
Kesadaranku mulai kembali dengan perlahan saat kudengar seseorang berbicara melalui telepon. Suara seorang pria dengan suara berat samar-samar terdengar ditelinga nya.
“Ya Boss, aku berhasil menangkapnya. Dia masih pingsan sekarang.” Pria itu melihat ke arahku, sementara pandangan mataku masih kabur. Aku tidak bisa mengenali wajahnya.
“Tunggu sebentar Boss, aku rasa dia sudah mulai sadar.” Pria dengan perawakan besar dan carut bekas luka dipipinya sebelah kanan itu menutup teleponnya dan berjalan mendekat ke arahku. “Kamu sudah sadar?” Tanya pria tersebut. Pria itu duduk berjongkok disebelah tubuhku yang masih lemas dan mengangkat tubuhku dengan menarik kerah baju yang aku gunakan. Aku hanya bisa pasrah tidak melawan saat didorongnya tubuhku sampai punggung ku menempel dinding. Aku mencoba melawan, tapi efek pukulan dikepala yang kualami sebelumnya masih membuat ku pusing dan lemas.
“Sayang sekali, kamu sungguh tidak beruntung memiliki masalah dengan Boss BEE. Kamu akan mati dengan segera. Sayang sekali padahal kamu cantik, bisa saja aku nikmati tubuhmu jika aku mau. Jika ingin hidup memohonlah padaku..” Ujar Pria itu sambil menyentuh pipiku dengan tangannya yang kasar. Aku merasa jijik mendengarnya apalagi membayangkan apa yang akan dia ancam akan dia lakukan.
Entah keberanian yang datang dari mana, dengan sisa kesadaran dan tenaga yang terbatas ku kerahkan semua usahaku untuk meludahi pria tersebut tepat diwajahnya.
“KURANG AJAR, DASAR BRENGSEK. KAMU BENAR-BENAR INGIN MATI!” Pria itu marah. Dia menampar pipi kiriku dengan tagan kanannya dengan sangat kencang, sementara tangan kirinya masih memegangi kerah bajuku. Aku dapat melihat tato bertuliskan ‘BEE’ pada saat itu.
Aku merasakan darah hangat mengalir dari sudut bibirku, efek dari tamparan yang sangat keras dari pria tersebut. “Bagaimana tamparan ku? Kamu menyukainya?” Pria itu tersenyum sinis.
Pria itu sangat kuat. Dengan kedua tangannya dia mengangkat tubuhku seperti tidak ada beban. AKu merasakan tubuhku melayang dan jatuh dengan sangat keras menimpa sebuah meja. Kepalaku mengenai ujung meja yang cukup tajam dan membuatku sangat pusing. Pandangan mataku kembali gelap sekali lagi.
***
“Ra, bangun Ra…” Aku mendengar suara yang gemetaran sangat dekat dengan telinga ku. Ku buka mata dengan perlahan. Aku melihat Kakak ku Natha sedang menangis dengan sangat kencangdan terlihat sangat mencemaskan kondisiku.
“Tolong lepaskan adik ku…! Jangan lukai dia lagi kumohon!”Kak Natha memohon kepada seseorang untuk melepaskan ku. Aku tidak bisa melihat sosoknya karena sosok itu berada diluar wilayah pandanganku. Aku tidak bisa memutar kepalaku untuk mencari sosoknya dan mengungkap identitasnya karena seluruh tubuhku sangat sakit dan kepalaku masih sangat pusing.
__ADS_1
“Bitch, pikirkan saja tentang dirimu sendiri. Jangankan menolong adikmu, menyelamatkan diri sendiri saja kamu tidak bisa.” Dari suaranya aku yakin dia adalah seorang pria. Tiba-tiba aku mendengar suara tamparan yang cukup kencang.
“Aaawww….” Aku mendengar Kak Natha berteriak kesakitan. Kurang ajar pria itu telah menampar Kak Natha.
“Kaaak…Ka..aak…!”Aku berusaha memanggil Kak Natha namun sayangnya aku kesulitan untuk berbicara.
“Itu adalah balasan untukmu.”
Pria itu melemparkan Kak Natha ke arahku. Aku dapat melihat Kak Natha melayang dan jatuh dengan sangat keras membentur lantai di depanku. “Kak Natha…!”
***
“Adrian, apa rencana mu terhadap sindikat BEE sekarang?” Juan bertanya pada Adrian dan menatap Ziera yang sedang tertidur dengan badan miring dihadapan mereka. Saat ini Mereka sedang berada di salah satu kamar di rumah Juan. Kamar itu adalah kamar yang akan ditempati Zie sementara dia memulihkan dirinya.
“Ya begitulah, aku melakukan pergantian jadwal dengan teratur. Aku melakukannya untuk menjamin keselamatan Keluarga ku terjaga. Aku khawatir akan terjadi kebocoran yang bersumber dari dalam jika aku tidak merubahnya. Dengan kejadian hari ini, aku semakin yakin memang ada mata-mata di antara bodyguard yang aku sewa karena mereka bisa mengetahui jadwalku hari ini.”
