
"Your Highness.. His Grace Ryes sudah datang"
Delana yang sedang menatap pantulan dirinya langsung tersenyum lebar.
"Suruh masuk"
"Baik Your Highness"
Dengan sopan, pelayan itu langsung menuju pintu dan membukakan pintu untuk Ryes.
Dari depan cermin, Ryes menatap Delana sejenak. Lalu langsung membuka mantel dan sepatunya dengan asal.
Pemandangan yang juga bisa dirinya tangkap dari depan cermin, membuat Delana mengigit bibirnya lalu berucap
"Kau terburu-buru Rai"
"Ya.. aku masih harus mengerjakan sesuatu Lana"
Setelah berucap, Ryes langsung menuju Delana. Dengan tatapan laparnya, Delana langsung berdiri menyambut langkah Ryes.
Ryes yang memang masih terbakar gairah langsung mencekik leher Delana dengan kuat, wajahnya mendekat pada Delana yang sudah menyeringai.
"Kau siap?"
Dengan dada naik turun karna mulai kesulitan bernafas dan karna terbakar gairah, Delana menarik kepala Ryes dan langsung ******* kasar mulut Ryes.
Ryes membalas ******* itu dengan tidak kalah kasar dan langsung mendorong begitu saja tubuh Delana untuk menuju ranjang. Tangan besar Ryes terus mere**s dan meraba apapun yang bisa diraihnya sambil terus mendorong tubuh Delana menuju ranjang, tanpa peduli jika tubuh Delana menabrak apapun yang mereka lewati.
Brughh!
Tubuh Delana terpental kuat saat Ryes melemparnya seperti karung gandum. Dengan nafas terengah dan dengan kedua mata yang sudah berkabut gairah, Delana menunggu dengan gelisah Ryes yang sedang membuka jasnya. Dirinya ikut membuka gaunnya sendiri dengan tidak sabaran.
Delana memekik senang saat Ryes mencengkam kuat tubuhnya agar berbalik. Tangan Ryes dengan terburu-buru menarik ke atas gaun Delana yang belum sempat di bukanya.
Tubuh telungkup Delana semakin gelisah saat menunggu Ferdinand membuka celananya. Membuka cela celananya agar bisa mengeluarkan miliknya yang sudah bersemangat kokoh karna perempuan lain.
"Raii.."
Ryes tidak peduli dengan rengekan Delana, dan dengan cepat menyentak milik mereka
"AAW!!"
Pekikan kuat Delana sudah cukup untuk menjelaskan seberapa kuat Ryes menancapkan miliknya. Menyatukan milik mereka tanpa peduli pada milik Delana yang belum siap sepenuhnya.
__ADS_1
"Sabar Rai"
Sekali lagi, Ryes tidak peduli. Tangannya langsung menjambak kuat rambut Delana hingga kepala di bawahnya mendongak tinggi ke atas. Kepala Ryes mendekat pada telinga Delana, berbisik berat dan tajam
"Diam dan rasakan aku"
Setelah Ryes berucap, Delana kembali memekik senang saat pinggulnya langsung terdorong kuat karna pergerakan kuat Ryes.
Delana terkekeh senang dan sakit. Sungguh... Delana sangat menyukai Ryes. Sangat sangat menyukainya. Hanya Ryes yang mampu menyenangkan dan memberikan apa yang dirinya inginkan.
Bibir Ryes menyeringai saat merasakan tubuh Delana yang menggeliat ingin berlari dari pergerakannya tapi, kedua tangan Ryes dengan cepat langsung mencengkam pinggang Delana dengan sangat kuat sambil terus menghujami kasar. Sangat kasar hingga suara ranjang dan suara des**an Delana terus mengisi kuat seisi ruangan.
Ryes memejamkan kedua matanya saat dirinya mulai kembali sadar. Dirinya harus membayangkan wajah seseorang yang sudah membuatnya menjadi setengah gila seperti ini. Dirinya harus bisa meneruskan apa yang sedang di lakukannya hingga selesai dan memuaskan lawan binalnya
Mata abu-abu tajam itu, rambut hitam indah sepekat malam itu, kedua alis yang mengerut cantik, hidung tinggi yang cantik, pipi tirus tajam yang sangat terlihat berbahaya, rahang indah yang sangat ingin di gigitnya, bibir ranum yang sangat ingin di makannya.
Bayangan-banyangan itu membuat Ryes mengerang dengan semakin menghujam kuat dan kasar. Delana yang ada di bawahnya sudah mulai kewalahan tapi juga bergembira. Terlebih saat tangan Ryes kembali menjambak, mer**as, dan sesekali memukul bokongnya dengan kuat.
