
Dengan anggun Francesca melangkah memasukki ruang makan yang menjadi tempat pertemuan yang sudah di janjikan mereka.
Kedatangan Francesca, langsung membuat tiga orang perempuan yang tampak sudah tidak sabar menunggu kedatangannya, langsung berdiri.
"Selamat sore, Your Majesty Ratu Francesca"
Francesca mengangguk singkat, dan langsung mendaratkan bokongnya di kursi saat Susane sudah menarik kursi untuknya.
Melihat kepala Francesca yang sudah mengangguk, para tamunya yang masih tampak sangat suka menatap wajah Francesca, langsung ikut mendatarkan bokong mereka di kursi masing-masing.
"Apa kalian sudah makan? Apa kudapan ini cukup untuk kalian?"
Ucapan basa basi busuk dengan wajah datar dan tidak terbaca Francesca, membuat mereka menggangguk sopan dengan bibir dan raut wajah yang tetap tersenyum ramah. Lalu seorang wanita paruh baya yang ada di antara tamunya, langsung menjawab dengan sopan.
"Terimakasih Your Majesty. Ini sudah cukup untuk kami"
Dari ekor matanya, Francesca melirik Susane. Susane yang sudah menjadi pelayan Francesca dari semenjak Ratu baru mereka itu menginjakkan kaki ke istana, langsung memundurkan langkahnya dengan sopan dan segera pergi. Susane harus memanggil tangan kanan kesayangan Francesca.
Terjadi keheningan beberapa saat karna Francesca yang belum juga membuka obrolan. Fracesca dalam diam menunggu kedatangan seseorang. Hingga akhirnya insting Francesca bisa merasakan kedatangan Tomy, Francesca mulai membuka suaranya.
"Jadi... dengan siapa saya bertemu sekarang?"
Seorang wanita paruh baya yang sedari tadi terus menjadi juru bicara para tamunya. Langsung berdiri dan mengambil gesturnya. Menyilangkan kaki, menarik kedua sisi gaunnya, lalu menekuk sedikit lututnya sambil berucap sopan.
"Perkenalkan Your Majesty. Saya Lidya Illies. Janda dari Duke Illies dari Lovgne"
Francesca mengangguk singkat. Yang langsung membuat seorang perempuan di sebelah Lidya. Perempuan yang tampak lebih tua beberapa tahun dari usia Francesca itu, langsung berdiri anggun dan mulai mengambil gestur sopannya
"Perkenalkan Your Majesty. Saya Stefany Cambre. Janda dari Viscount Cambre dari Morsash"
Kepala Francesca kembali mengangguk singkat. Dan gadis muda yang ada di sebelah Stefany, langsung berdiri dan mangambil gesturnya
"Perkenalkan Your Majesty. Saya Siska Breghton. Anak dari Earl Breghton dari Estela"
Francesca kembali menatap lekat wajah-wajah yang baru selesai memperkenalkan diri mereka. Sambil meraih gelasnya, Francesca melirik Tomy yang ada di balik tembok pembatas dengan jarak cukup jauh dari mereka. Tapi Francesca yakin, jika Tomy bisa mendengar nama-nama dan gelar yang di miliki tamunya
Para perempuan aktivis dari janda seorang Duke dan Viscount, lalu seorang Lady anak dari seorang Earl. Menarik... ternyata mereka bukanlah orang-orang dari kalangan biasa yang seperti sempat Francesca pikirkan sebelum bertemu dan melihat penampilan mereka.
Sambil meletakkan cangkirnya dengan anggun, Francesca mulai membuka obrolan.
"Saya sudah membaca surat yang kalian berikan. Ini semua tentang hak-hak para perempuan kan?"