“Keputusan yang sudah sangat tepat. Lalu mengenai rencana perlindungan terhadap Ziera aku memerlukan bantuan mu.” Adrian menyampaikan sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
“Tentu saja aku pasti akan dengan senang hati memberikan bantuan untuk kalian. Apa yang bisa aku bantu?”
“Aku ingin kamu menjadikan Ziera dan Blue menjadi personal bodyguard mu dan sertakan juga aku di dalamnya. Tidak usah mengganti jadwal kami seperti yang lainnya. Aku yakin Ziera akan aman berada diantara kita. Aku sangat khawatir sindikat BEE akan mengetahu identitas Ziera yang sebenarnya. Terkadang Ziera terlalu buta untuk mengenali maksud seseorang terhadapnya. Dia tidak sensitive. Dia tidak akan langsung mengenali sindikat BEE jika mereka mendekatinya.”
__ADS_1
Juan sangat senang mendengarnya karena apa yang Adrian katakana sudah sama dengan pemikirannya. Juan ingin Naziera ada didekat dirinya, karena dengan begitu dia bisa melindunginya. Juan sangat khawatir jika hal buruk akan kembali terjadi dan menyakiti Ziera sekali lagi. “Keputusan mu sudah benar, aka akan melakukannya sesuai dengan usulan mu. Aku tahu kamu selalu memiliki strategi yang baik dan keputusan ini adalah demi keselamatan Naziera.”
“Kak…Kak…”Ziera bersuara dalam tidurnya. Juan dan Adrian sangat kaget mendengarnya. Mereka berjalan mendekati Ziera untuk melihat kondisinya.
“Kakak…” Ziera tampak berkeringat di dahinya. Dia terlihat gelisah dan menggerak-gerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Adrian duduk di tempat tidur disisinya.
“Zie…Zie..Bangun Zie! Kamu baik-baik saja?”Adrian menepuk-nepuk pipi Ziera dengan perlahan untuk membangunkannya. Di usapnya keringat Ziera dengan saputangan yang dia ambil dari saku bajunya.
“KAKAK…!!”Ziera berteriak dan tiba-tiba terbangun dari mimpi buruknya. Ziera Nampak terengah-engah dan merasa sesak saat bernafas normal. Mata Ziera terlihat memerah dan dibasahi air mata. Dia tidak dapat mengontrol emosinya. Adrian melihat ketakutan dimata Ziera.
“Zie, kamu baik-baik saja? Jangan takut aku ada disini…”Adria terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi Ziera.
“Kak, Kak Natha…” Ziera berbisik sembari menangis meraung, Adrian langsung memeluknya untuk menenangkan sembari menepuk-nepuk punggungnya seirama.
“Ssshhttt…. Semua baik-baik saja Zie. Jangan panic, aku ada disini bersama mau. Aku akan melindungi mu.”Adrian mengusap rambut Ziera perlahan. Juan yang melihat mereka berdua merasa sedikit cemburu. Dia berharap bahwa dirinya lah yang berada pada posisi Adrian saat ini.Dia ingin memeluk Ziera untuk menenangkannya.
”Kak, aku sedikit mengingat kembali kejadian itu.”Ziera berkata dengan suara yang gemetar dan masih terisak seperti anak kecil.
”Shhtt… Tenangkan dirimu dulu, kita bicarakan nanti.”
“Kepala ku sakit Kak. Aku merasa kesal karena tidak bisa mengingat hal penting. Aku yakin aku mengenal orang itu, tapi aku tidak mengingat wajahnya dengan pasti. Perasanku mengatakan aku tahu identitasnya. Aku ingin segera mengingatnya Kak, aku ingin ingin tahu siapa laki-laki itu. Jika aku memaksakan diri untuk mengingatnya kepala malah sakit. Aku tidak bisa memanggil ingatan itu. Aku merasa frustasi pada diri sendiri." Ziera menangis. Suaranya menunjukan betapa frustasinya dia. Hati Juan merasa ikut terluka melihatnya. Dia ingin memeluk Ziera untuk menenangkannya, tapi dia tidak bisa.
__ADS_1
“Zie, jangan memaksakan diri terlalu keras untuk mengingat semuanya sekaligus. Semuanya akan segera jelas hanya perlu waktu saja. Perlahan-lahan saja tidak usah terburu-buru. Aku ada di samping mu dan akan terus mendukung mu.”Adrian berusaha membuat Ziera tenang.
“Terima kasih Kak, aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan tanpa bantuan mu.” Ziera membalas pelukan Adrian dan menyandarkan kepalanya di bahunya. Seperti menemukan kenyamanan Ziera kembali menangis di dalam pelukannya Adrian.