Bloody Crown

Bloody Crown
BC 28


__ADS_3

Siang ini, sebuah kapal akhirnya mendarat di pelabuhan Francia. Para penumpang mulai turun dan mulai mencari transportasi mereka. Yang sebagian kecil penumpangnya, memiliki tujuan untuk menuju ke jantung Francia, rumah utama Francia, istana Rembrantd.


Tujuan mereka yang juga akan ikut dan menambah keramaian seperti yang sudah terjadi di depan istana Rembrantd sekarang.


Jika biasanya halaman istana akan tampak bersih dan selalu terjaga agar tenang. Kali ini, di siang hari menuju ke akhir musim panas di Francia, ada begitu banyak kereta-kereta kuda megah yang sudah terparkir di sana. Bahkan, sebelum matahari benar-benar menampakkan diri dengan jelas.


Mereka adalah tamu-tamu undangan yang menerima undangan. Dengan tujuan menghadiri festival, tapi juga dengan agenda mereka sendiri yaitu, ingin menunjukkan diri.


Menunjukkan diri mereka sebagai bentuk, sambutan antusias diam-diam mereka dari berita yang sedang beredar panas dan sangat cepat seperti terbawa angin. Berita yang satu minggu lalu menyebutkan jika, Ratu Francia sedang mencari pendampingnya.


Francesca masih menatap ke arah luar jendela dalam diamnya. Arah pandangnya menatap kosong dan datar setiap kali gerbang terbuka, setiap kali kereta kuda berhenti di depan istana, dan setiap kali penumpang kereta turun dari kereta kuda yang mereka tumpangi.


Dengan duduk santai di sebuah kursi yang ada di samping Francesca berdiri. George ikut menatap datar semua hal yang terjadi di depan halaman. Dengan kaki bersilang santai, kedua tangan terlipat di depan dada, George menatap ke halaman dengan isi pikiran yang yang melayang jauh. Melayang tanpa ada seorangpun yang bisa membaca apa yang sedang ada di dalam kepala tuanya itu.


"Kenapa mereka memaksa ingin tinggal di istana sedangkan di dalam surat, aku jelas sudah mengatakan jika istana tidak bisa membuka kamar secara luas?"


Masih dengan keadaan santainya, George mengedipkan kedua bahunya dengan acuh lalu menjawab dengan tidak kalah acuh.


"Rasa penasaran"


Dari ekor matanya, Francesca melirik George sejenak sambil kembali bertanya


"Untuk apa penasaran?"


Dari ekor matanya, George juga melirik Francesca sejenak sambil menjawab


"Banyak hal.... Banyak hal Frans"


Francesca tidak meneruskan lagi pertanyaan yang terdengar seperti penuh dengan rasa penasaran. Padahal, bagi orang-orang yang sangat mengenal Francesca, pertanyaan yang di keluarkannya itu adalah sebuah ucapan rasa kesal dan tidak suka.


Karna Francesca sangat tidak suka rumahnya di masuki oleh sembarangan orang.


TOK TOK TOK


"Your Majesty, ini Dolores"


Suara pelayan utama istana Rembrantd yang terdengar dari depan pintu, membuat George jadi kehilangan rasa santainya. Dengan sedikit panik, dirinya langsung melompat dari kursi untuk bersembunyi di balik kabinet di dekat meja kerja Francesca.


Karna Dolores, si pelayan utama pengurus istana Rembratd itu. Pasti bisa mengenali George yang dulunya adalah penguasa yang di layaninya. Dolores adalah salah satu orang yang menghabiskan banyak sekali tahun untuk memberikan pengabdiaannya pada istana Rembrantd


Kedua mata Francesca melirik George yang sudah selesai bersembunyi seperti anak kecil yang takut di temukan oleh ibunya karna berbuat salah. Dengan kedua sudut bibir yang berkedut geli, Francesca akhirnya menjawab suara di depan pintu


"Masuklah Dolores"


Setelah mendapatkan ijin, pintu langsung terbuka, dan seorang wanita tua langsung melangkah masuk dengan gestur sangat sopan.


Dari balik kabinet, George mengintip wanita tua, yang sudah sama tuanya dengan dirinya. Wanita tua pengurus dan pengatur para pelayan, tukang kebun, dapur, menu makanan, dan segala urusan yang berhubungan dengan keselarasan berjalannya istana Rembrantd.


Meski seluruh kepalanya sudah penuh dengan warna putih dan tubuh yang sudah semakin menyusut renta termakan usia. Tapi Dolores tidak pernah kehilangan gestur dan gerak gerik profesionalnya. Sangat sopan dan penuh dengan kepatuhan.


