Bloody Crown

Bloody Crown
BC 26


__ADS_3

Setelah keputusan untuk mengadakan festival di terima, dan separuh dana sudah terkumpul. Di sinilah Ferdinand sekarang.


Duduk di sofa ruang tamu castle Albany yang dulu sering mereka jadikan tempat untuk berkumpul dalam kebahagiaan.


"Kau melamun Dinand?"


Suara lembut yang mengalun di telinga Ferdinand, membuat Ferdinand langsung menoleh lalu tersenyum


"Halo cantik"


Charlotte ikut tersenyum sambil masuk ke dalam kedua tangan Ferdinand yang sudah terentang lebar.


"Aku dengar aunty sudah tidak pernah tertawa lagi"


Sambil melepas jarak mereka, Charlotte terkekeh lembut


"Apa Michael banyak mengeluh padamu?"


Ferdinand langsung menghempaskan bokongnya di sofa saat Charlotte sudah duluan mengambil duduknya


"Dia bahkan hampir menangis di dalam suratnya aunty"


Sambil menepuk satu tangannya ke paha, dan satu tangan lagi terentang pada Ferdinand, Charlotte kembali terkekeh halus


"Dia terlalu berlebihan"


Sebelah tangan Charlotte mulai membelai kepala Ferdinand yang sudah ada di atas kedua pahanya. Ferdinand yang merasakan usapan lembut ibu keduanya itu, hanya bisa memejamkan mata menikmati.


"Apa kalian banyak menangis?"


"Tidak ada lagi yang perlu di tangisi aunty. Papa dan mama hanya berlibur"


Sekuat tenaga Charlotte menahan perasaannya. Dengan kuat Charlotte mengigit bibirnya sambil menatap Arthur yang sudah berdiri di atas tangga sambil tertengun.


Ternyata benar apa yang di katakan Dominic Putra Arthur. Jika anak-anak Fredrick dan Victoria, memang semakin tidak bisa menerima kenyataan. Mereka mungkin sudah bermasalah secara mental.


"Apa aku menganggu?"


Arthur ikut menghempaskan bokongnya ke atas sofa sambil membuka surat kabar. Ferdinand hanya membuka matanya sejenak karna kedatangan Arthur, lalu kembali memejamkan matanya dan berucap


"Apa kamar-kamar di castle Ross sudah penuh, uncle?"


Dengan wajah yang menatap surat kabar, Arthur melirik Ferdinand sejenak, lalu menjawab acuh.


"Sedikit lagi. Kami memutuskan merubah rencana. Menunggu kamar-kamar penuh terlebih dahulu, baru membawa mereka berjalan-jalan ke ibu kota"


"Kenapa?"


"Karna lebih praktis dan menghemat segalanya"


Tangan Charlotte yang berhenti membelai kepalanya, membuat Ferdinand meraih tangan hangat aunty-nya. Menggerakkan tangan Charlotte untuk meminta kembali di belai.


Arthur yang sempat melihat itu mendengus kasar.


"Suami haus belaian"


"Diamlah suami takut istri"


"Seperti kau tidak saja!"


"Aku memang tidak!"


Charlotte terkekeh sambil memukul pelan mulut Ferdinand.


"Jangan mulai. Katakan, ada apa kau kemari Dinand?"


"Merindukan wanita tercantik di Francia"


"Ck! perayu ulung!"


Dan sambaran Arthur, membuat kekehan Charlotte kembali terdengar dengan tangannya yang langsung menahan mulut Ferdinand agar tidak menjawab dan kembali memancing perdebatan.


"Ada apa Dinand?"


Kali ini suara serius Arthur terdengar, dengan gesturnya yang sudah melipat surat kabar dan membenarkan posisi duduknya.


Ferdinand juga mulai mengangkat kepalanya dan kembali duduk dengan benar. Arah pandangnya menatap Arthur dengan sangat serius, hingga membuat Charlotte menjadi was-was.


Ohh tidak.... jangan katakan ada hal buruk lagi yang akan terjadi!


"Kami ingin meminta uang, uncle"


HAH?


Dengan kedua alis mengerut dalam, Arthur melirik Charlotte yang juga sudah mengerutkan alis dengan dalam sambil menatap Ferdinand. Lalu kembali menatap Ferdinand dengan wajah penuh tanya


"Uang? kalian miskin?"


