
"Apa rencanamu Frans?"
"Saat awal musim panas kemarin, kita belum mengadakan festival memanah. Aku akan tetap mengadakan festival memanah yang terbuka secara luas, dan mengundang kerajaan lain"
Kepala Geogre mengangguk paham sambil kembali mengusapi janggut-janggut putihnya.
"Hmm.. festival memanah yaaa"
"Bagimana gapa? apa gapa punya masukan lain?"
Sambil kembali menatap Francesca, jari-jari George mulai menggaruki meja kayu dan berucap
"Bagus. Itu rencana yang bagus. Lagi pula, Francia memang butuh hiburan setelah apa yang terjadi. Undang juga rakyat biasa seperti yang selalu kita lakukan Frans"
Dengan cepat kepala Francesca mengangguk setuju.
"Iya gapa"
Terjadi keheningan beberapa saat, hingga George kembali bersuara.
"Jadi... sudah sejauh mana hubungan kalian Frans?"
Dan pertanyaan itu, berhasil membuat rauh wajah datar Francesca berubah. Berubah semakin datar dan dingin.
"Iya Frans, sudah sejauh mana hubungan kalian? Coba ceritakan pada kami... pfftt!!"
Ejekan Ferdinand membuat George menoleh untuk menatapnya dengan kedua alis yang terangkat tinggi. Lalu arah pandangnya kembali menatap Francesca
"Ada apa ini Frans?"
Dengan kedua mata yang sudah melirik Ferdinand dengan tatapan sangat tajam, arah pandang Francesca juga melirik semua wajah kesatria minus Tomy. Wajah-wajah yang tampak penasaran dengan jawabannya. Francesca menarik nafas dalam untuk merauh ketenangannya, lalu berucap sangat pelan. Sangat-sangat pelan
"Dia belum menerimanya. Duke Hasting perlu berlikir dulu"
Braakkk!!
"Sialan itu menolakmu!! menolak cucuku yang paling cantik sejagat raya dunia ini hah?!!!"
Dan ucapan kemarahan George yang benar-benar keluar dari hatinya itu, akhirnya membuat tawa yang di tahan Ferdinand meledak.
Kedua tangan Francesca yang bertaut di perutnya mengerat. Meski raut wajahnya masih terlihat datar tidak terbaca, tapi guratan rasa kesal sangat bisa di tangkap oleh orang-orang terdekatnya. Termasuk Ferdinand yang semakin terbahak, Edward yang menatapnya dengan pandangan tidak percaya, serta George yang sudah menatapnya dengan tatapan sedih dramatis.
Sambil terus di iringi tawa terbahak Ferdinand dan raut wajah kesal Francesca, George berucap sangat pelan, sangat-sangat-sangat pelan
"Kau di tolak sayang?"
"Aku tidak di tolak!! dia hanya perlu berpikir gapa"
"Hingga kapan?"
Dan lagi. Ucapan yang keluar dari mulut George, berhasil membuat tawa Ferdinand semakin menggelegar. Di sela-sela tawanya, Ferdinand membantu Francesca untuk menjawab pertanyaan George yang tidak akan bisa di jawab kembarannya itu
"Sampai dinosaurus kembali hidup gapa. HAHHAHAA....."
Francesca mengerutkan kedua alisnya dengan kedua tangannya yang semakin mengerat. George yang melihat jika cucu kesayangannya itu sedang menahan malu, meski tidak akan bisa terlihat dengan jelas oleh mata-mata orang luar.
Tangannya langsung terangkat ke kepala Ferdinand
PLAAKK!!
Melayangkan pukulan peringatan yang langsung membuat Ferdinand mengatupkan mulutnya sambil menahan tawa gelinya yang belum selesai. Sambil melirik raut gapanya yang sudah melotot untuk memperingatinya, tangan Ferdinand mengusapi ekor matanya yang berair.
Baiklah... dia harus diam sebelum meja panjang mereka di balik oleh Francesca.
Keadaan yang mulai kembali hening, membuat George menatap Carl. Sepertinya... dirinya harus ikut turun tangan.
"Carl"
Meski bingung karna tiba-tiba George memanggilnya, Carl langsung menjawab cepat
"Iya tuan"
"Umumkan secara luas, benar-benar luas. Jika Her Majesy Ratu Francesca sedang mencari calon suami dan pendampingnya"
Kedua mata Carl mengejap-ngejap bingung. Sama seperti semua raut wajah orang-orang yang memiliki wajah di sana.
Sama halnya dengan Francesca yang sudah mengerutkan kedua alisnya sambil menatap George penuh selidik
"Gapa?"
