Bloody Crown

Bloody Crown
BC 15


__ADS_3

Regan yang akhirnya benar-benar bisa melihat jika Summer sedang ketakutan menarik nafas dalam, lalu mengalihkan tatapannya pada para wanita-wanita yang tampak sudah siap menyenangkannya.


"Sepertinya malam ini aku libur dulu mendapatkan belaian dari kalian"


Ucapan Regan, membuat semua wajah para wanitanya tampak bingung. Rega yang mengerti kebingungan itu tersenyum sambil mer*m*si satu persatu dada-dada terbuka para wanitanya


"Keluarlah sekarang"


"Your Highness?"


"Kalian mendengarku kan?"


Senyum Regan terus tercetak di bibirnya tapi, tatapan nakalnya sudah berubah menjadi tajam. Menunjukkan jika dirinya serius.


Seorang wanita yang sudah cukup lama mengenal Regan langsung mengangguk mengerti. Tatapan itu bukanlah tatapan yang bisa di tawar dan di bantah.


Dengan berat hati, wanita itu memimpin. Memulai pergerakannya untuk menjauh sambil merapikan gaun mereka yang sudah porak poranda.


Tubuh-tubuh yang sudah menjauh darinya, membuat Regan segera bangkit dan langsung melangkah menuju suara isakan kecil yang sangat mengganggu ketenangannya.


Dengan pelan. Regan ikut mendudukkan bokongnya ke lantai, kedepan tubuh Summer yang terus menggigil hebat. Regan menunggu sejenak, hingga suara pintu yang terbuka lalu menutup, membuat tangannya mulai terangkat.


Terangkat untuk menyentuh sebelah bahu Summer.


"Sayang..."


Summer tersentak. Langsung mengangkat kepalanya karna sentuhan dan suara Regan yang sangat dekat di indra pendengarannya.


Kedua sudut bibir Regan berkedut saat melihat wajah penuh air mata tunangannya. Kedua mata Summer yang berbinar sendu, membuat dadanya yang entah kenapa menjadi berdesir dengan rasa yang tidak Regan kenal.


"Regan?"


"Hhmm... kau tampak mengerikan jika menangis sayang"


Tangan Regan ikut membantu jari-jari menggemaskan Summer yang sedang mengusapi kedua pipi basahnya.


"Kenapa?"


Summer bertanya dengan lirih dan sangat terdengar lembut di telinga Regan. Mendayu lembut dan menggemaskan


"Apanya?"


Arah pandang Summer menatap ke belakang kepala Regan. Melihat-lihat dan mencari-cari keberadaan wanita-wanita vulgar tadi.


"Kemana mereka?"


Pertanyaan polos yang meluncur dari bibir bergetar Summer membuat Regan tersenyum geli.


"Pergi. Mereka sudah pergi dan kau harus menggantikan mereka"


Ucapan santai Regan, membuat Summer langsung tersentak. Dan segera mencoba untuk menjauhkan dirinya sejauh mungkin dari Regan.


"K-kau... jangan mendekat!"


Teriakan penuh peringatan dengan tatapan waspada Summer membuat Regan sangat terhibur.


"Hhmm... jika aku memaksa, kau bisa apa sayang?"


Dengan tertatih, Summer mencoba berdiri. Tapi, Regan langsung menarik tangannya. Yang membuat bokong Summer kembali mendarat kuat ke atas lantai.


Kekehan geli Regan kembali terdengar saat melihat wajah meringis Summer yang sudah kembali terduduk di atas lantai.


"Hei.. aku hanya bercanda sayang. Tenanglah"


Summer menatap Regan dengan sengit sambil mencoba melepaskan tangan Regan dari lengannya


"Aku tidak percaya padamu!"


"Diam dan tenanglah. Atau aku benar-benar akan menyeretmu ke atas ranjang Summer"


Mulut Summer langsung bungkam dan pergerakannya langsung melemah. Kedua matanya menatap Regan dengan sangat memelas dan penuh permohonan.


