
...***...
"Apa di sini membuat anda betah, Duke Hasting?"
Dengan santai sambil memasang separuh senyum bajingannya, Ryes menjawab. "Ku rasa, di kamar anda seperti saat 'malam itu', lebih membuat saya nyaman, Your Majesty."
Kesatria penjaga pintu sel, Tomy, dan Keelf yang menjadi juru kunci sel tahanan utama langsung menatap Francesca dengan wajah terkejut. Bagaimana tidak, jawaban dan penekanan kata yang di ucapkan Ryes, pasti akan membuat siapa saja salah paham. Pasti.
Francesca tahu itu, dirinya tahu jika Ryes yang terus menatapnya dengan tersenyum bajingan sedang mempermainkannya. Pria yang sudah menolaknya --menolak seorang Francesca Castalarox sengaja mengatakan ucapannya barusan untuk menghinannya--, Tapi...
Dengan dagu terangkat tinggi dan tangan yang bertaut anggun di depan perut, langkahnya melangkah dengan anggun mendekat ke jeruji besi. "Duke Hasting..." Guman Francesca dengan pelan tapi tajam. Tatapan sedingin es dan setajam tombaknya mengkilap terang. Menatap kedua iris sebiru samudra Ryes yang menatapnya dengan jenaka.
"Iya, Your Majesty?" Jawab Ryes dengan penuh rasa penasaran.
Sebelah sudut bibir Francesca tertarik ke atas. "You can run away that day; you will be mine in the end, Ryes......"
Dan Francesca langsung memutar tubuh, tanpa ingin melihat raut wajah Ryes yang sudah kehilangan ketenangan dan tatapan menggodanya. Senyum bajingan yang terus tercetak di bibirnya seolah sedang mengejek, lenyap menjadi sebuah senyum dingin.
Dan Keelf yang berada paling belakang mengikuti Tomy yang mengawal langakah Francesca, ikut menarik separuh bibirnya ke atas.
Ratu mereka, sudah berjanji. Dan janji seorang Raja Francia... adalah nyawa mereka.
"Good luck, Duke Hasting." Guman Keelf sebelum benar-benar menjauh dari pintu sel Ryes. Gumanan yang tidak bisa lagi di dengar Ryes. Ryes... yang sudah benar-benar kehilangan senyum dan raut wajahnya. Tubuh terbaring santainya pun sudah bangun dengan kaku.
"Sial!!!"
--000--
Pemuda yang sedang berada di depan Malik itu terus menunduk tanpa mengatakan apapun. Di ruang kerja Raja Bosnia, tempat yang sudah bersih tapi masih menyisakan ingatan sisa-sisa kudeta, menjadi tempat mencekam untuk Richard yang entah kenapa siang ini di seret untuk ke sana.
Suara pintu yang di buka membuat Richard menoleh. Alfon, mantan tangan kanan mendiang Raja Feroca masuk sambil membawa dua perkamen.
"Malik." Ucap Alfon sambil menyerahkan dua perkamen. Malik mengangguk paham dan langsung meraih dua perkamen itu. "Buat dia memberikan stempel dan tanda tangannya." Sambung Alfon tanpa menatap Richard yang hanya bisa mengeraskan rahang.
Setelah itu, Alfon kembali keluar ruangan yang menyisakan Richard dan Malik. "Your Highness..." Ucap Malik. Lalu meletakkan dua perkamen dan tinta bulu tepat di depan tangan Richard.
Richard menatap Malik dengan nyalang. "Jika aku tidak mau?"
Dengan datar, Malik membalas tatapan nyalang Richard. "Anda tidak akan ingin mendengar jawaban dari saya, Your Highness."
__ADS_1
Dan jawaban Malik, sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan segala maksutnya. Richard, dengan dada bergemuruh penuh amarah, mau tidak mau, terima tidak terima, harus membubuhkan tanda tangan dan stempelnya. Atau, sesuatu yang lebih mengerikan dari neraka akan di terimanya.
--000--
Siang ini di Francia, setelah memastikan dan juga sudah mengatur keamanan untuk rencana perjalanan Francesca ke Bosnia, Edward kembali ke kamar George.
Pria tua yang tadi pagi di tinggalkannya setelah memberikan beberapa map pesanan George, kali ini terlihat sangat sibuk.
Tangan George terus menulis angka-angka dan tulisan-tulisan di sebuah kertas setelah melihat peta yang penuh coretan. Lalu tangan tua George kembali melingkari dan juga menggarisi bagian-bagian nama di peta seperti sedang menandai.
Edward sangat dan sangat penasaran. Pasalnya, sudah hampir tiga jam George melakukan itu, tapi tetap belum ada suara yang di keluarkan George. Membuat sejuta rasa penasaran semakin memenuhi isi kelapa Edward.
