
Keadaan tempat makan yang di pesan Solar untuk malam ini cukup tenang dan sepi. Ferdinand dengan santai menunggu kedatangan seseorang yang sudah di janjikan akan memiliki pertemuan penuh makna mereka malam ini.
Sambil memainkan bordiran taplak meja dan menatap sekitar, Ferdinand mulai larut dalam pemikirannya. Pemikirannya tentang dirinya yang bahkan belum pernah sekalipun membawa istrinya makan malam berdua romantis di luar yang seperti dirinya lakukan sekarang.
Terlalu banyak hal yang terjadi. Terlalu banyak keadaan buruk yang terjadi. Hingga membuat Ferdinand dan istrinya belum bisa menikmati keadaan bahagia mereka seutuhnya.
"Apa sudah menunggu lama?"
Suara yang masuk di indra pendengarannya, membuat lamunan Ferdinand terhenti. Dirinya langsung tersenyum bersinar sambil berdiri.
"Saya juga baru tiba, Putri Delana" Layaknya gentlemen sejati, tangan Ferdinand langsung menengadah. Delana dengan cepat memberikan tangannya yang langsung di hadiahi kecupan bibir Ferdinand. "Selamat malam Putri Delana"
Dengan kedua mata berbinar, Delana tersenyum menggoda.
"Selamat malam Pangeran Ferdinand"
Mereka mulai mengambil posisi masing-masing dengan Ferdinand yang langsung melirik Solar agar segera memanggil palayan.
Sambil menunggu pelayan, senyum tampan Ferdinand terus terbit. Dengan senyum Delana yang terus mencoba menggoda Ferdinand.
Tidak butuh waktu lama seorang pelayan datang dengan membawa botol wine dan dua gelas. Terjadi keheningan selama pelayan menuangkan wine dengan cara yang profesional. Hingga seorang pelayan lagi datang sambil mendorong trolly dan suara Ferdinand terdengar.
"Bagaimana keadaan anda Putri Delana"
"Delana atau Lana. Panggil saja saya dengan santai Pangeran Ferdinand"
Kepala Ferdinand mengangguk paham.
"Baiklah.... Lana? atau... apa boleh saya memanggil anda Ana saja?"
Tawaran Ferdinand membuat kedua mata Delana semakin berbinar terang, dengan cepat kepalanya mengangguk
"Itu terdengar lebih baik. Saya sangat menyukainya"
"Baiklah kalau begitu. Anda bisa memanggil nama kecil saya juga" Ferdinand mengangkat gelasnya ke atas. Yang langsung membuang Delana mengikutinya. "William, panggil saja saya dengan Will"
"Sorry gapa. Aku meminjam nama gapa"
Sambil memutar-mutar gelasnya, Delana mengangguk antusias. Binar di kedua matanya benar-benar terlihat sangat senang.
"Tentu saja Will" Delana melirik sekitar sejenak, lalu kembali berucap. "Apakah anda datang bersama tangan kanan anda?"
Dengan tangan yang masih memutar-mutar gelasnya, Ferdinand mengangguk singkat.
"Benar. Saya datang bersama tangan kanan saya. Dan apakah anda tidak membawa pelayan anda, Ana?"
"Ada. Dia menunggu di luar bersama pengawal saya"
Delana mulai menyesap anggurnya, dengan Ferdinand yang mengikuti. Lalu Ferdinand dengan sangat ramah berucap lembut dengan suara beratnya.
"Sebenarnya, saya sudah sangat lama ingin makan malam di luar dengan melupakan tatakrama ketat seperti ini. Terlebih, bisa makan sambil berbincang bersama wanita luar biasa cantik seperti anda"
Kekehan anggun Delana langsung meluncur dari bibirnya sambil menatap Ferdinand dengan lekat. Lalu kembali berucap.
"Bagaimana dengan istri anda? apakah anda tidak masalah keluar bersama wanita lain seperti ini?"
Ucapan Delana membuat Solar yang ada di meja lain, dari kejauhan, melirik Ferdinand dan Delana dengan sinis. Meski Ferdinand tidak bisa melihatnya, tapi dirinya bisa merasakan lirikan tajam yang sangat tidak bersahabat dari tangan kanan kesayangannya itu.
"Ohh.. sebenarnya-" Ferdinand menjedah dengan raut wajahnya yang mulai berubah menjadi sendu dramatis. "Istri saya sudah kabur. Dia kembali ke tanah tempat kelahirannya"
Kedua alis Delana terangkat, raut wajahnya mulai tampak tertarik
"Kabur? Kenapa?"
