
Chaerin menatap nanar ke arah pembatas kaca tungku kremasi. Wajahnya terlihat lesu, ia sudah tidak tidur selama berhari-hari, mata indahnya kini terlihat sayu, ia sudah kehilangan semangat hidupnya.
Sudah seminggu berlalu dan mayat pelaku penyerangan di Lady Castle sudah di indentifikasi, dan benar itu adalah Bear. Chaerin yang merasa kematian Bear sangat mendadak tidak bisa menerima kepergian sahabat sekaligus anak buahnya itu dengan ikhlas.
Ia bahkan harus di rawat di rumah sakit selama beberapa hari karena syok yang di alaminya ketika melihat Bear berada di kamar mayat rumah sakit dengan tubuh kaku nan dingin.
Dokter berkata bahwa Bear meninggal saat perjalanan menuju rumah sakit dan tidak bisa berbuat banyak. Chaerin mencaci maki dokter yang bertugas karena tidak datang lebih cepat untuk menyelamatkannya.
Chaerin hampir separuh gila, dirinya mengamuk di rumah sakit lalu jatuh pingsan setelahnya. Chaerin tahu, jika Bear selamat, pria itu juga harus menerima sanksi hukum akibat perbuatannya dan berakhir di penjara. Tapi itu jauh lebih baik dari pada berakhir di tungku pembakaran, paling tidak Chaerin masih bisa melihat wajahnya dan mengunjunginya setiap Minggu.
Ethan juga tidak bisa berbuat banyak, selain melakukan gugatan supaya bisa membawa pulang mayat Bear untuk bisa melakukan pemakaman yang layak. Ethan mengaku bahwa Bear adalah mantan pegawainya dan ia tinggal sendirian dan tidak memiliki keluarga, Ethan bersikeras tidak ada satupun yang lebih layak untuk membawanya pulang kecuali dirinya.
"Kau bisa menyimpan abunya"
Ethan menyentuh bahu Chaerin dan berbicara pada wanita itu, tapi Chaerin tidak bereaksi, matanya tetap tertuju pada tungku kremasi, tanpa memalingkan wajahnya menghadap Ethan.
"Semuanya salahku, dia tidak seharusnya terlibat dalam urusanku" Chaerin berucap parau, ia hampir kehilangan suara, tenggorokannya terasa sakit karena berteriak dan menangis berhari-hari.
Air matanya juga sudah kering, tidak tersisa barang setetspun.
"Bukan salahmu" Ethan mencoba menenangkan Chaerin yang mulai berfikiran buruk terhadap dirinya sendiri.
"Kau benar ini bukan salahku" Chaerin memandang Ethan dengan mata bengkaknya.
"Ini salah GD, aku akan menemukan si sialan itu dan membunuhnya, akan ku buat dia membayar semua yang sudah di lakukan nya padaku dan Bear, akan ku hancurkan GD berseta Gold Dragon dan seluruh anak buahnya, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri" Chaerin menatap Ethan tepat di manik matanya dengan tatapan berapi-api penuh amarah.
Ethan menelan ludah saat mendengarkan satu persatu kata yang di ucapkan oleh Chaerin. Semua ancaman yang di lontarkan oleh wanita itu tidak lain dan tidak bukan, di tujukan untuk dirinya.
Ethan merasa hatinya sangat gelisah, dirinya khawatir suatu hari nanti Chaerin akan mengetahui bahwa dirinya sebenarnya adalah pimpinan Gold Dragon. Ethan tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Chaerin, wanita itu pasti akan sangat membencinya lebih dari apapun.
Chaerin kembali menatap tungku kremasi.
Ethan melonggarkan dasinya, ia merasa tiba-tiba udara menjadi sangat panas dan mencekik baginya. Ia sangat menyesal karena sudah membuat Chaerin bekerja di Lady Castle sebelumnya.
*
Suara pecahan piring menggema. Dapur yang tadinya tenang sekarang porak poranda seperti di terpa angin topan. Panci dan penggorengan berhamburan, pisau-pisau beserta garpu tertancap di dinding kayu pembatas ruangan, dan pecahan dari piring dan gelas berserakan di lantai.
Seluruh pelayan di buat ketakutan. Christopher yang juga berada di dapur bahkan tidak bisa menghentikan kegilaan Ethan, saat tuannya itu melemparkan berbagai macam barang untuk melampiaskan amarahnya.
Di sudut dapur, Sean dengan santai memakan dosisnya tanpa terganggu dengan ulah Ethan sedikitpun.
Sean punya pikiran polos dan sangat sederhana. Selama Ethan tidak marah padanya, itu artinya ia tidak perlu merasa takut dan melanjutkan aktivitasnya seperti biasa.