Dengan punggung rentanya yang sudah membungkuk dalam, suara sangat sopan Dolores kembali terdengar


"Selamat siang, Your Majesty"


"Ada apa Dolores?"


Francesca bertanya sambil melangkah Francesca untuk mulai kembali duduk di kursi mejanya. Dolores yang melihat pergerakan dan mendapatkan sambutan pertanyaan, langsung kembali menegakkan punggungnya dan menatap Francesca dengan sopan


"Kesatria Carl mengatakan, jika ada beberapa tamu yang memohon untuk meminta kamar. Mereka cukup keras kepala, Your Majesty"


Kepala Francesca mengangguk paham


"Sambut saja mereka yang keras kepala di Castle Alma. Biarkan mereka menghirup udara di sekitar sini tapi... tidak boleh memejamkan mata mereka di sekitar kita. Surat dariku sudah jelas menyebutkan jika istana Rembrantd hanya akan membuka pintu untuk festival, bukan penginapan"


Dengan patuh, Dolores mengangguk mengerti


"Baik Your Majesty"


"Tolak mereka dengan sopan dan halus. Tapi juga secara tegas. Biarkan beberapa kesatria yang mengurus mereka. Jangan kesatria yang lain, dan jangan sembarangan orang"


Dan sekali lagi. Dolores langsung mengangguk patuh dan paham.


"Baik Your Majesty. Saya akan mengatakan pada kesatria Jeremmy jika hanya kesatria Carl, Keelf, dan Gregory yang akan mengurus mereka. Biarkan kesatria ramah dan pintar berbicara itu yang menghadapi mereka"


Bibir Francesca tertarik tipis karna ucapan dan juga karna melihat senyum geli di bibir tua Dolores. Lihatlah... Dolores memang sangat mengerti keadaan istana dan semua yang berhubungan dengan keselarasan istana


Dengan lekat Francesca menatap Dolores, hingga akhirnya mulutnya kembali terbuka


"Dolores. Setelah festival ini selesai. Jika kau memang sudah lelah dan ingin istirahat, jangan segan untuk meminta itu padaku. Kau juga bisa meminta apapun padaku, apapun itu, mintalah padaku langsung Dolores"


Kedua mata Dolorea berbinar terang. Bibirnya yang sudah tersenyum haru berucap

__ADS_1


"Apa saya akan di pecat, Your Majesty?"


Dengan arah pandang yang sudah menatap Dolores dengan lembut, kepala Francesca mengangguk


"Sebenarnya iya. Tapi sebenarnya aku juga sangat egois karna tidak ingin kau bahagia dan bisa terlepas dari belenggu Rembrantd, Dolores"


"Maka teruslah egois, Your Majesty. Selama saya masih bisa bernafas dan masih secantik anda. Saya yang dulu sudah berjanji pada mendiang His Majesty Raja David akan terus mengikat diri saya sendiri di Rembrantd dan segala kemelutnya. Lagi pula, saya masih sangat sehat dan mungkin masih bisa merebut sisa calon pendamping yang tidak akan anda pilih"


Setelah berucap, Dolores terkekeh geli karna ucapannya sendiri. Dengan Francesca yang kembali menarik tipis bibirnya karna ikut merasa geli.


Sedangkan dari tempat persembunyiannya, George memutar bola matanya dengan malas. Jika dulu Dolores selalu merasa secantik Victoria, sekarang dirinnya yang semakin tua bangka malah semakin menjadi. Candaan Dolores memang tidak pernah berubah.


"Baiklah jika bergitu, kau tidak bisa menarik ucapamu lagi Dolores. Bahkan jika nanti 'pasti' akan ada seorang gentlemen yang terpesona dan melamarmu, kau harus tetap harus menjadi milik Rembrantd"


Senyum haru di bibir Dolores kembali terbit. Lalu berucap dengan nada sedikit geli


"Baiklah, sepertinya saya akan membatalkan saja niat saya untuk tebar pesona, Your Majesty"


Dengan punggung tuanya yang kembai membungkuk dalam, Dolores kembali berucap dengan nada bergetar haru.


"Terimakasih karna masih membutukan saya Your Majesty. Semoga Tuhan selalu memberkati Her Majesty kami dan juga kerajaan kami"


Kepala Francesca menganggguk singkat, yang membuat Dolorea langsung pamit undur diri dengan gestur sopannya.


Setelah pintu kembali tertutup. George akhirnya keluar dari tempat persembunyian. Dirinya kembali melangkah menuju ke jendela.


Keheningan terjadi beberapa saat di sekitar mereka, hingga akhirnya Francesca memulai suara di sana


"Summer akan tiba malam ini gapa"


"Hhmm... sambut mereka dengan ramah dan baik. Istana juga harusnya membawa 'mereka' ke meja makan kita" Dengan acuh George mengedipkan kedua bahunya. "Seperti yang seharusnya. Kita memang harus ramah dan menyambut 'besan' kita kan?"


