
Francesca menatap ke langit yang semakin terik. Tapi para tamu undangan seolah tidak kehilangan semangat mereka untuk menunggu. Padahal, acara sudah berlangsung selama beberapa jam.
"Tom"
"Iya Your Majesty?"
"Sudah cukup"
Tomy menatap Francesca sejenak lalu berucap
"Maaf sebelumnya, Your Majesty. Tapi ini baru berlangsung selama tiga jam. Hari belum sore"
Arah pandang Francesca kembali menatap ke arah penonton, lalu mengangguk
"Iyaa... tidak masalah. Karna besok malam kita juga harus berkumpul kembali untuk penutupan musim panas"
Dengan patuh Tomy mengangguk.
"Baik Your Majesty"
Setelah melihat Tomy melangkah untuk menuju penjaga gong, Francesca menatap ke tempat George yang sudah kosong. Pria tua itu sudah pergi.
Lalu menatap ke arah Summer yang terus merengut dan tampak kesal karna selalu di ganggu tunangannya.
Sedangkan Delana. Tampak sibuk berbincang dengan beberapa ladies muda. Sepertinya, Delana memang sangat mudah untuk mendekatkan diri pada orang lain. Tidak hanya para perempuan, tapi juga para pria.
Suara gong mulai menggema kuat. Sangat kuat hingga tanah di sekitar gong ikut bergetar, yang di harapkan agar para peserta yang ada di hutan bisa ikut mendengar.
Lalu beberapa kuda kesatria langsung bergerak menuju ke dalam hutan untuk memastikan agar tidak ada peserta yang kembali terlambat.
Suara gong membuat obrolan di kursi penonton semakin ricuh. Wajah-wajah mereka tampak tidak sabar untuk menunggu puluhan peserta yang masih di dalam hutan, yang mungkin sedang dalam perjalanan untuk kembali ke lapangan istana.
"Your Majesty..."
Susane kembali menyodorkan air limun pada Francesca, yang kali ini langsung di jawab Francesca dengan menggeleng singkat. Dirinya sudah terlalu banyak minum air dan perutnya terasa mulai begah.
Beberapa puluh menit terlewati, hingga yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba.
Wajah-wajah para pemburu mulai terlihat dari kejauhan bersama kuda-kuda kesatria yang sudah menggantung banyak buntalan di sisi-sisi kuda.
Para penonton tampak sangat bersemangat, termasuk Francesca yang juga ikut semangat mencari Edward. Apakah Ferdinand tahun ini akan menjadi pemenang utama lagi dan akhirnya bisa mengalahkan Edward?
Well... kita tunggu saja.
Para peserta semakin banyak yang muncul dengan kuda-kuda yang juga semakin banyak kembali.
Hingga Tomy mangangguk singkap pada Francesca. Yang menandakan jika para peserta sudah berkumpul semua.
Ferdinand, Edward, dan Ryes. Yang tahun ini menjadi perhatian utama sudah masuk ke dalam tali pembatas
Lagi-lagi tatapan Ryes bertemu dengan tatapan Francesca. Yang membuat mereka diam-diam kembali saling melempar tatapan menantang.
Mulut Ryes kembali terbuka dan mengatakan sesuatu tanpa suara. Yang di balas Francesca dengan menarik separuh bibirnya.
"Kita lihat... Apa kau bisa mengalahkan Edward kami, Ryes?"
Francesca hanya berucap dalam hatinya, tanpa mengeluarkan ucapan dari mulutnya.
"Kita akan mulai menghitung sekarang, Your Majesty"
Kepala Francesca mengangguk singkat pada Tomy. Yang membuat Tomy langsung mengangguk pada kesatria yang akan menjadi penghitung buruan.
Satu kantung, enam kantung, Sepuluh kantung, lalu terus berlanjut hingga kantung milik Ferdinand
"Satu beruang, dua rusa dewasa, tiga babi besar, dan dua kelinci besar"
Sorak sorai dan tepuk tangan langsung memenuhi isi lapangan. Sorak sorai yang penuh rasa kagum, bangga, dan puas. Tahun ini seperti biasa, buruan Ferdinand tidak pernah mengecewakan.
Tapi, wajah Ferdinand tampak tidak puas dan terus merengut kesal. Lalu, raut wajah kesal dan tidak puas itu menatap Francesca yang sudah menatapnya. Francesca yang menatapnya dengan saparuh bibir terangkat penuh ejekan.
Jika ini tahun-tahun biasa tanpa Edward, mungkin benar... Ferdinand akan merasa cukup puas karna sejauh penghitunganpun, masih milik Ferdinand yang terbanyak dan terbesar.
Tapi sekarang ada Edward. Si pelatih utama camp kesatria, si kapten yang belum bisa tergantikan. Dan jangan lupakan, jika si anjing gila perang itulan yang dulu juga melatih si pahlawan perang utama Francia, Fredrick.
