
Di sore hari musim panas yang masih terlihat terik, asap yang berasal dari jari jemari seseorang terus mengepul tebal.
Tembakau yang entah sudah keberapa kalinya di bakar itu, terus menyebarkan polusi di sekitarnya.
Sesekali suara hembusan nafas menemani kabut asap terbal, sesekali tarikan nafas dalam terus menemani gembusan nafas yang berasap.
Dengan sebelah tangan yang terus bertumpu di pinggir balkon, dan sebelah tangan lagi yang terus menjepit tembakau. Ryes membiarkan saja sepasang tangan lembut yang tiba-tiba melingkar di pinggang polosnya
"Apa kau akan pergi Rai?"
Ryes kembali menghisap tembakau di jarinya, helaan nafas beratnya juga kembali terdengar. Hingga sebelah tangannya yang bebas, menjauhkan sepasang tangan di pinggangnya dengan tegas.
"Jangan sembarangan menyentuhku Nina"
Si pemilik sepasang tangan lembut itu, langsung merengut tidak suka. Sudah selama dan sejauh ini dirinya mencoba untuk mendapatkan hati pria pujaan yang ada di depannya itu. Tapi pria itu selalu hanya menganggapnya sebagai tempat untuk melepas penat, sama seperti wanita-wanita lain. Wanita-wanita lain yang akan di bayarnya setelah pria itu selesai tanpa memberikan setitik hatinya. Seperti tidak ada wanita yang spesial yang bisa merenggut perasaan pria gagah dan sexy pujaannya itu.
"Rai... aku mencintaimu"
Rengekan menyebalkan yang masuk ke telinga Ryes, membuat tangannya langsung membuang tembakau dan bergerak. Dia sudah sangat paham kemana arah tujuan selanjutnya.
Melihat Ryes yang mulai memakai bajunya, wanita itu, Nina. Mulai mengerang kesal
"RYES!!"
"Kau tahu jika 'suamimu' akan kembali?"
Dengan terus menatap pergerakan Ryes dengan mata berkaca-kaca, Nina menarik nafas dalamnya. Terus menarik nafas dalamnya untuk menjernihkan pikiran dan meredam rasa kesalnya.
Benar... harusnya Nina bisa berpikir positif. Karna Ryes yang selama ini tidak pernah bersedia mencicipin satu wanita berulang kali, terlebih bukan perawan, nyatanya tetap datang padanya meski selama empat tahun ini Ryes selalu melukainya. Bukankah berarti dirinya cukup menarik dan berharga untuk pria yang di cintainya itu?
Nina kembali menarik nafas dalam, sedalam mungkin. Dirinya tidak boleh menyerah, karna setidaknya Ryes menganggapnya lebih berharga dari pada wanita lain.
Tangan Ryes mulai memasang mantelnya, saat semua setelannya sudah selesai di kancingkan. Sebelah tangannya terangkat untuk menyugar rambutnya yang cukup berantakan karna terlalu banyak di acak oleh tangan lawannya. Lawan mainnya siang ini.
"Apa besok kita bisa bersama Rai? kita bertemu di-"
"Sepertinya sudah saatnya aku menjelaskan sesuatu Nina"
Nina langsung mengatupkan mulutnya. Dadanya berdesir penuh dengan harapan. Benarkan.. Nina memang harusnya bisa selalu berpikiran positif. Karna dirinya pikir, dirinya memang cukup spesial untuk Ryes
"A-apa Rai?"
Sambil mengeratkan mantelnya, Ryes menatap kedua mata berbinar penuh harapan Nina dengan dingin
__ADS_1
"Sebenarnya, semua hubungan kita selama empat tahun ini bisa ada karna perintah dari His Majesty untukku. Ku rasa, dengan hanya memberi tahukanmu tentang itu, kau sudah bisa sangat mengerti maksutku"
Jantung Nina langsung mencelos jatuh. Duniannya seakan runtuh dalam sekejap hanya karna sedikit ucapan dari Ryes. Ryes yang melihat tatapan tidak percaya dan raut wajah luar biasa terkejut Nina, melanjutkan ucapan kejamnya tanpa ampun.
"His Majesty pasti sudah bisa membungkam suamimu yang selama ini selalu cukup kuat untuk menentang kesenangan dan keserakahannya. Dan pasti karna itu juga, perintah untukku sudah berakhir"
Dengan wajah pucat pasi, Nina menggeleng kuat sambil berucap dari bibir bergetarnya
"T-tidak mung-"
"Aku tidak akan meminta maaf ataupun berterimakasih atas semua informasi yang selama ini sudah kau berikan padaku. Karna aku selalu mambayar semua informasi dengan kepuasanmu"
Brakk!