"Kalian tidak bisa membuat makanan yang enak? Atau aku telah salah mempekerjakan orang-orang macam kalian??" Teriakan Ethan membuat semua orang tertunduk.
Butuh waktu hampir satu menit untuk membuat seseorang menjawab pertanyaan Ethan, itupun dengan memantapkan hati dan keberanian penuh untuk segala kemungkinan yang akan terjadi saat ia mulai membuka mulut.
"Nona Chae, sama sekali tidak menyentuh makanannya, kami sudah berusaha, apapun yang kami masak semuanya di tolak" Lia kepala koki di kediaman Ethan akhirnya buka suara, melawan rasa takutnya, walaupun dengan tangan bergetar dan ucapan terbata.
"Itu sebabnya aku menyuruh kalian untuk memasak makanan yang lezat, apapun itu, buat dia makan!"
Sekali lagi, Ethan melemparkan piring ke lantai, membuat semua orang yang ada di sekitarnya tersentak kaget, itu adalah piring terakhir yang ada di dapur. Christopher harus bersiap untuk berbelanja perlengkapan dapur lagi setelah sekian lama.
Ethan membuang napasnya, ia merasa sangat marah, sekaligus sedih.
Chaerin sudah tidak makan berhari-hari, dan itu membuat Ethan sangat khawatir, yang berujung menjadi rasa marah. Tapi ia juga di buat sedih karenanya. Baru kali ini Ethan melihat Chaerin begitu putus asa, seperti tidak ada lagi harapan di hadapannya.
Bahkan dengan mudahnya Chaerin menandatangani surat pernikahan mereka, tanpa melihat ataupun membacanya terlebih dahulu.
__ADS_1
Sebenarnya itu menjadi keuntungan bagi Ethan, ia tidak harus bersusah payah memaksa Chaerin untuk menandatangi surat itu, yang saat keadaan normal tidak mungkin di tandatangani oleh Chaerin, bahkan mungkin wanita itu akan langsung merobek atau membakarnya.
Ethan melangkah keluar dari dapur untuk menuju kamar Chaerin, ia sudah hampir gila karena melihat Chaerin yang begitu depresi. Mungkin ia harus membawa Chaerin mengunjungi psikiater, hanya untuk berjaga kalau-kalau depresinya semakin menjadi dan berubah menjadi penyakit kejiwaan.
Ethan membuka pintu kamar Chaerin perlahan. Dilihatnya Chaerin masih duduk bersandar di atas tempat tidur, matanya tertuju pada televisi yang entah menyala sejak kapan.
Chaerin menatap kosong tv yang menampilkan layar statis berupa bintik-bintik berwarna keabuan.
Ethan perlahan duduk di sisi tempat tidur sambil memandangi Chaerin yang bagaikan orang mati.
"Ada sesuatu yang kau inginkan?" Ethan bicara perlahan.
"Bisa kau bawa GD padaku supaya aku bisa membunuhnya" Chaerin menjawab lemah.
"Bagaimana bisa aku membawanya padamu, aku bahkan tidak tahu siapa itu GD" Ethan berbohong.
"Kalau begitu, tidak ada yang aku inginkan"
"Ikut denganku"
Ethan menarik tangan Chaerin, dan dengan sangat terpaksa Chaerin mengikuti arah tarikan Ethan.
Ia sebenarnya tidak ingin pergi ke manapun, ia lebih memilih berdiam diri di ruangan gelap sendirian, untuk merenung lebih lama, tentang apa yang dulu terjadi, sekarang, dan selanjutnya. Kejutan apalagi yang akan di berikan oleh Tuhan kepadanya. Siapa lagi yang akan menghilang dari kehidupannya, dan berapa banyak dendam yang harus di balasnya.
Chaerin tersandar lesu ke jok mobil Limosin yang membawanya entah kemana. Ia terlalu tidak perduli untuk bertanya. Chaerin sudah pasrah apapun yang kan terjadi selanjutnya, lagi pula selama 30 tahun hidupnya, tidak ada satupun hal baik yang terjadi. Mungkin ia sudah di takdirkan lahir dengan kesialan yang tertanam dalam DNA-nya.
"Aku lebih senang melihatmu marah, daripada diam sepeti ini" Ethan memandang Chaerin yang ada di sebelahnya, tapi wanita itu tidak membalas, tatapan mata kosongnya masih saja menatap lurus ke depan.
"Kau mendengarku?"
"Ya"
Jawaban singkat Chaerin membuat Ethan menyerah untuk bicara lebih banyak. Lagipula Chaerin hanya kan mengabaikannya sebanyak dan semenarik apapun hal yang ia bicarakan.
