
Terdengar suara erangan Zie yang sudah mulai tersadar dari pingsannya. Juan dan Adrian seketika menghentikan pembicaraan mereka dan mendekat pada Zie. Adrian duduk di samping tempat tidur Zie sambil membangunkannya dengan menepuk pipi Zie dengan lembut. Sementara Juan berdiri agak jauh sambil memperhatikan.
"Zie...bangunnn..!" Adrian memanggil Zie dengan nada suara yang halus.
Zie terlihat membuka kedua matanya dengan perlahan lalu mengerjapkan matanya untuk membuatnya benar-benar terbangun. Saat sudah bangun seutuhnya Zie meringis sembari memegangi kepalanya yang terkena hantaman Glock 17. Rasa nyeri akibat hantaman masih terasa dan berdenyut-denyut. Zie merasakan benjolan di kepalanya pada lokasi hantaman itu terjadi.
"Pasti sakit ya? Ini minum obat penghilang rasa sakit, dokter sudah meresepkannya saat kamu pingsan!" Adrian membantu Zie duduk dengan perlahan lalu Adrian memberikan segelas air dan sebutir obat analgesik untuk diminum Zie. Air minum dan obat yang sudah diletakan di meja samping tempat tidur memang dipersiapkan untuk diminum Zie begitu dia terbangun.
Karena sakit kepalanya sungguh tidak tertahankan, Zie langsung mengambil gelas dan obat yang disodorkan Adrian dan langsung meminumnya.
Adrian membatu untuk duduk bersandar dengan menggunakan beberapa bantal agar lebih nyaman. "Lebih baik?" tanya Adrian masih khawatir.
"Masih sedikit pusing, tapi sedikit lebih baik." Jawab Zie sambil tersenyum menunjukan rasa terimakasihnya pada Adrian. Zie menyandarkan kepalanya di bantal yang menopangnya. "Terima kasih Kak sudah datang menyelamatkan kami! Bagaimana kondisi Kak Juan?"
"Ehem..." Juan bersuara untuk memberitahu Zie bahwa dia juga ada di kamar itu. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku, aku baik-baik saja." Dari matanya Juan menyaksikan Zie sempat kaget saat mengetahui Juan ada di kamar itu juga.
"Tidak usah khawatir, semua berhasil ditangani dengan baik. Luka Juan sudah diobati, dan sindikat BEE yang mengejar kalian sudah berhasil diamankan. Begitu kondisi mu membaik kita akan segera kembali ke Jakarta." Adrian menjelaskan situasinya secara singkat kepada Zie.
__ADS_1
"Apakah urusan disini sudah selesai?" Tanya Zie bingung. Bukannya mereka kesini karena ada urusan penting, tapi kenapa mereka terburu-buru untuk kembali ke Jakarta?
"Sudah ada yang menghandle, jadi peranan ku sudah bisa digantikan." Juan menjawab. Sebenarnya Juan masih sangat diperlukan untuk memperlancar proses negosiasi pembebasan lahan tambang dengan warga setempat, namun setelah tragedi percobaan pembunuhan yang terakhir seluruh komisaris Mahaputra menyetujui agar Juan segera kembali ke Jakarta demi keselamatannya. Sementara peranan Juan dalam proses negosiasi akan digantikan oleh direktur bisnis yang tidak kalah cakap dengan Juan. Mereka tidak mau ambil resiko terjadi sesuatu yang buruk kembali dengan CEO mereka. Keadaan Satria Mahaputra yang masih dalam keadaan koma sudah cukup berat mengguncang kelangsungan group mereka.
Alasan lain Juan ingin segera kembali ke Jakarta adalah demi keselamatan Zie. Setidaknya pengamanan di sana jauh lebih baik dan sindikat Zie tidak akan terlalu berani menurunkan orangnya sekaligus seperti kejadian di kapal.
"Aku tidak menyangka mereka sampai mengejar ke pulau hanya untuk memburu Kak Juan. Aneh, mereka terlihat terlalu terburu-buru tidak seperti cara mereka sebelumnya yang tidak meninggalkan jejak." Zie mengungkapkan kebingungannya.
Juan dan Adrian saling bertatapan. Mereka tidak mungkin menjelaskan bahwa sindikat BEE terburu-buru karena mengejar Zie. Mereka khawatir Zie akan segera mengungkapkan identitas mereka sehingga dengan terburu-buru melakukan hal yang benar-benar diluar kebiasaan mereka.
"Kita tidak pernah bisa menebak apa yang mereka pikirkan. Bisa jadi mereka terburu-buru karena berhubungan dengan semakin cepatnya proses penambangan nikel group Mahaputra akan segera di mulai." Adrian mencoba mencari alasan agar Zie percaya.
Melihat Adrian yang sedih, Zie ikut merasakannya. Bagaimanapun kejadian 8 tahun yang lalu telah merubah mereka semua. Perubahan yang meninggalkan luka seumur hidup mereka.
"Apa yang kamu ingat?" tanya Adrian terlihat berusaha untuk terlihat tegar.
"Aku yakin aku melihat Bimo Anggoro di gudang itu. Dia merupakan bagian dari sindikat BEE. Data yang kita temukan tentang keberadaanya sebelumnya sudah benar. Kita bisa menyelidikinya lebih mendalam untuk mengungkapkan seluruh jaringan sindikat BEE. Bimo memiliki kedudukan yang cukup tinggi di sindikat ini, karena aku ingat mereka memanggilnya bos."
