
Langit malam semakin pekat. Angin malam semakin berhembus tajam. Membuat Ferdinand merelakan mantelnya untuk menumpuk mantel tipis Francesca.
Tangan Ferdinand dengan jantan mulai menuangkan wine merah terbaik yang sudah di siapkan penginapan tempat mereka menginap selama di Bosnia.
Francesca langsung meraih gelas yang sudah di siapkan Ferdinand untuknya. Gelas anggur merah yang akan membantu menghangatkan tubuh mereka.
Sambil menikmati pemandangan malam hari si balkon kamarnya, Francesca mulai menyesapi isi gelasnya.
Ferdinand yang mempunyai cara sendiri untuk menikmati anggur, terus memutar-mutar pelan gelasnya. Menunggu beberapa saat hingga siap untuk di teguknya.
"Dia tidak menerima lamaranmu"
Tangan Francesca memutar-mutar gelasnya sambil terus menatap ke depan. Lurus ke depan, dengan raut wajahnya yang menjadi lebih datar dari biasanya.
"Dia mengatakan akan berpikir dulu"
"Hohhh...." Kekehan halus meluncur dari bibir Ferdinand. "Berpikir dengan tidak memberitahukan hingga kapan?" Decakan malas Ferdinand terdengar, lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Dia tidak menerimamu Frans. Dia menolak tapi dengan cara yang sangat sopan. Dia tidak to the point"
Dari ekor matanya, Francesca melirik Ferdinand dengan sangat tajam.
"Aku tidak butuh ocehan tidak bergunamu Dinand"
Kekehan geli meluncur dari mulut Ferdinand, tangannya dengan gemas mengacak-ngacak rambut Francesca. Francesca yang di perlakukan dengan tidak sopan oleh Ferdinand, hampir menembak Ferdinand dengan kedua matanya yang sudah melotot tajam.
Kekehan Ferdinand kembali terdengar, arah pandangnya menatap jauh ke depan, sangat jauh. Bibirnya yang masih menyisakan sisa tawa berucap
"Kau harus lebih berusaha. Dia anjing paling setia milik Raja Bosnia"
"Aku tahu. Aku juga sedang memikirkannya"
Tangan Francesca kembali terangkat ke bibirnya untuk menyerap isi gelasnya. Ferdinand ikut menyerap isi gelasnya, lalu kembali berucap
"Wanita tua itu sudah ku kirim surat"
Dari ekor matanya, Francesca kembali melirik Ferdinand
"Dia pasti akan membalasnya"
"Hmm..."
Ucapan yakin Francesca membuat kepala Ferdinand langsung mengangguk menyetujui.
"Your Majesty..."
Suara Tomy yang terdengar, membuat Ferdinand menoleh.
"Sudah kau dapatkan Tom?"
Tomy mengangguk yakin dan mulai melangkah untuk semakin mendekat pada Francesca dan Ferdinand. Dengan sopan, Tomy mulai membuka kembali suaranya
__ADS_1
"His Grace Hasting, kemarin malam setelah pesta datang ke kamar Her Highness Putri Delana. Lalu keluar saat hari hampir fajar"
Ferdinand mengangguk
"Ternyata benar Frans. Mereka memiliki hubungan"
Dengan kembali menyesap isi gelasnya, Francesca hanya diam. Keterdiaman Francesca membuat Ferdinand kembali melirik Tomy. Tomy yang mengerti melanjutkan.
"His Grace Arthur sudah mulai bergerak. Mereka sudah mulai menutup dan menekan jalur-jalur perdagangan. Isi surat mereka mengatakan jika dalam beberapa hari, Francia akan mulai banyak kedatangan tamu bangsawan Bosnia"
Francesca mengangguk paham, dan berucap
"Apa tempat-tempat untuk berkunjung sudah di tandai, Tom?"
"Sudah Your Majesty. His Grace Arthur sudah menandai dan memasang pengaman. Mereka tidak akan mampu jika ingin mencoba bermain-main saat berkunjung ke Francia"
"Seperti yang di harapkan dari uncle. Gerak cepat dan sangat teliti"
Ferdinand berucap sambil kembali melirik Francesca yang hanya diam. Lalu kembali berucap sambil menatap Tomy.
"Lalu Tom?"
"Tuan George jatuh sakit, dan kapten Edward terpaksa meninggalkan camp untuk beberapa hari ini"
"Gapa sakit?"
