
Zie dan Bian terlihat sangat bersungguh-sungguh memukul bola bisbol yang melayang ke arah mereka. Mereka sama-sama tidak mau kalah. Sifat kompetitif mereka yang menjadikan mereka sahabat baik.
Permainan bisbol mereka sudah memasuki tahap akhir, sudah hampir 50 bola yang dilempar ke arah mereka. Mesin pitching itu akan melempar 50 bola setiap rondenya. Akhirnya bola ke 50 sudah mereka berdua pukul.
Dengan nafas terengah-engah Zie dan Bian menunggu skor mereka di tampilkan dilayar. Hasilnya adalah draw, mereka sama-sama mampu memukul ke 50 bola. Karena belum ada pemenang, mereka memutuskan untuk lanjut ke ronde selanjutnya dengan meningkatkan kecepatan bolanya.
Di ronde ke dua pertandingan semakin sengit. Dengan kecepatan dan kekuatan bola yang bertambah Zie dan Bian harus menambah konsentrasi mereka. Keringat terlihat mulai membasahi rambut mereka, namun tidak mereka hiraukan. Keinginan untuk memenangkan kompetisi membuat mereka semakin berkonsentrasi.
Ronde ke 2 sudah berakhir, Zie dan Bian yang sudah kelelahan hanya terduduk memandang papan skor menunggu hasil pertandingan mereka. Hasilnya mereka masih seri, full di 50 pukulan.
"Kamu masih hebat seperti dulu, bahkan aku lihat lebih baik!" Zie memuji Bian. Bian mengangkat bahunya dengan bangganya.
"Tentu saja, selama 6 tahun terakhir aku sering berlatih disini." Bian tidak memberitahu Zie bahwa karena dia merindukan Zie dia sering datang menghabiskan waktu sendiri di tempat ini. "Kamu juga tidak buruk untuk seorang perempuan.." Bian sengaja ingin membuat Zie marah dengan perkataannya.
"Tidak buruk?" Zie mandang Bian sambil mengangkat sebelah alisnya. "Kamu bilang yang barusan tidak buruk? Ayo kita bertanding lagi sampai ada pemenangnya." Zie menarik Bian yang masih mengatur nafas untuk berdiri dan melanjutkan pertandingan. Inilah sosok Zie yang Bian kenal dan di rindukannya. Seorang yang sangat kompetitif dan tidak mau kalah.
"Oke, kita lanjutkan dengan menaikan kecepatan bola." Bian menerima tantangan Zie.
__ADS_1
Meski dengan tubuh yang masih kelelahan, mereka berdua bersiap untuk memulai ronde ke 3. Dengan kecepatan yang dinaikkan otomatis dibutuhkan tenaga yang lebih besar untuk memukulnya. Karena ronde 2 belum terlalu lama berakhir, Bian merasa otot tangannya mulai melemah. Rasanya sangat berat harus memukul bola secara berturut-turut dengan kecepatan tersebut. Hasilnya ada beberapa bola yang Bian biarkan begitu saja. Bian khawatir ototnya akan keram jika dipaksakan.
Memasuki bola ke 40 Bian mulai kehilangan konsentrasinya. Bian yakin Zie akan mengalami hal yang sama. Apalagi Zie adalah seorang wanita. Bian yang sudah mulai kehilangan konsentrasi melirik ke arah Zie yang di duganya pasti sama seperti dirinya yang sudah kelelahan. Tidak disangka Zie ternyata terlihat sangat berkonsentrasi dan mampu memukul semua bola yang datang ke arahnya. Meskipun Zie terlihat kelelahan namun Zie masih mampu memaksakan tubuhnya untuk bertahan.
Memasuki dua bola terakhir konsentrasi Bian sudah benar-benar pecah dan kelelahan yang dirasakan otot lengannya sudah tidak tertahankan lagi. Akibatnya Bian oleng dan terkena lemparan bola tepat di kepalanya yang membuatnya pusing. Akhirnya Bian jatuh terduduk di lantai sembari memegang kepalanya yang sakit terkena bola. Sementara itu Zie menyelesaikan pukulan terakhirnya dengan sempurna.
Zie duduk di samping Bian yang nasih menggosok kepalanya. "Bagaimana? apakah aku yang perempuan hanya tidak buruk saja di matamu sekarang?" Zie menyindir pernyataan Bian sebelumnya sambil tersenyum mengejek. Bian hanya tertawa mendengar sindiran Zie.
