
Bian langsung berlari ke arah Ziera dan memeluknya dengan erat. "Ziezie..."
"Ziezie..?" Ziera bertanya pada diri sendiri.
"Hehehe.." Ziera tersenyum lalu tertawa mendengarnya. Ziera tertawa karena merasa lega Bian tidak memanggil nama aslinya. Terlihat perasaan lega tergambar di wajahnya.
"Ziezie?" Adrian mengangkat sebelah alisnya.
"Ziezie?" Juan terlihat lega setelah semoat khawatir Bian akan memanggil Ziera dangan nama aslinya. Juan lupa bahwa sejak dulu Bian selalu memanggil Ziera dengan panggilan kesayangannya 'Ziezie'.
"Ziezie?" Blue terlihat tidak senang mendengarnya. Dia merasa ada ikatan yang sangat dekat antara agent Zie dengan Bian adik dari Boss merek. Dia ingin mengetahui ada hubungan apa mereka sebenarnya
"Ziezie?" Luna dan Rangga mengucapkan secara bersamaan. Lalu saling tatap dan tersenyum.
"Woow.. Barusan adalah sebuah paduan suara yang bagus." Adrian bercanda untuk menetralkan suasana.
“Hmm.. ”Ziera mencoba menenangkan dirinya. Dia merasa bingung apa yang harus dia lakukan sekarang untuk menutup mulut Bian. Bian mucul bukan diwaktu yang tepat. Ziera harus menceritakan semuanya pada Bian agar Bian bis amembantunya untuk menjaga rahasianya. Permasalahannya saat ini adalah bagaimana Ziera bisa berbicara dengan Bian jika kamarnya saat ini dipenuhi orang yang dia harap sebagian dari mereka tidak mengetahui rahasianya. Semakin sedikit orang yang tahu akan semakin baik. Setidaknya dia harus merahasiakan identitasnya sampai hari dimana sindikat ‘BEE’ terungkap.
“Okay semuanya, tolong ikuti aku keluar dari kamar ini. Agent Zie butuh istirahat. Selain itu ternyata Bian dan Agent Zie sepertinya mereka saling mengenal. Kita biarkan mereka bicara.”Adrian mencoba mengendalikan situasi. Adrian berjalan mendekati Blue dan meletakan tangannya dibahunya lalu menarik Blue untuk jalan keluar mengikutinya. Juan, Rangga dan Luna berjalan mengikutinya dari belakang. Blue tidak ingin meninggalkan Agent Zie berdua saja dengan Bian, dia ingin mengetahui hubungan antara Juan dan Agent Zie. Adrian mengatakan mereka saling mengenal. Blue yakin mereka bukan teman biasa karena dari cara Bian memandang Zie sangatlah berbeda. Dia merasa Bian adalah saingannya. Namun apa daya Blue tidak mampu melawan Adrian yang menariknya berjalan keluar.
Bian dan Ziera ditinggal berdua di kamar itu. Bian kembali memeluk Ziera karena dia merasa rindu dan senang akhirnya mereka bisa bertemu lagi.
“Bian, aku ga bisa bernafas nih. Tolong lepaskan tangan mu!” Ziera kehabisan nafasnya karena Bian memeluknya dengan sangat erat.
“Sorry..! Itu karena aku sangat merindukan mu. Dimana kamu selama ini? Kenamap kamu tidak pernah sekali pun menghubungi aku? Apakah kamu tidak pernah menganggap ku sebagai sahabat baik mu? Kenapa Zie, kenapa??”Bian menyerang Ziera dengan pertanyaan yang bertubi-tubu. Bian terlihat marah dan sedih. Bian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia terlihat sangat frustasi dan sedang berusaha menenangkan dirinya.
“Maafkan aku Bian, aku meminta maaf karena meninggalkan mu tanpa mengatakan apapun 6 tahun lalu. Maafkan aku karena telah membuat mu marah dan cemas. Aku benar-benar minta maaf Bian…! ”Ziera menundukan kepalanya untuk menunjukan penyesalannya pada Bian. “Banyak sekali hal yang terjadi pada ku 6 tahun lalu yang tidak bisa aku ceritakan semuanya pada mu.”
__ADS_1
“Katakan padaku alasan kamu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun Zie!”Bian berbbicara dengan nada yang agak tinggi. Dia terlihat sangat emosi. Bian mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, dia terlihat seperti ingin memukul sesuatu.
Ziera mengangkat kepalanya dan menatap langsung mata Bian. Äku akan menceritakan semuany padamu. Kumohon tenangkan dirimu. Aku tahu pasti akan sangat sulit untuk kamu memaafkan aku.”
“Lanjutkan saja cerita mu.!” Bian berkata dengan sangat dingin.
Ziera duduk bersandar di tempat tidurnya sementara Bian duduk disampingnya sambil menatap tajam pada Ziera.
“Enam tahun lalu, aku yakin kamu tahu apa yang terjadi padaku saat itu?” Bian menganguk mengiyakan. “Kejadian itu meninggalakn luka yang sangat dalam, benar-benar dalam yang tidak hanya secara fisik namun secara mental.” Ziera memegang kepalanya dimana bekas luka masih ada disana seolah untuk mengingatkannya apa yang terjadi 6 tahun lalu.
"Aku kehilangan sebagaian ingatan ku akibat tragedy yang ku alami. Memakan waktu yang sangat lama untuk mengembalikan ingatanku sedikit demi sedikit. Sampai dengan hari ini, ingatanku tentang kejadian tersebut belum kembali dengan seutuhnya. Itu salah satu alasanku tidak menghubungi mu.” Bian terdengar kaget saat mendengar cerita Ziera.