Dengan bibir yang sudah tersenyum culas, George menatap Francesca dengan lekat, lalu menjelaskan
"Mereka sepertinya tidak ingin terikat secara baik-baik dengan kita. Mereka merasa di atas awan karna sudah menang dan bisa mempunyai Summer. Jadi untuk terikat denganmu, terlebih untuk melepas pion utama mereka yang pasti akan menjadi milik Francia, Bosnia pasti tidak sudi. Atau mungkin juga, si Hasting sialan itu memang sangat cerdas hingga tidak ingin terlibat. Jika memang benar seperti itu, kita perlu memberikan cambukan Frans-" Bibir George menyeringai. "Sekalian kita lihat, apakah si Hasting keparat itu memang benar-benar bisa menolakmu. Menolah gadis tercantik di Francia"
Memang dasar licik! Edward mengumpati George dalam hatinya. Lihatlah... untuk urusan hal-hal licik menjerat dan mempermainkan perasaan seseorang seperti ini, George memang sangat lebih terbuka di bandingkan Fredrick. Jika Fredrick akan bermain dengan sembunyi-sembunyi, tapi George dari jaman Victoria dulu memang sangat suka langsung menyulut api
"Tapi gapa, aku ingin dia yang menjadi pendampingku"
Seringai di bibir George semakin lebar. Arah pandangnya menatap Francesca dengan lekat hingga menyipit. Karna sepertinya, cucu kesayangannya itu benar-benar sudah menjatuhkan pilihannya. Bukan hanya untuk sekedar rencana, tapi juga untuk masa depannya sendiri.
Dan pemikiran itu, membuat kelapa George mengangguk-angguk singkat. Dirinya jadi benar-benar merasa penasaran dengan bentuk anak haram Bosnia yang terkenal itu
"Percaya saja pada gapa sweetheart..."
__ADS_1
Ucapa George membuat Francesca melirik Ferdinand sejenak. Ferdinand yang di lirik hanya mengedipkan kedua bahunya dengan acuh. Memang dia bisa apa?
"Baiklah gapa"
"Hhmm... kalau begitu lakukan tugasmu Carl. Buat berita ini menjadi meriah"
Carl melirik Francesca sejenak, lalu akhirnya hanya bisa mengangguk patuh
"Baik, tuan"
Seperti baru mengingat sesuatu, George kembali bertanya
"Apa kau sudah merundingkan rencana festival ini dengan para bangsawan istana? Bagaimana dengan dana?"
Ucapan George, membuat Francesca langsung melirik Jeremmy. Jeremmy yang mengerti, mulai ikut membuka suaranya
"His Highness Pangeran Henry sudah mengatur masalah ini, tuan George. Dan masalah dana, sedang di usahakan"
"Kenapa tidak memakai dana pribadi kita saja? Uang warisan dan kelahiran kita, aku rasa cukup untuk membuat sebuah pestival besar-besaran"
Francesca dan Ferdinand langsung saling melirik sejenak.
Benar juga... George memang belum mendengar tetang masalah hilangnya uang pribadi mereka.
Dengan arah pandang yang sudah kembali menatap George, Francesca akhirnya membuka rahasia yang sempat mereka simpan. Rahasia yang hanya dirinya, Ferdinand, dan Henry yang tahu. Karna itu memang uang mereka.
"Brangkas tempat penyimpanan uang pribadi kita kebobolan dan semuanya hilang, gapa"
"Apa! kenapa bisa???"
Dan benar, rahasia yang kemarin-kemarin masih di simpan Francesca langsung membuat semua kesatria menatapnya dengan raut wajah tidak percaya. Terlebih George, yang warna wajahnya sudah berubah pias
"Aku juga tidak tahu gapa"
"Tidak mungkin! brangkas itu hanya keluarga inti kerajaan yang tahu letak dan cara membukanya-" Kepala George menoleh pada Edward. "Dan hanya Edward kan yang tahu?"
Francesca mengangguk yakin
"Iya gapa. Kami juga masih menyelidikinya"
Raut wajah George masih terlihat memutih hingga tangannya gemetaran. Dan pemandangan itu, akhirnya membuat Ferdinand bertanya pada George
"Gapa, apa kau baik-baik saja?"
Kedua mata George terpejam sambil menarik nafas dalam. Dirinya benar-benar terlihat sangat syok.
Edward yang melihat itu, dengan sigap dan cepat langsung menuangkan teh ke cangkir dan langsung memberikan pada George. Tangannya dengan cepat merogoh saku celamannya untuk mengambil tabung kecil yang berisi banyak pil.
