
"Kau sudah pulang?"
Seorang wanita mengalihkan perhatiannya dari panci berisi sup yang hampir mendidih untuk menengok ke arah suaminya yang baru saja masuk ke dalam rumah. Senyum lembutnya terpancar membuat siapa saja yang melihatnya seketika kehilangan rasa lelah karena seharian bekerja.
"Ya aku di sini, itu artinya aku sudah pulang"
Ronan melemparkan dirinya ke atas sofa di depan televisi, dari sana ia masih bisa melihat istrinya yang melanjutkan kegiatan memasaknya di dapur karena tidak ada sekat antar ruang tersebut.
Miyazaki Rika nama wanita itu, wanita tua berperawakan pendek, umurnya 3 tahun lebih tua dari Ronan, sudah hampir seluruh rambutnya berwarna putih karena faktor usia.
Ronan dan Rika baru saja merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 30 bulan lalu, tapi sayangnya sampai hari ini mereka belum juga di karuniai seorang anak.
Walaupun Ronan orang yang pemarah, kasar dan terlihat tidak perduli pada apapun, tapi pada kenyataannya ia sangat menyayangi Rika lebih dari apapun di dunia ini.
"Sudah minum obatmu?" Ronan berkata setengah berteriak supaya istrinya bisa mendengarnya, Rika mengalami ganggungan pada pendengarannya satu tahun terakhir.
"Ya aku disini dan belum mati, itu artinya aku sudah minum obat" Rika mengembalikan perkataan Ronan padanya.
"Huh berhenti mengolokku" Ronan mendengus dan tersenyum.
"Bagaimana kabar anak itu, apa dia baik-baik saja?" Rika mengaduk kuah supnya dan mencicipinya untuk mengukur rasa.
"Siapa?"
"Anak yang sering kau ceritakan padaku, Chaerin. Akhir-akhir ini kau jarang membicarakan tentang anak itu, aku jadi khawatir"
"Anak apa! Dia itu sudah berumur 30, mungkin lebih!"
"Tapi jika saja aku tidak keguguran waktu itu, mungkin anak kita sudah sebesar dia" Rika tersenyum getir dan setetas air mata jatuh ke pipinya.
"Sudahlah, aku bersyukur kita tidak jadi punya anak, teman-teman ku selalu mengeluh bagaimana sulitnya mengurus anak, segalanya menjadi melelahkan. Aku mau tidur sebentar, bangunkan aku jika makan malam sudah siap"
Ronan beranjak dari sofa dan masuk ke kamarnya.
Ronan bersandar ke pintu yang tertutup dan memandang lurus ke depan. Dadanya terasa sesak karena ucapan istrinya.
Ia bukannya sama sekali tidak ingin mempunyai anak. Di dunia ini siapa yang tidak ingin menjadi orang tua, kehidupannya dan Rika mungkin akan lebih bahagia jika pinya seorang anak.
Tapi Ronan tidak ingin menunjukan kesedihannya terlebih pada istrinya yang rapuh, Rika melakukan operasi transplantasi jantung lima tahun yang lalu, dan keadaanya mulai membaik walaupun masih tergantung dengan obat-obatan, ia tidak ingin istrinya jatuh sakit lagi hanya karena mengingat kejadian di masa lalu mereka yang buruk.
Karena Rika mengungkitnya, hati Ronan yang tadinya tenang, berubah gelisah. Ia sudah mendengar tentang Chaerin yang kabur dari Lady Castle, dan baru-baru ini Chaerin berani menerobos masuk ke Gold tower untuk menemui Ethan. Ronan tidak tahu maksud dan tujuan Chaerin datang ke sana, ia khawatir kalau-kalau Chaerin tahu bahwa Ethan dan GD adalah orang yang sama, dan Chaerin mungkin sedang dalam bahaya karena Ethan.
"Wanita itu, seharusnya aku tidak membawanya kepada Ethan"
*
Bear mengasah pisau miliknya hingga menimbulkan suara gesekan dan juga percikan api. Di angkatnya pisau itu ke udara dan di lihatnya di bawah sinar lampu berwarna kekuningan, mencoba melihat apa piasunya sudah cukup tajam untuk bisa di gunakan kembali.
