
Zie memasukan ponselnya ke dalam tas tangannya dan mengeluarkan kacamata hitam untuk dipakainya. Zie berjalan kembali kemejanya dimana Bian masih menunggu. Saat melewati meja para penguntit di balim kaca mata hitamnya Zie terus memperhatikan mereka. Satu irang pura-pura sibuk bermain ponsel padahal dia sedang mengawasi Bian dengan kamera ponselnya, sedangkan rekannya terlihat menatap Zie dengan lebih terang-terangan.
Zie terus melangkah ke arah Bian dan berhenti tepat di depannya. "Bian, sudah waktunya kita jalan."
Mendengar suara Zie, Bian yang sedang asik dengan ponselnya langsung berdiri dan mengikuti Zie melangkah keluar parkiran. Bian langsung duduk di kursi penumpang depan dan memasang sabuk pengamannya. "Pulang ke rumah mu?"
"Ada perubahan rencana, aku tidak jadi pulang ke rumah." Bian menatap Zie bingung.
"Apa ada yang terjadi?"
"Kita dibuntuti. Jangan berbalik, lihat saja melalui kaca spion." Zie buru-buru mencegah Bian membalikan badannya. "Mobil yang parkir di belakang kita. Kamu lihat ada dua orang laki-laki memasuki mobil fortuner hitam?" Bian menganggukkan kepalanya. "Ya, itu mereka."
"Sejak kapan kita diikuti?"
"Aku tidak tahu persisnya, aku baru menyadari keberadaan mereka saat akan membayar bill tadi. Belum diketahui apa tujuan mereka membututi kita."
"Apa rencana mu?" tanya Bian.
"Kita akan sedikit bermain-main dengan mereka." Zie tersenyum penuh teka-teki. "Kencangkan sabuk pengaman mu Bian!"
Zie langsung menancap gas, pergi meninggalkan para penguntitnya. Zie sengaja membawa mobilnya dengan batas kecepatan dimana mereka masih bisa mengikuti. Bian yang terpengaruh gravitasi sempat tertarik ke arah kursinya. Setelah 5 menit berlalu Bian mulai terbiasa dengan kecepatan mobil yang dikendarainya.
"Mereke masih mengikuti dari belakang." Seru Bian sembari memutar badannya untuk mengintip ke belakang. Bian melihat mobil Fortuner hitam yang masih mengikuti mereka dengan kecepatan yang sama.
"Tentu saja, aku sengaja membiarkan mereka terus mengikuti. Jika mereka kehilangan jejak kita itu tidak akan menarik. Kita kan akan bermain-main dulu." Ucap Zie sambil tersenyum misterius.
"Bermain-main?"
"Lihat saja, kamu akan mengerti nanti." Zie berkata penuh misteri.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Zie akan tiba-tiba menambah kecepatan dan meninggalkan mobil Fortuner yang membuntuti mereka, namu saat berikutnya mobil mereka akan berhenti berpura-pura membeli sesuatu di warung pinggir jalan seperti sedang menunggu mereka. Hal tersebut terus Zie lakukan secara berulang.
"Kamu lihat, mereka tidak sudah tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa mereka mengikuti kita. Aku ingin melihat ekspresi mereka, pasti akan sangat lucu." Zie terkekeh. "Bian, ada apa dengan mu?" Tanya Zie tanpa perasaan bersalah.
"Zie, cara mu membawa mobil membuat aku pusing. Sepertinya aku hampir muntah." Bian terlihat berusaha menahan mual yang dia rasakan, apalagi mereka baru saja makan sebelumnya.
"Hahaha...aku jadi ingat jaman SMA dulu, aku pernah membonceng mu untuk ikut balapan motor jalanan. Bian, ekspresi mu sama seperti waktu dulu." Zie tertawa puas. "Kenapa kamu tidak mual saat kamu melakukan drifting?"
"Itu karena aku yang mengendarainya sendiri. Kamu harus merasakan berada di posisi penumpang dengan supir yang ugal-ugalan seperti mu." Bian menunjukan muka cemberut nya.
"Kalau begitu kamu harus bersiap untuk mengalami hal yang sama saat jadi asisten ku nanti." Zie kembali tertawa lepas. Mendengar perkataan Zie muka Bian semakin pucat.
"Sampai kapan kita akan mempermainkan mereka?" Tanya Bian sembari memakan permen mint untuk menghilangkan rasa mual nya.
"Sampai..." Sebelum Zie menjawab sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselnya. Pesan WhatsApp yang berisi titik koordinat yang akan menjadi tujuan Zie selanjutnya. "Tidak usah khawatir, ini akan segera berakhir." Ujar Zie yang mulai memasang muka serius.
Kawasan tersebut bisa di katakan cukup sepi, tetapi memilki akses jalan yang cukup luas. Karena kawasan perumahan tersebut adalah milik Adrian, mereka jadi bisa dengan leluasa menggunakannya.
Setelah mengambil belokan ke arah kanan terbentang jalan yang lurus. Zie langsung menancapkan gasnya kembali dengan kecepatan mencapai 180 km/jam. Bian berpegangan dengan sangat erat di kursinya. Mobil yang mengikuti mereka terlihat juga menambah kecepatannya karena tidak ingin kehilangan jejak.