Helaan nafas dramatis Ferdinand berhembus. Bibirnya kembali tersenyum sendu dramatis sambil menatap Delana dengan tatapan yang di buat semenyedihkan mungkin.
Dasar pengeran drama!
"Setelah saya kehilangan orang tua, setelah Raja Fredrick yang menjadi penyebab pernikahan perpaksa kami terjadi, sudah berpulang, istri saya langsung menggunakan kesempatan itu untuk kabur dan tidak pernah kembali lagi hingga sekarang"
__ADS_1
Tangan Delana meletakkan gelas anggurnya. Dan mulai memasang napkin di kedua pahanya saat Ferdinand sudah memberikan gestur untuk memulai table manner mereka.
"Apa anda tidak menjemputnya?"
Dengan tangan yang mulai memegang pisau dan garpunya, Ferdinand menjawab lirih dramatis.
"Saya sadar jika pernikahan kami ini hanya untuk aliansi menyatukan dua kerajaan. Tidak ada kebahagiaan untuk dirinya, dan juga untuk saya selama kami menikah. Jadi saya cukup sadar diri untuk tidak terus memaksakan pernikahan ini"
Delana menatap Ferdinand dengan lekat. Tidak ada tatapan iba atau simpati yang keluar dari kedua matanya. Hanya ada tatapan tertarik dan semakin tertarik yang bisa Ferdinand baca.
Lihatlah... wanita di depannya ini. Benar-benar tidak suka berbasa basi. Sama saat dirinya yang bisa-bisannya langsung mengundang Ferdinand untuk makan malam seperti sekarang.
Makan malam yang terjadi karna undangan terang-terangan Delana yang sepertinya benar-benar tidak peduli dengan status Ferdinand, bahkan sebelum Ferdinand menyebar dustanya.
"Sebenarnya, saya sudah mendengar banyak hal tentang anda, Will"
Satu alis Ferdinand menukik sambil memasukkan potongan daging sapi terbaik ke mulutnya.
"Oiya? Tentang apa?"
Delana yang baru saja mengunyah isi mulutnya tersenyum singkat sambil menatap Ferdinand. Ferdinand yang mengerti jika Delana adalah seorang wanita yang lahir dalam tatakrama dan etiket bangsawan, bahkan aturan kerajaan, menunggu dengan sabar hingga isi mulut Delana habis terlebih dahulu.
"Jika pernikahan anda hanyalah sebuah perjodohan. Karna pernikahan ini juga dulu anda harus merelakan kekasih anda. Apa saya salah?"
Bibir Ferdinand terseyum tipis sambil mengangguk
"Benar Ana. Cukup memalukan karna cerita ini bisa sampai ke telinga anda"
Kepala Delana ikut menggeleng.
"Jangan malu Will. Karna sepertinya anda juga sangat menderita karna pernikahan anda kan? Saya juga tahu, jika ini bukan yang pertama kalinya istri anda kabur-" Delana menjedah, lalu menatap Ferdinand dengan lekat. "Apa saya salah?"
Helaan nafas panjang dramatis Ferdinand berhembus.
"Bahkan anda sudah mengetahui hingga sejauh itu-" Tangan kanan Ferdinand meletakkan pisau makannya untuk mengusap tengkuknya yang entah untuk apa kegunaannya. "Saya benar-benar malu sebagai suami. Saya gagal membahagiakan istri saya hingga dirinya terus kabur"
"Itu bukan salah anda Will-" Ferdinand melirik tangannya yang sudah melepas pisau saat tangan Delana langsung mengenggam tangan yang sudah berada di meja. "Anda sudah berusaha. Bahkan anda dulu sudah menjemputnya hingga ke African. Itu sangat jauh Will. Dan jujur saja, saya rasa mungkin istri anda juga masih terpaksa untuk pernikahan kalian-" Delana menatap Ferdinand dengan dalam sambil tersenyum. "Mungkin sudah saatnya anda meraih kebahagiaan anda sendiri mulai sekarang. Sama seperti yang coba di lakukan istri anda"
"Selain sangat cantik, anda juga sangat baik, Ana. Saya tidak salah menilai ternyata. Dan jujur saja-" Ferdinand menjedah, sambil memasang senyum malu-malunya. "Kecantikan dan keanggunan anda sangat menjerat saya Ana. Bahkan dari awal saya melihat anda pada malam itu"
Kedua pipi Delana bersemu, seburat merah langsung mengisi pipinya. Oh yang benar saja! apa aunty tua itu sudah kembali menjadi remaja? Rasanya sekarang Ferdinand ingin terbahak kencang.
