
Zie terbangun dengan rasa nyeri di kepalnya. Tangan dan kakinya dalam kondisi terikat. Sebuah lakban menutup mulutnya. Zie mengedipkan kedua matanya berulang kali karena situasi di sana sangatlah gelap. Zie tidak bisa berteriak ataupun bergerak, dia hanya bisa meringis menahan sakit dati luka di dahinya.
Zie mendengar suara tangisan seorang wanita yang tidak jauh dari tempatnya berada, namun kondisinya yang terikat di atas sebuah kursi tidak memungkinkannya untuk melihat ke sekeliling. Suara tangisan itu Zie sangat familiar, itu adalah suara kakak tercintanya Natha.
Zie ingin berteriak dan memanggil Natha, Zie ingin memastikan kakaknya baik-baik saja. Namun apa boleh buat, saat ini Zie sungguh tidak berdaya. Zie tidak bisa berbuat apapun dengan kondisi diri terikat dan mulut dilakban, ditambah dengan sakit kepala hebat yang dirasakannya efek dari benturan pelipisnya ke sisi tajam meja. Zie merasakan sepertinya ada darah kering yang menempel di sana. Kemungkinan sudah beberapa jam berlalu sejak Zie dilempar dan terbentur.
Suara langkah kaki berat terdengar semakin mendekat. Pintu di buka dengan sangat kasar dan berderit memekakkan telinga. Zie merasakan seseorang memasuki ruangan tempat mereka disekap. Sebuah aura yang sangat dingin di rasakan Zie, seluruh bulu kuduknya berdiri. Sepertinya yang datang adalah seorang yang memiliki aura kuat.
"Kumohon, lepaskan adik ku... Bukan kah cukup aku saja yang kalian culik. Aku akan mengikuti semua keinginan kalian, tapi kumohon lepaskan Naziera..!" Natha memohon sambil terisak. Tidak ada jawaban. Zie kemudian mendengar suara diseret.
"Tidak... lepaskan aku, kumohon lepaskan aku!" Natha memohon. Jantung Zie langsung berdetak kencang membayangkan Natha yang berada tepat di belakangnya sedang diseret. Zie merasa frustasi karena dirinya tidak berdaya. Tanpa disadari air mata menetes dari kedua matanya.
Suara seretan semakin kencang karena sepertinya Natha melawan. Perlahan, suara Natha yang memohon sambil menangis dan suara seretan terdengar semakin menjauh. Pintu tempat dia dikurung di banting dengan sangat kencang yang mengakibatkan getarannya terasa agak lama.Jendela kaca di sisi kiri Zie ikut bergetar. Zie mengepalkan kedua tangannya, dia merasa sangat kesal karena tidak mampu menolong kakaknya.
Segala pikiran buruk terus muncul di kepala Zie. Apa yang mereka lakukan pada Kak Natha? Kenapa mereka menculik Kak Natha? Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Apakah dia dan Kak Natha bisa pulang dengan selamat? Apa salah mereka hingga menerima penyiksaan seperti ini? Air mata terus membasahi kedua pipi Zie, menetes hingga kepangkuan.
Zie mendengar pintunya dibuka, ada suara langkah kaki dua orang memasuki ruangan tempatnya di kurung.
"Kemana ****** itu?" Tanya sebuah suara yang agak khas. Zie yakin dia akan mengenali suara tersebut jika bertemu dilain kesempatan.
__ADS_1
"Second bos memintanya dibawa ke ruangannya. Mungkin dia akan menikmatinya." Suara yang menjawabnya terkekeh. "Jika bos sudah puas, aku juga bersedia menerima limpahannya." Ucapan lelaki itu menjijikan. Zie rasanya ingin muntah mendengar ucapan mereka.
"Siapa?" Laki-laki dengan siara khas bertanya pada rekannya.
"Adik wanita itu, dia membuntuti saat tau kakaknya kita culik. Bukan masalah, hanya tikus kecil yang berhasil tertangkap. Hanya seorang bocah."
"Meskipun bocah kecil kita harus berhati-hati. Kita juga harus membereskannya, jangan biarkan ada jejak ataupun saksi." Laki-laki itu memerintahkan dengan nada dingin. Tubuh Zie langsung merinding mendengarnya. Untungnya dia hanya dianggap bocah kecil, jadi mereka tidak akan melecehkannya. Tapi bagaimana dengan Natha? Zie bertambah khawatir memikirkan Kakaknya.
Kedua orang tersebut pergi meninggalkan Zie sendirian. Zie hanya sanggup meratapi nasibnya saja. Kelelahan yang luar biasa dirasakannya saat ini. Lelah secara jiwa maupun raga. Zie akhirnya tertidur dalam posisi masih terikat.
...****************...
