
"Knock... knock...knock..." Suara pintu diketuk, tidak menunggu lama Blue memasuki ruangan.
"Dokter Rangga datang untuk memeriksa kondisi agent...." Blue menatap Ziera dan Adrian yang masih berpelukan. Dia merasa kaget dan sedikit cemburu melihat adegan tersebut. "Zie..." Blue menelan ludahnya. Rangga yang berada tidak jauh dibelakangnya menyusul memasuki kamar Ziera.
Zie terlihat kaget melihat Blue masuk disaat dia menangis. Yang lebih mengagetkannya adalah saat disadarinya Juan ternyata ada di kamar itu juga. Ziera langsung melepaskan pelukannya dan mengusap matanya yang sudah bengkak dengan terburu-buru. "Maafkan aku, aku baik-baik saja.." Zie merasa sangat malu Blue dan Juan melihatnya menangis.
"Aku bukan seorang yang cengeng, sekali lagi aku minta maaf karena sudah mengagetkan kalian. Tolong jangan tanyakan alasannya." Zie merasa sangat nervous melihat klien dan mitranya menyaksikan dirinya dalam kondisi yang paling buruk. Dia khawatir imagenya sebagai bodyguard akan hancur dimata mereka.
"Tidak masalah Agent Zie, kondisi mu sedang tidak baik-baik saja setelah kejadian siang tadi." Juan tersenyum padanya. "Aku yakin kamu bukan seseorang yang cengeng." Zie sangat malu mendengarnya. Dia menunduk sangat dalam untuk menyembunyikan wajahnya.
Rangga yang memang sudah lama mengenal Ziera menyadari bahwa Ziera merasa sangat tidak nyaman dan canggung. Rangga berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Agent Zie, bagaimana kondisi badan mu saat ini?"
"Rasanya kondisiku jauh lebih baik dari tadi siang. Aku hanya merasakan kepalaku sakit dan otot-otot di tubuhku terasa pegal. Sepertinya tanganku masih terkilir." Ziera sangat bersyukur Rangga mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku dengar ada luka bakar di punggung mu?"
"Hanya sedikit, tidak terlalu parah. Setelan yang aku pakai mampu mengurangi efek panas dari api. Memang tidak seratus persen, tapi sangat membantu." Setelan Blazer hitam yang digunakan oleh Zie dan Blue adalah baju khusus yang disiapkan oleh Adrian untuk mereka bertugas.
"Biarkan aku mengeceknya sendiri. Lepaskan baju atasanmu sekarang. Aku ingin mengecek lukanya." Rangga berjalan mendekat pada Ziera, Adrian memberikan ruang untuk Rangga melakukan pemeriksaan.
"Buka sekarang?" Zie bertanya sambil membelalakan matanya dengan sangat lucu.
"Besok." Jawab Adrian sambil bercanda. "Tentu saja sekarang. Jangan khawatir, aku lihat kamu masih memakai tank top dibalik baju atasan yang kamu pakai. Cukup lepaskan baju luarnya saja. Aku dengar dari dokter rumah sakit lukanya hanya pada bagian punggung atas mendekati bahu. Nah para gentleman, silahkan balikan badan atau keluar dari kamar ini." Rangga memerintah.
__ADS_1
"Oke." Zie membalikan badannya membelakangi Rangga yang berdiri di dekatnya, masih terduduk di atas tempat tidur dan dengan seketika mengangkat baju atasan yang digunakannya. Juan dan Blue langsung membalikan badan mereka karena kaget dengan tindakan Ziera yang tiba-tiba, wajah mereka terlihat memerah. Adrian yang melihat ekspresi mereka hanya tersenyum dan mengangkat sebelah alis matanya. Sepertinya dia menemukan sesuatu yang sangat menarik. Adrian sangat mengetahui bahwa Ziera memang tidak sensitif, tidak menyadari bahwa tindakannya itu tidak biasa dilakukan oleh seorang perempuan.
"Lihat, lukanya tidak terlalu banyak kan? Hanya luka bakar ringan saja."
"Memeng hanya luka bakar ringan, tapi tetap saja harus diobati. Aku akan mengoleskan salep obat luka bakar ini." Rangga mengoleskan salep pada luka di punggung Ziera dengan perlahan, menunggu salep mulai mengering dan meletakan salep di sebelah meja tempat tidur Ziera. "Kamu harus teratur mengoleskannya agar luka bakarnya tidak meninggalkan bekas."