"Anda terlalu memuji Will"
Tangan Delana melepaskan genggamannya, lalu terangkat untuk menutup bibirnya yang terlihat sudah tersenyum lebar.
"Maaf jika anda terganggu Ana? Maafkan jika ucapan saya membuat anda tidak nyaman, saya hanya ingin mencoba jujur"
Dengan senyum malu-malu yang masih tercetak di bibirnya, Delana berucap pelan.
"Sebenarnya saya juga. Saya juga sangat tertatik pada pria baik seperti anda saat pertemuan pertama kita. Dan karna itu saya langsung mencari tahu tentang status dan kehidupan pernikahan anda. Dan setelah mendapatkannya, saya jadi memberanikan diri untuk mengundang anda makan malam. Tolong jangan berpikiran macam-macam. Saya hanya ingin mengenal anda"
"Oh mana mungkin Ana. Saya sangat merasa beruntung karna bisa mendapatkan perhatian dari anda terlebih-" Sebelah tangan Ferdinand terangkat dan terulur pada wajah Delana. Buku-buku jarinya mengusap tipis sebelah pipi Delana dengan mata yang mengikat tatapan terkejut Delana dengan mantra godaan mematikannya. "Terlebih bisa menikmati makan malam romantis dengan wanita luar biasa cantik seperti anda"
--000--
Di sisi lain waktu Trancia. Di saat suaminya di belahan bumi lain sedang sibuk merayu dan menggoda wanita lain, di saat suami yang di cintainya sedang sibuk makan malam romantis untuk menyenangkan wanita lain. Anastasia terus memuntahkan isi perutnya yang kosong.
Pagi ini. Di saat orang-orang akan memulai aktifitas mereka di bawah langit cerah pagi hari Trancia yang indah, rasa mualnya benar-benar terus membuat Anastasia kesulitan. Luar biasa mual hingga dirinya hanya bisa berdiri lemah di atas lantai kamar mandi dengan mulut yang terus memaksa untuk memuntahkan isi perutnya yang kosong. Hingga hanya ada cairan kuning yang terus menggenang di dalam wastafel
Seluruh tubuh Anastasia terasa lemah, setiap detiknya hanya ingin muntah. Entah apa yang terjadi pada dirinya, tapi apa yang di rasakannya sekarang jadi membuat dirinya ragu untuk melanjutkan rapat besar mereka pagi ini.
Rapat terbesar di mana dirinya harus memberikan pukulan terakhir pada para musuhnya yang pasti harus menggunakan tenaga dan serangan.
Ruth yang baru saja selesai merapikan tempat tidur dan semua hal lain di kamar Anastasia, akhirnya melangkah menuju ke kamar mandi. Sudah terlalu lama untuk nyonyannya pergi yang hanya berniat untuk membuat air kecil. Terlalu lama, hingga dirinya dengan perasaan yang mulai khawatir harus memeriksa apa yang terjadi.
TOK TOK TOK
"Your Highness... apakah anda membutuhkan bantuan?"
__ADS_1
Hening.... tidak ada jawaban apapun. Hingga Ruth mengambil keputusan untuk bersikap lancang dan menempelkan telinganya ke depan pintu kamar mandi. Dirinya yang semakin khawatir harus mendapatkan jawaban pasti tentang apa yang terjadi di balik pintu kamar mandi.
Samar-samar telinga Ruth bisa mendengar suara-suara mual seseorang di dalam. Meski tidak tahu pasti, tapi sekali lagi, Ruth dengan lancang membuka pintu. Hingga dirinya bisa melihat sosok Anastasia yang sekarang sudah terduduk di atas lantai dengan tubuh terkulai lemah.
"Oh Tuhanku! Your Highness!!"
Sambil memekik terkejut, Ruth langsung melompat pada tubuh Anatasia. Dengan isi dada yang sudah di penuhi rasa khawatir, Ruth langsung meraih tubuh lemah Anastasia.
"Ya Tuhan... Ya Tuhan.. Apa yang terjadi Your Highness?"
"A-aku... aku sangat mual dan lemas Ruth"
Ruth semakin panik dan dengan sangat hati-hati menyenderkan tubuh lemah Anastasia ke tembok.
"Sebentar Your Highness. Saya akan memanggilakan seseorang dulu"
Anastasia hanya bisa pasrah sambil memejamkan kedua matanya. Dan lagi, rasa mual kembali membuat mulutnya terus memaksa untuk mengeluarkan ini perutnya yang tidak ada.