Bibir Ferdinand mencebik kesal sambil menatap Arthur dengan tatapan tidak suka


"Yaa... intinya begitu. Kami miskin, dan kami juga akan menjual seluruh perhiasan kami jika tidak bisa mendapatkan sisa dana untuk festival"


"Wow!! kau pangeran gembel! kasihan sekali istrimu mempunyai suami miskin seperti kau Dinand"


Ferdinand hanya bisa menekuk bibirnya dengan kesal sambil menunggu Arthur selesai terbahak, dan Charlotte selesai terkekeh geli.


Hingga akhinya, yang di tunggu Ferdinand selesai. Dan Arthur kembali serius


"Butuh berapa banyak?"


Pertanyaan itu, dengan cepat membuat Ferdinand merogoh sakunya, dan langsung memberikan amplop pada Arthur.


Arthur memutar bola matanya dengan malas sambil menerika sodoran surat dari tangan Ferdinand


"Formal sekali"


"Karna aku tidak sedang meminta uang jajan uncle"


"Yaaa.. yaa.. baiklah.."


Dengan malas, Arthur membuka surat dan mambaca isinya. Surat yang di segel dengan stempel kerajaan di amplop, serta di penutup tulisan surat yang di bubuhi tanda tangan dan stempel Ratu.


Setelah selesai membaca, Arthur menatap Ferdinand dengan lekat


"Kalian ingin meminjam uang?"


Dengan satu alis menukik tinggi, Arthur bertanya dengan serius. Kali ini tidak ada ejekan ataupun sindiran, dirinya benar-benar bertanya


"Iya uncle. Setelah semua membaik, kami akan mengembalikan semua pada Albany. Walaupun kami tidak bisa menjanjikan waktu tepatnya"


Sambil melipat kembali surat dengan rapih, Arthur kembali berucap


"Tidak di kembalikan juga tidak masalah"


Kepala Ferdinand langsung menggeleng tegas.


"Itu uang Albany. Milik rakyat Albany dan Arathorn. Bukan hak kami, meskipun kita keluarga"

__ADS_1


"Hhmm.. dari mana kau mengutip ucapan itu Dinand?"


Merasa tertangkap basah, Ferdinand mengusap tengkuknya sambil melirik Charlotte yang bertanya.


"Frances"


"Sudah ku duga. Kau mana mungkin punya ucapan bijak seperti itu Dinand"


"Ck! aku kan adik, jelas saja Francesca lebih bijak dariku uncle. Dia lebih tua"


"Adik pantatmu! kau dan Francesca hanya berbeda lima belas menit, sialan!"


Ferdinand kembali mencebik kesal


"Tetap saja. Dia tetap kakak, dan aku adik"


Dan perdebatan dua pria di sekitar Charlotte itu, membuatnya hanya bisa terkekeh geli. Sambil menatap istri Arthur yang hanya bisa menatap Ferdinand dengan pandangan sedih.


*


*


"Sudah jelas jika ini ulah mereka Ayah. Ck! Keluarga Arathorn, Rubens, dan Wood, keluarga Ratu Victoria"


Raja Feroca melirik Regan yang berucap kesal sambil membaca perkamen di tangannya. Sedangkan dirinya masih menatap keluar jendela.


"Ryes di mana?"


Dengan acuh, Regan mengedipkan kedua bahunya


"Mungkin masih di Winna"


Sambil menyesap cerutu di tangannya, Feroca memejamkan kedua matanya sejenak sambil berucap


"Hubunganmu bagaimana?"


Dan pertanyaan itu, akhirnya membuat Regan melepas apa yang sedang di pegangnya.


"Dia sulit di goda"


"Tentu saja. Lihat keluarganya seperti apa Re. Dia memiliki segalanya, lengkap. Jadi untuk apa godaanmu heh?"


Setelah berucap, Feroca terkekeh geli.


Regan yang sudah mengusapi janggut-janggut halus di dagunya mengangguk setuju. Dirinya menimpali ucapan Feroca dengan yakin


"Raja bersih yang tidak memiliki simpanan. Ratu yang terdidik dengan sangat baik. Dan dari seluruh keluarga ibunya, mereka memiliki seluruh sejarah baik dalam pernikahan. Sempurna"


"Hhmm... kau benar. Raja Fredrick kenapa bisa tidak memiliki simpanan. Aku heran"


Sambil melangkah menuju ke jendela tempat Feroca berdiri, Regan berguman


"Postur Raja Fredrick masih gagah di usianya. Rupanya juga masih lumayan playboy untuk usia yang sedikit lagi akan menginjak usia paruh baya. Ratu Victoria memang cantik dan anggun, tapi akan selalu ada wanita lebih cantik di dunia ini kan?"