"Ini bayaranmu Bear, kau bisa pergi dan jalani hidupmu dengan normal"
Chaerin melemparkan seikat uang yang di gulung rapi ke atas meja. Bear sudah ingin memprotes ucapan Chaerin yang seakan menyuruhnya untuk pergi, Tapi di sela oleh Inguk dengan cepat.
"Bagaimana denganku, kau tidak ingin membayarku?!"
Sekali lagi Chaerin melemparkan seikat uang ke atas meja, tepat di hadapan Inguk.
"Hanya ini! Sialan, aku mempertaruhkan nyawaku, aku juga mempertaruhkan reputasi ku dan kau hanya memberiku uang tidak lebih dari seribu dolar. Ini bahkan tidak cukup untuk membayar senjata yang ku berikan padamu, dan jangan lupakan si kontraktor korup itu, jika bukan karena aku menipunya, kau tidak akan bisa menangkapnya dan menyerahkannya pada ceo tampan itu. Kau itu ketua gangster dan juga lintah darat, seharusnya kau punya banyak uang!"
"Kau bisa ambil bagianku" Bear berucap.
Bear tidak terlalu perduli pada uang, ia hanya ingin bekerja dengan Chaerin untuk waktu yang lama.
"Diam bodoh!"
Inguk berdecak kesal, baru kali ini ia di bayar sangat murah setelah melakukan hal yang sangat sulit. Walaupun inguk mengenal Chaerin cukup baik, tapi yang namanya uang tidak mengenal kata teman.
Chaerin memutar bola matanya jengah, ingin sekali di pecahkannya kepala pria yang ada di hadapannya itu dengan palu beton.
Inguk punya sifat buruk yang sangat mengganggu, apapun yang di lakukan nya ia selalu saja mengeluh.
"Apa aku terlihat seperti wanita kaya! Aku kehilangan segalanya dalam sekejap, anak buahku banyak yang tertangkap, yang tersisa kabur entah kemana dan tidak ingin lagi bekerja denganku! Aku menyuruhmu menjaga tempatku selama aku tidak ada tapi lihat apa yang terjadi, bukankah seharusnya kau bertanggung jawab!"
Chaerin merebut pisau dari tangan Bear dan mengacungkannya ke arah inguk.
"Siapa? Aku? Bertanggung jawab? Cih aku bahkan bukan anak buahmu. Saat itu aku tidak pernah berkata iya" inguk mendengus.
Memang benar, Inguk sama sekali tidak pernah mengiyakan permintaan Chaerin untuk mengurus gangnya dan juga tempat peminjaman uangnya yang di samarkan menjadi rumah jagal hewan. Chaerin dengan tidak bertanggung jawab meninggalkan selusin anak buahnya dan pergi mengikuti Ronan untuk bekerja pada GD. Walaupun akhirnya dirinya juga tidak pernah bekerja pada GD dan malah di jadikan pelacur.
Sekarang Chaerin merasa sangat bersalah karena sudah meninggalkan anak buahnya dan membuat mereka dalam masalah.
"Agh dasar sialan! Jika tahu akan seperti ini aku tidak akan pergi!" Chaerin berteriak frustasi.
"Setidaknya kau bisa minta bayaran pada ceo Gold Medical atas apa yang kita lakukan kemarin. Atau kau ancam saja dia, ku lihat kau punya hubungan khusus dengannya, bilang padanya jika kau akan membeberkan hubungan kalian ke publik jika ia tidak memberimu uang"
"Aku tidak serendah itu"
"Bicara tentang rendah, bukannya kau bekerja di rumah pelacuran baru-baru ini, ku akui dadamu cukup besar untuk menggoda para pria, kecuali aku, aku tidak terlalu suka wanita berdada besar" inguk tersenyum menghina.
"Sialan!" Chaerin melemparkan pisau yang ada di tangannya ke arah inguk tapi untungnya inguk masih bisa menghindar, walaupun ia harus rela jatuh ke kubangan lumpur.
"Hei wanita iblis, kau ingin membunuhku! Bagaimana jika itu benar-benar mengenaiku! Dasar tidak tahu terima kasih, padahal aku sudah menolongmu sejauh ini!"
