
Ethan menyentuh kepalanya yang agak pusing. Di paksakan tubuhnya untuk bangun melihat ke sekeliling, walaupun masih agak samar.
"Aku datang untuk menemui Chaerin" gumamnya pelan. "Dan dimana dia sekarang?"
Baru saja Ethan ingin mengalihkan pandangannya ke samping, sebuah pukulan keras menghantam kepalanya, membuatnya meringis kesakitan.
Chaerin berdiri sambil berkacak pinggang, ia melototi Ethan tajam dengan matanya yang membengkak, dan kantung mata beserta lingkaran hitam yang membuatnya terlihat seperi zombie.
"Kau berani memukulku?" Ethan segera berdiri dan balik menatap Chaerin tak kalah tajam.
Tapi sekali lagi Chaerin memukul Ethan, dan di tambah sebuah tendangan.
"Ku pikir kau akan mati sialan!" Chaerin berteriak frustasi sambil terus memukuli Ethan.
Ethan menahan tangan Chaerin dengan sisa tenaga yang di milikinya.
"Hentikan, aku mungkin akan balas memukulmu jika kau terus begini!"
Ucapan Ethan berhasil membuat Chaerin diam dan menghentikan pukulannya.
Ethan masih memegangi tangan Chaerin, di lihatnya buku-buku kedua tangan wanita itu terluka. Ethan memandang Chaerin menuntut penjelasan.
"George masih memukulimu?"
"Ini karnamu sialan! Kau datang ke sini dalam keadaan mabuk lalu pingsan, kau terkena demam dan tubuhmu berkeringat, sampai aku harus mengganti pakaianmu, aku juga berjaga semalaman, memastikan tubuhmu tetap hangat dengan selimut, aku bahkan melepas kain gorden karena selimut yang ku punya sangat tipis, setiap 10 menit aku mengganti kompres di dahimu, aku memanggil seseorang yang ada di luar untuk membuka pintu tapi tidak ada yang menghiraukan, aku mencoba mendobrak pintu tapi gagal, aku juga tidak tidur semalaman, dan sekarang kau bilang kau akan balas memukulku! kenapa kau tidak mati saja bodoh!"
Chaerin menumpahkan seluruh kekesalannya pada Ethan, dan Ethan hanya bisa menyimak tanpa bisa berkata-kata. Sepertinya ia sangat merepotkan tadi malam. Dia juga memerintahkan George untuk tidak membuka pintu apapun yang terjadi kecuali atas perintahnya.
"Aku hanya memintamu untuk berhenti, aku tidak akan benar-benar memukulmu" Ethan tertunduk dengan penuh rasa penyesalan.
Chaerin berdecak kesal dan berjalan menjauhi Ethan.
"Pergi dari sini sekarang" ucap Chaerin ketus. Ia mengacungkan jari telunjuknya ke arah pintu.
"Maafkan aku"
"Ku bilang kau harus pergi!"
"Aku benar-benar minta maaf"
"Apa kau tuli?! Apa hanya kata maaf yang di ajarkan ibumu padamu? Hentikan permintaan maaf yang tidak ada gunanya itu dan keluar dari sini!" Chaerin berada di puncak amarahnya, bahkan ucapan pelan Ethan sangat mengusik baginya.
Hatinya terasa sangat sakit saat mendengar ancaman dari Ethan yang tak jauh berbeda dari pria lain yang menganggapnya rendah.
"Ibu? orang tuaku menjualku saat berusia 5 tahun dan aku terpaksa bekerja di tambang bawah tanah" Ethan kembali menunduk dan air mukanya berubah.
"Apa menurutmu cerita yang menyedihkan akan membuatku kasihan padamu huh?"
"Apapun yang aku katanya tidak akan bisa membuatmu memaafkan ku dengan mudah kan?" Ethan tersenyum getir.
Ethan berjalan melewati Chaerin, dan menuju pintu.
"Buka pintunya" Ethan hanya berucap pelan dan pintu langsung terbuka.
"Pintu itu bahkan tidak bergerak saat aku berteriak" ucap Chaerin sinis.