Ryes melirik Nina yang sudah terjatuh ke atas lantai dengan kepala tertunduk. Suara isakan juga sudah mulai semakin menggeras. Tapi Ryes belum selesai.
"Sekarang, suamimu sangat membutuhkan seseorang di sampingnya. Seseorang yang bisa menguatkan kehancurannya" Setelah selesai memasang sepatunya, Ryes langsung melangakah menuju pintu. Langkahnya melewati begitu saja tubuh Nina yang terus bergetar sambil terisak di atas lantai. Saat tangannya sudah memegang handle pintu, Ryes kembali berucap. "Kembalilah pada suami anda Lady Baneth. Dan kalau boleh, tolong sampaikan pada Lord Baneth, jika saya benar-benar tulus meminta maaf padanya. Earl Baneth yang malang...."
Dan suara pintu yang terbuka, lalu tertutup itu. Benar-benar menampar akal kewarasan dan moral-moral yang ada di dalam jiwa Nina. Dirinya semakin terisak kencang sambil bergunam penuh penyesalan
"Maafkan aku suamiku.. tolong maafkan aku yang hina ini"
Setelah keluar dari kamar penginapan yang dirinya pesan untuk pertemuan terakhir di misinya, Ryes langsung menuju kudanya untuk kembali ke istana.
Dengan cepat Ryes melompat dari kudanya, dan menyerahkan kudanya pada seseorang. Sebelah tangan Ryes kembali menyugar rambutnya yang berantakan karna terpaan angin di perjalanan sambil menatap sekitar.
Arah pandangnya yang baru memasuki pintu istana, langsung menangkap seseorang yang seperti memang sedang menunggu kedatangannya.
"Kau baru kembali?"
"Seperti yang kau lihat Richi"
Richard langsung mengekori langkah lebar Ryes yang seperti akan menuju ke arah kamarnya.
"Dari mana?"
Sambil terus melangkah, Ryes menjawab acuh
"Menyelesaikan sesuatu"
Kepala Richard langsung mengangguk paham
"Ternyata ini akhir untuk keluarga Baneth ya?"
__ADS_1
Ucapan jelas dan yakin Richard membuat Ryes meliriknya sejenak sambil terus melangkah tanpa berniat membuka mulutnya.
Keterdiaman Ryes membuat Richard kembali berucap
"Aku peduli padamu Rai. Ingatlah itu"
Senyum kecut Ryes terbit saat mendengar ucapan Richard. Dengan bibir yang masih tercetak senyum kecut, Ryes berucap dingin
"Aku tidak butuh pedulimu. Jangan melakukan hal yang sia-sia Rich"
Dengan langkah yang terus mengekori langkah lebar Ryes, Richard kembali bersuara. Kali ini suaranya terdengar berbeda.
"Musuh dari musuhmu adalah teman kan Rai?"
Langkah Ryes langsung terhenti, kepalanya langsung menoleh untuk menatap Richard yang ternyata sudah merubah haluan langkahnya. Langkah Richard yang ternyata sudah tidak mengekorinya dan pergi ke arah yang berbeda.
Arah pandang Ryes menatap punggung Richard yang semakin menghilang. Apa maksut anak itu? Musuh? teman?.... Ryes bahkan tidak tahu siapa musuh dan siapa temannya.
--000--
Seperti yang sudah di atur Tomy. Sore ini, Francesca hanya menggulung asal rambut pekatnya. Bahkan dirinya tidak mengenakan satupun perhiasaan di tubuhnya.
"Your Majesty. Mereka sudah tiba"
Susane yang akhirnya datang langsung mengabarkan kedatangan orang-orang yang sudah di tunggu Francesca. Francesca menatap cermin sepintas, lalu langsung berdiri.
"Mereka di bawah?"
"Benar Your Majesty. Tempat makan sudah kesatria Tomy kosongkan"
"Dan Pangeran Ferdinand?"
Susane kembali membuka pintu saat Francesca sudah berdiri dari kursinya. Lalu menjawab
"His Highness sedang tidur, Your Majesty"
Tanpa ingin menjawab lagi, Francesca langsung melangkah menuju pintu kamarnya.
Dirinya penasaran, apakah pertemuan ini akan memberikan keuntungan untuknya?
\=\=\=💜💜💜💜
Jangan lupa like dan komennya di sebar-sebar...
__ADS_1