Kepala mereka langsung mengangguk. Dan Lidya yang menjadi juru bicara tamu Francesca, menjawab sopan
__ADS_1
"Sebelumnya, kami sangat ingin berterima kasih atas waktu berharga anda yang sudah Your Majesty berikan untuk kami" Lidya menjedah lalu kembali tersenyum ramah. "Tujuan kami ingin bertemu anda, karna kami sangat tertarik pada ucapan anda di pesta pertunangan His Highness Pangeran Mahkota Regan, dan Her Highness Putri Summer Francia. Sebenarnya, saya juga ada di sana dan menjadi tamu malam itu"
Aahh... Francesca mengerti sekarang. Pasti karna para perempuan yang ada di depannya ini, yang menyebabkan perkataannya bisa tercetak di surat kabar Bosnia.
"Benar Your Majesty. Memang kami yang menyerahkan perkataan anda malam itu ke surat kabar"
Francesca melirik Lidya yang kembali bersuara. Ternyata wanita berwajah ramah paruh baya itu, sangat peka dan sepertinya cukup cerdas.
"Sebenarnya Duchess Illies. Saya mengatakan itu hanya untuk membalas ucapan Raja Feroca yang sempat beradu ucapan dengan saya"
Kepala Lidya langsung menggeleng sambil kembali tersenyum
"Sebenarnya, saya pernah bertemu dengan mendiang Her majesty Ratu Victoria. Dan mendiang suami saya, juga dulu sempat sering bertemu dengan mendiang Duke William Arathorn. Jadi saya yakin jika apa yang anda katakan malam itu, memang berasal dari penilaian nyata anda"
Ucapa Lidya membuat Francesca menatapnya dengan lekat dan penuh selidik. Fakta yang di katakan Lidya cukup mengejutkan untuk Francesca.
"Anda mengenal keluarga Arathorn?"
Dengan yakin, Lidya langsung menjawab
"Benar Your Majesty. Hubungan mendiang suami saya dan mendiang Duke Arathorn adalah berbungan dengan bisnis milik kami"
"Lalu hubungan anda dengan Ratu Victoria?"
Tatapan ramah Lidya berubah. Kedua mata berbinar dan ramahnya berubah menjadi tatapan sendu.
Kepala Francesca mengangguk paham. Lalu menatap Lidya dengan pandangan melembut
"Saya turut berduka untuk mendiang anak anda Duchess"
Senyum ramah Lidya kembali. Kedua matanya kembali berbinar menatap Francesca. Suaranya yang halus kembali terdengar.
"Kejadian itu sudah sangat lama Your Majesty. Saya baik-baik saja. Terimakasih atas perhatian yang anda berikan"
"Tidak Duchess. Rasanya saya sangat senang bisa mengenal anda dan kalian semua. Pekerjaan kalian sangat terdengar keren di telinga saya"
"Oh Your Majesty... kami tidak sekeren itu. Kami hanya sekumpulan janda pengangguran dan para anak muda pemalas"
Candaan yang di ucapkan Lidya membuat bibir Francesca tertarik tipis, dengan para tamunya yang langsung terkekeh sopan.
Hingga akhirnya. Karna sudah cukup merasa membuang waktu, Francesca memulai inti pembicaraan mereka.
"Jadi... apa alasan utama kalian ingin bertemu dengan saya Duchess?"
__ADS_1
Raut wajah semua tamunya mulai berubah serius untuk menggapi ucapan Francesca. Dan Lidya yang menjadi juru bicara para tamu, kembali membuka mulutnya
"Seperti yang sudah kami katakan, Your Majesty. Jika kami bisa sampai di sini karna ucapan anda malam itu. Ucapan anda malam itu yang terasa sangat berarti untuk kami. Kami, para janda pengangguran. Kami para janda yang 'di paksa' menjadi penganguran, dan para anak muda yang tidak bisa mendapatkan keadilan karna kami seorang.... perempuan"
Kedua tangan Francesca yang bertaut anggun di depan perutnya mengerat, arah pandangnya menatap satu persatu tamunya
"Ceritakan tentang kalian"
Tatapan ramah Lidya berubah. Tatapan yang Francesca sangat kenal
"Seperti yang juga sudah saya katakan Your Majesty. Jika mendiang suami saya adalah rekan bisnis mendiang Duke Arathorn. Kami memiliki bisnis properti nomer satu di Bosnia. Bisnis yang saya dan mendiang suami saya kembangkan bersama hingga menjadi besar. Dan sekarang, bisnis dan properti kami telah jatuh ke tangan istana. Semenjak suami saya meninggal karna kecelakaan"
Alis Francesca mengerut dalam
"Anda kehilangan seseorang lagi karna kecelakaan juga?"
