
Setelah apa yang terjadi, Zie langsung kembali ke markas Agency AK bersama Adrian sementara Bian diantarkan pulang dengan pengawalan anak buah Adrian. Mereka kembali ke markas setelah melaporkan kejadian penembakan tersebut ke kepolisian setempat dan memberikan kesaksian.
Sebelum polisi datang, mereka sempat memeriksa penguntit yang satu lagi dan ternyata memiliki tato dengan tulisan yang sama di betis kiri kakinya. Adrian juga sempat mengamankan ponsel yang disembunyikan di sela karpet mobil mereka. Ponsel tersebut tidak Adrian berikan kepada polisi, karena berdasarkan pengalaman polisi tidak akan memberikan mereka akses informasi yang mereka butuhkan dengan bebas. Selain itu ada mata-mata sindikat BEE di tubuh kepolisian.
Di ruang kerja Adrian, Zee duduk tepat di depan mejanya berhadapan dengan Adrian yang sedang memasukan beberapa kata sandi yang tidak bisa dimengerti oleh Zie.
"Kak, ini agak aneh. Kenapa sindikat itu mengincar Bian? Tidak seperti karakter mereka sebelumnya, mereka akan berurusan langsung dengan pengendali Mahaputra Group yaitu Juan sebagai CEO nya saat ini dan bukannya berurusan dengan Bian yang menjabat direktur keuangan. Sebenarnya apa yang mereka cari dari Bian?" Tanya Zie heran.
"Kita harus mempertimbangkan hal lain, bisa saja mereka mengikuti mu Zie. Apakah ada yang sudah tau identitas mu?" Tanya Adrian khawatir.
"Seharusnya identitas ku masih aman. Aku merasa selain Kakak, Dr. Rangga dan Bian tidak ada yang tahu siapa aku." Zie sangat yakin dengan dirinya. Padahal dalam hati Adrian ingin bilang bahwa Juan juga sudah tau.
"Kita tidak boleh menutup semua kemungkinan. Kita harus selalu waspada akan semua kemungkinan yang ada." Adrian mengingatkan.
"tok..tok..tok...!" Suara pintu ruangan Adrian di ketuk.
"Masuk!" Adrian berseru. Dilihatnya Agent Kay masuk dengan membawa berkas dan sebuah flashdisk.
"Bos, ini adalah semua data yang berhasil aku gali dari ponsel yang tadi kita dapatkan. Ada rekaman percakapan, foto dan beberapa pesan email yang sudah aku taruh di dalam flash disk. Ini adalah beberapa foto yang aku print." Agent Kay menyerahkan flashdisk dan dokumen yang dibawanya pada Adrian.
__ADS_1
"Apakah kamu bisa mendapatkan data siapa yang terakhir mereka hubungi baik melalui telepon ataupun email?"
"Aku mendapatkan nomor telepon dan email nya, namun aku tidak berhasil mendapatkan sumbernya. Cyber security nya sangat ketat. Aku belum berhasil menembusnya."
"Baiklah, kamu teruskan penyelidikan terhadap no kontak dan email tersebut. Kabari aku jika ada temuan."
"Baik Bos." Agent Kay berjalan keluar meninggalkan Zie dan Adrian untuk berdiskusi.
"Ini kamu lihat! Ini adalah foto-foto yang dikirimkan via email yang tidak berhasil ditembus security system nya. Bisa dipastikan pemilik email tersebut adalah salah satu petinggi di sindikat BEE ini, karena pengamannya sangat ketat." Adrian menyerahkan foto-foto yang telah di print oleh agen Kay.
Zie mengambil foto-foto tersebut dari tangan Adrian. Foto-foto yang telah di print warna di atas kertas berukuran A4. Zie menjejerkan semua semuanya, dan mendapati bahwa di setiap foto tersebut terdapat dirinya dan juga Bian. Tidak ada foto mereka yang sendirian. Semua foto berisi interaksi antara Zie dan Bian. Dari foto-foto tersebut bisa diketahui mereka mulai dibuntuti masih sejak di Cafe Shop, tempat Zie janji bertemu Bian dan Adrian.
"Kenapa semua foto ada aku dan Bian? Padahal aku sempat meninggalkan Bian ke toilet, tapi tidak ada fotonya. Sebenarnya apa yang mereka cari?" Tanya Zie bingung.