Melihat George yang masih terlihat lemas di atas kursi dengan kedua mata yang terus terpejam, Edward kembali berucap dengan nada dan raut wajah yang sama cemasnya dengan semua raut wajah semua orang di sana
"Tuan George... Tolong minum air dan obat anda"
Akhirnya, setelah dua kali Edward menyodorkan cangkir dan pil di tangannya pada George, kedua mata George terbuka.
"Nanti saja Ed"
"Minumlah gapa..." Ferdinand berucap sambil memutar posisi duduknya pada George. Tangannya langsung meraih kedua tangan George yang terasa dingin di genggamannya. Raut wajah Ferdinand sekarang benar-benar terlihat sangat ketakutan dan cemas. "Ayo gapa.... Minumlah obatmu, lalu sebaiknya gapa istrihat dulu"
George masih terus menarik nafas dalam sambil menatap lukisan di depannya. Pikirannya melayang jauh.
Jika ada yang bisa membuka rahasia pribadi, rahasia yang sangat pribadi milik keluarga inti kerjaan. Apakah ini pertanya jika ada musuh dalam selimut? Oh tidak!! tidak!!! George benar-benar tidak ingin memiliki kecurigaan seperti itu pada keluarganya. Ini pasti ada kekeliruan.
Melihat George yang masih juga terdiam dengan tatapan mata kosong yang terus menatap ke depan. Sekali lagi, dengan seluruh rasa cemas dan takutnya, Ferdinand kembali merayu gapanya
"Gapa.. tolong gapa... minumlah, kami sangat cemas"
Kedua mata George kembali memejam sejenak, hingga akhirnya kepalanya mengangguk dan menerima sodoran cangkir dan pil dari tangan Edward.
Setelah melihat George meminum air hangat dan pilnya, Francesca ikut berucap
"Ed, antar gapa ke-"
"Tidak-tidak-tidak... aku baik-baik saja Frans"
"Ga-"
"Aku baik-baik saja Dinand, kalian tenanglah. Aku hanya sedikit terkejut"
"Tapi-"
"Ck! aku bilang, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terkejut Dinand"
Melihat George yang sangat keras kepala merasa jika dirinya baik-baik saja. Ferdinand menoleh pada Francesca.
Francesca yang di mintai keputusan akhirnya hanya bisa membuang nafas pasrah.
"Baiklah... kita lanjutkan gapa"
George mengangguk singkat. Anggukan siap George membuat Francesca kembali membuka obrolan mereka secara santai
"Ini tentang Ana gapa. Lucas memberi kabar jika Ana sempat sakit karna terlalu lelah'
"Ana sakit?"
__ADS_1
"Sempat sakit gapa"
Kepala George mengangguk paham, lalu melirik Ferdinand yang sudah memejamkan kedua matanya.
"Apa yang bisa ku bantu Frans?"
Dengan sebelah tangan yang sudah memainkan cangkirnya, Francesca kembali berucap
"Aku ingin gapa meminta gapa James atau uncle gapa Steven untuk membantu Ana di Trancia. Bukan karna aku tidak yakin jika Ana mampu melakukannya semuanya sendiri gapa, tapi kami hanya khawatir jika Ana akan memaksakan dirinya untuk mengurus Trancia yang ternyata menyimpan banyak belatung di dalam kulit mereka"
Dengan jari-jari yang kembali menggaruki meja, George menatap Francesca dengan lekat
"Steven dan James akan sulit Frans"
Benar... para sepupu jauh George, yang juga dulu menjadi para penasehat utama George saat dirinya menduduki tahta, adalah orang-orang yang sulit untuk di bujuk agar bersedia kembali berurusan dengan istana. Tapi,
"Aku sendiri yang akan menemui mereka"
"What! gapa... mereka bisa mati jantungan ketika melihatmu yang ternyata masih ada di bumi ini"
Ucapa Ferdinand membuat George terkekeh geli sambil berucap
"Biar saja. Lagi pula jika aku hanya mengirim surat, mereka tidak akan ada yang percaya jika ada orang mati yang bisa mengirim surat-" George menoleh pada Edward. "Ed, atur pertemuan rahasia dengan Steven. Jangan James, dia itu pria galak"
Edward langsung mengangguk patuh
"Baik, tuan"
--000--
Summer masih mengintip dengan hati-hati. Dirinya masih berdiri di balik pintu kamarnya yang terbuka sedikit. Hingga dirinya sudah cukup yakin dan tidak lagi melihat pelayan dan pengawal yang berjalan-jalan di koridor, Summer akhirnya keluar dari pintu kamarnya.
Sambil mengeratkan mantelnya, Summer mulai melangkah sendirian menuju tempat-tempat di bagian istana Helsingr yang belum pernah di jelajahinya.