Kepala Feroca mengangguk menyetujui, lalu kembali terkekeh. Kekehan yang syarat akan ejekan.


"Padahal masa muda Raja Fredrick tidak lebih baik dari ku"


Alfon, tangan kanan Feroca yang juga ada di ruangan itu hanya diam sambil mendengarkan percakapan kedua pria lain di sana. Entah kemana dan untuk apa arah pembicaraan mereka itu. Tapi yang jelas, Alfon yakin jika mereka sepertinya mempunyai rencana buruk. Rencana yang entah apa dan untuk siapa. Rencana yang hanya mereka berdua yang tahu.


"Apa kau menyukainya, Re?"


"Tentu ayah. Summer sangat manis-" Regan menjedah dan mulai menuangkan teh ke cangkir. "Jadi, kapan pernikahan kami?"


Satu alis Feroca menukik. Menatap Regan dengan tatapan penuh selidik


Sambil menduduki kursi di meja kerja ayahnya, dan mulai mengaduk-ngaduk isi cangkirnya, kepala Regan mengangguk yakin


"Yaa.. apa masalahnya menikah"


Terjadi keheningan beberapa saat setelah jawaban yakin dari Regan. Dengan Feroca yang kembali menatap ke langit Bosnia, dan Regan yang menikmati teh yang baru saja di buatnya sendiri.


Hingga suara Regan kembali terdengar


"Para aktivis-aktivis itu berulah lagi"


"Aku tahu. Biarkan saja mereka"


Kepala Regan mengangguk patuh. Lalu kembali berucap


"Sebelum Pangeran Francia itu kembali ke Francia, mereka sempat menghabiskan makan malam di sebuah tempat makan"


Kali ini, kepala Feroca langsung menoleh untuk menatap Regan


"Mereka siapa?"


Regan membalas tatapan penasaran ayahnya dengan acuh, lalu menjawab dengan tidak kalaj acuh


"Siapa lagi. Si pemilik Winna dan Pangeran Ferdinand"


"Apa! bagaimana bisa?"


Dengan malas, Regan memutar kedua matanya. Ayahnya terlalu berlebihan!


"Tentu saja. Ayah sendiri tahu jika radar wanita itu sangat mudah tertarik pada pria-pria muda yang gagah. Pemuda tampan, bertubuh bagus, berwajah ramah, dan tampak seperti pria baik adalah kriteria nomer satu untuknya. Seperti Ryes"


"Tapi dia sudah menikah?"


Sambil menambahkan kembali susu ke dalam tehnya, Regan dengan yakin menjawab


"Istrinya setelah kejadian itu menghilang ke Trancia. Dan ku dengar, jika Putri Anastasia sedang membangun kekuatan di sana"


Kedua alis Feroca mengerut dalam. Tatapanya jelas menunjukkan rasa penasaran dan meminta penjelasan pada Regan. Regan yang mengerti tatapan Feroca langsung menjelaskan.


"Yang ku dengar dari rahasia tertutup istana Rembrantd. Dulu, Pangeran Ferdinand membawa kekasihnya ke dalam pernikahan mereka, rumahnya. Kekasihnya yang terpaksa dirinya lupakan sejenak karna perjodohannya. Tapi, beberapa bulan setelah pernikahannya, tiba-tiba Pangeran Ferdinand membawa kekasihnya itu kerumah mereka, kekasihnya yang ternyata sedang mengandung dan akhirnya berhasil mendepak si istri, Putri Anastasia. Tidak cukup sampai di sana masalah mereka. Putri Anastasia yang patah hati membuat pengajuan pembatalan pernikahan, hingga seorang Kardinal dari Roman sempat tinggal di istana Rembrantd"


Ucapan Regan terhenti untuk menyesap tehnya. Feroca yang penasaran, menjadi tidak sabaran


"Lalu?"


Sambil meletakkan kembali cangkirnya, Regan kembali melanjutkan ceritannya.


"Tentu di tolak. Vatican tidak akan menyetujui pembatalan pernikahan, apa lagi pernikahan kerajaan. Dan karna merasa masih terus terjerat di dalam pernikahnya, Putri Anastasia kabur hingga ke African selama satu tahun lebih"


"Apa mereka sudah kembali bersama?"