Chaerin berusaha kuat untuk menahan tawanya. Inguk terlihat sepeti anjing yang tercebur ke kolam penuh kotoran. Itu adalah balasan yang setimpal untuk mulut kotornya.
Inguk berdiri, menepuk-nepuk pakainya yang kotor karena lumpur, berusaha menghilangkan noda yang menempel walaupun tidak berhasil, malah membuat noda lumpur semakin menyebar di pakaiannya.
"Aku akan datang lagi untuk menagihnya, jadi siapkan uangnya. Kau tidak akan bisa berdamai denganku jika itu ada sangkut pautnya dengan uang!"
Inguk meninggalkan gudang tua tempat Chaerin bersembunyi sekarang.
Chaerin dan Bear melihat kepergian Jeep Rubicon merah milik inguk, dan secara bersamaan mereka membuang nafas lega.
"Dia sangat cerewet" Bear berucap.
"Bukankah aku tadi menyuruhmu pergi dan hidup normal seperti manusia lainnya!" Chaerin melirik ke arah Bear.
"Aku rasa menghabiskan hidup untuk bekerja denganmu juga cukup normal" Bear tersenyum memperlihatkan deretan dirinya yang di pagari dengan kawat berwarna hijau. Kawat giginya lebih terlihat seperti remahan rumput laut yang menempel setelah makan.
__ADS_1
*
Mata coklat Ethan berbinar saat seseorang yang di tunggunya akhirnya muncul. Ethan bahkan berdiri untuk menyambut kedatangannya.
Sudah lebih dari 20 tahun Ethan tidak bertemu dengannya, membuat kenangan masa kecilnya yang suram terputar kembali di kepalanya.
"Aku senang kau menghubungiku lebih dahulu?" Ethan mengulurkan tangan ramah.
Bear tersenyum kecut, tanpa menyambut uluran tangan Ethan, ia langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Ethan tanpa ada rasa hormat sedikitpun, padahal Ethan belum mengizinkannya untuk duduk.
Ethan memandang tangannya yang di abaikan dan menahan amarahnya dengan meremas-remas tangannya sendiri.
Sean yang berada di sebelah Ethan segera bergerak, menodongkan mulut pistol ke kepala Bear, membuat kepala pria bertubuh besar itu miring ke samping mengikuti arah todongan pistol.
"Dulu aku sangat takut saat seseorang menodongkan senjata padaku, tapi semakin sering kau mengalaminya, rasanya biasa saja, jantungku bahkan tak lagi berdebar" Bear memandang Sean menantang.
Jika di bandingkan dengan Bear yang punya tubuh besar dan kekar, Sean memiliki tubuh kurus, jika mereka berdua berkelahi, sudah bisa di pastikan siapa pemenangnya. Itulah kenapa Bear sama sekali tidak takut untuk bersikap menantang di hadapan Sean.
"Aku tidak sedang berusaha membuatmu berdebar" Sean menyeringai, jari telunjuknya bersiap untuk menarik pelatuk dan Bear bisa melihat kilatan mata Sean yang siap untuk membunuh.
Arti dari seringai mengerikan Sean bisa di tangkap Bear dengan baik. Tapi ia menolak untuk takut pada Sean apalagi sampai tunduk pada si pucat kurus itu. Bear hanya menegakan tubuhnya dan menunduk hormat pada Ethan, ia sadar memang seharusnya bersikap baik, karena ia di sini untuk meminta tolong.
"Apa memang begitu cara orang kaya dalam menyambut tamu, dengan todongan pistol?"
Ethan mengibaskan tangannya, menyuruh Sean untuk segera mundur.
"Kau punya waktu 15 menit untuk bicara, kau tahu aku ini sangat sibuk"
Bear memasang wajah malas, ia sangat tidak suka dengan sikap Ethan yang sombong dan merendahkan dirinya.
"Apa Chae tahu bahwa anda adalah orang yang seperti ini, di bandingkan ceo, anda lebih terlihat seperti anggota gangster, oh tidak bukan anggota tapi bosnya"
"Haruskah aku merobek mulut sialanmu itu" Sean meninggikan suaranya, ia tidak suka tuannya dikatai walaupun itu benar adanya.
"Bos gangster? Kau pasti sedang membicarakan tentang Chaerin" Ethan tersenyum.
"Kau tahu Chae seorang gangster?"
