Bloody Crown

Bloody Crown
BC 25


__ADS_3

Melihat Summer yang akhirnya memberi respon, Richard tersenyum dan berucap


"Ingin tahu?"


Arah pandang Summer menatap Richard penuh selidik hingga kedua matanya memicing tajam, lalu menjawab


"Bukankah anak kecil seharusnya sudah tidur? Kenapa kau masih berkeliaran di waktu tengah malam Pangeran Richard?"


Alis Richard mengerut dalam dengan matanya yang menatap Summer dengan tatapan tidak suka.


Dia pasti kesal. Itu yang di pikirkan Summer. Dan pemikiran itu membuat Summer kembali melangkah dengan mengabaikan Richard.


Saat kakinya mulai menjauh, suara Richard kembal terdengar.


"Bukankah kau ingin berdoa di kapel, Putri Summer?"


Summer terus melangkah sambil mengumpat di dalam hatinya. Kenapa Pangeran aneh itu bisa tahu semua yang sedang di pikirkan dan di rencanakannya?


Merasa masih tidak mendapatkan respon, Ricrhard kembali bersuara. Kali ini dirinya harus sedikit menaikkan suaranya karna langkah Summer sudah semakin jauh.


"Jika kau ingin tahu bagaimana caranya agar bisa menang, kau bisa mencariku Putri Summer"


Dan untuk yang sesekian kalinya, Summer mengabaikan Richard.


Dirinya terus melangkah ke arah jalan yang di lewatinya saat datang. Arah ingatan Summer berpatokan pada para wajah-wajah pengawal yang tadi di lewatinya saat datang. Jika wajah yang di lihatnya sama, berarti dia melawati jalan yang benar. Karna ternyata, cukup sulit mengingat bagian-bagian Helstingr di malam hari yang hanya bermodalkan cahaya lilin dan cahaya samar bulan.


Helsingr memang sangat luas dan lebar. Banyak koridor-koridor yang menyalip, banyak juga koridor-koridor yang bercabang hingga membuat seseorang rawan untuk tersesat.


Setelah Summer kembali dengan selamat ke daerah barat istana, akhirnya Summer membuang nafas lega. Dirinya lulus untuk malam ini, dan berjanji tidak akan lagi menelusuri tempat-tempat yang sangat jauh dan memiliki jalan yang rumit di malam hari.


Sambil terus melangkah untuk menuju kamarnya, Summer tiba-tiba memutar haluan langkahnya. Entah kenapa dirinya ingin menghirup udara diluar dan merasakan terpaan dingin angin tengah malam.


Hingga tanpa sadar, ternyata langkahnya sudah melewati koridor kamar-kamar yang Summer sangat tahu, siapa saja pemilik kamar-kamar utama di sana.


"Sial! Kenapa kau mengambil jalan dari sini Summer!"


Summer mengumpati dan merutuki kebodohannya sendiri. Dan dirinya berharap tidak akan bertemu siapapun, terlebih bertemu seseorang yang setiap hari selalu mengganggunya. Tapi,


Pintu kamar yang sedang di hindarinya tiba-tiba terbuka. Summer hampir melompat untuk bersembunyi jika tidak melihat siapa yang keluar dari pintu di sana.


Seorang pria bertubuh tinggi yang sedikit melebihi Ferdinand kakaknya, bertubuh gagah seperti Ferdinand, dengan wajah yang tampak seperti pria matang. Siapa dia? Sepertinya Summer tidak asing dan pernah melihatnya?


Tapi pertanyaan yang paling ingin Summer dapatkan jawabannya sekarang adalah.... Ada apa seorang pria keluar dari kamar Regan? Jika itu seorang wanita atau pelacur yang keluar dari sana, tidak mungkin Summer akan menjadi sangat penasaran seperti ini.


Tanpa sadar, Summer mengikuti langkah pria itu. Dirinya hanya mengikuti rasa penasaranya yang entah untuk apa fungsinya. Langkahnya terus bergerak pelam menuju ke arah tangga untuk turun ke kamar-kamar utama di bawah.


"Kenapa anda mengikuti saya, Your Highness?"