Kepala Regan menggeleng ragu


"Dari informari prajurit yang ku selipkan di Rembrantd. Setelah serangan, hanya dua kembaran itu yang langsung kembali. Sedangakan Putri Anastasia, baru kembali setelah beberapa hari kemudian, dan langsung pergi lagi ke Trancia. Kerajaannya"


"Apa hubungan suami istri itu sangat buruk?"


Dengan acuh, Regan mengedipkan kedua bahunya.


"Jarang ada yang melihat mereka bersama"


Feroca mengangguk paham

__ADS_1


"Dan kemana kekasih Pangeran Ferinand sekarang?"


"Kabarnya kabur karna takut di bunuh atas kesalahnya menjadi simpanan. Ancaman Rembrantd membuatnya menggugurkan kandungannya lalu kabur yang entah ke mana bersama adiknya"


TOK TOK TOK


"Your Majesty. Ini Beny"


Suara ketukan dan suara seseorang dari depan pintu membuat Alfon langsung menatap Feroca. Feroca langsung menganguk singkat yang membuat Alfon segera melangkah untuk membuka pintu.


Regan langsung berdiri, saat ayahnya sudah kembali melangkah menuju meja kerjanya.


Tidak lama Alfon kembali sambil membawa sebuah amplop.


"Surat, Al?"


Regan bertanya, yang langsung di jawab Alfon dengan anggukan yakin.


"Iya Your Highness"


Tangan Regan yang langsung menengadah padanya, membuat Alfon langsung menyodorkan amplop itu pada Regan.


Arah pandang Regan langsung menatap amplop surat dengan lekat, hingga akhirnya dirinya bisa mengingat stempel milik siapa yang menyegel amplop surat itu. Lalu menatap ayahnya


"Ini dari Francia"


Kedua alis Feroca terangkat tinggi


"Untuk kita?"


Sambil mulai membuka segel, kepala Regan mengangguk yakin. Dan mulai membaca isi surat.


Tidak perlu menunggu lama untuk membuat separut sudut bibir Regan terangkat tinggi. Regan menatap ayahnya, lalu menjawab raut wajah penasaran Feroca dengan yakin


"Undangan. Ini undangan untuk kita agar menghadiri acara yang mereka buat"


"Acara?"


"Fertival memanah untuk memperingati penutupan musim panas di Francia"


Dengan rapih, Regan kembali melipat surat di tangannya. Dan langsung memasukkan surat ke saku celananya.


Gerak gerik Regan itu membuat Feroca kembali mengangkat kedua alisnya dengan tinggi


"Mau kau apakan surat itu?"


Regan tidak menjawab dan langsung melangkah begitu saja menuju pintu.


Sedangkan Feroca yang tidak mendapatkan jawaban dan malah di tinggal pergi, hanya mengedipkan kedua bahunya dengan acuh.


--000--


Siang ini. Setelah menyelesaikan makan siangnya di kamar, Summer kembali memulai aktifitas yang beberapa hari sudah menjadi rutinitasnya, mengukur setiap sudut Helsingr.


Dengan di ekori dua pelayan yang selalu tidak pernah menyerah untuk mengakrabkan diri padanya, Summer terus melangkah menuju ke arah timur istana Helsingr.


Dirinya sudah tahu jika di sebelah barat Helsingr adalah bagian tempat kapel dan mungkin tempat pertemuan untuk berdoa. Lalu, bagaimana dengan bagian timurnya?


Permikiran itu, membuat Summer siang ini harus mendapatkan jawabnya sendiri.


Setelah melewati koridor megah dan mewah yang di selimuti dengan langit-langit atap penuh maha karya lukisan-lukisan yang indah, Summer terus melebarkan arah pandangnya dan juga pasti melebarkan ingatannya.



Para pelayan yang mengikuti Summer, yang bisa melihat jika Summer terpukau dan tampak penasaran pada lukisan-lukisan dan patung-patuh yang terpahat indah di sekitar koridor. Mencoba menjelaskan tanpa di minta.


"Lukisan di langit-langit menggambarkan cerita perang ribuan tahunan lalu. Perang yang akhirnya membuat sebuah kerajaan besar bernama Bosnia, Your Highness"


Meski terus memasang wajah angkuh dan tidak bersahabatnya, Summer bisa mendengar dengan baik apa yang di ucapkan pelayan itu. Lalu berdehem beberapa kali


"Dan bagaimana dengan patung-patung yang memegang senjata?"


Kedua pelayan Summer langsung tersenyum geli. Nona mereka memang sangat manis dan sebenarnya memang sangat ramah.