Sekelompok pria dengan stelan jas hitam berkumpul di atas sebuah speedboat. Mereka mengerubungi dua orang perempuan yang tergeletak tidak sadarkan diri dihadapan mereka. Salah seorang perempuan yang terlihat lebih muda tersadar dan mengerang kesakitan.
"KAK NATHA...!! Bangun Kak...aku mohon bangun Kak. Apa yang mereka lakukan pada mu?" Wanita yang histeris itu adalah Zie. Zie hanya bisa menangis dan berteriak tidak terkontrol melihat kondisi Natha yang ada disampingnya.
Natha yang terbujur tidak bergerak terlihat sangat pucat. Terlihat dengan sangat jelas memar-memar di sekujur tubuhnya. Zie melihat rembesan darah di antara paha Natha. Melihat hal tersebut Zie semakin histeris tak terkendali.
"Bangun Kak...Bangun..!!" Zie bangun berdiri dan mendorong salah satu pria uang mengelilinginya. "APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA KAKAK KU? DASAR BRENGSEK, MANUSIA-MANUSIA BIADAB, APA YANG KALIAN SUDAH LAKUKAN?" Zie berteriak histeris sambil berusaha mendorong mereka. Zie yang jauh lemah dari mereka, ditambah kondisi tubuhnya yang sudah dua hari tidak makan sudah tentu tidak dapat menandingi mereka.
__ADS_1
"Anak kecil, kamu tidak perlu tahu apa yang wanita ini alami. Sayangnya kamu hanya anak kecil, coba kamu lebih dewasa sedikit kami bisa menikmati mu. Hahahaha..." Mereka tertawa terbahak melihat Zie yang mereka anggap masih bocah. Mendengar kata-kata mereka yang jahat, Zie bisa membayangkan perlakukan tidak manusiawi seperti apa yang Natha alami. Tanpa sadar air mata menetes dari kedua mata Zie.
"Hahaha...dia memang masih bocah. Mendengar kata-kata mu saja dia sudah ketakutan."
"Sayang sekali kita harus membereskannya juga, padahal aku menyukai anak kecil. Anak kecil, aku pasti bisa mengajarimu merasakan kenikmatan yang belum kamu rasakan" Ujar seorang diantara mereka sembari menyentuh wajah Zie dengan jemarinya yabg menjijikan. Pria tersebut menjilat ibu jarinya yang dia gunakan untuk menyentuh bibir Zie, lalu dia tersenyum licik.
Zie yang di sentuh merasa jijik dan ingin muntah. Seluruh tubuhnya merinding ketakutan. Kata-kata pelecehan yang diucapkannya barusan membuat tubuh Zie gemetaran. Melihat Zie yang ketakutan mereka semua tertawa. Sepertinya mereka sangat menikmati apa yang sedang mereka lakukan.
"Gadis kecil, sayang sekali aku tidak bisa menikmati mu. Kamu akan mati tanpa pernah merasakannya." Pria tersebut mendorong Zie hingga jatuh terduduk tepat disebelah tubuh Natha. Marah, sedih, takut, dan frustasi semua Zie rasakan bersamaan. Zie meras sedih tidak berdaya dan hanya dapat menerima nasibnya.
"Kita sudah sampai di titik lokasi." Nahkoda speedboat tersebut menginformasikan.
Dua orang diantara mereka langsung mengangkat Natha, Zie yang melihatnya mencoba menahan namun hanya sia-sia belaka. Pria mesum yang melecehkan Zie tadi menyeret tubuh Zie mengikuti dua orang yabg mengangkat Natha.
Mereka sampai di geladak kapal. Zie memandang sekeliling mencoba mencari tahu keberadaan mereka. Hanya lautan yang dapat Zie temukan karena ternyata mereka berada tepat di tengah laut.
"Segera bereskan mereka!" Ucap seseorang yang sepertinya pimpinan mereka.
Mendengar perintah bosnya, dua orang pria yang mengangkat Natha tadi langsung melempar Natha ke laut. Zie yang shok dengan apa yang disaksikannya seketika menjerit. "TIDAAAKK...!! APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA KAK NATHA." Zie meraung tidak bisa menerima apa yang disaksikannya.
__ADS_1
Pria mesum yang menyeretnya membawa Zie tepat menempel si pagar pembatas kapal. Peia tersebut berbisik tepat si telinga Zie. "Tenang saja, kamu akan segera menyusulnya."
Tubuh Zie di dorong jatuh kelaut oleh pria tersebut. Zie merasakan dirinya melayang untuk sesaat hingga dirasakannya dinginnya air laut menusuk tubuhnya. Zie yabg terjatuh kelaut berusaha untuk berenang dan mengambil nafas, namun sebuah tongkat kayu menahan tubuhnya untuk muncul dipermukaan. Zie yang kehabisan nafas akhirnya perlahan mulai kehilangan kesadarannya. Saat itu terlintas dipikiran Zie bahwa inilah rasanya diambang kematian.