
Juan terbangun dari tidurnya dengan kondisi linglung. Diperhatikannya situasi sekitar, sebuah tempat asing yang tentunya bukan. sebuah rumah. Juan bertanya-tanya kenapa dia ada di sana. Sebuah tempat asing yang tentunya tidak layak untuk ditempati.
Rasa nyeri yang menusuk-nusuk terasa di bahu kiri Juan. Juan memandangi tubuhnya yabg bertelanjang dada. Ada kain yang melilit di bahu kirinya dan ada rembesan darah di titik Juan merasa sakit. Kenangan penembakan di atas kapal boat muncul di benaknya. Juan merasa panik karena tidak melihat sosok Zie.
Juan dengan agak sempoyongan berdiri dan berusaha berlari ke luar mencari Zie. "Ziera...Ziera ..!" Juan berteriak berulang kali memangil nama Zie. Keringat dingin mengucur di pelipis Juan. Juan yang sudah hampir keluar mulut gua melihat sosok Zie yang dengan tenang berjalan ke arahnya.
Juan segera berlari dan merengkuh Zie dalam dekapannya tanpa peduli rasa sakit di bahu kirinya yang tertekan saat Juan memeluk Zie. "Ziera.. syukurlah kamu baik-baik saja."
Mendengar perkataan Juan, Zie mengangkat sebelah alis matanya. 'Ziera, Juan memanggilku Ziera? Sejak kapan dia tahu identitas ku?' pikir Zie.
Melihat Juan yang masih agak sempoyongan Zie langsung memapahnya kembali ke dalam gua. Zie mendudukkan Juan di atas tempat tidur jerami dan memberikan ikan bakar yang sudah Zie letakan di atas daun. Sebelum keluar tadi Zie sudah membuatkan ikan bakar untuk Juan.
"Makan ini!" Perintah Zie sembari memberikan ikan yang telah matang. Setelah itu Zie menyodorkan buah-buahan di dalam keranjang dan botol yang berisi air minum pada Juan.
"Untuk mu?" tanya Juan. Karena Zie merasa tidak enak jika harus makan sendirian.
"Tentu saja aku sudah selesai makan." Jawab Zie sembari merapikan kayu bakar yang ada di hadapan mereka.
Melihat makanan di tangannya perut Juan mulai berbunyi, dia memang belum makan sejak terjatuh dari kapal sudah hampir seharian. Pantas saja badannya terasa lemas, ditambah dengan adanya luka tembak di bahu. Juan mulai melahap ikan bakarnya dengan perlahan.
"Jadi, sejak kapan Kakak tau identitas ku?" Tanya Zie tanpa basa-basi. Juan yang sedang makan langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Zie menyerahkan botol air minum padanya yang langsung diterima Juan.
__ADS_1
"Jadi..?" Tanya Zie sambil menatap tajam Juan menunggu jawaban.
"Sejak saat kamu masuk rumah sakit karena menyelamatkanku." Ucap Juan sambil menatap ikan bakarnya yang masih separuh.
"Kak Adrian yang bilang?"
"Adrian terpaksa memberitahuku karena dia ingin mengeluarkan mu secepatnya dari rumah sakit, karena setiap pasien rumah sakit akan di data jadi mau tidak mau Adrian harus mengeluarkan mu secepatnya agar identitas mu tidak terungkap."
Zie menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Juan. "Jadi, apa saja yang Kak Adrian sudah beri tahu?"
Juan kembali menelan ludahnya. Pembawaan Zie yang sangat tenang justru membuatnya tidak enak hati. "Semuanya, termasuk kamu yang hilang sebagian ingatan." Juan menatap mata Zie dengan perasaan bersalah.
"Kak Adrian sudah menjelaskan semuanya? Termasuk tentang sindikat BEE?" Juan menganggukkan kepalanya.
"Kamu tidak marah?" Tanya Juan bingung.
"Kenapa mesti marah, Kak Adrian pasti memberitahu Kak Juan karena ada alasannya. Aku percaya dengan keputusan Kak Adrian sepenuhnya." Zie berkata santai sambil mengambil buah jambu dari keranjang buang yabg ada di hadapan Juan dan mulai memotong-motong nya dengan menggunakan pisau lipat.
