
Setelah selesai menata cantik bunga-bunganya, George memundurkan langkahnya. Kedua mata tuannya menyipit mengukur dan kembali menilai hasil tataannya. Merasa sudah pas, senyum puas George terbit.
Edward yang sedari tadi hanya memperhatikan gerak gerik Geogre dengan sabar akhirnya membuang nafas lega. Akhirnya! akhirnya! akhirnya ya Tuhan... akhirnya si tua bangka itu selesai juga
"Apa ini?"
Sambil sesekali masih melirik vas bungannya, George langsung meraih kertas yang sudah di letakkan Edward. Arah pandangnya menatap Edward dan kertas secara bergantian
"Bukalah George, aku juga tidak tahu. Her Majesty menitipkan itu untuk kau periksa"
"Baiklah..."
George mulai mendaratkan bokongnya di kursi. Arah pandangnya mulai sangat fokus pada kertas. Edward yang juga tidak mengerti dan sangat penasaran mencoba mencari tahu jawaban dari isi kepala Geogre.
Kedua alis George mengerut dalam, lalu mengangkat tangannya yang memegang kertas ke atas. Menerawang sambil menatap kertas berbahan minyak tebal di tangannya.
Dengan kedua alis yang semakin mengerut dalam, Geogre yang terus menatap kertas dari bawah berucap.
"Kapan, dan di mana ini di temukan?"
Kedua alis Edward ikut mengerut saat dirinya, akhirnya bisa membaca sebuah tulisan samar yang tertutupi tinta.
"Her Majesty menemukan ini saat hari itu"
Terjadi keheningan beberapa saat dengan George yang tampak berpikir lalu meraba kertas dengan raut wajah yang berubah sendu. Edward yang melihat itu, mencoba mencoba mengembalikan George dari lamunannya
"George?"
Arah pandang George terangkat menuju jendela yang terbuka, bibirnya kembali tersenyum sendu sambil berucap lirih
"Anak itu memang sangat tidak suka repot"
Edward mengikuti arah pandang George. Dirinya mulai mengerti kemana arah pembicaraan itu.
"Apa yang menulis itu Fredrick?"
Senyum getir di bibir George kembali terbit di bibir tuannya
"Siapa lagi Ed. Dia bahkan tidak ingin repot-repon memberi pesan secara rahasia" George terkekeh, lalu kembali menatap kertas di tangannya. "Hanya menggunakan tinta sebagai penyamar di atas pesan yang tertulis jelas. CK! dia memang putraku yang malas"
Bibir Edward hanya bisa ikut tersenyum sendu. Arah pandangnya ikut menatap keluar jendela bersamaan dengan arah pandang Geogre yang sudah menerawang jauh.
"Jadi itu apa George?"
"Sesuai yang kau tahu"
"Nama seseorang?"
Tanpa berniat menjawab, George memilih untuk bergerak cepat
"Ed, ambilkan kertas dan tinta. Aku akan mengirim surat pada Her Majesty"
--000--
Pagi ini, ada begitu banyak surat yang berdatangan ke penginapan tempat Francesca dan Ferdinand menginap.
Cukup mengejutkan jika ternyata, para aktivis pembela perempuan benar-benar menanggapi ucapan Francesca yang di lontarkannya untuk memukul mulut Feroca pada malam itu.
Satu persatu, Francesca membuka dan membaca isi surat. Surat-surat yang semua isinya sama. Tentang meminta sedikit waktu Francesca untuk bertemu.
"Kita akan kembali besok. Jadi surat-surat ini bagaimana Frans?"
__ADS_1
Sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja, Francesca tampak berpikir sejenak. Hingga keputusan akhirnya bisa dirinya berikan.
"Balas saja. Ajak mereka bertemu sore ini. Ini menarik Dinand"
Kepala Ferdinand mengangguk mengerti dan mulai mengambil secarik kertas sambil berucap.
"Kau ingin membalas yang mana?"