"Saat keadaanku sudah cukup sehat, kau bisa memukuliku lagi, sepuasnya"
"Pergi sana sialan, jaga kesehatanmu dengan baik, dan jangan pernah datang ke sini lagi untuk merepotkanku"
"Aku berjanji padamu, aku tidak akan merepotkanmu, aku tidak akan sakit, aku bahkan aku tidak akan mati tanpa seijinmu" ucapan Ethan yang hanya di balas senyum menghina oleh Chaerin.
"Terima kasih karena sudah menjagaku, aku akan kembali lagi ke sini menemuimu secepatnya"
Ethan berjalan mendekati Chaerin, membentangkan tangannya untuk memeluk wanita itu.
"Jangan menyentuhku, kecuali kau ingin tanganmu ku patahkan"
Ethan menghentikan langkahnya dan terkekeh pelan.
Chaerin adalah wanita pertama yang membuatnya tak berkutik, wanita pertama yang berani memukulnya, dan wanita pertama yang menolaknya. Dan juga wanita pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta, sampai sebesar ini.
Membuatnya meninggalkan wanita kaya dan berlari menemuinya karena merasa bersalah.
"Aku mencintaimu"
__ADS_1
Ucapan Ethan seketika membuat Chaerin ternganga, dia bahkan tidak sadar saat Ethan mendekat dan berhasil mencuri sebuah ciuman darinya.
Chaerin menatap kepergian Ethan masih dengan mulutnya yang ternganga, jiwanya pasti sedang terbang ke suatu tempat karena terlalu senang.
*
Ethan kembali kerumahnya di temani oleh Sean.
Dengan panik, Christopher berlari menghampiri tuannya yang terlihat sangat kacau.
Kemarin malam tuannya pergi dari rumah dalam keadaan rapi, memakai pakaian mahal dan sepatu yang bagus.
Tapi sekarang ia melihat tuannya datang tanpa alas kaki, tampilannya sangat berantakan dan pakaiannya berganti dengan baju kaos longgar berwarna jingga yang terlihat murahan.
"Anda tidak apa-apa tuan?"
"Dia demam, saya sudah memanggil dokter dan sedang menuju kemari" pertanyaan Chris langsung di jawab oleh Sean. Dia tahu tuannya sedang tidak sehat dan tidak mungkin untuk mengajaknya bicara sekarang.
"Chris, kenapa kau menghalangi ku untuk pergi kemarin malam?"
Ethan menatap Christopher, bukan tatapan marah seperti kemarin, tatapan matanya yang sekarang tidak bisa di artikan oleh pria tua itu.
"Maafkan saya karena sudah lancang pada anda tuan, saya hanya khawatir" ucap Christopher menunduk.
"Kenapa kau khawatir padaku?"
"I...iiitu" Christopher terlihat bimbang untuk mengatakannya.
"Katakan, supaya aku bisa istirahat, aku lelah berdiri seperti ini"
"Mungkin ini terdengar tidak pantas, tapi, anda adalah orang yang berharga bagi saya, anda sudah seperti anak saya sendiri, saya tidak ingin anda sakit atau terluka, itu akan membuat saya gelisah sepanjang waktu"
Ethan tersenyum puas atas jawaban Christopher.
"Berarti dia juga menganggapku berharga" Ethan membayangkan wajah Chaerin saat wanita itu sedang marah.
"Siapa?" Chris di buat bertanya-tanya dengan ucapan tuanya, Sean juga memasang telinganya baik-baik bersiap mendengar jawaban Ethan.
"Emmm maksudku............" Ethan memutar otaknya, mencoba untuk mencari jawaban, tidak mungkin dia akan menyebutkan nama Chaerin.
"Iya, saya juga menganggap anda sangat berharga tuan" Sean menggaruk-garuk keningnya, sambil melemparkan tatapan penuh tanya pada Christopher.
"Aku akan istirahat di kamar"
Ethan terburu-buru menaiki tangga untuk menuju kamarnya, tanpa ia sadari ada dua pasang mata yang memandanginya dengan tatapan heran.
"Apa terjadi sesuatu padanya akhir-akhir ini?" Christopher menatap Sean, berharap pria itu bisa memberikan jawaban padanya.