Summer tersentak dan langsung membuang wajahnya saat dengan sangat cepat dan mengejutkan, pria itu langsung memutar tubuhnya ke arah Summer yang sedang mengendap-ngendap.


Sambil berdehem beberapa kali, dan dengan kembali memasang wajah tidak bersahabatnya, Summer kembali meluruskan kepalanya untuk menatap pria itu. Lalu bertanya dengan nada yang di buatnya segalak mungkin


"Anda siapa?"


Satu alis pria itu menukik, sambil menatap Summer dengan lekat


"Saya Ryes Hasting, Your Highness"


Aahh! Ternyata pria itu adalah Duke Ryes Hasting yang terus menjadi salah satu buah bibir perbincangan para Ladies di pesta pertunagannya!


Duke Ryes Hasting yang terus membuat para Ladies membicarakannya dengan ucapan-ucapan genit, dan ternyata pria itu juga yang terus menjadi buah bibir paling utama selain tunangan dan kakaknya Ferdinand.


Arah pandang Summer menatap pria itu dengan lekat, tatapannya jelas menilai Ryes dengan cara yang sangat ketara.


Ryes yang di tatap seperti itu, kembali menaikkan satu alisnya dan berucap


"Sudah puas menilai saya?"


Lagi-lagi Summer tersentak dan harus berdehem beberapa kali untuk mengembalikan ketenangannya.


"Jangan terlalu percaya diri Duke Hasting. Apa yang anda lakukan di malam hari di kamar Pangeran Regan?"


Kali ini, kedua alis Ryes terangkat tinggi dengan sudut bibir berkedut geli. Apa-apaan Putri yang tampak polos itu? Bukankah terlalu blak-blakkan untuk dirinya dengan mudah mengeluarkan isi pertanyaan di kepalanya?


"Saya mempunyai urusan, Your Highness. Urusan pria yang tidak bisa saya jelaskan pada anda. Maaf"


Meski ingin tertawa, tapi Ryes tetap menjawab Summer dengan sopan.


Dan Summer yang baru saja menyadari jika dirinya terlalu menunjukkan rasa penasarannya, dengan cepat berbalik. Sial! kenapa kau sangat bodoh Summer!!!


Melihat Summer yang langsung pergi begitu saja dengan cara yang kurang sopan, Ryes hanya bisa tersenyum geli dan berucap


"Istana Helsingr tidak setenang dan seaman kelihatannya. Saya hanya ingin mengingatkan jika anda jangan berjalan-jalan di waktu sepi tengah malam seperti ini. Di sini berbahaya, Your Highness Putri Summer"


Meski Summer tidak memberikan respon apapun, tapi kedua telinga Summer bisa mendengar dengan jelas ucapan Ryes.


Baiklah... sepertinya, sudah saatnya Summer untuk tidur dan membatalkan niatnya untuk ke taman.


Setelah secara diam-diam memastikan Summer yang sudah kembali dengan selamat ke kamarnya. Ryes kembali memutar langkahnya untuk kembali menuju kamarnya.


"Bola mata abu-abunya sangat mirip dengan Ratu es itu, Rai"


Suara Richard yang tiba-tiba muncul membuat Ryes meliriknya sejenak, lalu berucap acuh


"Jangan menggangunya Richi"


Richard mencebik tidak suka


"Aku tidak mengganggunya"


"Lalu kenapa kau terus mengikutinya?"


Dan pertanyaan yang lebih mengarah pada pernyataan telak Ryes itu, langsung membuat Richard cemberut tanpa bisa membantah lagi.


--000--

__ADS_1


Malam hari, seperti biasa. Angin berhembus cukup kencang di Francia.


George yang baru selesai makan lalu minum pilnya mulai menikmati pemandangan langit malam dari salah satu kamar terbaik di istana Rembrantd.


Jika biasanya George sangat menyukai pekatnya langit malam di Yorksire, tapi malam ini dirinya tidak bisa menikmati semuanya dengan baik.


Alasannya hanya satu. Karna rasa muak.