Ethan mengangguk sambil menyesap teh sorenya. Minum teh di sore hari memang sudah menjadi kebiasaannya.
"Dan kau masih menyukainya?"
Ucapan Bear hampir membuat Ethan tersedak, ia batuk beberapa kali dan dengan sigap, Sean memberikannya sapu tangan.
"Aku menyukai Chaerin?" Ethan tersenyum, ia mengucapkan kalimat itu dengan nada menyangkal.
"Tertulis jelas di dahimu"
Ethan menyentuh dahinya tanpa sadar, dan menggosok-gosoknya dengan tangan seakan memang ada sesuatu di sana.
"Apa tulisannya sebesar itu, sampai kau bisa melihatnya?" Ethan tersenyum jenaka dan menutupi matanya dengan punggung tangannya.
Ethan punya kebiasaan menutup matanya dengan punggung tangan saat ia malu.
Bear berdiri, mengacungkan jarinya tepat ke hadapan Ethan. Sean sudah bersiap untuk menyerang Bear tapi Ethan menahannya, membuat Sean menggeram marah sepeti anjing.
"Ini bukan sebuah candaan. Aku datang untuk memperingatkanmu, jika kau ingin bermain, cari wanita lain. Jika kau membuat Chae terluka, aku bersumpah akan mengulitimu dan mandi dengan darahmu"
"..........." Bear terdiam cukup lama, ia bingung harus mengatakan apa. Antara merespon ucapan Ethan, atau mengatakan tujuan sebenarnya kenapa ia datang menemui ceo Gold Medical itu.
"Aku tahu kau datang bukan untuk ini, katakan apa yang kau inginkan sebenarnya, waktuku tidak banyak" wajah Ethan kembali serius, entah kemana perginya senyum yang terukir di wajahnya beberapa detik yang lalu.
"Aku mohon padamu"
Tanpa terduga Bear menjatuhkan lututnya ke lantai, kedua tangannya di letakannya di atas paha dan kepalanya menunduk, harga dirinya sudah di buangnya jauh saat ia memutuskan untuk menemui Ethan hari ini.
"Tolong lindungi Chae, polisi masih mengejarnya sampai sekarang"
"Bukan hanya polisi, George juga masih mengejarnya" Ethan menambahkan.
"Tidak lagi"
Ethan menatap Bear dengan wajah penuh tanya, apa maksud dari perkataanya.
"Apa maksudmu dengan, tidak lagi?"
Ethan ingat betul, dirinya memerintahkan George untuk mengejar Chaerin. Bukan untuk menangkap wanita itu dan mengembalikannya ke Lady Castle, tapi hanya untuk menakut-nakutinya supaya Chaerin meminta perlindungan pada Ethan, dan Ethan bisa mengajukan syarat untuk bayaran karena sudah menolongnya.
Tapi yang terjadi tidak seperti skenario yang di rencanakan oleh Ethan. Karena sampai hari ini, Chaerin masih berjuang sendiri untuk menghindari George tanpa pernah sekalipun meminta tolong padanya.
"Aku akan membunuh si sialan itu"
Sedikit terkejut, tapi keterkejutan Ethan tidak bertahan lama, ia menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
"Aku menentang ide gilamu"
"Apa hakmu!" Bear menatap Ethan tajam.
Pria besar itu sudah memikirkannya selama berhari-hari dan keputusannya sudah bulat, ia hatus menyingkirkan George, supaya Chaerin bisa hidup dengan bebas, tanpa harus bersembunyi.
"Tidak, maksudku...."
Ethan menekna pelipisnya, ucapan Bear mmbuat kepalanya agak sakit.
Ethan memnag ingin menutup Lady Castle untuk selamanya, tapi ia butuh sedikit waktu untuk membuat hal itu terrealisasi.
Dan rencana Bear untuk membunuh George bisa membuat rencana awalnya gagal.
Karena Bear, kini kepala Ethan di penuhi oleh berbagai macam skenario baru yang lebih menguntungkan, skenario yang bisa membuat Chaerin jatuh padanya, tanpa harus membuat Bear dalam bahaya saat berhadapan dengan George, dan menutup Lady Castle, menghancurkan tempat itu membuatnya seakan-akan tidak pernah ada.