Chaerin tidak menyangka bahwa Ethan akan membawanya ke rumah sakit.
Chaerin bisa membaca dengan jelas plang nama Gold Hospital yang tertera di depan gedung dengan huruf kapital berwarna hijau dipadukan dengan warna hitam dan logo Gold Medical berwarna emas, menandakan rumah sakit itu adalah bagian dari Gold grup milik Ethan.
Chaerin hanya berfikir mungkin Ethan akan menempatkannya di rumah sakit kembali, karena keadaannya yang memburuk akibat tidak makan dengan baik.
Chaerin tahu ia harus makan, tapi ia sama sekali tidak bernafsu, dirinya bahkan tidak merasa kelaparan walaupun tidak makan selama berhari-hari.
Ethan sampai harus mempekerjakan dokter dan perawat khusus untuk menjaga Chaerin di rumah. Memasangkan infus dan juga menyuntikan vitamin sebagai pengganti makanan. Tapi Chaerin tidak bisa selamanya hidup mengandalkan infus, ia harus makan makanan yang sebenarnya.
Dengan pasrah Chaerin mengikuti Ethan yang berjalan masuk ke dalam rumah sakit, dua orang bodyguard mengawalnya di belakang untuk memastikan dirinya tidak berusaha kabur.
Chaerin mendesah pelan, ia tidak ada niat untuk kabur sedikitpun, ia terlalu lemah bahkan hanya untuk memikirkannya.
Dokter, perawat dan juga para staf rumah sakit yang berpapasan dengan Ethan menunduk hormat, Ethan membalas mereka dengan senyuman. Ethan harus menjaga imagenya sebagai pria yang baik di hadapan semua orang, itulah kenapa ia tetap memaksakan untuk tersenyum padahal dirinya tidak ingin.
Mereka memasuki lift dan sampai di lantai 12, lantai khusus untuk para pasien vvip yang mempunyai banyak uang.
Entah itu penyakit yang berat, ataupun penyakit ringan, atau mungkin juga mereka hanya malas dan ingin berbaring seharian tanpa di ganggu, lantai 12 Gold Hospital adalah tempat yang tepat.
Baru saja mereka masuk, Chaerin di buat takjub dengan interior rumah sakit yang bak hotel bintang lima, desain interiornya di buat sangat mewah dengan warna Gold yang mendominasi, persis seperti selera Ethan yang sangat menyukai warna Gold.
Warna Gold melambangkan kejayaan, kekayaan, prestasi, kesuksesan, kemewahan, kemenangan, kemakmuran dan pencapaian yang besar. Semua itu sangat cocok dengan Ethan yang punya segalanya.
Seorang dokter menghampiri Ethan dan langsung mengambil posisi di sebelahnya, di nametag yang tergantung di lehernya, tertulis nama Lim Cun Kia berserta pas foto berlatar biru di atasnya.
__ADS_1
Dokter Lim menyerahkan laporan rekam medis pada Ethan yang masih berjalan cepat menuju suatu tempat. Sedangkan Chaerin masih berjalan di belakang mengekori kemanapun Ethan pergi.
"Tidak ada perkembangan?" Ethan menatap tajam dokter Lim, pertanda bahwa ia mengharapkan hal yang lebih baik terjadi.
"Dia koma, sangat mustahil untuk membuatnya bangun kembali, tapi saya akan bekerja keras untuk melakukan yang terbaik" ucap dokter Lim dengan percaya diri.
"Kerja keras tanpa hasil, itu adalah hal yang sia-sia" Ethan melempar rekam medis yang di pegangnya kepada dokter Lim, dan dengan sigap dapat di tangkap perempuan muda itu, walaupun hampir saja tergelincir dari tangannya.
"Maaf tuan saya tidak bisa menjanjikan hasil" dokter Lim menunduk untuk meminta maaf, tapi Ethan tidak peduli.
Seorang penjaga pintu menekan tombol di pinggiran pintu kaca sebuah ruangan dan membuat pintu itu bergeser terbuka.
Ethan berbalik kebelakang dan meraih tangan Chaerin. Di tatapnya wanita di hadapannya itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh Chaerin, terlihat seperti tatapan mata yang sedih penuh penyesalan, tapi juga terlihat seperti seorang yang patut untuk di kasihani.
Ethan menarik Chaerin memasuki ruangan yang terlihat sangat asing baginya, di bandingkan dengan rumah sakit biasa, ruangan tersebut lebih terlihat seperti laboratorium di film-film fiksi, dengan banyak sekali peralatan.