Satu alis Francesca menukik. Dirinya menatap George dengan lekat, mencoba mencari-cari maksut ucapan George yang terkesan biasa tapi sangat beraroma amis di indra pencimuan Francecsa. Aroma yang sangat megandung sesuatu.


--000--


Wajah cemberut Summer selama tiga hari perjalanan mereka sudah berubah. Kedua matanya yang terus terlihat kesal karna Regan selalu menggangunya, mulai berbibar terang.


Karna... gerbang istana Rembrantd, sudah terlihat di depan mata Summer.


Merasakan jika hentakan kaki kuda mulai memelan, Summer langsung membuka jendela kereta. Mengeluarkan kepalanya untuk menatap orang-orang kerjaannya


"Oh! Your Highness..."


"Selamat malam Your Highness Putri Summer"


Senyum Summer semakin merekah dan menatap semua penjaga yang sudah menunduk sopan padanya


"Selamat malam Edi, dan yang lain...."


Tapi, senyum Edi dan penjaga lain langsung lenyap saat empat kuda besar muncul dan tiba di belakang kereta kuda yang sedang di tempati Summer. Belum cukup merusak kebahagiaan mereka, kepala Regan yang ikut keluar dari jendela membuat mata-mata penjaga gerbang langsung menggelap.


"Selamat malam para penjaga gerbang"


Summer melirik Regan yang ikut menejejalkan kepalanya ke jendela. Yang membuat Summer mulai kesal dan langsung memukul kepala Regan dengan kepalanya.


Regan hanya terkekeh sambil membalas pukulan kepala Summer dengan kepalanya.


Kemelut dan keadaan yang mulai terlihat tidak bersahabat dari para penjaga gerbang. Membuat seorang penunggang kuda di belakang kereta langsung membuka suaranya.


"Kami datang dari Bosnia, tuan-tuan penjaga"


Suara Ryes yang terdengar lantang dan sopan, akhirnya membuat para penjaga gerbang tersadar. Edi yang juga sudah ikut tersadar menatap Summer dan Regan yang masih beradu kepala, lalu berucap sopan.


"Selamat datang kembali, Your Highness Putri Summer"


Edi berucap yang hanya di tujukannya pada Summer. Tentu saja! mana mungkin mereka sudi menyambut orang-orang Bosnia itu!


"Iya Edi, dan hati-hati, karna sekarang udara malam semakin dingin" Summer semakin mengeluarkan kepalanya dan serucap dengan sedikit berteriak. "Selamat berjaga kalian semua...."


Ucapan penuh perhatian dan ramah dari Her Highness kesayangan Francia itu, membuat para penjaga langsung membungkuk sopan. Edi yang berada terdekat dari kereta yang mulai kembali bergerak, mewakili semua penjaga dan berucap


"Senang sekali bisa melihat anda kembali Your Highness. Selamat pulang ke rumah kembali"


Summer mengangguk singkat dan kembali menutup jendela untuk bersiap dan menyiapkan diri.


Regan yang sudah duduk diam di tempatnya sangat menikmati wajah berbinar bahagia Summer. Well... Sepertinya Bosnia dan Helsingr selama ini sudah sedikit merusak mental tunangannya. Hingga Regan tidak pernah bisa melihat raut wajah dan kedua mata berbinar Summer seperti yang di lihatnya sekarang


Kereta kuda kembali berhenti. Summer mulai semakin gelisah.


Regan yang duduk tenang di depan Summer hanya diam dan menatapi Summer yang terlihat sangat tidak sabaran untuk segera menerjang pintu kereta.

__ADS_1


"Your Highness. Kita sudah sampai"


Setelah memberi aba-aba pada tuannya, si tangan kanan Regan langsung membukakan pintu kereta.


Regan mulai bergerak turun, lalu berbalik sambil memberikan tangannya pada Summer. Pada Summer yang dengan cepat menyambar tangannya dan melompat dengan cara tidak anggun.


"Sum!"


Summer mengabaikan teriakan Regan dan langsung berlari begitu saja dengan mulut yang terus berucap


"Halo semua... Halo... Halo semua.. Halo.. apa kabar kalian?"