Meja di depan George penuh dengan lembaran-lembaran peta yang di coret-coret. Banyak juga beberapa buku yang sesekali di buka pria tua itu. Lalu kertas putih yang penuh tulisan angka-angka dan tulisan yang tidak Edward mengerti, semakin memancing Edward untuk bertanya. Tapi Edward, hanya bisa membuang nafas panjang dan kembali menuangkan teh untuk yang ke lima kalinya ke cangkir George.
Setelah satu empat jam menemani George yang entan sedang malakukan apa, akhirnya pria itu itu membuang nafas panjang dan mendaratkan bokongnya ke kursi.
Apa sudah selesai?
Tentu saja belum. Karna George melanjutkan kembali untuk menuliskan sesuatu ke sebuah kertas putih kosong. Lalu memasukkan surat ke sebuah amplop.
"Ed...."
Akhirnya, suara George memecah keheningan.
"Antar ini ke alamat yang ada si sana." Pinta George sambil menyodorkan amplop pada Edward.
Edward melirik jendela yang menunjukkan jika langit sudah mulai gelap. "Apakah di antar sekarang, tuan?"
Dengan jari yang sudah menggaruki cengkir teh sambil menatap kertas putih penuh angka dan tulisan-tulisannya, George menggeleng singkat. "Antar saat dini hari nanti, tanpa ada yang tahu."
Dahi Edward mengeryit, lalu menatap surat di tangannya. Yang ternyata tidak hanya satu. Karna satu lagi, di bawa amplop, ada sebuah kertas kecil. Robekan kertas seperti bagian dari isi buku. "Ini.....??" Gumanan Edward.
Gumanan penuh pertanyaan dan rasa penasaran Edward membuat George menjawab. "Antar keduanya ke sana."
Edward yang paham langsung mengangguk. Lalu mencoba mendekati meja George saat pria tua itu terlihat akan bergerak merapikan meja. Tapi pergerakan Edward terhenti saat tangan George terangkat.
"Biar aku saja."
Dan Edward, semakin penasaran. Telebih, saat sekarang raut wajah George sudah bisa di lihatnya dengan jelas.
--000--
__ADS_1
Keadaan meja di kamar George tidak jauh berbeda keadaannya dengan meja di kamar Regan. Pria itu juga sedang memenuhi meja kerjanya dengan banyak peta dan kertas-kertas perkamen.
Alfon yang sudah di persilahkan masuk setelah mengantar dua perkamen permintaan Regan pada Malik, langsung menatap Regan yang merobek sebuah perkamen.
"Bedebah!" Umpatan Regan di susul dengan segala isi mejanya yang melayang ke lantai. Dengan kedua tangan yang menopang meja dan tubuh yang terus berdiri di depan meja, suara kekehan dingin Regan terdengar.
Alfon hanya diam sambil menunggu. Menunggu Regan selesai dengan kekehan dingin yang syarat dengan aroma amarah kuat.
"Al..." Guman Regan setelah selesai terkekeh.
"Iya, Your Majesty?"
"Dia harus mati dengan kedua tanganku."
Alfon melirik Regan yang berucap dengan rahang mengeras hingga gigi-giginya mengerutuk. Pria itu tidak menjawab ataupun mengeluarkan suara apapun, hingga Regan melangkah menuju pintu keluar ruangan.
"Putri Summer?" Tanya Regan setelah keluar pintu.
Setelah kembali menutup pintu dan mulai mengekori langkah Regan, Alfon menjawab yakin. "Belum juga membuka kamarnya, Your Majesty."
Setelah itu, langkah Regan menuju ke arah kamar tamu, kamar Summer.
--000--
Castle Winna. Tempat di mana Delana biasa menikmati hari-hari tenang, santai dan penuh kesenangannya, tidak pernah berlaku lagi semenjak dirinya kembali dari Francia.
Dengan tangan gemetar hingga pelipisnya penuh dengan peluh gugup, Delena melipas sebuah kertas yang baru saja selesai di tulisnya dengan penuh ketakutan.
"Manda."
Manda --pelayan pribadi Delana, langsung maju setelah terus mengamati gerak gerik aneh nonannya selama menulis surat. "Iya, Your Highness?"
Sambil menyodorkan amplop surat dengan tangan gemetar, Delana menatap Manda. "Seperti yang ku katakan tadi. Berikan hari ini dan sekarang juga."
Meski ada seribu pertanyaan dan sejuta rasa penasaran, Manda hanya mengangguk patuh tanpa mengeluarkan segala isi kepalanya. "Baik, Your Highness...."
Setelah Manda menutup pintu kamarnya, Delana menatap jendela yang menampakkan langit malam yang pekat mencekam tanpa bintang.
"Hujan... akan kembali turun." Guman Delana sambil mencekam sangat erat pinggiran meja. Bahkan angin malam yang berhembus masuk ke dalam kamar, tidak sanggup Delana halangi untuk menutup jendela karna kaki dan tubuhnya terus bergetar hebat. "A-aku, harus hidup." Sambung Delana dengan gumanan bergemetar.
***
__ADS_1
Silahkan jejak komen, like dan vote-nya...