"Tidak ada percakapan yang spesifik di antara mereka. Sepertinya mereka tidak ingin meninggalkan jejak digital. Apa yang mereka kirimkan tidak bisa kita jadikan bukti apapun, karena itu hanya membuktikan bahwa mereka membuntuti kalian saja. Ponsel itu tidak memberikan petunjuk lain." Adrian menjelaskan pada Zie.
"Apakah sudah ada petunjuk tentang staf khusus kementrian yang aku yakin aku seperti mengenal suaranya? Siapa? Bimo Anggara kalo aku tidak salah." Tanya Zie pada Adrian.
"Sebenarnya aku sudah menyelidiki Bimo Anggara ini dengan lebih mendalam, aku memang belum sempat memberi tahu mu." Adrian mengambil sebuah green folder dari dalam laci meja kerjanya dan menyerahkannya pada Zie.
__ADS_1
"Ini adalah seluruh data yang kudapatkan tentang Bimo Anggara. Sosoknya memang mencurigakan. Sayangnya belum ada bukti langsung yang menunjukan dia terlibat."
Zie membuka green folder dihadapannya. Dibacanya dengan seksama setiap informasi yang tertuang di sana.
Bimo Anggara seorang staf khusus Kementrian, berusia 37 tahun sudah menikah dan memiliki seorang anak berusia 10 tahun yang bersekolah di sebuah sekolah internasional mewah dengan biaya tahunan mencapai 500 juta. Selain sebagai Staf Kementrian juga seorang pengusaha memiliki pertambangan Batubara di Kalimantan dan memiliki usaha penyewaan gudang. Memiliki harta kekayaan mencapai 37 Milyar. Istrinya adalah seorang dokter kecantikan yang memiliki rumah sakit sendiri.
Sekilas jika dibaca tidak ada yang salah dengan profilnya. Kita akan melihat mereka sebagai pasangan muda yang sukses dalam bisnisnya masing-masing. Tapi jika digali lebih dalam terdapat banyak hal yang ganjil di dalamnya. Bagaimana Bimo Anggara seorang anak pedagang pasar sederhana tiba-tiba memilki kekayaan yang sangat melimpah.
Awal mereka menikah mereka masih hidup sederhana dan tinggal disebuah perumahan sederhana. Namun tiba-tiba 8 tahun yang lalu Bimo Anggara tiba-tiba memiliki aset bernilai milyaran dan menjadi pengusaha batubara dan penyewaan gudang. Dari mana dia mendapatkan kekayaan tersebut? Itulah yang harus diselidiki lebih lanjut.
"Bimo Anggara menjadi kaya dalam semalam 8 tahun yang lalu dan langsung menjadi pengusaha tambang. Darimana dia mendapatkan kekayaan tersebut dalam semalam?" Tanya Zie heran.
"Itulah yang harus kita cari tahu lebih dalam. Setelah melihat beberapa fakta aku yakin Bimo terlibat dalam sindikat BEE ini."
"Apa yang membuat Kak Adrian yakin Bimo adalah bagian dari sindikat BEE?"
"Aku belum menemukan bukti yang pasti yang dapat membuktikan bahwa Bimo adalah bagian dari sindikat BEE, karena aku masih mencoba menggali bukti tersebut. Coba cek halaman 3! Itu adalah salah satu informasi penting yang menghubungkan Bimo dengan sindikat BEE. Meskipun tidak dapat membuktikan bahwa Bimo terlibat."
Mata Zie terbelalak melihat apa yang tertera di file tersebut. Disitu tertera sebuah foto dan alamat gudang tua yang sudah tidak digunakan. Sekilas memandang Zie langsung mengenali gudang itu. Tempat yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Perasaan sedih, marah, benci dan sakit hati menyeruak keluar dari perasaannya. Gudang tua itu adalah tempat Zie dan Natha disekap dulu.
__ADS_1
Saat penyelidikan dulu Zie ingat pemilik gudang lolos dari dugaan keterlibatan karena dapat membuktikan keberadaanya di luar kota dan pihak kepolisian tidak dapat menemukan hubungan apapun antara pemilik gudang dan para pelaku. Pemilik gudang dinyatakan sebagai korban karena gudangnya dipergunakan tanpa izin dan dijadikan lokasi tindak kejahatan.
Siapa yang menduga ternyata pada file tersebut tertulis bahwa gudang tempat penyekapan Natha dan Zie dulu dimiliki oleh Bimo Anggara. Seorang yang Zie yakin suaranya pernah ada diantara ingatan Zie yang terpotong-potong pada kejadian 6 tahun lalu.