Di sepanjang langkah setengah berlarinya, Summer terus menyapa semua pelayan dan pengawal yang di lihatnya. Dirinya bahkan sudah melupakan dengan siapa dirinya tiba ke Francia


Dengan tangan yang sudah berkacak di pinggang, Ryes menatap istana Rembrantd untuk yang pertama kalinya. Bersama Regan yang juga sudah ikut berkacak pinggang sambil menatap Rembrantd untuk yang kesekian kalianya


"Di lihat dari sisi manapun istana ini biasa saja. Sudah di perbaikipun masih tidak berubah. Aku heran, kenapa Summer bahagia sekali kembali ke tempat kecil ini?"


Dari ekor matanya, Ryes hanya melirik Regan sejenak tanpa berniat membuka mulutnya. Dirinya malas untuk meladeni ucapan tidak tahu diri Regan.


"Your Highness. Your Grace... Silahkan..."


Seorang pengawal langsung menuntun langkah mereka untuk menuju ke kamar yang sudah di sediakan


Langkah mereka mulai bergerak, dengan Regan yang menatap semua wajah-wajah yang menunjukkan raut wajah menaruh dendam padanya. Sedangkan Ryes, melirik pengawal yang mengantar mereka lalu berucap


"Di mana Her Majesty?"


Pertanyaan Ryes, membuat penjaga itu menoleh sejenak lalu menjawab


"Ada di kamarnya, Your Grace"


Regan melirik Ryes yang hanya mengangguk. Lalu ikut berucap


"Kami belum makan malam"


Pengawal itu mengangguk paham.


"Iya Your Highness. Makan malam sedang di siapkan. Pelayan akan memanggil kalian untuk ke ruang makan saat semuanya sudah siap"


Saat sudah sampai ke kamar-kamar tamu utama, pengawal itu langsung menunjukkan kamar mereka satu persatu.


"Barang-barang anda akan di bawakan dan akan di susun oleh pelayan, Your Highness"


Sambil menatap seluruh sudut kamarnya, Regan mengangguk. Anggukan Regan membuat pengawal itu langsung mengambil langkah untuk undur diri. Bertepatan dengan kedatangan dua orang pelayan yang datang membawa barang-barang Regan


"Ryes tidak akan suka jika barangnya di sentuh. Sebaiknya kalian cukup menggeledah barang-barangku saja"


Ucapan acuh tapi juga sangat beraroma sindiran tepat Regan, membuat para pelayan itu saling melirik. Dan pengawal yang masih bisa mendengar ucapan Regan hanya bisa meneguk ludahnya dengan kasar.


Ternyata benar apa yang di katakan Jeremmy. Jika mereka bukanlah orang-orang biasa. Mereka cerdas dan bisa membaca keadaan. Karna itu, para pelayan akan mulai sangat berhati-hati.


Di sisi lain. Setelah berlarian dari ruang kerja Francesca yang kosong, lalu ke kamar Ferdinand yang ternyata juga kosong. Langkah Summer langsung menuju ke kamar baru Francesca. Bagian kamar utama istana Rembrantd, kamar para pemilik tahta.


Francesca yang baru saja selesai mandi dan sedang di bantu Susane untuk memakai gaunya, langsung menatap pintu yang sedang coba di.... dobrak?


"Astaga! itu siapa!"


Susane tanpa sadar menaikkan suaranya, karna terkejut dengan ketukan pintu yang sangat kuat dan juga karna handle pintu yang terus di putar kuat


"Buka saja Susane"


Dengan patuh, Susane langsung memasangkan mantel Francesca karna nonannya belum selesai berpakaian. Lalu langsung melangkah menuju pintu yang jika tidak secepatnya di buka, maka bisa saja pintu itu lepas


Saat pintu terbuka, dengan mengabaikan keterkejutan Susane. Summer langsung berlari menuju Francesca yang menatapnya dengan bingung


"KEJUTAAANNNNN!!!!"


Kekehan Summer langsung mengisi seluruh suara di kamar Francesca. Kedua tangan Summer memeluk sekuat tenaga tubuh salah satu kakaknya yang sangat dirinya rindukan


Dengan membalas pelukan Summer, Francesca melirik Susane yang sedang mengusapi ujung matanya lalu langsung mengambil gestur untuk meninggalkan kedua saudari yang pasti sudah saling sangat merindukan itu.


"Kalian tiba lebih cepat Sum?"


"Frances... aku rindu.. aku rindu... aku sangat merindukan kalian..."


Bibir Francesca tersenyum getir sambil semakin mengeratkan pelukan mereka. Dengan melupakan pertanyaannya barusan, Francesca kembali berucap lembut


"Selamat datang di rumah kita Sum..."


Baiklah.. sepertinya ini bukan saatnya untuj Francecsa bisa bertanya. Karna adiknya yang sekarang sudah menangis, pasti belum bisa menerima pertanyaan apapun.

__ADS_1


\=\=\=❤❤❤❤


Jangan lupa like dan komennya...


__ADS_2