
Juan terbangun dengan posisi menelungkup dengan kepala miring ke samping di atas pasir di tepi pantai. Juan mengedipkan kedua matanya yang mulai terbuka perlahan. Tubuhnya terasa remuk, bahunya sebelah kiri terasa sakit yang luar biasa. Juan memaksakan diri untuk bangun dan duduk. Juan mencoba mengingat apa yang sudah dialaminya sebelumnya. Tubuhnya masih basah oleh air laut. Angin laut membuatnya menggigil kedinginan.
Perlahan kesadaran Juan sudah kembali seutuhnya. Juan mengingat dirinya yang jatuh kelaut bersama dengan Zie. Tapi dimana Zie sekarang? Juan terbangun hanya seorang diri di sana. Juan yakin, Zie harusnya tidak terlalu jauh darinya. Ingatan Juan terakhir sebelum pingsan adalah dia terus menggenggam tangan Zie.
Dengan badan yang masih sakit dan terasa luluh lantak Juan memaksakan diri untuk bangun berdiri. Dengan langkah gontai dan kaki diseret Juan menelusuri pantai untuk mencari Zie. Dia harus menemukan Zie secepatnya karena matahari sepertinya akan segera terbenam.
Juan memandang sekeliling, sepi hanya suara deburan ombak dan burung gagak yang terdengar. Juan berjalan sembari berteriak memanggil nama Zie.
"Zie...Ziera..! Ziera...!" Juan memanggil nama Zie, berharap Zie bisa mendengar suaranya. Berulang kali Juan memanggil namanya, namun hasilnya masih nihil.
Kekhawatiran Juan semakin meningkat seiring berjalannya waktu dan matahari sudah semakin tenggelam. Juan harus memaksakan dirinya untuk terus bergerak mencari keberadaan Zie.
Juan yang kelelahan melupakan rasa sakit luka tembak di bahu kirinya. Dipikirannya saat ini adalah dia harus segera menemukan Zie. Juan tidak ingin kehilangan Zie lagi. Juan merasa sudah cukup dia meredam kerinduan selama 6 tahun, belum sempat dia ungkapkan namun dia akan kembali kehilangan.
Hubungan Juan dan Zie dulu bisa dibilang cukup dekat, namun tidak bisa diartikan memiliki hubungan khusus. Zie yang memang kekanakan tidak pernah berpikir tentang percintaan. Zie yang polos selalu memperlakukannya seperti seorang Kakak karena Juan adalah Kakak sahabatnya. Walau Zie memperlakukannya sebagai seorang Kakak, Juan tetap menyukainya.
Juan sudah menyukai Zie sejak lama. Tentu saja Juan hanya bisa meredam perasaannya karena saat itu Zie masih SMA kelas 1. Rasanya tidak pantas seorang mahasiswa berpacaran dengan anak SMA. Juan ingin menjaga reputasi Zie. Juan berniat menunggu sampai Zie cukup dewasa dan sudah lulus SMA untuk mengungkapkan perasaanya yang sebenarnya. Namun apa mau dikata, sebelum sempat diungkapkan Zie menghilang tanpa kabar. Juan yang belum bisa lupa akan perasaanya pada Zie menjadi sangat dingin pada setiap wanita yang mendekatinya. Hati Juan sudah terkunci dan hanya Zie yang bisa membukanya.
__ADS_1
Perasaan Juan yang hampa selama 6 tahun terasa berbeda saat pertama kali melihat sosok Zie. Seorang Agent wanita yang mempunyai paras mirip Naziera, meskipun cara bicara dan bertingkah laku berbeda. Agent Zie ini terlihat sangat serius dan profesional. Juan sempat berpikir debaran yang muncul dihatinya adalah karena Agent Zie mengingatkannya pada Ziera karena mereka sangat mirip secara fisik. Juan sungguh kaget saat diketahuinya ternyata Agent Zie adalah Naziera sendiri, wanita yang selama ini dia cari. Apalagi Zie terluka demi melindunginya. Perasaan Juan semakin campur aduk.
Saat kenyataan identitas Zie terungkap, Juan ingin berlari dan memeluknya karena rasa rindunya yang sudah tidak bisa dibendung. Namun apa yang mampu dia perbuat Zie sedang menyembunyikan identitasnya. Juan tidak mau ambil resiko membahayakan diri Zie setelah percobaan pembunuhan yang dialaminya, dia yakin sindikat BEE bukan sindikat biasa.
Juan adalah tipe yang tidak bisa menyembunyikan perasaanya. Semua orang akan tahu Zie itu spesial untuknya jika Juan tidak menahan diri. Juan terpaksa harus bersikap profesional sebagai orang yang mempekerjakan Zie sebagai bodyguard dan sedikit menjaga jarak. Namun kejadian di atas kapal tadi, saat sniper mengarahkan senjatanya pada Zie membuat Juan memutuskan bahwa dia tidak bisa diam saja. Dengan sekuat tenaga Juan berlari dan mendorong Zie dari hantaman peluru senjata api. Juan lebih memilih dirinya sendiri yang terluka, karena Juan tahu dia tidak akan sanggup kehilangan Zie lagi.