"Entahlah, tapi sikapnya sangat aneh, dia sering melamun dan tersenyum sendiri, kadang membuat saya khawatir, saya rasa mungkin tuan kerasukan hantu" Sean mengerutkan keningnya, tanda bahwa dia juga mempertanyakan hal yang sama.
"Hantu mana yang berani memasukinya! Dia bahkan lebih menyeramkan. Ku harap dia baik-baik saja" Christopher berbalik dan beranjak menuju dapur, tapi sesaat kemudian dia menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Sean, ayo kita sarapan, Lia baru selesai membuat pancake dengan toping buah-buahan" Chris menyebutkan nama seorang koki yang bertugas di dapur untuk memasak.
"Saya lebih suka jika toping ice cream"
"Ayo anak nakal, jangan pilih-pilih dengan makananmu"
Christopher menarik telinga Sean, dan membawa pria malang itu ke dapur, diiringi rintihan dari Sean.
Christopher juga sama perhatiannya kepada Sean, ia menganggap Sean sebagai anak bungsunya.
*
"Dia baru bangun tidur dan rambutnya masih berantakan, manis sekali" Ethan bergumam sambil melihat layar handphonenya yang memperlihatkan wajah Chaerin yang baru bangun tidur.
Ethan secara diam-diam memerintahkan George untuk memasang kamera di kamar Chaerin. Itu memang pelanggaran privasi berat, tapi Ethan harus melakukannya.
Dia tidak tahan untuk tidak melihat wajah Chaerin bahkan sehari saja, wanita itu sudah membuatnya seperti orang gila.
Sudah satu minggu Ethan menahan dirinya untuk tidak bertemu dengan wanita itu.
Ada banyak sekali pekerjaan yang membuatnya sibuk setiap harinya, bahkan dia tidak punya waktu untuk tidur. Dan lagi Gold Medical sedang berada dalam masalah, membuatnya harus fokus untuk menyelesaikan masalah itu sesegera mungkin.
"Tunggu sebentar lagi, dan aku akan membawamu pulang"
__ADS_1
Ethan kembali menyimpan handphonenya di dalam kantung dan mulai kembali bekerja.
Tumpukan kertas berisi data keuangan perusahaan berhamburan di atas meja.
Ethan di buat kebingungan dengan pendapatan perusahaan yang semakin lama semakin tidak stabil, dan lagi banyak pengeluaran yang tidak masuk akal.
Gold Medical berencana membuka cabang di luar negri, dan gedung baru sedang di bangun dan hampir selesai. Tapi terjadi kecelakaan yang membuat gedung setinggi 20 lantai dengan pondasi besi itu rubuh, menewaskan belasan pekerja proyek.
Harga saham Gold Medical langsung terjun bebas, dan Ethan harus membayar ganti rugi kepada keluarga korban yang jumlahnya tidak sedikit. Ethan kehilangan banyak uang hanya dalam waktu beberapa jam.
Kontraktor yang mengerjakan pembangunan gedung cabang itu menghilang entah kemana, belakangan di ketahui bahwa mereka memakai bahan murah berkualitas rendah untuk membangun gedung itu, pantas saja gedungnya tidak bisa berdiri tegap untuk waktu yang lama.
Polisi juga sudah melakukan pencarian terhadap kontraktor tersebut tapi belum juga membuahkan hasil selama satu minggu terakhir ini. Polisi memang tidak pernah bisa di andalkan untuk pekerjaan seperti ini.
Sekarang Ethan harus menghadapai para pemegang saham, mereka menyalahkan Ethan atas kejadian yang bahkan tidak diinginkannya itu.
Banyak dari pemegang saham yang menjual saham mereka, takut jika harga saham terus merosot dan membuat mereka merugi.
Belum lagi para masyarakat juga menghakiminya secara kejam, seakan lupa dengan seribu kebaikan yang pernah di berikan Ethan untuk mereka.
Kekacauan yang terjadi ini, cukup untuk membuat Ethan tidak bisa bergerak dari kantornya.
"Siapapun yang ingin menjual sahamnya, beli dengan harga tertinggi. siapapun yang ingin menarik investasinya, biarkan mereka. Setelah mereka puas, aku akan membalik keadaan dan membuat mereka mengemis padaku"
Ethan melemparkan tumpukan kertas-kertas berisi deretan angka yang di pegangnya kelantai dengan kasar.