George benar-benar muak untuk kembali ke tempat itu dan mencium seluruh aroma busuk istana. Tapi naas, karna dirinya harus berada di sana lebih lama dari waktu yang sudah di rencanakannya. Setidaknya, setelah dirinya bisa melihat pria brengsek seperti apa yang sudah berani menolak cucu kesayangannya.


"George, Farel sudah membawanya"


Tanpa mengetuk pintu dan langsung masuk begitu saja sepeti kebiasaannya di Yoursire, Edward masuk ke kamar George dan langsung meletakkan apa yang di pesannya.


Langkah George langsung berputar untuk menuju meja yang sudah di letakkan gulungan oleh Edward.


Edward melirik George yang mulai duduk di kursi dan meraih peta yang di pesannya. Entah apa yang di inginkan George, tapi Edward sangat penasaran dan akhirnya memuntahkan pertanyaan yang terus mencokol di kepalanya


"Sebenarnya, untuk apa kau meminta peta detail kerajaan Odessa?"


Dengan tangan yang sudah melebarkan peta ke atas meja, George melirik Edward sejenak, lalu menjawab


"Mencari jawaban"


"Jawaban apa?"


George tidak menjawab lagi, dan mulai fokus pada peta. Edward yang melihat jika George sudah tidak berniat membuka mulut lagi, mulai ikut bungkam dan memperhatikan apa saja yang di lihat George.


Hingga beberapa saat, George terkekeh. Suara kekehan yang terdengar sangat dingin dan mencekam di telinga Edward.


"Kenapa George?"


Tangan George kembali menggulung peta dan langsung menyodorkan peta di tangannya pada Edward.


"Bakar ini, Ed"


"Hah?"


Edward menatap George dengan bingung. Tapi George tidak juga sedikutpun berniat untuk menjelaskan, ataupun membuka mulutnya lagi.


Walaupun sekarang Edward hampir mati karna penasaran, tapi dirinya cukup tahu diri. Dan akhirnya mengangguk patuh


"Baik, tuan"


"Aku ingin tidur Ed"


Sekali lagi, Edward mengangguk patuh dan menjawab


"Iya. Selamat malam George"


"Selamat malam Ed"


Setelah Edward keluar dari pintu, dan pintu tertutup. Kedua tangan George terlipat ke depan dadanya. Dan tidak lama di susul dengan suara kekehan dinginnya yang menggema di keheningan malam.


*


*


Jika biasanya Anastasia rapat dengan mengandalakan dirinya sendiri, kali ini ada seseorang kiriman yang menemaninnya.


Marquess Steven. Sepupuh jauh kakek mereka, George.


"Selamat siang gentlemen. siang ini kita tidak akan berlama-lama. Silahkan buka perkamen yang sudah kami siapkan"


Seseorang yang di anggap orang baru datang dan langsung ikut berbicara di dalam rapat tanpa memperkenalkan dirinya sendiri itu, membuat seorang gentleman akhirnya bersuara.


"Anda siapa? dan apa yang anda lakukan di sini?"


Akhirnya ada juga yang membuka mulutnya. Anastasia yang memang menunggu pertanyaan itu muncul, melirik Steven sejenak dan langsung membuka mulutnya


"Dia Marquess Steven. Dulu adalah penasihat dan kerabat jauh mendiang His Majesty Raja George"


"Lalu apa yang di lakukannya di sini? Ap-"


"Membantuku memimpin rapat dan menyelesaikan masalah"


Anatasia langsung memotong dan menyerobot bergitu saja perkataan seorang gentleman yang belum selesai berucap


Dengan sabar, Anastasia menunggu. Menunggu jika mungkin ada siapa lagi yang akan mengeluarkan pertanyaan. Tapi, mereka semua hanya diam dengan mulai membaca isi perkamen yang sudah di bagikan.


Melihat jika tidak ada lagi pertanyaan yang menyerang, Steven melirik Anastasia. Anastasia yang di lirik hanya mengangguk singkat sambil menatap semua wajah-wajah di kursi yang sudah berubah pias.


Separuh senyum Anastasia terbit. Tapi, langsung lenyap saat seseorang yang sangat di bencinya bersuara


"Ini ancaman?"


