BOYFRIENEMY

BOYFRIENEMY
BERTEMU KEMBALI


__ADS_3

Situasi seperti ini tidak pernah di bayangkan oleh Chaerin sebelumnya.


Keputusannya untuk kembali ke negara ini adalah sebuah kesalahan besar.


Sejak Ronan meninggal dua tahun yang lalu, Chaerin merasa tidak ada gunanya lagi ia terus bertahan tinggal di jepang, apalagi ia memasuki jepang secara ilegal bersama dengan Inguk.


Beruntung saat kapal yang di tumpanginya tenggelam, ia sudah lebih dulu menurunkan sekoci dan kabur.


Semua orang di dunia ini pasti berfikir bahwa ia dan Inguk sudah mati.


Chaerin sebenarnya sama sekali tidak ingun kembali ke negara asalnya, di mana Ethan berada.


Tapi akan lebih mudah baginya kembali ke tempat dimana ia punya identitas yang jelas. Ia juga ingin anaknya bisa masuk sekolah dan tumbuh seperti anak-anak lainnya, bukan hanya berada di rumah dan bermain dengan lumpur dan pasir di halaman.


Jika di kehidupan ini hidupnya sangat sengsara dan menyedihkan, ia tidak ingin menurunkan itu pada anaknya. Chaerin ingin Maple menjadi kebalikan dari dirinya yang kacau.


Sebelum pindah kembali ke sini, Chaerin sudah mengantisipasi segalanya. Ia memakai identitas lamanya sebagai Chaerin, bukan dengan identitas baru yang di berikan oleh Ethan sebagai Clara Zie. Ia yakin tidak akan ada yang mengeceknya.


Ia juga bukannya tinggal di kota besar, hanya kota kecil yang jauh dari ibukota. Untuk sampai ke sana memerlukan waktu 4 jam dengan mobil dan setengah jam menyerang menggunakan kapal. Maple bahkan harus naik kapal setiap hari untuk bisa pergi kesekolah, bersama puluhan anak lain.


Chaerin membuka bar kecil, mencoba mencari penghasilan dari sana, supaya ia tetap bisa bertahan hidup dan memenuhi semua kebutuhan Maple.


Ia bisa saja kembali ke pekerjaan lamanya sebagai gengster. Membuka kembali bisnis peminjaman uang ilegal dengan bunga setinggi langit dan mencongkel keluar bola mata dan juga ginjal mereka ketika mereka tidak bisa membayar kembali.


Tapi itu adalah pilihan yang akan ia ambil jika ia tidak memiliki Maple.


Saat ia memiliki Maple, prioritas utamanya berubah, dari yang tadinya hanya memikirkan uang, menjadi pikiran kolot tentang bagaimana ia bisa mendidik anaknya menjadi anak yang baik.


Chaerin sudah kembali ke rumah, ia tahu pasti Ethan akan membawa Maple ke kediamannya, tapi pikiran warasnya menahannya untuk sedikit bersabar, terlalu tergesa-gesa bukanlah hal yang tepat untuk di lakukan.


Satu hal yang ia tahu pasti, Ethan tidak akan pernah menyakiti Maple, karena Ethan sangat menyukai anak-anak. Hanya saja Chaerin takut Maple tidak akan pernah lagi kembali padanya.


Chaerin menatap layar ponselnya, ada sederet angka yang tertera di layar. Chaerin sudah hapal nomer itu di luar kepala, bahkan setelah 8 tahun, nomer itu tetap bisa di ingatnya.


Chaerin ingin sekali menekan tombol berwarna hijau di layar ponselnya dan menumpahkan sumpah serapah yang sudah di tahannya selama delapan tahun lamanya khusus untuk Ethan.


Tapi, jika ia menghubungi Ethan terlebih dahulu, itu artinya ia membuka jalan untuk Ethan masuk kembali kedalam kehidupannya.


Bukanya ia tidak sayang pada Maple, kenyataan bahwa Ethan tidak akan menyakiti Maple sudah cukup membuatnya tenang, tapi ia harus memikirkan cara bagimana cara mengambil Maple kembali dari Ethan tanpa harus terlibat dengan pria itu.