Kantung-kantung hasil buruan masih terus di hitung, hingga akhirnya milik Ryes di umumkan.
"Duke Hasting Bosnia. Satu rusa dewasa, satu babi besar, satu tupai besar, tiga harimau besar, dan.... Wow! tiga baruang besar"
WHAATTT???
Alis Francesca mengeryit, lalu menatap tubuh-tubuh buruang yang ada di atas tanah. Dirinya merasa tidak percaya dan tidak ingin percaya. Sial! apa pria itu monster? dalam waktu tiga jam bisa menahlukkan tiga harimau dan tiga beruang besar beserta yang lainnya?
Dengan raut wajah yang sudah berubah semakin datar dan dingin, Francesca menahan kepalanya agar tetap ke depan. Agar tidak menoleh pada Ryes yang bisa Francsca rasakan jika sedang terus menatapnya.
Dan benar... Ryes memang terus menatapnya dengan raut wajah menyebalkan dan penuh ejekan. Yang membuat Ferdinand merasa tersinggung. Padahal... Ryes tidak perduli seculilpun padanya.
"Awas kau jika mempermalukan Francia Ed!"
Edward memutar bola matanya dengan malas.
"Andalah yang sudah mempermalukan Francia. Pangeran Francia kami yang sudah kalah"
Ferdinand melirik Edward dengan sangat-sangat-sangat sinis. Lirikannya seperti penyihir penuh dendam yang siap untuk mengubah Edward menjadi kodok.
__ADS_1
"Ck! Apa kau bisa menang, Ed?"
"Anda kalah"
Wajah Ferdinand semakin-semakin-semakin merengut kesal. Arah pandangnya milirik Ryes yang tampak santai tidak melakukan apapun. Tapi, di pandangan sinis Ferdinand, pria itu seolah sedang bersorak sombong mengejeknya.
"Dia tidak melakukan apapun, Your Highness.. Jangan sihir dia. HHAHHAHA..."
Tangan Ferdinand langsung terulur untuk mendorong Edward yang sudah terbahak. Meski tidak akan berhasil, tentu saja. Ferdinand belum sehebat itu hanya untuk bisa menyentuh Edward.
Summer yang ada di kursi penonton mengigit bibirnya dengan gugup. Pasalnya, setelah mendengar hasil buruang Ryes, dirinya bisa terancam kalah taruhan bersama Regan.
Regan yang melihat wajah gugup tunangannya, semakin menumpahkan minyak ke dalam api gugup Summer.
"Satu permintaanku sudah di depan mata" Regan menggeser tubuhnya semakin kesamping untuk berbisik di sebelah telinga Summer. "Kira-kira apa yang ingin ku minta dari mu, sayang?"
"Ck! ini belum berakhir! Edward pasti menang! lihat saja!"
Kekehan geli meluncur dari mulut Regan. Yang membuat Delana semakin menatap dua oramg di depannya dengan tajam. Tatapan yang langsung membuat kepala Regan menoleh padanya, lalu menatapnya dengan tatapan tidak suka.
Tapi Delana yang di tatap, seolah tidak peduli dan terus menatap Summer dengan sinis
"Kau kenapa?"
"Aku? memang aku kenapa Pangeran Regan?"
Percakapan dingin dan tidak bersahabat yang terjadi di sekitarnya, membuat kepala Summer ikut menoleh ke belakang.
Dan mereka bertiga... mulai saling melempar tatapan dingin tidak bersahabat. Hingga Summer ikut menimpali obrolan di sana
"Anda ada masalah dengan saya, Putri Delana?"
Dengan anggun, Delana membuka kipasnya sambil berucap acuh
"Saya bahkan tidak peduli pada anda, Putri Summer"
Satu alis Summer menukik tinggi. Dan semakin memutar tubuhnya ke belakang. Hingga gesturnya sudah sangat terlihat tidak anggun.
"Kalau begitu jangan menatap saya, seolah saya sedang merebut semua perhatian setiap pria tampan di sini"
"Apa maksut anda!"
Well... Regan semakin menyamankan kursi penontonnya. Sepertinya pertunjukan ini akan seru.
"Anda tahu maksut saya" Summer menyeringai. "Jangan terlalu sinis, karna itu bisa semakin menambah kerutan di wajah anda, Putri Delana"
"Kau!-"
"Kesatria Edward!"
"Dua babi besar, tiga harimau besar, satu rusa dewasa, dan... TIGA BERUANG!!!"
Sorak sorai dengan penuh dengan rasa bangga dan juga lega langsung memenuhi seluruh penjuru lapangan.
Ferdinand hampir saja melompat dan memeluk Edward karna terlalu lega.