Di sudut ruangan, Chaerin melihat hospital bed, dan ada seseorang yang terbaring di atasnya di tutupi selimut setengah badan. Di tubuhnya di tempeli berbagai macam alat yang terhubung dengan kabel. Chaerin sendiri tidak tahu apa fungsi dari alat-alat tersebut, ia hanya memperhatikan dan berfikir Ethan juga mungkin akan memakaikan alat-alat tersebut padanya.
Chaerin awalnya sama sekali tidak perduli, siapa dan kenapa orang tersebut sampai bisa berada di rumah sakit dan di rawat dengan penanganan yang bisa di bilang sangat berlebihan ini.
"Mungkinkah Ethan sedang melakukan eksperimen rahasia, dan sekarang aku akan di jadikan kelinci percobaanya?" Chaerin menciptakan kisah gila di dalam kepalanya.
"Sebenarnya aku tidak ingin menunjukan ini padamu, aku ingin memberimu kejutan saat ia sudah sadar, tapi melihatmu sedih membuatku hampir gila. Jadi mulai sekarang, kau harus hidup dengan baik, makan yang banyak, tidur yang nyenyak dan perlakukan dirimu sendiri dengan layak, bisa kau berjanji padaku?"
Ethan menggenggam bahu Chaerin sambil menatap wanita itu lekat-lekat, membuat Chaerin kebingungan, apa yang di maksud oleh Ethan.
Ethan menuntun Chaerin mendekat ke hospital bed yang ada di hadapannya, supaya ia bisa melihat dengan jelas, siapa yang terbaring di ranjang berukuran 1x2 meter itu.
Chaerin membulatkan matanya, di tutupnya mulutnya yang ternganga dengan kedua tangannya. Ia hampir tidak bisa percaya dengan apa yang di lihatnya. Bear berbaring di ranjang dengan mata tertutup, tapi Chaerin tahu pria itu pasti masih hidup.
Chaerin melihat ke arah Ethan dan Bear secara bergantian berkali-kali, ia tidak tahu harus berbuat apa, dirinya sangat terkejut dan senang di waktu yang bersamaan.
Chaerin sudah ingin memeluk Bear tapi Ethan menarik wanita itu menjauh.
"Kau tidak boleh menyentuhnya" wajah serius Ethan membuat Chaerin terdiam.
"Aku tidak boleh menyentuhnya?"
"Ia tertembak tepat di jantung, dia sudah melakukan transplantasi jantung tapi keadaannya tidak juga membaik, jadi sekarang ia bertahan hidup dengan jantung buatan, dia koma, jadi berdoa saja ada keajaiban dan dia bisa bangun"
Chaerin mengangguk paham dengan wajah lugu, seakan dia adalah seekor kucing yang sangat penurut.
"Aku tidak boleh menyentuhnya, tapi apa aku boleh menyentuhmu?"
Belum lagi Ethan menjawab, Chaerin sudah lebih dahulu mendekat dan memeluk Ethan erat, tanpa menyisakan ruang sedikitpun di antara mereka.
Chaerin merasa nyaman menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ethan, ia bisa mendengar degup jantung Ethan yang semakin kencang mengetuk-ngetuk dada pria itu.
"Entah apa yang kau lakukan sampai Bear bisa berada di sini, terima kasih banyak"
Chaerin lebih mengeratkan pelukannya pada Ethan. Sedangkan Ethan mati-matian menahan detakan jantungnya yang menggila. Jantungnya seakan sedang berusaha mendobrak keluar dari rongga dadanya. Ethan tidak pernah berfikir bahwa hanya dengan pelukan Chaerin bisa membuat dirinya tak berdaya.
Ethan mendorong Chaerin menjauh, ia bisa benar-benar mati jika Chaerin memeluknya lebih lama, jantungnya harus di tenangkan terlebih dahulu.
Chaerin menatap Ethan kebingungan, dirinya merasa di tolak, padahal sebelumnya Ethan menyatakan cinta padanya dan memintanya untuk menikah.
"Jantungku, kau bisa membunuhku" ucap Ethan terbata, setelah ia melihat raut wajah kecewa Chaerin.
"Astaga, kau juga pernah seperti ini sebelumnya, kau benar-benar punya penyakit jantung? Pantas saja detakan jantungmu sangat kencang dan tidak beraturan" Chaerin berucap dengan polosnya.
__ADS_1
"Ya" Ethan hanya merespon Chaerin dengan satu kata, tapi senyum di wajahnya sudah bisa mengartikan segalanya.
Dirinya sangat senang melihat Chaerin yang tidak lagi diam seperti zombie, ia sudah kembali menjadi Chaerin yang banyak bicara.