Kalau boleh jujur, Chaerin sama sekali tidak membenci Ethan, atas segala hal buruk yang pernah di lakukan Ethan padanya, memang membuatnya marah, tapi itu tidak cukup untuk membuatnya benci pada Ethan.


Chaerin lebih membenci dirinya sendiri yang masih saja mencintai pria itu, walaupun ia adalah seorang ****.


"Mama!" suara kecil Maple membuat Chaerin melepaskan pandanganya dari layar ponsel.


Chaerin tidak yakin dengan apa yang ia dengar, Chaerin menajamkan pendengarannya untuk bisa mendengar panggilan sekali lagi, memastikan apakah itu benar suara anak perempuannya yang imut, atau hanya halusinasinya karena terlalu banyak berfikir.


"Mama!" Chaerin mendengar suara itu lagi. Entah kenapa, sejak Mapel mengucapkaan kata pertamanya 'mama', Chaerin jadi menyukai kata itu lebih dari apapun, ia merasa bangga saat Maple mengucapkannya dengan suara cempreng khas anak-anak.


Chaerin segera bergegas lari keluar rumah, ia tidak sempat memprediksi siapa saja yang ada di luar rumahnya sekarang, yang ia pikirkan hanya Maple yang memanggil-manggil dirinya.


Chaerin terhenti tepat di tengah-tengah halaman rumah saat ia sadar, Maple tidak sendirian.


Ada puluhan pria berjas hitam dengan alat komunikasi tertempel di telinga masing-masing yang nampak sangat siaga memeriksa area sekitaran rumah.


Ethan berdiri di hadapan Chaerin tanpa mengatakan sepatah katapun, hanya memandangi wanita itu tanpa berkedip.


Ethan tertegun tak sadarkan diri.


Ia sangat merindukan Chaerin, ia tidak membiarkan pandangan matanya teralihkan dan hanya menatap Chaerin dalam-dalam selama beberapa menit, menikmati keindahan wajah yang sudah bertahun-tahun tidak di lihatnya. Dan tanpa ia sadari, sebutir kecil air mata jatuh meluncur di pipinya.


Setelah beberapa saat, Ethan kembali pada dunianya, saat Maple merengek ingin di turunkan.


Di sapunya pipinya yang basah dan di turunkannya Maple dari gendongannya.


Maple segera berlari menghampiri Chaerin dan memeluk kakinya, bergelantungan di sana, seperti yang biasa ia lakukan saat sedang bermanja-manja dan mengganggu Chaerin yang sedang bekerja.


Ethan melangkahkn kakinya untuk maju mendekati Chaerin tapi wanita itu dengan cepat mundur padahal jarak di antara mereka lebih dari 5 meter, tapi Chaerin tetap saja menjauhkan dirinyax. Ethan segera menghentikan langkahnya saat ia sadar bahwa wanita di hadapannya sama sekali tidak senang dengan kehadirannya.


Chaerin sudah ribuan kali membayangkan dirinya bertemu dengan Ethan, dan ada ribuan kata makian yang sudah ia persiapkan, beserta pukulan dan teriakan untuk pria itu.


Tapi sekarang, saat Ethan benar-benar berada di hadapannya tidak ada satu katapun yang berhasil keluar dari mulutnya.


Chaerin malah ingin berlari dan menghambur ke pelukan Ethan, ia sangat merindukan pria itu selama bertahun-tahun.


Tapi saat Ethan mendekat, kakinya malah bergerak mundur. Seperti biasa, harga dirinya tidak memperbolehkan dirinya menampakan sisi lemah.


Apa gunanya kabur dari pria itu selama bertahun-tahun tapi saat bertemu dengannya kembali semua tembok yang sudah di bangunnya langsung rubuh hanya dengan sebutir air mata. Yang ia sendiri tidak tahu, apakah itu air mata kesedihan, senang, atau malah hanya air mata palsu untuk membuat Chaerin bimbang.


