. Perang hanya akan membawa banyak kehilangan dan kesedihan.


"Gapa. Aku tidak bisa memikirkan hal lain lagi. Tidak mungkin aku menikahi Pangeran kedua mereka. Dia bahkan belum menginjak usia dewasa"


George termenung sambil menatap lukisan besar Fredrick yang sedang duduk di kursi tahta dengan Victoria yang berdiri di belakang kursi tahta Fredrick sambil memakai jubah, mahkota, serta segala hal yang berhubungan dengan Coronation Ceremony. Lukisan yang dibuat setelah penobatan mereka secara publik


"Apa kelebihannya?"


Francesca melirik Ferdinand sejenak, lalu kembali bersuara


"Dia pria terampil dan dia juga cerdas. Duke Hasting jenis pria tangguh yang akan sangat berguna jika bisa memilikinya di sisi kita-" Francesca menjedah, lalu menatap George dengan lekat. "Jujur saja gapa, dia pria yang mengerikan"


Tangan George mulai mengusapi janggut putih yang menutupi seluruh dagunya. Kedua matanya kembali menatap lukisan salah satu Putra dan menantu kesayangannya itu


"Aku ingin melihatnya"


Francesca membuang nafas lega. Setidaknya, George akan memikirkan dan berniat melihat terlebih dahulu pilihannya. Bagaimanapun, Francesca tetap butuh restu dari orangtuanya


"Aku memang berencana akan membuat mereka ke Francia, gapa. Dan memastikan Summer akan ikut bersama mereka"


Satu alis George menukik


\=\=\=\=💙💙💙💙


Mungkin kalian sdh pada tahu, tapi ini buat yg belum tahu. Eike bakal bagi2 info dikit biar ga bingung ya guys.


Jadi, kalo tahta kerjaan (warisan hak pemilik tahta) yang punya seorang perempuan/Ratu/Her Majesty atau di sebut dengan gelar "Queen Regnant". Pendamping/suaminya bakal bergelar Prince Consort (Pangeran Pendamping).


Karna Gelar Raja itu, menurut urutan hierarki di monarki, gelar Raja selalu di atas Ratu. Jadi pendamping Ratu Regnant ga bisa di kasih gelar Raja ya guys. Setelah nikah dan Ceremony Coronation (ceremony pemahkotaan), gelar para pria itu bakal jadi Pangeran Consort.


Contoh, Queen Elizabeth II penguasa Britania Raya sama suaminya mendiang Prince Philip.


Jadi beda ya guys, antara Queen Regnant (Francesca) dan Queen Consort (Victoria).. 😉


Buat yang mau sharing2 atau mau tanya2 dan berbagi tentang aturan dan segala hal bangsawan dan kerajaan Eropa, yukk saling berbagi. Eike sukak bisa berbagai dan dapet ilmu baru tentang historical Eropa 🙏


\=\=\=❤❤❤❤


Jangan lupa like dan komennya biar eike semangat up guys...

__ADS_1


__ADS_2