
Ronan dengan wajah lesu membawa sebuah bingkai berisikan foto istrinya yang tersenyum sangat lebar.
Beberapa orang di depannya sedang sibuk menurunkan peti mati yang terbuat dari kayu mahoni dan di kilapkan menggunakan beeswax, serta di ukir dengan puluhan sulur yang indah.
Di dalam peti Rika terbaring dengan damai memakai gaun putih, gaun pernikahannya dengan Ronan dahulu sambil memegangi bunga matahari, tubuhnya juga di kelilingi oleh puluhan macam bunga dengan berbagai warna.
Ronan sudah menangis selama berhari-hari, kini air matanya tidak sanggup lagi untuk jatuh.
Hanya raut wajah sedih dan tatapan mata kosong yang mengiringi kepergian Rika ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Semua orang yang hadir di pemakaman memeluk dan memberi semangat kepada Ronan, berharap pria tua itu bisa lebih tabah menghadapi kenyataan.
Siapa yang menyangka bahwa wanita periang seperti Rika ternyata memiliki penyakit jantung yang sudah lama di deritanya, selama ini ia bertahan hidup hanya dengan obat-obatan.
Bahkan transplantasi jantung yang di lakukannya beberapa tahun lalu tidak banyak membantu.
Ronan sudah mempersiapkan dirinya selama bertahun-tahun, ia tahu bahwa istrinya mungkin akan meninggalkannya lebih dahulu, tapi tetap saja saat hal itu menyakiti hatinya.
Rika meninggal dalam tidurnya dalam keadaan damai, tidak ada rintihan kesakitan darinya, atau gejala penyakit parah yang terlihat. Mungkin jika Rika meninggal saat berada di rumah sakit, Ronan akan sedikit bisa menerimanya.
"Ada sesuatu terjadi dan tuan Ethan tidak bisa datang hari ini, dia memintaku menyampaikan rasa belasungkawanya" ucap Sean.
Kini hanya ada Sean dan Ronan di depan makam Rika. Para pelayat sudah pergi satu persatu beberapa menit yang lalu.
"Aku mengerti, kau bisa pergi, aku ingin sendirian di sini" ucap Ronan bergetar.
"Aku sengaja meminta Hongjung mendandaniku dan memakai pakaian paling bagus untuk menemui Rika, dia sangat baik, ia sering mengajakku mengobrol dan memberikan permen, aku juga ingin memberinya sesuatu"
Sean mengeluarkan sebuah miniatur Godzila dan meletakkannya di atas makam Rika.
"Ini mainan kesukaanku, dia akan menjaga Rika siang dan malam mulai sekarang"
Tiba-tiba Ronan bersandar pada Sean dan tidak bisa lagi menahan kesedihannya, ia menangis meraung-raung walau tanpa air mata, Sean tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menepuk-nepuk punggung Ronan untuk menenangkannya.
"Kau benar dia sangat baik, tapi kenapa dia pergi lebih dulu, pria buruk sepertiku yang seharusnya mati, bukan dia, kenapa Tuhan begitu tidak adil!" Teriak Ronan.
"Iya, kenapa!" Sean juga ikut berteriak walau tidak sekencang Ronan.
"Rikaku sangat cantik!"
"Iya dia cantik!"
"Aku belum sempat membawamu pergi ke taman bunga seperti yang selalu kau inginkan, aku minta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia selama kau masih hidup!"
"Aku juga ingin ke taman bunga!!" Sean menglea nafas pelan.
Ronan berhenti menangis dan menatap Sean dengan mata sayunya.
"Terima kasih sudah menemaniku berteriak" ucap Ronan dengan senyum tulus karena perasaannya sekarang sudah cukup nyaman.
"Aku serius ingin ikut, jika kau pergi ke sana, kau harus mengajakku" ucap Sean polos tetap seperti biasa dengan wajah tanpa ekspresi.
Ucapan Sean membuat suasana berubah, Ronan tanpa sadar tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Sean.