Mendekat tikungan tajam Zie langsung melakukan drifting dan memutar mobilnya yang membuat panik supir Fortuner. Mobil Fortuner terlihat berhenti dengan seketika, namun karena mendadak mobil masih terseret hampir menyerempet mobil Porsche yang di tumpangi Zie.
Zie langsung keluar mobil dengan mengambil pistol yang dia sembunyikan dibalik jok mobilnya, sementara Bian tidak Zie izinkan keluar.
Melihat Zie keluar dengan mengacungkan pistol ditangannya, kedua orang pengendara Fortuner tersebut keluar dari mobilnya dengan mengacungkan senjata juga.
"Katakan, siapa yang mengutus kalian membuntuti kami?" Tanya Zie dengan ekspresi datar.
"Kamu tidak perlu tahu." Laki-laki tinggi dengan goresan luka di pipinya menjawab sambil tersenyum sinis. Dia adalah orang yang menyetir mobil Fortuner tersebut.
__ADS_1
"Kenapa kalian mengikuti kami?" Tanya Zie dengan berani, padahal kedua orang yang keluar dari mobil mengarahkan pistolnya ke arah Zie.
"Sayang sekali, sepertinya hidup mu akan berakhir hari ini jadi percuma saja kamu tahu." Ucap laki-laki yang lebih pendek dengan kepala botak dan memakai kacamata hitam.
"Kita lihat siapa yang akan berakhir hari ini." Zie menantang mereka. Terpancing dengan perkataan Zie, laki-laki yang lebih pendek itu menarik pelatuk pistolnya. Zie dengan gesit langsung merunduk dan berguling ke samping. Sementara laki-laki yang tinggi berjalan mendekat ke arah Zie untuk melepaskan tembakan juga, namun tiba-tiba ada suara letusan tembakan lain dan tangan laki-laki tinggi itu langsung terkulai dan pistolnya terlepas.
Adrian datang bersama dengan 5 orang lainnya. Mereka memang sudah bersiap menunggu para penjahat itu beraksi. Melihat pistol akan ditembakkan ke arah Zie saat Zie baru saja berguling menghindari tembakan pertama denan refleks Adrian yang sudah bersiap menembakan pistolnya ke arah tangan pelaku yang mengakibatkan senjata pelaku terlepas dan terpental di jalan. Lima orang yang datang bersama Adrian langsung menyergap kedua orang pelaku dari belakang.
Baku hantam terjadi karena mereka berusaha melepaskan diri, namun kalah dari segi jumlah mau tidak mau mereka menyerah.
Kedua orang yang tadi nampak percaya diri saat menghadapi Zie tampak tak berdaya berlutut dengan lututnya menghadap aspal sementara anak buah Adrian menodongkan senjata kearah mereka. Zie dan Adrian berdiri di hadapan mereka untuk mulai mengintrogasi.
"Siapa bos kalian dan apa tujuan kalian membuntuti?" Tanya Adrian sembari mengangkat dagu laki-laki yang terluka tangannya dengan menggunakan pistol.
"Cuihh..." Laki-laki tersebut meludah kearah Adrian yang dengan refleks Adrian memukul kepalanya dengan menggunakan pistol. Efeknya dia terhuyung dan terjatuh terduduk.
Adrian mengalihkan perhatiannya pada penguntit yang lain, dia tampak tenang tanpa emosi. Adrian menginjak punggung tangannya yang terletak di atas aspal lalu mulai bertanya lagi. "Apa tujuan kalian membuntuti?"
Laki-laki itu hanya tersenyum, seolah tidak ada pengaruh injakan Adrian terhadapnya. Mereka berdua hanya terdiam dan tidak memberikan jawaban apapun.
Karena mereka hanya diam, Adrian memutuskan untuk membawa mereka ke markas dan melakukan interogasi lebih lanjut. Keduanya dipaksa berdiri dengan tangan telah di borgol dan senjata di todong kan di kepala mereka. Dua orang anak buah Adrian berlari mengambil mobil yang tadi mereka sembunyikan.
Ketika mobil sudah mendekat, di dorongnya kedua lelaki itu untuk berjalan ke arah mobil. Tiba-tiba kedua orang tersebut jatuh terkulai sebelum memasuki mobil dengan darah yang menyembur dari kepala mereka. Sebuah helikopter terbang si atas mereka dan berlalu begitu saja. Rupanya helikopter tersebut membawa sniper untuk membungkam mulut para penguntit yang telah tertangkap. Sniper tersebut menembak dengan menggunakan peredam dan tembakannya sangat akurat.
Mereka tidak menyadari kehadiran sniper di dalam helikopter karena dikawasan tersebut memang banyak helikopter yang hilir mudik. Mereka tidak menduga bahwa rekan-rekan penguntit itu salah satu dari mereka.
"Kurang ajar, mereka bahkan tega membunuh anak buahnya sendiri untuk menutup mulut." Adrian kesal. Sementara Zie berjongkok dan mendekati tubuh yang terkulai dan menemukan tatto bertuliskan 'BEE' di salah satu tengkuk mereka.
Melihat tatto tersebut seketika amarah Zie meningkat. Dengan sebal Zie menendang tubuh yang sudah tidak berdaya itu. "Mereka adalah anggota sindikat yang kita cari." Ujar Zie penuh kebencian.
__ADS_1