"Mama" Maple menarik-narik ujung baju Chaerin untuk mendapat perhatian dan Chaerin seketika sadar dari pikirannya yang kacau dan memfokuskan dirinya pada Maple.


"Mama lihat, papa memberikanku sepatu dan gaun balet baru" Maple menunjukan dirinya yang memakai gaun balet cantik berwarna biru muda dan sepatu balet yang juga berwarna biru, warna yang selalu menjadi kesukaan Maple.


Chaerin berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Maple, ia tidak bisa mengangkat kepalanya untuk memandang anaknya yang nampak tengah sangat bahagia itu.


Ia ingin sekali berteriak menyuruh Maple melepaskan semua pemberian Ethan yang tengah anak itu kenakan, tapi ia tidak sanggup, ia tidak ingin Maple merasa sedih.


Chaerin menjanjikan Maple gaun dan sepatu balet baru sejak berbulan-bulan yang lalu, tapi sampai hari ini ia belum mampu untuk membelikannya.


Ia merasa tengah gagal menjadi orang tua, ia tidak bisa membuat anaknya satu-satunya mendapatkan apa yang ia inginkan, dan sampai berkelahi di sekolah.


Tapi Ethan, tanpa harus bersusah payah. Pria itu bisa memberikan apapun untuk Maple, tidak seperti dirinya.


"Kau suka gaun dan sepatunya?" tanya Chaerin dengan suara bergetar, ia sedang menahan tangisannya supaya tidak pecah.


"Iya sangat suka" Maple melompat-lompat kegirangan. "Aku akan pakai ini saat fetival sekolah"

__ADS_1


Chaerin mengelus kepala Maple dan lalu berdiri, menggandeng tangan kecil anak perempuannya dan melangkah hendak masuk ke dalam rumah, sampai satu suara menghentikan langkahnya.


"Apa kau baik-baik saja, kau sehat, kau makan dengan baik, kau masih marah? Aku sangat merindukanmu" Ethan bicara pelan, tapi masih bisa di dengar jelas oleh Chaerin.


Suara Ethan bergetar, menahan segala emosi yang menyeruak tiba-tiba.


Ia ingin memaksa Chaerin untuk pulang bersamanya, menggunakan cara kasar seperti dulu yang pernah ia lakukan saat meminta Chaerin menikah dengannya.


Tapi, hubungan mereka tidak akan pernah menjadi baik jika ia masih mempertahankan sikap kasar dan arogannya, ia ingin membawa Chaerin pulang dengan kemauan wanita itu sendiri.


Chaerin mendorong Maple pelan dan meminta anak itu untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, Maple menatap Chaerin bingung sebelum akhirnya menurut dan masuk ke dalam rumah.


Chaerin menutup pintu rumahnya dan menguncinya dari luar, ia tidak ingin Maple keluar dan melihatnya bertengkar dengan Ethan.


Chaerin kembalikan badan dan berjalan pelan menuju Ethan, wanita itu menggenggang kuat tangannya, memastikan tangannya masih cukup kuat untuk mendaratkan satu pukulan di wajah Ethan yang terlihat sendu.


Tepat di hadapan Ethan, Chaerin berhenti dan diam beberapa saat mengumpulkan semua energi yang ia punya, mengumpulkannya pada satu titik, yaitu di tangan kanannya.


Chaerin mengayunkan tangannya dan menampar Ethan dengan keras, membuat pipi Ethan bertanda merah.


Para pengawal yang melihat hal itu langsung bergerak untuk mwnghentikan Chaerin yang sudah siap melayangkan tamparan keduanya, tapi Ethan mengangkat tangannya sebagai isyarat bahwa mereka tidak harus melakukan tindakan apapun.


Tamparan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya di terima Ethan tanpa ada sedikitpun niat untuk melawan atau menghentikan Chaerin. Ia hanya menerima tamparan itu sambil memikirkan segala kesalahan yang pernah ia perbuat pada wanita itu.


Sean ynag juga berada dekat dengan Ethan, menyaksikan itu sambil memegangi pipinya yang terasa ngilu tiba-tiba. Ia masih ingat bagaimana sakitnya saat Ethan menamparinya sebulan yang lalu, dan sekarang Ethan merasakan hal yang sama.