Jian jatuh terduduk berlutut di atas pasir. Kelelahan fisik dan mental sudah tidak bisa ditahannya lagi. Ditariknya nafas dalam untuk menenangkan dirinya. Juan menutup kedua matanya sambil berdoa kepada Tuhan agar bisa dipertemukan dengan Zie. Juan yakin, Zie pasti selamat.
Diantara doanya, Juan mendengar suara rintihan. Juan pikir itu adalah khayalannya, namun suara rintihan itu semakin kuat. Juan langsung membuka lebar kedua matanya, memaksakan tubuhnya untuk berdiri dan berjalan ke arah sumber suara. Diantara batu-batu besar di sisi pantai di lihatnya sesuatu yang membujur memanjang. Juan yakin suara rintihan itu dari sana. Dalam hati Juan berharap itu adalah Zie.
Saat semakin dekat, Juan melihat sosok seseorang yang terbaring sambil merintih kesakitan. Seorang yang menggunakan setelan blazer dengan rambut panjang tergerai. Itu adalah sosok Zie yang terbaring dengan dahi berdarah. Juan langsung meraihnya kedalam pelukan, melupakan tangannya yang kebas akibat peluru yang masih ada di bahu kirinya.
"Zie, Ziera...bagun..!! Bangun Zie, jangan menangis lagi. Ini aku Juan disini." Ucap Juan sambil mengusap air nata uang mengalir di pipi Zie.
Zie merintih dan terus menangis, tapi kedua matanya masih tertutup rapat. Sepertinya Zie sedang bermimpi buruk . Juan berusaha membangunkannya, namun usahanya sepertinya gagal
Suara tangisan dan rintihan Zie sungguh memilukan hati Juan. Juan tidak tega melihatnya, namun dia tidak berdaya. Dipeluknya Zie yang menggigil karena angin malam mulai berhembus. Juan tidak boleh hanya diam saja, dia harus bergerak melakukan sesuatu.
__ADS_1
Juan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Juan melihat ada sebuah gua di antara bebatuan tempat Zie tadi terdampar. Juan memutuskan untuk membawa Zie ke sana. Setidaknya gua tersebut bisa melindungi mereka dari angin malam.
Dengan kondisi bahunya yang tertembak, dan masih ada peluru bersarang di sana, Juan merasa kesulitan untuk membawa Zie ke dalam gua. Namun Juan harus memaksakan diri, karena angin laut di malam hari akan memperburuk kondisi Zie.
Dengan menggunakan tangan kanannya Juan menarik Zie setengah bangun dan melingkarkan tangan Zie di bahunya. Tangan kanan Juan melingkar di pinggang Zie dan menariknya berdiri. Menggunakan sisa tenaga yang dimilikinya, Juan menyeret Zie dengan perlahan masuk ke dalam gua.
Memasuki gua, Juan berhenti sejenak untuk menyesuaikan matanya yang kaget dengan kondisi yang lebih gelap. Untungnya masih ada cahaya senja yang masuk meskipun hanya temaram.
Juan mengedarkan pandangannya ke sekeliling gua. Juan mendapati jejak-jejak bahwa di gua itu ada aktifitas. Kemungkinan nelayan atau pencari walet datang ke sana untuk beristirahat. Juan melihat ada sisa-sisa kayu bakar bekas api unggun, kain-kain selimut dan tumpukan jerami yang teronggok di sana.
Juan membaringkan tubuh Zie dengan perlahan di atas tumpukan jerami yang ada. Sementara Juan mendekati sisa-sia kayu bakar. Juan sedang berpikir bagaimana cara untuk menyalakan kayu bakar tersebut. Di edarkan pandangannya ke sekeliling gua, terdapat rak sederhana yabg berisi beberapa barang yang ditinggalkan. Itu artinya gua ini sering dikunjungi sehingga ada banyak barang yang di tinggalkan pemiliknya.
Juan berjalan menuju rak sederhana tersebut. Diamatinya barang-barang yang tersedia di sana, Juan mencari apa yang mungkin bisa digunakannya untuk menyalakan api unggun. Juan membuka sebuah kaleng biskuit bekas dan di dalamnya terdapat sebuah pematik api dan sebotol kecil bensin yang dapat digunakannya untuk menyalakan kayu bakar.
Dengan menggunakan bensin dan pematik tersebut Juan membakar kayu bakar yang sebelumnya dia susun dengan rapi. Bensin membuat kayu tersebut mudah terbakar dan setelah memastikan apinya sudah menyala dan tidak akan mati, Juan berjalan ke arah Zie yang masih terbaring sambil sesekali terdengar merintih kesakitan.
Dihampirinya Zie yang terbaring di atas jerami. Zie yang tadi saat ditemukan menggigil hebat, saat ini kondisinya menjadi lebih baik berkat api unggun yang Juan nyalakan. Juan yang juga menggigil kedinginan menyadari bahwa baju mereka masih basah. Juan tidak bisa membiarkan Zie tidur dengan bajunya yang basah. Juan menatap kain-kain selimut yang teronggok dan sedang berpikir bagaimana caranya melepaskan pakaian Zie.
__ADS_1