__ADS_1
"Itu artinya arah penyelidikan kita sudah benar. Namun aku masih terkendala belum bisa menembus pengamanan email yang dia tuju. Aku perkirakan itu adalah milik salah satu petinggi mereka. Pengamanan digital mereka sangat ketat, aku masih memerlukan waktu untuk mencoba menembusnya." Adrian semakin bersemangat dan ingin segera memecahkan kode untuk menembus pertahanan cyber mereka, namun kondisi mereka di pulau kecil dengan fasilitas internet yang terbatas tidak memungkinkan untuknya mengerjakannya sekarang. Mau tidak mau mereka harus secepatnya kembali ke Jakarta.
"Ada satu orang lagi yang muncul di ingatan ku. Seorang laki-laki dengan kedudukan lebih tinggi dari Bimo Anggara. Aku mengingat Bimo Anggara menundukkan kepala dihadapannya dan mengikuti semua hal yang di perintahkan olehnya. Sayangnya aku tidak mengingat wajahnya dengan jelas. Aku hanya merasa mengenalnya cukup dekat karena Kak Natha saat itu berbicara padanya dengan nada suara yang menunjukan kekagetan. Aku mendengar Kak Natha berkata kenapa dia tega melakukan hal itu padahal dia sudah dianggap seperti keluarga. Sayangnya aku tidak bisa mengingatnya siapa yang dimaksud Kak Natha." Zie terlihat berusaha mengingat kembali apa uang terlupakan, namun usahanya hanya sia-sia saja.
Mendengar perkataan Zie yang mengatakan bahwa salah satu bos sindikat BEE yang melakukan penculikan 8 tahun yang lalu memiliki hubungan yang cukup dekat seperti keluarga dengan Zie dan Natha, Adrian dan Juan saling pandang. Sesuai dugaan mereka, ada anggota sindikat yang memiliki hubungan cukup dekat dengan keluarga Utama. Itulah sebabnya mereka sekarang mengincar Zie, satu-satunya saksi mata kejadian 8 tahun yang lalu. Adrian dan Juan saat ini sama-sama memiliki pemikiran yang sama yaitu mereka harus segera kembali ke Jakarta.
"Apa ada lagi hal lain yang bisa kamu ingat?" Tanya Adrian lembut.
Zie terdiam dan menundukkan kepalanya sejenak. Zie menelan ludahnya lalu menarik nafas berat dengan perlahan. "Aku mengingat kejadian saat Aku dan Kak Natha berada di sebuah kapal besar yang dipenuhi laki-laki berpakaian jas hitam." Zie terhenti sesaat.
"Aku mengingat saat kami di siksa di atas kapal." Air mata Zie mengalir tanpa dia sadari, Adrian langsung mendekap Zie kedalam pelukannya. " Lalu.. mereka membuang aku dan Kak Natha di tengah laut." Zie semakin terisak. Adrian merasakan pedih tang Zie rasakan membayangkan apa yang di alami Zie dan Natha yang tengah mengandung anaknya. Air mata Adrian tanpa dia sadari telah membasahi kedua matanya.
"Kemudian aku terbangun di pantai saat polisi menemukan ku, dan kak Natha ternyata sudah tidak bernyawa." Zie merasakan kembali kepedihan yang dulu dia rasakan. Juan yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya mampu menundukkan kepalanya dan ikut bersedih. Juan tau, apa yang dia rasakan hanya sepersekian dari luka yang di alami Zie dan Adrian. Juan tidak tahu bagaimana caranya menghibur mereka.
Setelah saling menangis, Adrian dan Zie akhirnya sama-sama sudah kembali tenang. Mata keduanya kini terlihat sangat sembab. Juan yang dari tadi hanya terdiam memandang mereka, akhirnya memberanikan diri untuk mulai bersuara.
"Ehmm..." Juan mengeluarkan suara. Adrian dan Zie seketika memandanginya. "Sepertinya kita harus lebih awal kembali ke Jakarta agar bisa secepatnya melanjutkan penyelidikan yang mulai menemukan titik terang." Juan mengemukakan pendapatnya.
__ADS_1
Adrian dan Zie menganggukkan kepala mereka tanda bahwa mereka sudah setuju. Juan melanjutkan "Aku sudah menghubungi Luna, nanti sore kita bisa kembali ke Jakarta dengan menggunakan pesawat carter." Sementara Adrian dan Zie tadi menangis, Juan ternyata sudah menghubungi Luna untuk mempersiapkan pesawat untuk kepulangan mereka.
"Baiklah, kamu istirahat dulu Zie agar kondisi mu semakin membaik. Aku akan minta agar segera dikirimkan makanan kesini. Kamu harus segera memulihkan badan mu sebelum kita kembali ke Jakarta nanti sore. Sementara itu aku dan Juan harus mengurus beberapa hal berkenaan dengan penangkapan anggota sindikat BEE." Adrian berjalan keluar bersama Juan meninggalkan Zie yang masih terlihat sedih. Zie hanya mampu menyetujui apapun keputusan Adrian karena Zie ingin segera pulih dan menangkap seluruh anggota sindikat BEE yang telah menghancurkan kehidupannya.