Bloody Crown

Bloody Crown
BC 06


__ADS_3

Seorang pengawal langsung membukakan pintu saat melihat Francesca dan yang lain sudah muncul di depan pintu ruang rapat utama istana.


Saat Francesca masuk, semua kaki di dalam ruangan langsung berdiri. Dengan anggun dan raut wajah khasnya, Francesca masuk sambil membawa para pria di belakangnya.


Well... seperti yang sudah bisa Francesca tebak, jika raut wajah orang-orang di sana akan langsung berubah. Ada yang terkejut, bingung, dan berbagai macam raut wajah tidak bersahabat yang akan menyambut mereka.


Membawa anggota parlement ke dalam istana saja sudah cukup mengejutkan, apa lagi untuk masuk dan ikut ke dalam ruang rapat. Ruang dimana ranah pribadi politik istana berputar.


Dengan tenang, Francesca langsung duduk saat kursinya sudah di tarik Tomy. Para pria yang mengikutinya langsung menatap semua wajah-wajah gentleman yang terus menatap mereka dengan raut wajah yang sekarang sudah menunjukkan wajah tidak terima


"Berapa lama kalian ingin berdiri?"


Suara datar dan dingin Francesca membuat semua gentleman istana menjadi tersadar dan jadi salah tingkah. Mereka dengan cepat bergerak untuk segera duduk. Setelah semua duduk, beberapa saat terjadi keheningan karna Francesca yang belum juga membuka suaranya


Hingga akhirnya, yang mereka tunggu bersuara dengan datar.


"Kalian terlihat punya banyak pertanyaan?"


Dengan cepat, seorang gentleman menjawab


"Apa ini Your Majesty?"


"Rapat?"


Dengan santai dan datar Francesca menjawab. Dan jawaban itu mulai membuat semua isi kepala gentleman istana mulai meradang. Hingga seorang gentleman lain ikut bersuara


"Yang kami maksut adalah, kenapa ada orang-orang parlement di sini, Your Majesty?"


"Apa masalahnya? Mereka juga orang-orang yang bekerja untuk Francia"


Dan jawaban acuh Francesca itu, seperti menyiramkan minyak ke dalam api yang sudah terlihat


"Apa sebenarnya maksut dan keinginan anda, Your Majesty!! ini bukanlah kebiasaan kita! Anggota parlement tidak bisa masuk dan ikut-"


"Kau sedang mendikteku? atau kau sedang mengaturku?"


Seorang gentleman yang tadinya berucap dengan sangat percaya diri, langsung mengatupkan mulutnya sambil gelagapan. Lalu kembali berucap dengan memelankan suaranya


"Maaf Your Majesty, bukan itu maksut saya. Seperti yang kita tahu, jika di sini bukan tempat anggota parlement"


Sambil memainkan cangkir tehnya dengan tenang, Francesca menatap semua wajah yang sudah menunggu jawabannya. Lalu arah pandang Francesca menatap para uncle parlement-nya yang juga tampak malas dan terpaksa


"Mereka adalah orang-orang yang akan menjadi menu utaman di agenda rapat kita pagi ini. Jangan banyak mengeluh dan mari kita mulai"


Ucapan mutlak Francesca membuat semua gentelmen di sana. Suka tidak suka, terima tidak terima, hanya bisa menelan semua penolakan di dalam hati meraka

__ADS_1


Melihat jika keadaan sudah tampak pasrah, Francesca menatap Henry yang langsung mengangguk mengerti. Henry yang sudah di perintahkan mulai membuka suaranya.


"Selamat pagi semuanya... Saya akan memulai agenda rapat kita...." Henry bersuara dengan ramah dan dengan nada lembutnya. Lalu bibirnya tersenyum manis, senyum yang Henry harapkan bisa sedikit memaniskan suasana. Tapi sepertinya Henry salah, karna senyum Henry tidak sepenting itu dan rasa di ruangan itu masih tetap sama kecutnya. Well.. terserah lah jika bergitu. Dengan acuh, Henry kembali membuka suaranya. "Seperti yang sudah kita ketahui, jika kerusakan istana dan Francia karna penyerangan itu sangat besar. Bukan hanya pada bangunan dan korban jiwa, tapi juga pada keuangan istana yang pasti harus ikut surut, para gentlemen yang terhormat"


Henry menjedah, untuk meminta beberapa perkamen yang sudah di siapkan Jeremmy. Jeremmy dengan sangat mengerti segera meletakkan tumpukan kecil perkamen ke tengah-tengah meja panas itu.


"Biaya santuanan untuk keluarga kesatria yang gugur, dan biaya perbaikan kerusakan istana, adalah hal utama yang membuat kita hampir jatuh miskin. Dan kita yang hampir miskin ini, juga harus menyiapkan dana untuk keadaan yang tidak bisa kita prediksi. Seperti misalnya serangan susulan yang bisa saja sudah menungu kita"


Jeremmy mulai membagikan gulungan perkemen-perkamen yang sudah di siapkan Henry. Sambil menunggu para gentlemen membaca isinya, Henry kembali berucap setelah sebelumnya meminta anggukan dari Francesca.


"Bukan hanya biaya, kita juga banyak kehilangan pemuda, kesatria kita. Karna itu kita perlu mencari para memuda lagi untuk menutup lubang kekosongan di bagian pertahanan. Dan tentu saja itu juga membutuhkan biaya"


Semua kepala di sana mengangguk singkat, saat sepertinya mereka yang sudah saling mendekatkan kepala untuk saling berbagi membaca telah selesai membaca rangkuman segala hal yang di buat Henry.