"Ohh Ed.. dari dulu kau memang idolaku!"
Edward mendengus kasar sambil menyingkir dari gerakan memeluk Ferdinand
"Jangan coba-coba Your Highness.... Menyingkirlah"
"Aku ingin memelukmu sedikit. Sedikit saja"
Ferdinand mengerling sambil memasang senyum menjijikkannya. Yang membuat Edward bergindik ngeri.
Francesca yang duduk tenang di atas kursi tahtanya, menarik tipis bibirnya pada Edward. Yang membuat Edward jadi mengabaikan Pangeran tidak penting mereka, dan langsung menunduk dalam pada Francesca.
Summer masih bersorak dengan kemenangan tipis Edward yang sudah pasti akan di raihnya. Sedangkan pria yang ada di sebelahnya menatap Edward dengan lekat. Bola mata biru cerahnya menatap Edward yang sudah menetapnya dengan tatapan yang sama-sama saling menyelami. Mulut Regan berguman pelan, gumanan yang masih bisa di tangkap jelas oleh telinga Summer
"Apa dia selalu sehebat itu?"
"Tentu saja! Edward adalah yang terhebat!"
Ucapan girang dan penuh rasa bangga Summer membuat Regan meletakkan gelas limunya. Lalu berucap datar.
"Lalu kenapa kalian tidak memakainya lagi?"
Kedua tangan Summer yang masih bertepuk langsung terhenti. Kepalanya menoleh pada Regan
"Memakai apa? Edward selalu menjadi kapten para kesatria"
Dengan acuh, Regan hanya mengangguk singkat. Arah pandangnya sudah menatap Ryes yang mendekat pada Edward.
Dari ekor matanya, Edward melirik Ryes yang sudah berdiri di sebelahnya dengan santai
"Aku penasaran. Apa yang anda jaga Kesatria Edward?"
Nafas Edward tercekat. Kepalanya langsung menoleh pada Ryes. Pada Ryes yang kembali berucap.
"Karna sebuah kerajaan tidak akan menyia-nyiakan kemampuan hebat yang anda miliki-" Ryes menarik separuh bibirnya dan menatap Francesca. Mulutnya kembali berucap dengan arah pandang yang terus menatap ke pemilik tahta. "Apa aku salah kesatria Edward?"
Edward hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab. Dirinya tidak mahir untuk urusan berkelit dan juga untuk urusan memutar balikkan ucapan. Karna itu, Edward hanya mengatupkan mulutnya tanpa ingin menjawab. Edward takut, jika dia salah membuka mulutnya, pria Bosnia yang sudah di lebeli George dengan gelar 'bukan pria biasa' itu, bisa saja langsung mendapati jawaban kenyataan
__ADS_1
Ryes yang hanya mendapatkan kebungkaman Edward mengangguk singkat, lalu kembali berucap
"Francia... Dengan segala orang-orang cerdasnya"
Hanya itu kata terakhir yang di dengar Edward dari Ryes. Karna setelah itu, Francesca langsung berdiri dari kursinya yang mambuat semua keributan menjadi hening. Dan semua kaki ikut berdiri saat Francesca sudah melangkah anggun menuruni undakan tangga dan berakhir di tengah-tengah lapangan
"Selamat siang rakyatku... Terimakasih atas antusias kalian, terimakasih atas semangat kalian-" Francesca menjedah, untuk melirik pergerakan mendekat ketiga pria yang akan menerima hadiahnya. "Aku tidak pandai berbasa basi dan banyak berucap. Emm... Kalian pasti tahu itu"
Ucapan santai Francesca membuat para tamu tersenyum geli. Francesca melanjutkan ucapannya.
"Hari ini, ketiga pria pemenang festival tahun ini sudah kita dapatkan. Semoga tahun-tahun kedepannya, para pemenang bisa terus berganti-ganti seperti tahun ini-" Francesca menoleh pada Ferdinand. "Iya kan Pangeran Ferdinand?"
Sindiran penuh candaan Francesca membuat suasana menjadi lebih santai. Ferdinand yang di sindir hanya menekuk bibirnya dengan wajah tidak terima.
Melihat anggukan Francesca, seorang langsung berjalan maju dengan sopan sambil membawa nampan yang berisi dua segel tapal kuda berwarna emas dan perak, beserta satu peti kecil. Hadiah-hadiah yang selalu sama di berikan untuk para pemenang perlombaan memanah di setiap tahunnya.
Tangan Francesca mengambil peti kecil terlebih dahulu. Peti yang memiliki lambang dua ular yang menjaga sebuah pedang hitam, lambang Francia.
Dengan anggun, Francesca menyerahkan hadiah itu pada Ferdinand lalu berucap.