"Pada yang paling penting saja. Lalu katakan pada isi surat untuk membawa perempuan-perempuan sesama aktivis. Semakin banyak semakin menarik"
Dan kembali, Ferdinand mengangguk paham dan mulai mengguratkan tintannya.
Puluhan menit terus terlewati. Hingga suara ketukan pintu membuat Francesca yang sedang menikmati surat kabar, dan Ferdinand yang baru selesai menulis surat, menghentikan apa yang sedang mereka pegang.
"Masuklah Sol"
Setelah Ferdinand berucap, Solar segera masuk dan langsung merogoh kantung sakunya.
"Your Highness.. seseorang mengantar surat ini untuk anda"
Satu alis Ferdinand terangkat.
"Untukku?" Melihat Solar yang mengangguk yakin, tangan Ferdinand langsung menyambar surat dan kembali bertanya. "Dari mana?"
"Castle Winna, Your Highness"
Mendengar jawaban Solar, dengan cepat tangan Ferdinand membuka amplop surat sambil mendekat ke sisi Francesca yang juga tampak terlihat tertarik.
Dengan serius Ferdinand membaca isi surat. Dan setelah selesai, seringai bajingan di bibirnya terbit. Francesca yang juga bisa melihat seringai itu, ikut menarik separuh bibirnya ke atas. Dirinya tidak perlu bertanya apa isi surat, karna raut wajah Ferdinand sudah menjelaskan semuannya.
"Sol, cari tahu tempat makan malam terbaik di sekitar sini. Dan pesan untuk dua orang"
Solar yang tidak mengerti apapun, menatap Francesca dan Ferdinand bergantian. Lalu dengan patuh menganguk
Setelah Solar pergi, Francesca menatap Ferdinand yang sedang kembali merapikan surat
"Kau akan membawanya ke tempat umum?"
"Bukankah itu jauh lebih seru Frans?"
Francesca hanya diam tanpa berkomentar lagi. Terserahlah... dia menyerahkan urusan wanita tua itu pada Ferdinand saja.
--000--
TOK TOK TOK
"Your Majesty"
"Masuklah Ryes"
Setelah mendapat ijin dari Feroca, pintu langsung terbuka. Di depan pintu Ryes muncul dan langsung kembali menutup pintu.
Di ruangan Feroca, tidak hanya dirinya dan Alfon tangan kanan Feroca. Tapi juga sudah ada Regan yang sedang menikmati tehnya.
"Selamat pagi Your Majesty" Ryes menoleh pada Regan. "Your Highness"
Tanpa menatap Ryes, Feroca langsung membuka suaranya
"Apa yang kau lakukan bersama Ratu Francesca di balkon kemarin malam?"
Tanpa perlu berpikir panjang, Ryes langsung menjawab sopan.
__ADS_1
"Her Majesty mengajukan lamaran pada saya"
"APA!!!"
Teriakan Regan, membuat Feroca langsung menatap putranya dengan tajam. Regan yang di tatap tidak peduli, karna apa yang di dengarnya terlalu mengejutkan untuk dirinya cerna.
"Lalu?"
Kali ini, Feroca melepas fokus pekerjaannya pada Ryes. Dirinya menatap Ryes dengan serius. Ryes yang di tatap, langsung kembali menjawab
"Saya menolak, Your Majesty"
"Ck! Memang apa yang kau katakan pada bocah itu?"
Pergerakan di sebelahnya, membuat Ryes melirik ke arah samping. Di mana Regan ternyata sudah mendekat dan menempelkan bokongnya ke samping meja kerja Feroca. Lalu arah pandang Ryes kembali menatap Feroca
"Saya mengatakan akan memikirkan terlebih dahulu tanpa memberikan waktu pasti"
Kepala Feroca mengangguk paham. Lalu senyum culasnya terbit
"Kau beruntung sekali Rai. Ratu baru itu cantik dan sexy sekali"
Suara Regan yang masuk dalam obrolan mereka, membuat Ryes hanya meliriknya sekilas. Hingga suara Feroca kembali terdengar
"Regan benar. Kau terima saja tapi tanpa pernikahan. Pakai dia sesukamu, lagi pula dia sendiri yang menjemput maut untuknya. Ck! dasar anak-anak.."