Melihat tanggapan Zie yang biasa saja tampa emosi Juan berpikir bahwa Zie benar-benar sudah berubah. Kini Zie jauh lebih dewasa dari yang dulu Juan kenal. Zie yang dulu akan sangat marah jika ada yang membocorkan rahasianya meskipun tidak bertujuan buruk, bahkan dia bisa tidak bicara berminggu-minggu. Hal tersebut pernah di alami oleh Bian yang membocorkan rahasianya pada Juan bahwa Zie takut ular. Juan pernah bertanya pada Zie apa benar dia takut ular, saat itu juga air muka Zie langsung berubah. Zie tahu Bian pasti yang telah membocorkannya. Akibatnya selama 2 minggu Zie tidak ingin berbicara dengan Bian.
"Bagaimana kondisi Kakak?" Tanya Zie sembari mengeluarkan sebuah ponsel dari saku blazer nya.
__ADS_1
"Jauh lebih baik dari kemarin. Terima kasih untuk makanannya." Juan merasa takjub dengan Zie yang sangat tanggap. Dalam kondisi mereka yang terdampar Zie berhasil mendapatkan makanan, air minum dan bahkan bisa mengeluarkan peluru di bahu Juan.
"Ziera, apa yang kamu lakukan selama ini? Kenapa kamu tampak sudah terbiasa bertahan hidup di tempat asing seperti sekarang?"
"Tentu saja berkat pelatihan di China. Aku sudah sering melakukan latihan survival ke pulau tak berpenghuni. Disini kita masih jauh lebih baik dari pada tempat aku biasa berlatih. Kita beruntung menemukan gua yang memiliki beberapa peralatan darurat karena merupakan tempat beristirahat nelayan dan pengumpul walet." Zie menjawab santai. Juan merasa takjub mendengar pernyataan Zie barusan. Juan tidak bisa membayangkan pelatihan macam apa yang sudah Zie terima.
Zie mulai mengeluarkan kotak peralatan kecil dari berwarna hitam dari saku terdalam blazer nya. Dengan menggunakan alat seperti obeng Zie terlihat sedang berkonsentrasi untuk membongkar ponselnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Aku sedang berusaha mengirim signal pada Kak Adrian. Ini adalah ponsel khusus yang Kak Adrian berikan padaku. Ponsel ini sudah tidak bisa digunakan akibat dari terendam air laut dalam waktu yang lama, dengan sedikit modifikasi aku bisa langsung mengirimkan signal padanya. Dengan begitu Kak Adrian bisa langsung mengetahui keberadaan kita dan segera menjemput kita."
"Kamu juga bisa memodifikasi ponsel?"
"Hal sepele, semua berkat pengalaman." Jawab Zie tak acuh. Juan semakin takjub dengan keahlian Zie yang serba bisa dalam menghadapi kondisi darurat.
"Yes, aku sudah berhasil mengirimkan signal. Kita tinggal menunggu saja. Namun kita juga harus berhati-hati, karena kita tidak akan pernah tahu apakah sindikat BEE akan menemukan kita lebih awal." Zie Terlihat santai namun tetap waspada.
"Kamu tau apa yang mereka sebenarnya incar?"
"Tentu saja mereka mengincar Kak Juan, mengenai motifnya aku dan Kak Adrian yakin ada hubungannya dengan perusahaan Oil dan Mineral milik Mahaputra Group." Jawan Zie. Juan yang mendengar jawaban Zie langsung tahu bahwa Zie tidak menyadari penembakan di kapal boat yang mereka alami hari kemarin sebenarnya mengincar Zie bukan Juan.
__ADS_1
Juan dan Adrian melihat secara langsung bahwa sniper di atas helikopter mengarahkan senjatanya ke arah Zie, sungguh aneh padahal sebelumnya mereka hanya mengincar Juan. Juan yang berada di posisi terbuka bahkan tidak mereka hiraukan. Sejak awal penyerangan kapal yang mereka incar adalah Zie, namun karena Zie bersama Juan mereka semua salah faham bahwa Juan adalah sasarannya. Jika bukan karena Juan yang mendorong Zie saat di kapal kemarin, sudah dapat dipastikan Zie tidak akan dapat diselamatkan. Karena senjata sniper itu mengincar langsung kepala Zie.
Juan merasa heran kenapa sasaran mereka berubah dari dirinya menjadi Zie. Kemungkinan terbesar adalah mereka sudah mengetahui identitas Zie yang sebenarnya. Mereka ingin menutup mulut Zie tentang kejadian 6 tahun yang lalu karena Zie adalah satu-satunya saksi hidup. Apakah Juan harus memberitahu Zie kenyataannya? Sepertinya saat ini yang perlu dilindungi adalah Zie bukan dirinya.