"You Highness Pangeran Henry... Apakah kita akan menaikkan pajak untuk bisa mengumpulkan kembali keuangan?"


Seorang gentleman yang bertanya membuat Henry langsung menatap Francesca. Francesca yang mengerti langsung berucap


"Tidak ada lagi cara tercepat untuk mengumpulkan dana. Atau kalian bisa memberi saran?"


Mendengar pertanyaan Ratu baru mereka itu, wajah-wajah gentlmen tua di sana tampak berbinar. Ini dia!! ini dia yang mereka rindukan, rapat dengan meminta saran mereka. Mereka para gentleman yang sudah pernah mencicipi kepemimpinan selama tiga generasi di sana akhirnya bisa mendengar lagi kesinabungan dalam rapat. Sama seperti ketika mereka mengikuti rapat bersama mendiang Raja George


"Bagaimana dengan menaikkan harga barang, bersamaan dengan pajak barang juga, Your Majesty?"


"Kalian setuju?"


Kepala-kepala di sana hanya mengangguk. Dan anggukan polos itu membuat sudut bibir Ferdinand berkedut geli


"Baiklah. Kalau begitu pajak barang, tahunan dan pajak benda-benda mahal akan di naikkan"


"Benda mahal?"


Pertanyaan yang meluncur begitu saja tanpa disadari dari seorang gentlemen yang tampak belum cukup tua, membuat satu alis Francesca menukik di wajah datarnya.


"Tentu saja pajak dan harga benda-benda mahal. Tidak mungkin kita membuat pajak untuk gandum dan menaikkan harga roti kan? Terlebih untuk para petani"


"Tunggu dulu... ini maksutnya....???"


Sekali lagi, seorang gentleman yang tampak belum menginjak usia paruh baya di sana mengeluarkan pertanyaan. Sedangkan para gentleman yang sudah cukup tua di sana hanya bisa terlihat pasrah. Sepertinya, pengalaman sudah banyak mengajari para gentlemen tua di sana.


Francesca belum menjawab, tangannya dengan anggun mengangkat cangkir tehnya. Ferdinand melirik kakaknya yang terlihat sangat lambat dalam proses menyesapan teh. Lalu menatap wajah gentlemen yang tidak terlalu tua. Wajah-wajah yang mengisi separuh gentlmen yang hadir di sana, wajah-wajah yang terlihat gelisah dan menunggu. Dan pemandangan itu, kembali membuat sudut bibir Ferdinand berkedut sambil menatap Henry yang sudah tersenyum-senyum geli.


Dengan anggun Francesca meletakkan kembali cangkirnya, lalu berucap datar.


"Pajak bangsawan, dan benda-benda yang keluarga kalian pakai"

__ADS_1


"Your Majesty..."


Francesca mengabaikan protes yang akan menyerangnya, dan memilih menatap para uncle parlement-nya


"Apakah kalian keberatan?"


Dengan cepat dan tanpa perlu berpikir, kepala tiga pria pemilik ruang utama parlement di sana langsung menggeleng tegas.


"Tidak Your Majesty" Albert berucap sopan, lalu menarik separuh bibirnya sambil menatap semua wajah gentleman istana yang tampak kesal sambil kembali berucap. "Tolong naikkan sebanyak mungkin pajak-pajak dan barang-barang sesuai kebutuhan. Setinggi mungkin, Your Majesty"


"Tidak bisa!!"


Dan sekali lagi, Francesca mengabaikan protes yang akan menyerangnya. Dirinya menatap Henry


"Pangeran Henry, catat nama-nama yang tidak setuju dengan ini"


Ancaman!


Ini sebuah blackmail yang langsung membuat semua mulut yang tadinya mulai ribut, langsung menjadi hening.


Kepala Henry mengangguk paham dan langsung memegang tinta bulunya. Mengangkat tangannya dengan dramatis, lalu memasang senyum manis sambil menatap para gentlemen.


"Yang tidak bisa menerima, silahkan angkat tangan kalian" Senyum Henry semakin manis. "Kami akan membuat nama kalian yang menolak menjadi 'spesial' untuk pajak dan untuk harga-harga barang nanti"


Well.... memang siapa yang berani mengangkat tangan mereka. Lihatlah, sekarang keheningan dengan raut wajah masam sudah mendominasi keadaan meja rapat.


Para uncle parlemen yang juga sangat bisa mencium aroma ancaman itu dengan serempak, langsung mengangkat cangkit teh mereka dengan acuh.


Henry menunggu beberapa saat sambil menatapi wajah-wajah di sana sebagai formalitas. Hingga beberapa saat akhirnya Francesca kembali berucap.


"Pangeran Henry, segera cari calon kesatria dan prajurit yang baru. Cari yang benar-benar bersedia"


"Baik Your Majesty"


Kembali, tangan Francesca memainkan cangkirnya sambil melirik Henry


"Lanjutkan"


Henry dengan cepat mengambil gestur untuk melanjutkan agenda rapat mereka. Karna agenda pembuka sudah selesai dengan hasil cepat dari ancaman dan tekanan. Sangat cepat, dengan cara yang Francesca gunakan


"Baiklah, kita ke menu selanjutnya. Ini berhubungan tentang-" Henry menoleh pada kerabatnya di parlemen sambil tersenyum ramah. "Para gentelmen parlemen yang terhormat"


\=\=\=❤❤❤❤


Silahkan like dan komennya jangan lupaaa....

__ADS_1


__ADS_2