"Lebih tepatnya karna keadaan kecelakaan yang sama"
Francesca menangkap kilapan yang semakin jelas terlihat di kedua mata Lidya. Kilapan yang sangat Francesca kenal. Kilapan kemarahan, kebencian, dan dendam. Sebelah tangan Francesca mulai memainkan cangkir tehnya sambil terucap dingin
"Mereka merebut semua bisnis yang sudah kalian bangun sendiri dengan susah payah. Mereka merebutnya, karna perempuan Bosnia hanya bisa menjadi keramik pajangan dan tidak boleh berkembang di atas kaki kalian sendiri?"
"Benar Your Majesty. Kami para perempuan sangat tidak berarti di Bosnia, terlebih semenjak His Majesty Raja Feroca naik tahta. Dan apa yang saya alami bukan hanya terjadi pada saya saja" Lidya menoleh. Untuk menatap Stefany sekilas, lalu kembali menatap Francesca sambil berucap. "Lady Stefany juga mendapatkan nasip yang sama seperti saya. Dan ada beberapa Lady lain yang memiliki nasip buruk seperti kami. Di bunuh, di rampas, di campakkan, dan di lupakan seperti kami bukanlah seorang manusia berharga"
Kepala Francesca mengangguk paham. Kedua matanya bisa melihat dengan sangat jelas tatapan membara dan kesakitan para perempuan di depannya. Arah pandang Francesca menatap perempuan paling muda di depannya
"Lalu bagaimana dengan anda Lady Siska Breghton?"
Siska, gadis muda bersurai pirang dengan wajah cantik yang cukup tidak ramah itu, langsung membuka mulutnya
"Saya mempunyai seorang kakak perempuan yang pernah di cemari oleh beberapa orang parlement Bosnia. Hingga mendiang kakak perempuan saya bunuh diri karna tidak sanggup menahan semua penderitaannya. Dan hingga kematiannya, hingga saat ini, hingga detik ini, kami tidak bisa mendapatkan keadilan. Bahkan semua fakta berubah dan membuat nama mendiang kakak saya menjadi kotor. Di pengadilan mereka mengatakan jika mendiang kakak saya yang menggoda mereka. Dan dengan bulat-bulat, pengadilan menerima pembelaan para bedebah itu atas persetujuan istana"
Ucapan menggebu tajam dengan kedua mata Siska yang menggenang, membuat hati Francesca tercubit. Ini... sangat menyedihkan. Bosnia ternyata lebih menjijikkan dari apa yang pernah di pikirkan Francesca
"Dan Your Majesty" Suara Siska yang kembali terdengar membuat Francesca kembali menatapnya. "Apa yang terjadi pada mendiang kakak perempuan saya sering terjadi di setiap sudut Bosnia. Bahkan, para perempuan dari kalangan biasa akan mendapatkan ketidakadilan lebih parah dari para bangsawan"
"Saya mengerti Lady Siska. Saya turut berduka untuk mendiang kakak anda. Dan juga untuk anda Lady Cambre. Untuk kalian semua yang sudah kehilangan orang-orang yang kalian cintai"
"Terimakasih Your Majesty. Terimakasih banyak"
Ucapan lembut dan tulus Lidya membuat kepala Francesca mengangguk singkat sambil kembali berucap.
"Jadi apa yang bisa saya bantu, Duchess? apa yang ingin kalian minta pada saya?"
__ADS_1
\=\=\=💚💚💚💚
Jangan lupa like, komennya di sebar-sebar semua....