"Kapan-kapan kita akan pergi ke sana"
*
"Nona Chae menolak untuk keluar kamar" ucap Christopher pelan.
Ethan sudah tahu bahwa Chaerin marah padanya. Saat sampai di rumah Chaerin langsung masuk ke dalam kamar dan tidak keluar sama sekali sampai malam, ia bahkan menutup jendela dan gorden.
"Kalian bertengkar?" Christopher sudah bisa menebak bahwa Ethan dan Chaerin bertengkar, tapi pria tua itu tetap saja mengajukan pertanyaan sebagai basa-basi.
"Aku berteriak dan membuat kepalanya terbentur hingga terluka, menurutmu jika aku minta maaf, aku akan di maafkan?" Ethan menatap Christopher berharap pria tua itu bisa memberinya saran.
"Lebih baik minta maaf sekarang walaupun di abaikan, daripada tidak minta maaf sama sekali, nona Chae pasti sedang menunggu anda untuk memperbaiki keadaan" Christopher menyuarakan pendapatnya dengan yakin.
"Dia mengunci kamarnya" ucap Ethan lesu.
"Dobrak saja, seperti yang biasa Anda lakukan" ucap Chris bersemangat.
"Dan dia akan lebih membenciku daripada sebelumnya"
Christopher langsung menutup mulutnya dan berhenti bicara, ia hampir saja membuat tuannya mengalami masalah yang jauh lebih besar akibat sarannya.
"Tidurlah Chris, ini sudah sangat larut"
"Terima kasih tuan, anda bisa bangunkan saya kapan saja jika anda membutuhkan saya" ucap Christopher undur diri.
Ethan melenguh panjang, ia berputar-putar di atas kursi kerjanya sambil memikirkan bagaimana cara berbaikan dengan Chaerin.
__ADS_1
Lagi-lagi ia melakukan kesalahan karena marah, Ethan tahu dirinya sudah lama mengidap intermittent explosive disoder, ia bisa marah meledak-ledak dan tanpa kendali, lalu baru sadar beberapa saat kemudian.
Ethan tidak pernah berfikir untuk konsultasi ke dokter, tidak juga berusaha untuk mengendalikan amarahannya sendiri. Ia tidak terlalu menganggap serius masalah ini, tapi sekarang ia mulai berfikir, ia tidak ingin hal ini terulang lagi, tidak masalah jika ia marah kepada orang lain, asalkan itu bukan Chaerin.
Chaerin keluar dari kamarnya memakai gaun tidur berwarna hitam dengan renda besar di lehernya. Wanita iru sebenarnya tidak ingin keluar kamar karena ia sedang marah, tidak ada hukuman paling kejam di dunia ini untuk suaminya kecuali dengan mendiamkannya, karena ia tahu Ethan sangat tidak suka di abaikan.
Chaerin memegangi perutnya yang terasa perih melilit, terakhir Chaerin makan adalah tadi pagi, dan sekarang sudah tengah malam, tentu saja perutnya meronta-ronta ingin mencerna sesuatu kecuali asam lambung.
Chaerin berjalan perlahan mengendap-endap menuju dapur berharap ada sesuatu yang bisa ia makan. Ia ingat setiap hari Sean selalu makan sosis yang di ambil Hongjung dari kulkas, mungkin saja masih ada beberapa sosis di kulkas yang belum di makan Sean.
Di sisi lain
Ethan bangun dari kursinya dan duduk dengan tegap, di rasakannya tenggorokannya agak kering, karena masalahnya dengan Chaerin ia juga tidak makan dan minum, dan hanya memikirkan cara untuk berbaikan, paling tidak ia perlu minum sesuatu.
Ethan sudah ingin mengangkat gagang telponnya untuk memanggil Christopher, tapi di urungkannya niatnya setelah ingat bahwa ia baru saja menyuruh Christopher untuk istirahat. Ethan bisa saja menyuruh pelayan lain untuk mengantarkan minuman untuknya, tapi Ethan sudah terbiasa minum earl grey buatan Christopher dan ia tidak pernah minum buatan orang lain karena rasanya pasti akan berbeda.