"Selamat... instal kudamu tidak akan semakin kepenuhan"
Suara kekehan langsung menggema karna, rakyat Francia merasa cukup geli. Tentu saja mereka merasa lucu. Ucapan Francesca itu adalah sebuah sindiran yang pantas di ucapkan Francesca pada Pangeran mereka. Pada Ferdinand yang selama tujuh tahun ini selalu merebut hadiah utama.
"Terimakasih atas perhatian anda pada instal kuda saya, Your Majesty"
Dan kembali, jawaban Ferdinand membuat suara kekehan kembali menggema. Yang membuat Ferdinand mengedipkan satu matanya pada Francesca. Dan dengan malas, Francesca langsung melengos untuk meraih sebuah segel tapal kuda dari perak.
Mereka, si pemberi hadiah dan si calon penerima hadiah kedua, kembali saling menatap. Berdetik-detik mereka lewati dengan saling menyelami. Berdetik-detik dalam keheningan mereka saling menatap penuh selidik. Seolah, hanya mereka yang ada di sana. Seolah, seluruh lapangan penuh itu hanya milik mereka.
Hingga Francesca memutus tatapan mereka dan menyodorkan hadiah kedua pada Ryes.
"Duke Hasting Bosnia... Terimakasih atas partisipasi dan hasil buruannya. Berkat partisipasi anda, tahun ini Rakyat kami akan makan lebih besar"
Ucapan santai dan ringan Francesca semakin membuat susana damai dan bersahabat.
Ryes yang merasakan usaha Francesca untuk mencoba bersikap ramah, membalas dengan tidak kalah ramah.
"Terimakasih Your Majesty. Senang rasanya bisa pulang ke Bosnia sambil menunggangi kuda baru. Rasanya seperti habis melewati natal..."
Ferdinand memutar bola matanya dengan malas. Basa basi Ryes sangat busuk. Dirinya melirik sekitar yang sedang tampak tersenyum dan terkekeh geli. Seoleh mereka sudah lupa--jika pria itu berasal dari tempat yang baru beberapa bulan lalu, menghancurkan jantung Francia.
Walaupun bisa merasakan perasaan meradang yang sedang di rasakan Ferdinand. Francesca menahan perasaannya, dan mulai menuju Edward.
Mereka saling menatap sejenak. Hingga Francesca selesai membuang nafas panjang, dirinya berucap sambil menyodorkan segel tapal kuda dari emas, hadiah pertama.
"Ingat ya Ed.... Hadiah ini kita bagi dua"
Suara kekehan kembali terdengar, dengan Edward yang juga langsung tersenyum geli lalu berucap sopan
"Saya sangat kesulitan hari ini Your Majesty. Tolong kemurahan hatinya-" Edward menatap Francesca dengan mengerling. "60/40?"
"Ohh tidak... kau licik sekali Ed"
Keadaan santai yang penuh dengan keceriaan di sekitarnya, membuat Delana terus menatap antara Ferdinand dan Ryes. Ada guratan raut wajah penuh kecemburuan yang tergaris di wajahnya.
Dan tanpa sengaja, Regan yang sedang menoleh-noleh kebelakang menangkap itu. Yang membuat dirinya jadi ikut menatap Ryes dan Ferdinand dengan lekat.
"Well... Dia pasti melihat itu"
Gumanan Regan membuat Summer menoleh untuk menatap Regan dengan raut wajah penuh tanda tanya.
--000--
Di sisi lain. George memanfaatkan kesunyian istana untuk menyambut kedatangan seseorang. Seseorang yang saat melihatnya, langsung turun dengan girang dari kereta kuda
"George!"
"Hallo nak..."
George terkekeh saat Anastasia yang sangat girang, hampir lupa diri dan melupakan tatakramanya karna ingin menerjang George dengan pelukkan.
"Ekhem... Selamat siang, tuan George"
"Selamat siang, Putri Anatasia"
Layaknya Gentlemen sejati, George langsung memberikan sikutnya. Anastasia menaikkan sebelah alisnya dan menatap George dengan geli.
"Apa ini?"
Sambil bertanya, dengan anggun, Anastasia menggamit sikut George
"Sabutan untuk wanita cantik"
"Oohh! sekarang aku mengerti dari mana Ferdinand belajar merayu"
George terkekeh sambil terus menuntun langkah mereka dan terus melirik sekitar yang tampak acuh. Entah kebohongan apa yang di katakan Francesca hingga semua orang tidak ada yang mencurigainya.
"Salah. Urusan merayu dan bermulut manis itu kami pelajari dari Fredrick. Dialah gurunya nak"
Senyum girang Anastasia sedikit pudar. Dirinya menatap George sekilas dengan pandangan sedih, lalu kembali memperbaiki raut wajahnya.
Baiklah... mungkin ini yang terbaik..
__ADS_1
\=\=\=💚💚💚💚
Jangan lupa like dan komennya...