Kali ini, kepala Francesca langsung berputar. Untuk menatap Tomy dengan serius. Tomy yang mengerti perubahan sedikit wajah Francesca mengangguk dan kembali menjelaskan
Henbusan nafas Francesca langsung saling bersaut-sautan dengan hembusan nafas berat Ferdinand.
"Bagimana dengan Trancia Tom? istriku bagaimana?"
Tomy melirik Francesca yang ikut menatapnya dengan wajah berminat
"Her Highness Putri Anastasia mengatakan, jika dirinya akan cukup lama di sana. Mungkin beberapa minggu lagi karna ternyata, ada banyak sekali hama yang perlu di basmi"
Ferdinand langsung mencebik tidak suka. Raut wajahnya merengut kesal.
"Sialan! mereka membuat istriku kerepotan!"
"Ana pasti bisa Dinand. Dia cerdas dan memiliki banyak akal. Aku yakin Ana akan cepat kembali" Tangan Francesca menepuk pelan sebelah bahu Ferdinand. "Bersabarlah"
Dengan malas Ferdinand berguman
"Jika dia lama aku sendiri yang akan membasmi mereka dengan caraku"
Francesca dan Tomy hanya saling melirik saat mendengar gumanan tajam Ferdinand. Sambil mengeratkan mantelnya, Francesca kembali berucap pada Tomy.
"Apa lagi Tom?"
__ADS_1
Tomy yang di tanya, menatap Ferdinand. Menatap si pemilik informasi
"Menurut beberapa pelanya yang sudah kami cekik. Beberapa hari lagi, surat anda akan menerima balasannya, Your Highness"
Sudut separuh bibir Ferdinand tertarik tinggi ke atas.
"Wanita itu benar-benar menjijikkan"
Francesca mengabaikan gumanan penuh hinaan Ferdinand. Dirinya kembali menatap Tomy. Tomy yang mengerti langsung kembali membuka suaranya.
"Ada kabar jika yang anda lakukan di dalam aula kemarin malam, sudah sampai ke telinga surat kabar Bosnia, Your Majesty"
Satu alis Francesca menukik di raut wajah datarnya
"Di bagian mananya?"
Tomy segera merogoh mantelnya, dan langsung memberikan sebuah koran terlipat pada Francesca sambil berucap.
"Di bagian 'Keramik pajangan', dan itu mengundang para alktivis pejuang wanita di Bosnia. Mereka sepertinya sangat tertarik pada anda"
Sambil membaca sebuah artikel di dalam koran. Ferdinand langsung menyeringai dengan Francesca yang menarik ke atas separuh sudut bibirnya.
--000--
"Apa-apaan karangan bunga ini Ed!!"
Raut wajah tenang George sudah mengerut hebat. Bibirnya menekuk jengkel. Yang menandakan jika dirinya sedang sangat kesal
"Aku pikir kau sudah akan mati. Jadi aku membeli bunga itu untuk makammu"
"Bedebah kau Edward!!!"
Dua biskuit langsung terbang menuju wajah Edward yang dengan sigap langsung mengelak. Wajah George tampak semakin mengerut saat mendengar kekehan tertahan beberapa pelayan di ruang santai rumah Yorksire.
Edward yang di lempari dan di umpati, dengan acuh menyesap tehnya sambil melirik George yang tampak semakin tua karna seluruh kerutan di wajahnya sangat terlihat nyata saat dirinya kesal.
Diam-diam Edward bernafas lega. Jika tua bangka di depannya itu masih bisa marah, berarti George memang baik-baik saja dan tidak akan mati dalam waktu dekat
Para pelayan hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka saat George yang mengumpati bunga pemberian Edward tadi, mulai menata bunga-bunga bedebah itu ke dalam vas bunga. Mulut dan hati George yang bertolak belakang sangat terlihat jelas. George pesti diam-diam senang di berikan bunga meski... Well.... itu adalah karangan bunga kematian dari tangan kanan kurang ajarnya.
"Oiya, karna kau masih hidup, coba lihat ini"
George yang sedang sibuk merangkai bunga ke dalam vas bunga, melirik Edward yang meletakkan secarik kertas ke atas meja. Lalu kembali fokus pada rangkaian bunganya sambil berucap sinis
"Tunggu dulu"
Dengan sabar, Edward hanya menganguk untuk menunggu sambil memberikan pesan tidak kasat mata pada para pelayan. Pesan yang meminta mereka untuk segera pergi dari sana.
\=\=\=❤❤❤❤
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya di sebar-sebar semua.....