Well... istana Helsingr memang sangat luas dan megah, tidak jauh berbeda dari istana Royal Vancia. Hingga Summer harus sedikit demi sedikit menelusuri dan mengingat semua titik tempat dengan baik.
Langkah Summer langsung menuju ke arah barat. Tempat di mana bagian ballrom dan koridor lain aula yang ada di Herlsingr. Dengan mengabaikan tatapan para pengawal yang terus menatapinya dengan penuh selidik, Summer masa bodoh dan terus melangkah.
Saat sudah berada di koridor bagian barat. Benar saja, jika istana Helsingr memang sangat megah hingga Summer tidak bisa berkedip menatap semua ukiran dan gambar-gambar lukisan yang ada di langit-langit atap
Sambil terus melangkah dan dan masuk pada koridor lain. Koridor yang tampak semakin gelap karna tidak mendapatkan cahaya bulan, Summer terus melihat-lihat semua keindahan ukiran-ukiran dan gambar-gambar di sekitar.
Dan untuk kesekian kalinya, Summer masih terus mengabaikan para pengawal yang seperti terlihat ingin berbicara padanya.
Summer yang sudah memasang wajah galak dan dinginnya. Wajah tidak bersahabat yang pasti membuat orang lain segan untuk menegurnya.
Langkah Summer berbelok ke arah barat lagi. Langkah yang menuntunya ke tempat yang semakin jauh dari cahaya bulan. Entah itu arah yang akan menuju kemana. Dirinya hanya mengikuti jalan tangga dan koridor sebagai penuntun.
Dan ternyata, apa yang di temukan Summer di sana, membuat bibirnya tersenyum.
Banyak patung di sepanjang jalan, banyak lukisan-lukisan yang kali ini sangat di kenalnya. Lukisan-lukisan yang menggambarkan perjalanan memikul untuk menuju ke bukit Golgota
Hingga Summer sampai pada depan sebuah pintu besar yang di jaga oleh pahatan indah patung. Patung yang seolah menjadi simbol penjaga pintu di sana
Patung Archangel Michael yang sedang menginjak si pengkhianat, si naga, dan si ular kuno.
Tangan Summer terulur, memegang tombak Angel Michael yang siap untuk menghujam si ular kuno, si iblis. Kedua matanya menutup, lalu mulutnya mulai berguman
"Angel Michael kami, pemimpin balatentara Tuhan. Tolong doakan aku dan seluruh keluargaku dalam pertempuran kami. Bantu kami untuk memenangkan semua ini. Tolong doakan kami pada Tuhan, tolong beri kami kekuatan untuk melawan iblis-iblis itu"
"Jadi kalian ingin menang melawan iblis?"
Suara yang tiba-tiba menjawab ucapannya, membuat Summer langsung terkejut hingga rasanya hampir mati. Jantung Summer serasa hampir copot dengan wajah yang sudah berubah pias.
Melihat wajah terkejut, gestur Summer yang hamping terjengkang ke lantai dengan tangan yang memegangi dadanya. Si pemilik suara itu hampir terbahak. Dengan senyum geli yang tercetak di bibirnya, dirinya langsung berucap
"Oohh... maaf Putri Summer. Aku buka Archangel Michael. Apa aku mengejutkanmu?"
Summer yang sedang memperbaiki raut wajah dan coba meredam rasa terkejutnya, menatap si pemilik suara sialan yang sedang menikmati keterkejutannya.
"Apa yang anda lakukan di sini Pangeran Pangeran Richard?"
Masih dengan bibir yang tersenyum geli, Richard langsung mengekori langkah Summer yang sudah bergerak dengan gerakan kesal.
"Bukankah harusnya aku yang bertanya seperti itu?"
Summer mengabaikan Richard dan terus melangkah. Selain karna malu karna apa yang di katakan Richard jika Summer sempat berpikir bahwa suaranya adalah suara angel Michael, Summer juga kesal karna Richard terus tersenyum geli dan hampir menertawakannya.
Merasa jika tidak mendapatkan respon dan bahkan terus di abaikan, Richard kembali berucap
"Aku bisa memberitahumu bagaimana caranya memenangkan peperangan melawan iblis, seperti yang di lakukan angel Michael dan para pasukan malaikat surga lain. Untuk memenangkan pertempuran"
Ucapan Richard membuat langkah Summer terhenti. Kepalanya menoleh untuk menatap Richard yang sudah berdiri di sebelahnya
\=\=\=💚💚💚💚
Silahkan like dan komennya jangan lupa yaaa....
__ADS_1