Kepala Ryes hanya menunduk sambil menahan raut wajahnya. Karna ucapan Feroca, entah kenapa membuatnya menjadi cukup kesal.
"Kau dengar aku Rai? Terima saja"
"Tapi Your-"
Tangan Feroca yang langsung terangkat, membuat Ryes langsung menutup mulutnya. Dan Feroca kembali berucap
"Dia pasti sudah mendengar dan mencari tahu asal usulmu. Karna itu dia pikir bisa menggunakanmu" Feroca menyeringai. "Dia pasti berpikir bisa menggunakanmu untuk kepentingannya. Jika sudah begitu, sambut saja dia. Dan-" Dengan seringai yang masih tercetak di bibirnya, Feroca menatap Ryes penuh dengan tatapan yang sangat Ryes kenal "Dan kabari kami bagaimana rasanya di atas ranjang bersama Ratu super dingin itu"
Ucapan Feroca membuat Regan terkekeh dan ikut berucap
"Aku jadi membayangkan bagaimana des**annya saat kau menyentaknya dengan kasar Rai. Uuhh.. membayangkan itu jadi membuatku ingin meniduri seseorang sekarang"
Dan kekehan ayah dan anak di dalam ruangan itu, langsung saling bersaut-sautan. Ryes yang terus mendengarkan ucapan tidak bermorak di sana, diam-diam mengepalkan kedua tangannya.
Entah kenapa, meski sudah jutaan kali dirinya sering mendengar ucapan vulgar seperti itu, bahkan mulutnya juga tidak kalah brengseknya dari mereka, tapi kali ini berbeda. Ada rasa kesal dan amarah yang tiba-tiba bangkit di dalam pikiran dan dadanya.
"Tapi lebih baik jika kau jual mahal terlebih dahulu Rai"
Suara Regan membuat Feroca dan Ryes langsung menatapnya. Regan yang sudah memberikan rasa penasara, kembali berucap
"Gadis sempurna seperti Ratu Francesca itu tidak akan pernah di buat menunggu apa lagi di tolak. Aku sering mendengar dirinya yang selalu jual mahal, dan kali ini lakukan itu padanya. Dia pasti penasaran padamu Rai"
Seringai menjijikkan Feroca kembali terbit. Dan ikut menimpali ucapan Regan
"Benar juga. Jika kau bisa mendapatkan hatinya, ini akan lebih mudah untuk keuntungan kita. Seperti yang ku katakan, kau jangan menikahinya tapi, kau bisa menggunakannya untuk memuaskanmu"
Kepala Regan mengangguk-angguk setuju dengan ucapan ayahnya, dan langsung menimpali ucapan ayahnya dengan penuh keyakinan
"Wanita yang sudah jatuh hati akan memberikan apapun padamu Rai... Aahh! beruntung sekali kau sialan! Jika kau sudah bisa menahlukkannya dan kita sudah mendapatkan Francia, aku ingin mencicipinya juga"
Dan sekali lagi, suara kekehan penuh hinaan ayah dan anak di dalam ruangan itu kembali menggema. Membuat Ryes, harus menggigit kuat pipi dalamnya dengan tangan terkepal dan kepala menunduk untuk menyembunyikan raut wajahnya.
Tapi satu hal yang pasti. Akal dan hati Ryes, tidak akan menjalankan rencana apapun dan siapapun. Baik itu dari Francia, atau pun Bosnia. Ryes akan mencari cara agar bisa lepas dalam permainan yang akan menyeretnya dalam aroma pengkhianatan dan... cinta?-- mungkin....
__ADS_1
\=\=\=💛💛💛💛
Jangan lupa like, komennya di sebar-sebar semua....