Juan dan Blue membalikan kepala mereka dan kembali memfokuskan perhatian mereka pada Ziera dan seketika wajah mereka kembali memerah karena Ziera belum selesai menggunakan pakaiannya kembali. Adrian hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabat dan pegawainya terhadap Ziera adik iparnya.
"Pak Juan.." Terlihat Luna datang memasuki kamar Ziera.
"Iya Luna, ada apa?"
"Bian..." Luna tidak melanjutkan kata-katanya karena matanya terpaku memandang Rangga yang sedang membantu Ziera merapihkan selimutnya.
"Rangga, ini benar-benar kamu? I miss u..!" Rangga tampak malu-malu, tapi jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat senang bisa bertemu lagi dengan Luna.
"Ya ini aku, sudah cukup lama kita tidak bertemu. Mungkin sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu kita terakhir bertemu." Rangga mencoba untuk bersikap tetap tenang. Luna mengangguk dan dengan tiba-tiba mencubit pipi Rangga seperti dulu. Itu adalah kebiasaan Luna saat terlalu excited akan sesuatu.
"Iya, ini memang sudah lama kita tidak bertemu. Kamu masih sama seperti dulu dengan dahi lebar yang bisa dijadikan papan gambar." Luna tertawa menggoda Rangga seperti dulu.
"Yaahh..pipi chubby mu juga masih sama seperti dulu. Pipi ter chubby yang pernah aku lihat." Rangga tersenyum sembari menepuk kedua pipi Chubby Luna. Rangga dan Luna memang sering bercanda seperti itu. Mereka dulu sangatlah dekat bisa dikatakan sahabat. Semua orang di ruangan itu hanya bisa tersenyum melihat kelakukan konyol mereka berdua.
"Ehm.." Adrian meletakan tangannya di bahu Luna. "Lovely dopey couple masih seperti dulu. Hei, jangan lupa kami juga ada disini." Adrian memberikan Luna senyum termanisnya.
__ADS_1
Luna memandangi wajah pria yang sedang berbicara dengannya dan dengan seketika dia menjadi membeku. Suara seseorang yang sangat Luna rindukan. Pria yang telah membawa hatinya pergi tanpa dia sadari saat ini berdiri dihadapannya. Dia masih sama seperti dulu, pria yang membuatnya pergi untuk bersekolah di luar negeri.
"Adrian..."
"Apa? Tidakkah kamu senang bisa bertemu kembali denganku juga?" Adrian berkata dan membuka kedua tangannya ke arah Luna.
Luna berjalan kedalam pelukan Adrian dan membalas pelukannya. " Tentu saja aku sangat senang bertemu dengan mu juga." Luna tersenyum lalu melepaskan pelukannya.
"Hmm.. Maaf mengganggu reuni kalian. Luna apa yang ingin kamu katakan padaku tadi? Ada apa dengan Bian adik ku?" Juan kembali kepada topik pembicaraan awal mereka.
"Oh Tuhan, hampir saja aku lupa menyampaikan nya. Bian.."
"KAK JUAN, KAMU DIMANA?" terdengar suara Bian sedang mencarinya. Tidak lama sosok adiknya itu muncul di pintu kamar.
"Kak, kamu baik-baik saja? Aku mendengar seseorang menyerang kamu siang ini. Thank God, kamu baik-baik saja." Bian menghembuskan nafasnya yang menunjukkan jika dia merasa lega setelah melihat kondisi Juan baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja. Kenapa kamu ada disini?"
"Aku sangat khawatir sehingga memutuskan segera pulang untuk memastikan kondisi mu hari ini juga." Bian berkata sembari mengedarkan matanya ke sekeliling kamar tamu yang ternyata berisi banyak orang. "Aku..." Tiba-tiba mata Bian terhenti pada sosok Ziera yang sedang duduk bersandar di tempat tidur memperhatikannya dengan raut wajah yang sulit ditebak.
"Zie..." semua orang terdiam mendengar Bian memanggil nama Ziera. Wajah Ziera terlihat pucat dan ketakutan saat Bian memanggil namanya.
"Zie..."
__ADS_1