Wajah Ethan yang tadinya mulus sekarang menjadi berwarna kemerahan, bibirnya terluka dan mengeluarkan darah, dan ada kemungkinan rahannya tergeser.


Chaerin berhenti di tamparannya yang ke 32, ia kelelahan, tangannya yang memerah sudah terasa sakit dan perih.


Chaerin memandangi tangannya itu sambil mengeluarkan sedikit suara rintihan yang disangkanya tidak akan di dengar oleh orang lain, tapi pendengaran tajam Ethan bisa menangkap suara sekecil apapun.


Ethan meraih tangan Chaerin dan mengelusnya lembut. Secepat kilat Chaerin langsung menarik tangannya dari genggaman Ethan dan menatap tajam pria itu, memberikan tatapan mematikan yang siap membunuh.


Terbersit ingatan di kepala Chaerin, saat ia pertama kali bertemu dengan Ethan. Saat pria itu mengobati luka-lukanya akibat pukulan George.


Chaerin menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba membuang ingatan indah itu dari kepalanya, ingatan itu membuatnya lemah dan membuatnya ingin kembali bersama Ethan.


Ethan melihat perubahan ekspresi wajah Chaerin yang tiba-tiba, ia tidak bisa menebak apa yang tengah di pikirkan oleh wanita itu.


"Kau baik-baik saja?" Ethan bertanya, membuat Chaerin sadar dari lamunannya.


Ethan melihat balok kayu di atas tanah dekat dengan kakinya, diambilnya balok kayu itu dan di berikannya pada Chaerin.


"Jika tanganmu sakit, kau bisa melanjutkannya dengan ini. Aku, pantas menerima semua pukulan darimu"


Chaerin tersenyum sinis mendengar ucapan Ethan. Di ambilnya balok kayu yang di sodorkan Ethan dan membuangnya kembali ke tanah.


"Dengar tuan Ethan yang terhormat, kau mungkin salah paham dan mengira Maple adalah anakmu, tapi dia bukan. Apa kau lupa, aku ini wanita yang kau jadikan pelacur di Lady Castle, aku tidur dengan banyak pria selain dirimu" ucap Chaerin berbohong, ia berharap agar Ethan belum melakukan tes DNA pada Maple mengingat mereka baru saja bertemu hari ini.


Ethan menadahkan tangannya kepada Sean, dan Sean langsung paham apa yang di inginkan Ethan.


Setelah melihat surat itu beberapa detik, Chaerin segera merobeknya dan membuangnya ke tanah.


"Itu asli, aku melakukan tes DNA dari sample rambut Maple dua minggu yang lalu" ucap Ethan tenang.


"Kau sama sekali tidak berhak atas dia!" kecam Chaerin dengan mata menyala.


"Aku tidak mencoba mengambil Maple darimu, jadi biarkan aku menjalankan kewajibanku sebagai ayahnya, dan sebagai suamimmu"


"Suami?" Chaerin mengerutkan keningnya dan menatap Ethan sinis.


"Sejak aku tahu kau adalah GD, saat itu juga kita sudah tidak punya hubungan apapun"


"Kau tetap istri sahku, selama aku tidak menceraikanmu, aku, kau dan Maple adalah satu keluarga" ucap Ethan tegas.


Sekali lagi Ethan menadahkan tangannya pada Sean dan Sean segera memberikan amplop coklat sukuran F4, dan seperti sebelumnya, benda itu Ethan teruskan kepada Chaerin.


"Aku sudah menghapus nama Chaerin dari dunia ini, yang ada hanya Clara Zie dan Maple Zie, itu adalah akta baru keluarga kita. Aku sudah menambahkan nama Maple kedalamnya" Ethan menjelaskan.


Chaerin membelalakan matanya, di remasnya surat berstempel merah itu kuat-kuat. Chaerin berfikir bagaimana mungkin Ethan bisa mengurus surat menyurat itu dengan begitu cepat.