"Jangan lakukan apapun hal tidak bermoral padaku. Tolong...."


Satu alis Regan menukik. Dirinya mati-matian menahan rasa gemasnya sambil berucap.


"Tidak bermoral? aku tunanganmu sayang... Wajar saja jika kita bergulat panas di atas ranjang"

__ADS_1


Kedua mata bulat Summer kembali melebar. Dengan nafasnya yang masih menyisakan sisa-sisa tangisan membuat semua pemadangan itu semakin menggemaskan di mata Regan.


"Tidak bisa! kita belum menikah! Kau tidak boleh..."


Summer langsung mengatupkan mulutnya, tidak berani meneruskan perkataan tidak sopan yang ingin di katakannya.


Lagi-lagi Regan terkekeh sambil mencubit gemas sebelah pipi Summer. Batinnya bertanya-tanya, sebenarnya seperti apa Raja dan Ratu Francia mendidik putrinya? Bahkan Summer sekarang terlihat masih seperti gadis yang belum dewasa. Sangat polos dan naif


"Regan..?"


Summer mencoba menyadarkan Regan yang telihat sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Regan yang sudah kembali tersadar langsung berucap


"Kau seperti gadis yang belum dewasa Summer"


"Aku sudah dewasa!"


Kepala Regan langsung mengangguk-angguk dengan dramatis saat menangkap raut wajah tidak terima Summer.


"Baiklah.. tunanganku yang sudah sangat dewasa. Kau ingin aku bagaimana sekarang?"


Tangan Regan kembali terangkat untuk merapikan rambut Summer yang tampak kacau. Tunangannya itu pasti belum sempat merapikan diri saat dirinya masuk begitu saja kedalam kamarnya sendiri.


Tatapan Summer semakin memelas dan penuh permohonan. Mulutnya kembali berucap dengan suara yang tidak kalah memelas.


"Aku ingin kembali ke kamarku. Apa boleh?"


Sebenarnya, Regan sangat tidak 'boleh' tapi, tatapan dan suara polos Summer membuat Regan membuang nafas pasrah. Entah kenapa dirinya ingin langsung mengalah dan memberikan apapun yang di inginkan Summer


"Baiklah... kembalilah sana. Pergilah"


Bibir Summer mencebik dan langsung berdiri dengan cepat.


Regan menatap pergerakan Summer dengan kedua mata memicing tidak suka. Lihatlah, bagaimana tunangannya yang sangat jelas menunjukkan jika dirinya sangat tidak ingin berada di kamarnya.


Padahal.. sudah berapa banyak gadis-gadis dan para wanita yang rela menangis darah untuk bisa di bawanya ke dalam kamar itu


"Kau benar-benar akan kembali ke kamarmu?"


Dengan antusias, kepala Summer mengangguk


Dan lagi, Regan hanya bisa membuat nafas pasrah sambil ikut berdiri.


"Ayo ku antar"


"Tidak! tidak perlu. Kau istirahat saja, aku bisa sendiri"


Akhirnya, dengan enggan Regan mengangguk dan berucap acuh


"Ya pergilah kalau begitu"


Ucapan final Regan membuat Summer langsung tersenyum lebar. Kedua mata bulatnya berbinar senang.


"Selamat malam Regan..."


Tanpa ingin mendengar jawaban Regan. Summer yang takut jika Regan akan berubah pikiran segera melangkah cepat untuk menuju pintu.


Meninggalkan Regan yang terus menatapnya dengan tersenyum penuh makna.


"Selamat tidur Regan"


Summer kembali berucap saat dirinya sudah berdiri di depan pintu dengan kedua tangan yang sudah siap untuk menutup pintu.


"Hhm yaa.. tidurlah"


Setelah pintu menutup dengan rapat. Raut wajah lembut dan polos Summer langsung berubah dalam sekejap.


Kedua bola mata abu-abunya mengkilap tajam sambil memandang pintu kamar yang sudah tertutup.