"Tentu"


Anastasia menjawab cepat pertanyaan Sean sambil menatap pria itu dengan tajam.


Sean yang di tatap tersenyum culas


"Bukti seperti ini tidak berguna"


Brakk!!


Dengan sembarangan, Sean melempar begitu saja perkamen ke depan meja Anastasia. Yang membuat Lucas mulai siaga. Sedangkan Steven, dengan kepala dingin tersenyum menatap Sean dan semua para gentlemen yang tampak ikut mendukung Sean dengan ikut meletakkan perkamen secara kasar ke atas meja.


"Luar biasa. Di usia saya yang sudah menginjak usia yang ke tujuh puluh tujuh tahun. Dan sudah hampir selama lima puluh tahun saya menjadi tangan kanan mendiang Raja George. Baru ini saya melihat kejadian sangat lancang dan sangat berani seperti ini. Wajar saja dulu Trancia sangat kacau"


Steven berucap, sambil meraih perkamen yang tergeletak di depan meja Anastasia. Perkamen yang baru di lempar Sean.


Dengan tenang, Anastasia melipat kedua tangannya di depan dada


"Jadi, kalian tidak masalah meski aku akan menyerahkan ini pada Her Majesty Ratu Francesca?"

__ADS_1


"Itu bukti dan hasil beberapa tahun puluh tahun lalu, bahkan anda belum baru belajar berjalan saat itu. Bukan hal baru, Your Highness. Anda tidak bisa menggunakan itu untuk menekan kami. Ini kerajaan kami"


BRAAAAKKKKK!!!


"KERAJAAN KALIAN!!!"


Kaki Anastasia sudah berdiri setelah menggebrak meja dan berteriak keras. Arah pandangnya menatap seseorang yang baru saja membuat amarahnya mendidih.


Dia adalah uncle dari Sean, Ivan Serbie. Seseorang yang sedari awal Anastasia curigai ikut menjadi otak racun bersama keponakannya, Sean.


Kedua mata Anastasia mengkilap tajam, bibirnya berdesis tajam


"Ini bukan kerjaan kalian"


"Kami lahir di sini! kami bahkan lebih lama hidup di Trancia! jauh sebelum Putri Mahkota gagal seperti an-"


BRAAKKKK!!


Ivan mengusap dahinya yang langsung berdenyut saat sebuah Perkamen melayang dari tangan Anastasia ke dahinya.


Dan belum cukup sampai di sana. Ivan tersentak saat Anastasia melangkah menujunya dan langsung menarik kedua kerah kemejanya. Membuat semua orang di sana jadi menahan nafas mereka.


"Korupsi, pembunuhan, perbudakan, membuat pajak diam-diam yang sama saja dengan memeras para petani kecil!! kau bilang itu hanya masa lalu dan harus di lupakan? begitu hah?!!!"


"Tolong tenang, Your Highness. An-"


"Kalian bahkan sanggup menjual nyawa manusia lain!! mengunakan nama Gereja dan Kardinal korup untuk mengenyangkan kalian dan mengancam!! Kalian sebut apa diri kalian hah! dan kalian mengatakan ini kerajaan kalian? kalian mengotori tanah Trancia bahkan sanggup menggunakan Gereja untuk kepentingan dosa menjijikkan kalian!!!"


Anastasia menyentak kuat kerah baju Ivan sambil menatap semua orang di sana.


Amarah, rasa jijik, kecewa, dan kotor. Segala hal buruk langsung menggerogoti setiap nafas Anastasia.


"Kalian menggunakan pengakuan dosa untuk minta uang dari itu! kalian menggunakan nama Tuhan dan rumahNya untuk menyeret anak-anak muda yang ternyata kalian kirim ke perbudakan!!!-" Dengan kedua mata berkaca-kaca karna amarahnya yang sudah tembus hingga langit ke tujuh, bibir Anastasia berdesisi tajam. "Pantas saja Trancia ini tidak pernah makmur dan selalu tidak bisa bahagia. KERAJAAN INI TERKUTUK!! KERJAAN INI TIDAK AKAN BISA MENERIMA BERKAT DARI TUHAN YANG SUDAH KALIAN LECEHKAN!!!"