--000--
Ryes menatap pantulan dirinya di depan cermin kamar mandi. Peluh masih membasahi dahi dan tubuhnya yang masih terbalut kemeja yang sudah tidak rapih.
Kedua tangannya mengepal kuat saat menatap pantulan wajahnya yang selalu terlihat menjijikkan di arah pandang sendiri.
Ucapan Richard dan semua orang yang terus memberi gelar simpanan dan budak seorang wanita tua binal mulai terus kembali terngiang di dalam kepalanya. Terus berputar seperti tali kusut yang selama hidupnya, hanya bisa terus Ryes nikmati dengan rasa perih yang lama kelamaan membuat dirinya menjadi terbiasa. Terbiasa menikmati hinaan dan cemooh pedih yang selalu di nikmatinya dengan harga diri yang sudah rusak parah.
Ryes manarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan kedua matanya. Berharap semua rasa perih dan lukanya bisa sedikit berkurang.
Dan...
Saat itulah, wajah seorang gadis yang selama 'permainannya' tadi terus di munculkannya, kembali muncul di dalam ingatan Ryes. Muncul dengan jelas hingga membuat isi dada Ryes berdesir hangat.
Suara perempuan itu terus terngiang di dalam telinga Ryes. Terus berulang di dalam ingatannya, terus menggodanya agar menerima lamaran mencurigakan itu. Bahkan terlalu mencurigakan untuk di anggap sebuah ketulusan. Tapi, bukan rasa curiga jelas itu yang membuat Ryes harus membuat gadis itu menunggu, tapi karna...
"Anda terlalu sempurna, Your Majesty. Anda tidak boleh memilih pria kotor seperti saya"
--000--
Summer kembali melempar apapun yang bisa di lemparnya saat Regan, tunangannya, dengan acuh terus masuk kedalam kamarnya sambil membawa empat orang wanita yang tampak vulgar, para pelacur!!
"Pergi kau!!"
Kekehan Regan kembali meluncur dari mulutnya saat Summer terus berteriak dan melempar barang, lalu berucap
__ADS_1
"Ini kamarku sayang"
Kedua tangan Summer mengepal karna rasa jijik saat wanita-wanita Regan, mulai melucuti satu persatu setelan Regan.
Dengan tubuh yang mulai lemas dan ketakutan, Summer berucap lirih.
"Kalau begitu tolong keluarkan aku dari sini"
Suara lirih itu akhirnya membuat Regan tertarik, membuat kepalanya tertarik untuk menjauh dari bibir seorang wanita yang sedang **********
"Tidak biasa Summer sayang. His Majesty ingin kita tidur di kamar yang sama mulai sekarang"
Dengan tubuh yang mulai mengigil, Summer kembali berucap lirih.
"Tapi aku tidak ingin menggangu kalian"
Satu alis Regan terangkat sambil mendaratkan bokongnya ke rajang. Tubuh atasnya yang sudah polos, terus di jamahi semua tangan-tangan liar wanitanya. Regan menatap Summer yang sudah berdiri di pojok, paling pojok dinding sambil membuang wajahnya, menjauhkan matanya dari pemandangan menjijikan yang di sajikan Regan
"Kalau begitu kemarilah. Bergabunglah dengan kami sayang"
Tubuh Summer semakin menggigil sambil menggeleng kuat. Kedua pipinya sudah mulai basah dengan wajah yang terus berpaling.
"Kita belum menikah. Ini dosa Regan"
Ucapan polos dan naif Summer langsung membuat Regan terbahak kuat bersama para wanita-wanitanya.
"Apa sayang? Dosa?" Regan kembali terbahak hingga perutnya terasa sakit. Di tengah-tengah tawanya, Regan kembali berucap. "Jika kesenangan ini adalah dosa, makan aku akan terus melakukan seluruh dosan ini dengan senang hati Summer... oh tunganku yang sangat polos" Sebelah tangan Regan terangkat, berkibas-kibas untuk Summer untuk. Menganggil Summer. "Kemarilah sayang. Sini.. aku akan menyenangkanmu"
Kedua mata Summer terpejam kuat. Dirinya sangat takut dan terhina hingga rasanya Summer ingin membunuh orang-orang yang secara tidak langsung sudah melecehkannya.
Mendengar suara yang tidak menjawabnya lagi. Kedua mata Regan terbuka saat dirinya sedang berusaha menikmati tangan-tangan dan bibir-bibir yang sedang berusaha memanaskan gairahnya. Kepala Regan menoleh untuk menatap Summer.
Menatap Summer yang sudah duduk di lantai, di pojok dinding, memeluk kakinya sendiri dengan kepala yang tenggelam di kakinya
...***...
\=\=\=💙💙💙💙
Jangan lupa like dan komennya di sebar-sebar.......
__ADS_1