Dengan langkah yang sudah berputar untuk menuju kamarnya, kedua tangan Summer terkepal sangat kuat. Sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya yang sudah mengeras terbuka dan berdesis tajam


"Menjijikkan"


--000--


"Apa ini sudah semuannya Luc?"


Lucas langsung mengangguk yakin

__ADS_1


"Sudah Your Highness. Semua informasi sudah ada di sana"


Sambil memijat kepalanya yang mulai berdenyut Anastasia kembali membaca nama-nama yang sudah di tandainya. Arah pandangnya terus menatap dan memperlajari segala informasi yang baru di kumpulkan Lucas untuknya


Lucas dalam diam, sambil terus memperhatikan Anastasia yang tampak pusing saat sudah bisa menemukan ada lebih dari dua puluh nama yang terlibat dalam peran penolakan pemberi pasukan bantuan untuk Francia saat itu. Yang artinya jika, hampir seluruh orang-orang parlement terlibat, dan ini pasti sangat menjengkelkan.


"Aku tidak bisa langsung membawa kepala mereka semua sebagai oleh-oleh Luc"


Kepala Lucas mengangguk setuju. Benar.. jika mereka menghabisi dan membabat habis seluruh orang parlement sekarang, lalu siapa yang akan mengurus Trancia? Sedangkan sekarang Francia saja sedang sangat kacau.


Lucas kembali melirik Anastasia yang sudah mulai kembali mengguratkan tinta penanya. Dengan tenang, Lucas terus menunggu dan menemani Anastasia yang masih bekerja meskipun hari sudah hampir fajar. Sesekali Lucas akan bergerak hanya untuk mengisi cangkir teh Anastasia yang mulai kosong.


Waktu terus terlewati, hingga langit pekat akhirnya di pukul mundur oleh cahaya matahari. Dan akhirnya, Anastasia melepas pena tintannya sambil membuang nafas panjang.


"Kirimkan ini semua ke amplop-amplop yang sudah ku siapkan Luc" Tangan Anastasi mengetuk-ngetuk tumpukan amplop. Lalu berpindah pada kertas-kertas. "Sesuai nama yang di sini" Anastasia menjedah untuk menatap Lucas. "Apa aku masih bisa meminta tolong Luc? Atau kau sudah megantuk dan lelah? Kau ingin istirahat dulu?"


Sambil tersenyum tipis, kepala Lucas langsung menggeleng tegas.


"Tentu saja bisa Your Highness. Dan tidak tidur hanya selama dua hari bukanlah masalah besar untuk kami. Tolong perintahkan kami dan jangan merasa tidak enak, Your Highness"


Anastasia tersenyum lembut sambil mengangguk.


"Kalian baik sekali Lucas. Dan juga sangat terampil dalam hal politik. Aku pikir hanya Jeremmy dan Tomy yang mahir memasuki masalah politik"


Lucas terkekeh pelan sambil menatap wajah Anastasia yang tampak terlihat sangat lelah.


"Sebenarnya, saya dan Carl bisa sedikit mengerti karna dulu, kami sering mengikuti mendiang Her Majesty Ratu Victoria, Your Highness. Dulu sekali, saat kami dan mendiang Her Majesty masih muda, kami sering bertukar pikiran tentang ini"


Senyum hangat Anastasia langsung berubah menjadi senyum sendu saat mendengar ucapan dan raut wajah sedih Lucas.


"Aku juga merindukan Her Majesty Luc. Aku tidak bisa percaya semua ini nyata"


Kepala Lucas mengangguk


"Semua orang juga tidak bisa percaya Your Highness. Terlebih kami yang sangat mengenal bagaimana licinnya mendiang His Majesty Raja Fredrick. Semakin lama mereka tidak muncul, maka kami hanya semakin menganggap jika mereka sedang berlibur keliling Eropan seperti dulu"


Anastasia menatap jauh ke luar jendela yang mulai menampakkan kecerahan langit. Isi pikirannya melayang jauh. Benar apa yang di katakan Lucas jika semua orang seperti tidak bisa percaya dengan semua ini. Terlebih Ferdinand dan Francesca yang semakin hari semakin menghilangkan kata 'mendiang' untuk menyebutkan nama Fredrick dan Victoria. Kedua kembaran itu semakin tidak bisa menerima kenyataan dan ini, sangat membuat Anastasia khawatir.