"Lakukan sesukamu, yang pasti, aku tidak akan pernah kembali pada **** sepertimu" ucap Chaerin angkuh sambil melempar kertas yang tadi di remasnya, tepat ke wajah Ethan.


Chaerin berbalik meninggalkan Ethan dan hendak masuk ke rumahnya.


"Aku masih sangat mencintaimu!" teriak Ethan, tidak memperdulikan puluhan anak buahnya yang memandangnya malu sambil tersenyum.


Chaerin mendengar teriakan Ethan dengan sangat jelas, dan ia yakin, tetangganya pun pasti mendengarnya, dan semoga saja para tetangganya tidak ke luar rumah dan melihat kejadian ini.


Chaerin masih tetap melanjutkan langkahnya dan membuka pintu rumah.


Saat membuka pintu, Chaerin melihat Maple yang duduk manis dengan wajah polos, sejak masuk rumah, anak itu tidak beranjak dari depan pintu menunggu mamanya masuk.


"Papa tidak ikut masuk?"


"Tidak, dia punya rumahnya sendiri" jawab Chaerin singkat.


"Tapi mama dan papa Nana tinggal bersama, bertiga" ucap Maple polos dengan wajah kecewa, membandingkan dirinya dengan salah seorang teman baiknya.


Chaerin tidak menjawab apapun dan hanya menuntun Maple untuk masuk ke kamarnya dan membersihkan diri sebelum tidur.


Di luar rumah, Ethan masih berdiri di tempatnya tidak beranjak sedikitpun.


Di pandanginya deretan rumah yang ada di samping kiri dan kanan rumah Chaerin, dan sebuah ide terlintas di kepalanya.


"Segera beli tiga rumah yang ada di sebelah kanan dan bangun taman bermain di sana" ucap Ethan sambil menunjuk deretan rumah yang ia maksud.

__ADS_1


"Juga, sediakan kapal pribadi yang bisa mengantar jemput Maple untuk ke sekolah, buat semuanya berwarna biru" ucap Ethan lagi.


"Aku ingin semuanya siap dalam waktu satu bulan"


Ucapan terakhir Ethan membuat semua orang yang ada di sekitarnya mengeluh dalam hati, termasuk Sean yang mengeluh paling keras, karena pasti ia yang harus mengurus segalanya.












Chaerin menatap foto yang tempo hari di robeknya kecil-kecil yang sekarang sudah utuh kembali, ia merekatkan setiap robekan kertas kecil itu menggunakan selotip di tengah malam saat Maple sudah tidur.


Walaupun tidak sempurna, hasil kerja kerasnya itu bisa membuat hatinya sedikit nyaman saat melihat foto pernikahannya bersama Ethan. Itulah yang di lakukannya selama bertahun-tahun ini untuk mengobati rasa rindunya kepada pria itu.


Tapi malam ini, ia melihat Ethan secara nyata, bukan hanya lewat gambar yang rusak. Ia bahkan bisa menyentuhnya walaupun dengan tamparan.


Ia senang, sedih dan marah secara bersamaan.


Chaerin meletakan kembali foto itu kedalam laci di dapur dan menguncinya, ia tidak ingin Maple menemukan foto itu lagi.


Chaerin duduk gontai di sofa sambil menonton acara tv yang sama sekali tidak di perhatikannya karena pikirannya sedang menjelajah dunia lain.


Sambil sedikit demi sedikit menenggak bir kalengan yang ia letakan di sampinya.


Chaerin tidak pernah bisa minum, terakhir ia minum ialah saat bersama dengan Ethan, saat pria itu mengajaknya makan malam, dan saat ia mengetahui bahwa ia mengandung Maple.


Chaerin di bawa kembali pada ingatannya saat ia menghabiskan satu botol penuh wine, membuatnya mabuk dan berbuat bodoh dengan menyatakan cintanya pada Ethan.


Seharusnya ia tidak mabuk malam itu, dan membiarkan Ethan mengetahui perasaanya.


Chaerin sudah menenggak kaleng ke dua saat suara jam di ruang tamunya mendenting 12 kali.