Ruth berlarian seperti orang kesetanan. Dengan perasaan panik luar biasa, dirinya yang sudah mengabaikan tatakrama berteriak pada para pengawal dan pelayan untuk memanggilkan dokter wanita dan juga untuk memanggilakan Chris ataupun Lucas.
Hingga teriakannya, mengundang Chris yang memang sedang berada tidak terlalu jauh berjaga di sekitar koridor kamar Anastasia.
"Ada apa Ruth?"
Dengan mengabaikan keterkejutannya karna kemunculan Chris secara tiba-tiba. Ruth dengan melupakan dan tidak bisa memikirkan sedikitpun kesopanan langsung menarik lengan pemuda itu.
Walaupun bingung, Chris tertap mengikuti seretan Ruth dengan sesekali telinganya mulai bisa menangkap isiakan pelan Ruth.
Hingga akhirnya, mereka sampai di dalam kamar Anastasia. Dan Ruth terus menyeretnya hingga ke dalam kamar mandi.
"Your Highness!"
Chris yang akhirnya bisa mengerti kecemasan dan ketakutan Ruth, langsung berteriak dan mendekat pada tubuh Anastasia.
"Tolong angkat Her Highness ke atas ranjangnya, tuan Chris"
Dengan tidak ada keraguan, Chris langsung berucap sopan.
"Maafkan saya Your Highness"
Setelah Chris berucap. Anastasia merasakan jika tubuhnya mulai melayang. Tubuhnya yang lemah hanya bisa pasrah saat Chris akhirnya melangkah hingga meletakkan tubuhnya ke atas ranjang dengan hanya mengenakan gaun tidurnya.
"Apa yang terjadi Ruth? Kenapa ini?"
Sambil menyelimuti tubuh Anastasia, Ruth menggeleng dengan kedua mata yang sudah menggenang.
"Saya juga tidak tahu. Saya tidak tahu...."
---000---
"Hallo para gentlemen dan ladies yang terhormat... Selamat datang di Francia, selamat datang di Ross"
Thomas berserta para iparnya, setelah mereka kembali dari parlemen sore ini, mereka menyambut kedatangan beberapa tamu pertama mereka yang sudah datang dari jauh. Tamu-tamu bangsawan Bosnia yang sudah datang karna menyetujui undangan mereka.
"Hallo Your Grace Rubens. Terimakasih atas sambutan ramah dan hangat kalian"
Dengan senyum ramah di bibirnya, Thomas langsung mempersilahkan para tamunya untuk masuk ke dalam tempat bangunan utama di daerah Ross, castle Rubens.
"Silahkan... Silahkan masuk ke rumah Ross kami. Semoga kalian tidak kecewa dengan keadaan rumah kami yang sederhana ini"
Ucapan penuh dengan nada candaan dan kata-kata yang jauh dari kenyataan Thomas, membuat para tamunya terkekeh.
Sederhana? yang benar saja! Ross adalah daerah tekaya kedua setelah Albany dan si pemiliknya, adalah bangsawan nomer dua terkaya se-Francia.
Thomas mulai membawa langkah mereka untuk masuk. Sembari melangkah menuju kamar-kamar tamunya, Thomas mulai menjelaskan tempat-tempat di mana mereka akan berkumpul nanti, tempat-tempat berkumpul selama para tamunya akan berada di Francia. Mulai dari area untuk mereka gambling, hingga tempat-tempat hiburan lain selama mereka akan melakukan pertemuan mereka ada di Ross nanti.
"Di Francia, ibu kota adalah tempat kami biasa berkumpul untuk taruhan pacuan kuda. Dan untuk para ladies, di sana adalah surganya untuk berbelanja. Mungkin setelah besok semua berkumpul, kita akan memulai pertemuan kita yang sesungguhnya. Semoga kami tidak mengecewakan kalian" Thomas menatap empat pasang bangsawan para tamunya. Tamu-tamu bangsawan yang sudah mereka selidiki dengan baik, tamu-tamu yang ternyata cukup terkenal di Bosnia. "Saya akan berdoa malam ini agar tidak mempermalukan nama keluarga saya"
Dan kembali, candaan Thomas membuat para tamunya terkekeh. Kekehan tamunya yang membuat para keluarga Victoria itu, langsung saling melirik penuh dengan tatapan licik
__ADS_1
\=\=\=💚💚💚💚
Silahkan like dan komennya jangan lupa....