Sedari dirinya kecil, Anastasia sudah kehilangan ibunya dengan cara yang sangat kejam di depan kedua matanya langsung. Dirinya yang juga sudah tidak memiliki sosok ayah semenjak dirinya baru lahir sangat paham rasa kehilangan yang di rasakan suami dan kakak iparnya.


Kaki Anastasia berdiri dan langsung melangkah menuju jendela ruang kerja bekas milik ayahnya itu. Arah pandangnya menatap jauh keluar. Kearah semua pemandangan taman istana Eden yang bisa terlihat dari atas sana.


"Mari mulai sekarang kita menganggap Raja dan Ratu Francia masih ada Luc. Karna aku pernah mendengar jika semakin sering kita berucap, maka itu akan menjadi doa"


Bibir Anastasia tersenyum kecut karna mendengar ucapannya sendiri. Arah pandangnya mulai buram saat dari depan jendela, dirinya bisa melihat kursi panjang tempat ibunya dulu biasa duduk sambil memperhatikannya yang sedang memetik bunga. Ternyata, hanya nyawa ibunya saja yang telah tiada, tapi kenangan di ingatan mereka tentang orang-orang terkasih yang sudah tiada, akan selamanya hidup di dalam hati tiap-tiap manusia yang masih bernafas.


Lucas yang terus menatap Anastasia dengan sendu langsung mengangguk setuju.


"Saya berharap, jika Her Majesty dan His Highness tidak tenggelam terlalu dalam di lubang kegelapan. Dan mari kita menganggap semua yang terjadi ini hanya awal dari semua kebahagian, Your Highness. Semoga"


"Kau bijak sekali Luc" Kekehan halus meluncur dari bibir Anastasia. "Berapa sebenarnya umur kalian Luc?"


"Kami lebih muda beberapa tahun dari His Majesty. Dan kapten Edward lah yang paling muda di antara kami"


Lucas berucap sambil menahan tawa gelinya. Dan kenyataan yang baru di dengar Anastasia itu, langsung membuat Anastasia terperangah sambil menoleh untuk menatap Lucas dengan raut wajah tidak percaya


"Yang benar saja Luc? coba urutkan siapa saja yang paling termuda di antara kalian para pengikut paling setia His Majesty Raja Fredrick?"


Lucas tampak berpikir sejenak, lalu mulai mengurutkan


"Farel, Xander, Gregory, Lincont dan Keelft seumuran, mereka yang paling tua. Saya dan Carl seumuran, umur kami satu tahun lebih muda dari mereka. Jeremmy dan Tomy seumuran, satu tahun di bawah kami. Dan kapten Edward-lah yang termuda"


Tawa Anastasia langsung mengema di dalam ruangan itu. Mulutnya yang sedang tertawa berucap geli


"Kau bohong kan?"


Dengan ikut terkekeh geli, Lucas langsung mengangguk. Dirinya yang sedang mencoba mencairkan suasana akhirnya berhasil, karna akhirnya Anastasia bisa tertawa.


"Semua yang saya ucapkan benar, hanya di bagian kapten Edward yang terbalik. Kapten Edward-lah yang paling tua di antara kami, bahkan usianya jauh lebih tua lima tahun dari His Majesty Raja Fredrick"


"Sudah ku duga Luc! Kau ini!"


Dan mereka kembali saling tertawa lepas. Melupakan sejenak kemelut pekerjaan dan isi hati sedih mereka


\=\=\=💜💜💜💜


Jangan lupa like, komennya di sebar ya semua....

__ADS_1


__ADS_2