Chaerin menenggelamkan kepalanya di balik lututnya yang di tekuk, tanpa sadar ia menangis sesungukan bagaikan anak kecil yang baru di marahi oleh orang tuanya.


*


Chaerin bangun pagi-pagi sekali, terlalu pagi, saat matahari masih belum terbit sedikitpun. Kepalanya masih pusing karena minum bir semalam, tapi di paksakannya jua tubuhnya bangun dari sofa dan membersihkan sisa minumannya yang berserakan di lantai. Ia tidak ingin Maple melihatnya minum, itu bukan contoh yang baik.


Chaerin sudah berfikir keras semalaman, ia tidak boleh bersikap lunak pada Ethan dan membiarkan pria itu memaksa masuk kembali ke kehidupannya.


Chaerin bisa mengabaikan kebohongan Ethan selama ini dan keputusan Ethan untuk mengirimnya ke Lady Castle untuk menjadi pelacur


Tapi ia tidak bisa mengabaikan satu hal.


Kenyataan bahwa Ethan yang dengan sengaja membunuh Bear, itu adalah dosa terbesar yang di lakukan oleh Ethan padanya.


Chaerin berencana untuk kabur sekali lagi, membawa Maple, walaupun tanpa identitas. Kemanapun, asalkan jauh dari jangkauan Ethan.


Jam dinding berdenting empat kali menandakan jam menunjukan jam 4 subuh.


Di bukanya pintu kamar Maple, di lihatnya anak gadisnya itu tertidur lelap dengan tangan ke atas jari-jarinya mengepal kuat, persis seperti Ethan saat sedang tidur.


Chaerin mengambil tas sekolah Maple dan mengeluarkan semua isinya, menggantikannya dengan beberapa baju Maple dan juga boneka kesayangan anaknya itu.


Dengan segera Chaerin membangunkan Maple yang masih tetap tertidur, Maple melenguh sedikit tapi ia tetap tertidur lelap, mungkin anak itu sangat kelelahan karena seharian bermain bersama Ethan dan Christopher.


Di pasangkannya jaket dan juga sepatu pada anak perempuannya itu lalu menggendong sambil memeluknya, supaya Maple yang masih tidur tidak terbangun.


Tangan Chaerin sudah ada di gagang pintu saat ia teringat sesuatu.


Foto pernikahannya dengan Ethan yang ia simpan di laci dapur. Chaerin bergfikir sesaat, apa perlu ia mengambil foto itu dan membawanya?


Tapi sedetik kemudian, ia menggeleng kencang.


"Aku harus melupakan si sialan itu, dan memulai hidup yang tenang" gumam Chaerin.


Dengan yakin Chaerin memutar gagang pintu dan melangkahkan kakinya keluar rumah.


Belum selangkah, kakinya belum sempat menginjak rumput di halaman.


"Selamat pagi nona Clara!" puluhan pria berjas hitam serempak memberikan salam sambil menunduk dalam-dalam saat melihat Chaerin keluar dari pintu.


Chaerin kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang karena terlalu kaget, dan untungnya Maple masih aman di pelukannya.


Chaerin buru-buru kembali masuk ke dalam rumah dan membanting pintu kuat-kuat.


Ia mengutuk dirinya sendiri yang sangat bodoh, padahal ia sudah tinggal bersama Ethan cukup lama dan hapal betul bagaimana sifat pria itu.


Tapi Chaerin melupakannya, Ethan tidak akan pernah membiarkan Chaerin lepas dari pengawasannya sekarang.


"Dasar bodoh, kenapa aku tidak mengecek ke luar jendela terlebih dahulu" Chaerin memukul-mukul kepalanya dengan tangan karena kesal.

__ADS_1


Chaerin mengembalikan Maple ke kamarnya dan membereskan kembali tas Maple, memasukan buku-buku Maple kembali ke tempat semula, di dalam tasnya.


"Aku tidak akan pernah bisa lepas darinya, ini tidak akan mudah" keluh Chaerin sambil meremas-remas rambutnya yang memang sudah berantakan.


__ADS_2