"Your-"


"Aku beruntung menjadi Putri Mahkota gagal dan menjadi pengecut dengan menyerah pada Francia. Jika tidak, aku juga akan ikut terkutuk di tanah Trancia yang menjijikkan ini!!!"


Lucas dan Steven hanya diam dan saling melirik. Mereka menahan diri dan hanya bisa diam karna cukup terkejut dengan fakta-fakta yang baru saja Anastasia semburkan.


Ini gila! orang-orang di sana gila!!


Dan apa tadi?... ini sudah berlangsung bahkan dari saat Anastasia masih belum bisa berjalan dengan benar? apa Trancia memang sarang para iblis?


Keadaan semakin dingin dan mulai mencekam. Anastasia yang awalnya ingin memulai negosiasi dan sedikit berbaik hati jika memang bisa melihat ketulusan dari perasaan ingin berubah para gentlemen di sana, sepertinya akan menarik minatnya.


"Lucas"


"Iya Your Highness"


"Aku berubah pikiran-" Anastasia mulai melangkah setelah sebelumnya meminta Steven untuk mengikuti dirinya dari tatapannya. "Bakar mereka di dalam dosa mereka"


"YOUR HIGHNESS!! ANDA-"


Mulut Ivan terhenti saat Anastasia sudah keluar pintu.


Lucas yang ada di sana langsung berucap


"Chris. Her Highness berubah pikiran!"


Dan setelah teriakan Lucas. Kaca-kaca langsung pecah dengan banyak sekali botol-botol yang langsung terlempar dari luar, dan masuk dari jendela.


Banyak botol-botol yang langsung berterbangan dan pecah di semua lantai. Yang membuat semua para gentlemen menjadi panik, tidak terkecuali Sean.


Dirinya benar-benar terkejut. Sangat terkejut jika Anastasia yang dirinya kenal, Anastasia yang selalu di siksanya dulu. Benar-benar sudah berubah menjadi monster.


Sean tahu botol-botol apa itu. Dirinya tahu jika ini akan menjadi pembunuhan keji!!!


Mereka yang ada di dalam mulai panik, dan semakin panik.


Lucas yang sudah meraih satu botol dengan memegang pemantik di sebelah tangannya, menatap Sean yang sedang menatap kesegala arah. Mencari jalan keluar heh?


Langkah Lucas yang ternyata sudah berdiri di depan jendela yang pecah, membuat keadaan semakin panik.


Mereka berusaha memecahkan jendela lain yang belum tersiram minyak. Sebagian dari mereka juga berusaha menghancurkan pintu.


Dan keributan karna rasa takut, sudah mulai pecah.


Tangan Lucas bergerak, menghidupkan pemantiknya. Untuk membakar ujung kain botol yang di pegangnya.


Dan,


BOOMMM!!!!


Kaki Lucas dengan cepat melompat ke luar jendela yang di iringi teriakan-teriakan dari dalam ruangan.


Saat sudah menginjak luar, Chris dan beberapa pengawal langsung mengikuti langkah Lucas


"Sepertinya beberapa dari mereka pasti bisa kabur Luc. Apa kita harus mengejar mereka?"


Ucapan Chris membuat Lucas tersenyum miring.


"Tidak Chris, biarkan mereka. Ini hanya ancaman sangat keras yang sedang Her Highness tunjukkan. Beruntunglah mereka, karna bukan Her Majesty Ratu Francesca yang menangani ini. Jika tidak, sudah lama kepala dan tubuh mereka berpisah"


Chris mengangguk setuju.


"Aku tidak tahu jika mereka segila ini"


Lucas hanya diam dan tenggelam dalam pikirannya. Sama halnya dengan Chris.


Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran, jika wajar saja Her Highness mereka bisa sampai jatuh sakit karna mengurus semua ini.


Karna dosa para bangsawan Trancia, memang sangat menjijikkan


\=\=\=💙💙💙💙

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya...


__ADS_2