"Kau sedang mengakui niat jahatmu padaku, aku bisa saja menelpon polisi dan melaporkanmu, bagaimanapun juga membunuh seseorang itu tidaklah baik"
Ethan berusaha membuat Bear menyerah.
"Aku anggap kau menolak, jangan menyesal karena menolak permintaanku, kesempatan semacam ini tidak datang terlalu sering" Bear bangun dan bersiap untuk meninggalkan Ethan.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
Ucapan Ethan menghentikan Bear, membuat pria besar itu memiliki harapan.
"Tolong berikan identitas baru untuk Chae, lindungi dia, kau punya uang dan kekuasaan, aku yakin kau bisa melakukannya. Karena setelah aku membunuh George, orang-orang dari Gold Dragon mungkin akan mengejarnya" Bear menatap Ethan, berharap pria itu bersedia menerima permintaannya.
"Gold Dragon?" Ethan bertanya, berpura-pura bodoh, padahal ia sangat tahu apa itu Gold dragon, karena ia adalah pimpinannya.
"Itu adalah organisasi mafia, Lady Castle adalah bagian dari bisnis mereka, jangan sampai Chaerin di temukan oleh mereka, apalagi oleh GD"
"Oh itu hal mudah, tentu aku akan menjaga Chae dengan baik"
Akhirnya Ethan menyerah dan mengiyakan permintaan Bear. Ia sudah menemukan sekenario yang tepat untuk masalah ini.
Ethan menepuk-nepuk bahu Bear pelan.
Setelah bicara panjang lebar dengan Ethan, Bear memutuskan untuk pergi. Berlama-lama dengan Ethan membuatnya tidak nyaman, bagimanapun, Ethan berada di level yang lebih tinggi daripada dirinya.
Bear sudah hendak berdiri setelah berpamitan, tapi Ethan menghentikannya dengan menyebut sebuah nama.
"Austin. Sudah 20 tahun kita tidak bertemu, bukankah kita seharusnya mengobrol lebih lama"
Bear menatap Ethan kaget, selama ini dirinya di panggil dengan sebutan Bear karena kebiasaan, ia juga bahkan mengganti namanya menjadi Bear dan hanya sedikit orang yang tahu nama aslinya.
"Kau tahu nama asliku? Kau menggali informasi tentangku?" Bear menatap Ethan penuh selidik.
"Tentu saja tidak, sejujurnya kita sudah saling mengenal sejak lama, aku akan memberitahumu siapa aku sebenarnya"
_________________________________________________
Behind the scane saat Bear sudah pergi.
Sean: tuan, Anda bersedia menolong si beruang besar itu karena Chaerin?
Ethan: (mengangguk)
Sean: Anda serius akan menikahinya?
Ethan: (senyum, mengangguk mantap)
Sean: Anda akan tidur dengannya? (Wajah bingung, polos)
Ethan: (ternganga, bingung harus menjawab apa)
Sean: kalian akan melakukan ****?
Ethan: darimana kau mempelajari kata itu?! Kau masih terlalu muda untuk tahu! (Meninggikan suara, gelagapan)
Sean: saya sudah dewasa, umur saya sudah 21 tahun, di buku bilang rata-rata orang sudah melakukannya pada usia 17? Saya juga ingin coba melakukannya. (Wajah polos - goblok lebih tepatnya)
Ethan: (menjerit) jangan lakukan, berikan padaku buku yang kau baca itu, aku akan membakarnya! Jangan menjadi dewasa terlalu cepat!
Sean: (masih dengan wajah polos) tapi sepertinya menyenangkan.
Ethan: menjadi dinosaurus jauh lebih menyenangkan (mengalihkan pembicaraan)
Sean: dinosaurus (berbinar)
Ethan: ya ya ya ayo, aku akan membelikanmu dinosaurus (menarik tangan Sean)
Sean: apa lehernya panjang? (bersemangat)
Ethan: ya
Sean: apa taringnya tajam?
Ethan: ya
Sean: apa tanduknya ada 10
Ethan: ada 100
Sean: waaaahhhhh (berbinar)
__ADS_1
Christopher mengintip di balik pilar.
Chris: aku seharuany tidak memberikan buku itu (takut ketahuan Ethan)