Setelah cukup lama mencoba mendekati nona mereka, mereka menjadi paham. Jika sikap sombong dan tidak bersahabat Summer selama ini, Summer lakukan untuk membentengi dirinya sendiri. Dan juga pasti karna rasa amarah dan bencinya, yang membuat nona mereka itu menjadi sangat berbeda dari sifat aslinya.


"Patung-patung itu, adalah para pemimpin pasukan saat perang ribuan tahun lalu. Ada dua puluh patung yang melambangkan di mulainya kerajaan yang bernama Bosnia. Mereka adalah para Winsdor dan Beltruz"


Kepala Summer langsung menoleh pada para pelayan


"Winsdor?"


"Iya Your Highness. Winsdor adalah pemimpin awal kerajaan Bosnia. Lalu setelah Raja terakhir keturunan Winsdor mangkat bersama calon penerus tahta laki-laki keturunannya yang ikut mangkat karna wabah cacar. Tahta di duduki oleh saudara jauh Winsdor, yang juga keluarga Beltruz"


Aahh.... jadi begitu sejarah Bosnia. Summer langsung menganggukkan kepalanya dengan kaki yang terus melangkah. Dirinya bahkan sudah melupakan untuk memasang wajah dingin tidak bersahabatnya. Rasa penasaran dan rasa haus akan sejarah membuatnya menjadi melupakan segalanya.


Seperti sekarang, arah pandang Summer sangat sibuk menatap ukiran-ukiran patung di sekitar koridor hingga membuat keheningan cukup lama terjadi di sekitar mereka.


Hingga sebuah pertanyaan yang masuk ke delam kepala Summer, membuatnya kembali bertanya


"Apa Winsdor dan Beltruz masih mempunyai hubungan darah?"


"Kami masih memiliki hubungan darah dengan Winsdor. Mereka sama-sama leluhur kami"


Summer langsung tersentak saat sebuah suara seorang pria langsung menjawab di sebelah telinganya. Dengan wajah terkejut, Summer mencari-cari keberadaan para pelayan yang ternyata sudah lenyap entah kemana. Lalu menatap pria di depannya dengan wajah dingin dan tidak bersahabatnya yang sudah kembali.


Pria itu hanya tersenyum geli saat melihat tatapan yang selalu Summer berikan untuknya. Tatapan dingin dan tidak bersahabat.


Tapi, seperti tidak peduli dengan wajah penuh permusuhan Summer, pria itu kembali berucap


"Awalnya, leluhur kami Winsdor dan Beltruz memang adalah sebuah keluarga yang memiliki hubungan bernama sepupu. Karna Raja terakhir dan penerus satu-satunya mangkat, maka tahta di berikan pada sepupu jauh Raja. Keturunan dari pernikahan perempuan Winsdor dan pria Beltruz yang di jodohkan. Sepupu yang di jodohkan"


Alis Summer langsung mengerut dalam.


"Aku tidak bertanya"


Kedua sudut bibir pria itu berkedut geli


"Tadi kau bertanya"


Dengan malas, Summer langsung mempercepat langkahnya. Menjauhi pria yang selalu muncul tiba-tiba dan mengganggu ketenangannya, seperti sekarang. Bibirnya berdesisi sinis


"Aku tidak bertanya padamu"


"Hhmm... tapi kau bertanya tentang leluhurku, sayang. Kenapa kau tidak langsung bertanya dan memintaku untuk menjelaskan apapun yang ingin kau tahu" Dengan langkah mereka yang sekarang sudah sejajar, pria yang di benci Summer itu kembali berucap. "Aku berjanji, tidak akan melakukan hal yang tidak kau sukai lagi. Lagi pula, aku punya surat yang datang dari Francia"


Dan benar saja. Pancingan pria itu, langsung membuat langkah Summer berhenti dan menoleh padanya


"Francia mengirim surat?"


"Iya sayang..." Pria itu, mengeluarkan surat dari sakunya sambil tersenyum licik. Mengibas-ngibaskan kertas surat ke depan wajahnya sambil mengerling "Jadi... apa sekarang kita akan berjalan-jalan dan berbagi cerita dalam keadaan yang damai?"


\=\=\=❤❤❤❤


Pernikahan kerajaan jaman dulu terkadang memang sering melakukan pernikahan yang masih punya hubungan sedarah. Buat yang belum tahu, harap maklum yaa sama Bosnia....


Jangan lupa like dan komennya...

__ADS_1


__ADS_2