Sean hanya tertunduk tidak berani menatap tuannya yang sedang marah besar. Sean yang sedari tadi asik bermain dengan boneka dinosaurus nya langsung menegakan punggung.
Sean sebelumnya sudah menyadari ada yang salah dengan pembangunan cabang baru, tapi ia mengabaikannya, ia merasa itu bukan hal penting untuk di selidiki lebih lanjut, dan lagi tidak ada perintah dari Ethan yang mengharuskannya mengurus masalah itu. Lagipula Ethan punya banyak karyawan berpendidikan tinggi yang jauh lebih bisa di andalkan di banding Sean yang hanya seorang maniak angka.
"Saya sangat menyesal tuan"
"Cari cecunguk yang berani mencuri dariku, buat dia membayar semuanya. Atau kau yang akan membayarnya, mata, hati, jantung, ginjal, semuanya akan ku tarik keluar untuk mengganti segala kerugianku"
Sean mengangguk paham, wajahnya menunjukan rasa penyesalan yang sangat besar.
"Jika aku tahu, aku akan mengawasinya dengan ketat" Sean membuang napasnya kasar.
"Tuan, ini telpon dari Ronan"
Ethan sudah hampir tertidur di atas kursi malasnya, tapi Sean mengganggunya hanya untuk sebuah telpon, padahal ini adalah tidurnya setelah 2 hari.
Ethan merebut handphone yang di pegang Sean dengan kasar.
"Aku bersumpah akan membunuhmu jika kau meneleponku untuk suatu hal yang tidak penting"
Ancaman Ethan membuat Ronan yang memegang gagang telpon di sebrang sana gemetar.
Ronan sangat sadar bahwa dalam keadaan sepeti ini tuannya pasti sangat sensitif, tapi ia meyakinkan dirinya bahwa ia akan baik-baik saja, karena apa yang akan di sampaikan nya adalah hal yang cukup penting.
"Seorang pelanggan dari China bernama Xiao Feng Yan ingin kita memberikan sampel, ia berkata akan membeli dari kita dalam jumlah besar jika memang barang yang kita miliki berkualitas bagus, ia juga ingin melakukan transaksi dengan anda secara langsung tanpa perantara"
Ethan berfikir sejenak, mencoba mencerna ucapan Ronan. Ethan selalu memakai perantara setiap kali melakukan transaksi, ia selalu menjaga dirinya menjadi bayangan di belakang dan membiarkan para anak buahnya yang melakukan segalanya.
Orang-orang yang melakukan transaksi dengannya hanya mengetahui namanya "GD" tanpa pernah melihat wajahnya. Menutupi identitasnya adalah hal penting bagi Ethan, tapi keadaan yang kacau pada saat ini membuatnya berfikir ulang.
Perusahaannya sedang di landa malasah besar dan ia kehilangan banyak uang. Penjualan narkoba dalam skala besar pasti bisa menyelamatkannya.
"Haruskah saya menolak penawarannya?"
Ronan yang tidak sabar menunggu respon dari Ethan kembali buka suara dengan hati-hati.
"Berikan sampelnya malam ini padanya, dan suruh dia membawakanku uang untuk pembayaran penuh besok, aku akan memberikan barangnya langsung padanya, tidak ada tawar menawar"
"Baik tuan, saya akan menyampaikan pesan anda"
"Bawakan ia 1 ampul sebagai sampel, itu sangat berharga jadi berhati-hatilah, atau kau harus menggantinya dengan nyawamu"
Ethan menutup telpon sebelum Ronan sempat membalas perkataannya.
Ethan kembali bersandar ke kursi dan mencoba untuk tidur kembali.
"Biarkan saya yang pergi tuan, anda tidak boleh menunjukan wajah anda, apalagi dalam situasi seperti ini, anda akan langsung menjadi sorotan"
"Cari tahu tentang Xiao Feng Yan, dan aku akan menyusun rencana" Ethan mengibaskan tangannya menyuruh Sean segera menyingkir dari hadapannya.
__ADS_1