"Untuk menyembuhkan dan melindungi aku dari para penculik yang masih berusaha membunuhku, ayah mengirimkan aku pada ayah angkatnya di China. Seorang master beladiri yang terkemuka. Aku adalah satu-satunya saksi hidup yang dianggap dapat mengidentifikasi para pelaku, jadi aku adalah target mereka.”Ziera bermain dengan jemarinya karena terlalu menyakitkan mengingat kejadian dulu.
"Maafkan aku, aku tidak tahu apa yang sudah kamu alami Zie." Bian merasa bersalah telah marah-marah pada Ziera tanpa mengetahui alasan yang sebenarnya.
Zie menarik nafasnya dalam sebelum dia meneruskan ceritanya. "Adrian berhasil menemukan fakta bahwa pelaku yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap Ayah mu merupakan satu sindikat dengan pelaku yang menculik Kak Natha dulu. Jadi Bian aku mohon, bantu aku untuk menyembunyikan identitas asli ku. Aku meminta maaf karena tidak pernah mencoba menghubungiku, situasi yang ku alami tidak memungkinkan ku untuk memiliki kontak dengan orang lain.Apakah kamu akan tetap menjadi sahabat baik ku? Aku tahu akan sangat sulit memaafkan ku, tapi Bian aku mohon aku ingin kembali berteman seperti dulu. Kamu ku izinkan untuk memukulku jika kamu masih marah tapi setelah itu tolong maafkan aku. Ayo pukul aku..!" Zie memejamkan matanya dan menyorongkan wajahnya untuk dipukul oleh Bian. Zie terus menunggu pukulan dari Bian. Setelah satu menit tidak ada pergerakan apapun dari Bian, Zie membuka sebelah matanya untuk mengintip apa yang Bian lakukan.
Zie melihat Bian mengepalkan tangannya dan sudah bersiap-siap untuk memukul wajahnya. Zie langsung menutup matanya dan mempersiapkan diri menerima pukulan. Tapi pukulan Bian tidak pernah mengenai wajahnya, Zie justru merasakan tangan Bian malah memeluknya. Zie langsung membuka kedua matanya untuk melihat apa yang Bian tengah lakukan.
"Kenapa?" Zie yang kebingungan menatap wajah Bian dengan penuh pertanyaan.
"Dasar bodoh, bagaimana mungkin aku akan memukul mu Zie... Tidak akan pernah." Bian mendorong kepala Zie perlahan kemudian mengecup pipinya. "Aku sangat merindukanmu Zie..!" Bian mempererat pelukannya.
"Yah Bian, apa yang kamu lakukan?" Zie mendorong Bian menjauh dan memegang pipinya yang dikecup Bian tadi. Bian membalasnya dengan tersenyum lebar dengan memperlihatkan semua giginya.
Zie merasa senang, setidaknya Bian sudah tidak marah lagi padanya. Mereka bisa kembali bersahabat seperti dulu.
__ADS_1
***
Diluar kamar Zie, Blue yang sedang bersama dengan Adrian tampak tidak senang. "Ada apa dengan mu Blue?" namun tidak ada jawaban.
"Yah Blue..! Kamu kenapa?" Adrian berusaha menarik perhatian Blue dengan menepuk bahunya.
"Oh AK, aku baik-baik saja. Maaf tadi tidak dengar."
"Cucu wajahmu dan tenangkan dirimu sana. Kita memiliki hal yang harus didiskusikan tentang pekerjaan mu. Temui aku dalam 30 menit." Top menganggukkan kepalanya kemudian berjalan meninggalkan mereka yang masih ada di sana yaitu Adrian, Juan, Rangga dan Luna.
"Adrian, ikuti aku ke ruangan kerjaku ada yang harus kita diskusikan." Juan berjalan bersama Adrian menuju ruangan kerjanya yang berada di lantai 2 meninggalkan Rangga dan Luna.
"Luna!" Rangga memanggil Luna, namun tidak ada jawaban. Rangga memperhatikan Luna yang ternyata sedang menatap punggung Adrian.
"Bisakah aku menggantikan posisinya dihatimu? Tidak bisakah kamu memandang aku yang berdiri di samping mu?" Rangga meracau dengan setengah berbisik pada diri sendiri.
"Yah, kamu mengatakan sesuatu?" Luna bertanya, karena dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Rangga katakan.
"Nothing." Rangga menjawab sembari tersenyum. "Kamu masih mencintainya?" Luna kaget mendengar pertanyaan Rangga.
"Apa katamu? Cinta? Hahaha..." Luna tertawa untuk menyembunyikan perasaanya yang sebenarnya, Rangga yang mengenalnya dengan cukup baik mengetahui hal itu.
"Aku mengetahui nya sudah sejak lama, sekarang kamu memiliki kesempatan untuk bersamanya. Dia masih single, kejar saja dia!" Rangga memberikan saran pada Luna, meskipun sebenarnya hatinya sedih.
"Itu masa lalu ku. Aku ingin move on. Itulah alasanku pergi dari negara ini 8 tahun yang lalu." Luna tersenyum pahit.
Rangga menepuk bahu Luna untuk menunjukkan dukungannya. "Yeah..ayo kita move on bersama...!!" Rangga berharap kali ini dirinya masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Luna.
__ADS_1