Tidak berapa lama muncul hasil ronde ke tiga di papan skor. Bian berhasil memukul 30 dari 50 bola yang di lempar sementara Zie berhasil mendapatkan skor sempurna. "Sudah mengaku kalah?" tanya Zie.
"Oke, aku mengaku kalah. Kamu sangat hebat Zie. Bagaimana kamu bisa tetap konsisten padahal sama sepertiku kamu sudah sangat lelah?"
"Sesuai janji aku akan menjadi asisten mu saat kita bermain drifting nanti." Bian berjanji. "Ayo bangun, kita istirahat dulu di cafe depan sambil mengisi energi. Aku sudah lapar." Bian mengajak Zie untuk berpindah ke cafe. Tanpa mereka sadari gerak-gerik mereka selama di game center tersebut ternyata ada yang mengawasi.
Zie dan Bian memasuki cafe dan memilih duduk di dekat jendela. Sambil berbicara santai, mereka menikmati hidangan makan siang. Karena sudah lama tidak bertemu, banyak sekali hal yang mereka ceritakan. Tanpa terasa sudah hampir 1 jam mereka ada di cafe tersebut. Zie melirik jam tangan digitalnya, menunjukan jam 14.07. Sudah saatnya mereka berangkat, karena Zie sudah janji dengan orang tuanya jam 15.00.
"Bian, sudah waktunya kita jalan. Aku bayar dulu kamu tunggu disini."
__ADS_1
"Biar aku saja yang bayar!" Bian hendak berdiri, namun ditahan oleh Zie yang sudah berdiri lebih awal.
"Kali ini aku yang traktir, selanjutnya baru kamu yang traktir. Aku sekalian ingin ke toilet sebentar, kamu tunggu disini." Zie melangkah pergi menuju kasir meninggalkan Bian menunggu di kursinya.
Saat melangkahkan kaki menuju kasir, Zie melewati kursi yang diisi dua orang pria yang terlihat mengamati nya dengan diam-diam. Dari tindak tanduknya Zie tau mereka bukan pengunjung biasa. Merasa mereka dibuntuti, Zie bergegas menuju kasir untuk membayar makanannya. Zie yakin mereka tidak akan mencelakai Bian yang sedang menunggunya, karena game center yang mereka kunjungi tersebut adalah salah sangat private dengan keamanan yang di jaga ketat. Petugas keamanan ada di mana-ana, sehingga tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada Bian sementara Zie ke toilet.
Memasuki toilet wanita Zie mengecek keadaan di sekelilingnya, setelah memastikan hanya dia sendiri di sana Zie berdiri di depan cermin sambil berpura-pura merapikan riasannya sembari melakukan panggilan telepon.
"Ya Zie.." Terdengar suara teleponnya sudah tersambung. Suara Adrian terdengar di sebrang sana.
"Kak, maaf aku mau minta tolong sampaikan pada ayah dan ibu aku tidak bisa pulang nanti malam. Mendadak ada urusan pekerjaan mendesak. Sekarang aku sedang bermain dengan temanku." Zie memberi kode pada Adrian. Zie harus tetap berhati-hati karena khawatir ada alat penyadap di sekitarnya.
Adrian yang mendengar pernyataan Zie langsung terduduk siaga. Dia tahu itu adalah kode dari Zie berarti ada keadaan darurat. Urusan pekerjaan berarti Zie harus melindungi Bian, itu artinya mereka ada yang mengikuti. Juan langsung menyalakan laptopnya untuk mengecek titik koordinat keberadaan Zie.
"Baiklah, kamu bersenang-senang saja. Kakak akan membantu pekerjaan mu nanti jika ada kesulitan jangan khawatir. Kakak akan tahu kamu ada di mana." Adrian memberi kode pada Zie bahwa dia sudah mendapatkan lokasinya.
"Baiklah Kak, aku akan pergi dengan temanku dulu untuk mengantarnya pulang. Aku khawatir jika tidak di antar dia akan tersesat. Selain itu ada anjing liar kecil yang terus mengikuti, tolong carikan tempat tinggal untuknya."
__ADS_1
"Akan Kakak carikan tempat untuknya. Nanti Kakak kirim alamat kemana kamu bisa membawa anjing kecil tersebut." Zie menutup teleponnya setelah bertukar kode dengan Adrian. Zie akan membiarkan mereka membuntutinya dan akan membawa mereka ke tempat yang Adrian sudah persiapkan. Dengan demikian orang yang membututi mereka bisa di tangkap dan di interogasi lebih lanjut.