Dengan berat hati Ethan akhirnya berdiri dan berjalan menuju dapur, dia akan membuat earl greynya sendiri.
Saat melewati kamar Chaerin, Ethan berhenti sebentar dan menatap pintu kamar cukup lama, tangannya terulur untuk memegang gagang pintu dan ia sangat ingin memaksa masuk, tapi ia tidak ingin Chaerin semakin marah padanya.
Ethan menarik kembali tangannya dan kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Dari depan meja pantry Ethan mendengar suara yang mencurigakan di bawah meja.
Sepersekian detik setelah Ethan menyalakan lampu, Chaerin muncul dari balik meja, memegang bungkusan sosis dan satu kotak kecil susu di tangan lainnya.
"Chae?"
Chaerin menelan sisa sosis yang ada di mulutnya dan cepat-cepat minum susu saat ia hampir tersedak sambil melihat ke arah Ethan dengan wajah memerah karena malu.
Ethan meletakan piring di atas meja makan, yang di atasnya ada telur rebus setengah matang dengan kulit yang masih menempel di banyak tempat, alpukat panggang di taburi blackpaper, dan kacang almond tumbuk di campur dengan greek yogurt.
Chaerin menatap piring yang di berikan Ethan cukup lama, ia berfikir eksperimen apa yang di lakukan Ethan pada telur, alpukat, dan kacang almond yang tidak berdosa itu sampai mereka terlihat sangat mengenaskan.
"Jangan terlalu berharap, aku sama sekali tidak bisa memasak" ucap Ethan yang mengambil tempat duduk di sebelah Chaerin.
Chaerin hanya diam tanpa bicara apapun, bahkan ia tidak menatap Ethan sama sekali dan hanya menunduk.
"Lukamu baik-baik saja?" Ethan merusaha memeriksa luka di dahi Chaerin tapi wanita itu menepis tangannya.
Ethan mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan. Memang tidak mudah membuat Chaerin memaafkannya, dia wanita yang sangat keras kepala.
"Aku minta maaf, aku kadang sering melewati batas saat alam bawah sadarku mengendalikanku. Aku tahu apapun alasannya, apa yang aku lakukan padamu itu salah"
"Lupakan saja, aku tidak ingin membicarakan masalah itu lagi" Chaerin mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin hatinya luluh dengan ucapan Ethan hanya dengan melihat wajahnya.
"Kau boleh membalasku, kau bisa memukul atau menendangku, atau lakukan saja sesukamu sampai marahmu menghilang" ucap Ethan masih mencoba membujuk Chaerin.
Chaerin akhirnya memalingkan wajahnya menghadap Ethan, dan menatap pria itu dengan mata tajamnya.
"Kau serius?"
"Tentu" ucap Ethan yakin.
Ethan mengambil sebuah mangkuk kramik dan memberikannya pada Chaerin.
"Kau bisa pukul aku dengan ini"
"Jujur, aku sangat ingin memukulmu, jadi aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini" Chaerin tersenyum jahat sambil memasang kuda-kuda untuk memukul Ethan.
Ethan sedikit menunduk supaya Chaerin bisa mencapainya.
__ADS_1
"Kau tidak boleh menuntutku, kau sendiri yang minta di pukul!"
Chaerin mengayunkan mangkuk kramik ke udara dan memukulkannya ke kepala Ethan dengan kuat sampai mangkuk itu pecah dan kepingannya berjatuhan ke lantai.
Ethan mengangkat kepalanya dan berdiri dengan tegap seakan tidak terjadi sesuatu padanya.
"Bagian mana lagi yang ingin kau pukul?" Ethan berucap sambil kembali mengambil mangkuk yang sama di atas rak.
Ethan mencondongkan tubuhnya ke arah Chaerin setelah menyerahkan mangkuk yang di ambilnya pada Chaerin.
Chaerin menerima mangkuk itu dengan senang hati dan berniat memukul Ethan sekali lagi, tapi niatnya terhenti, mangkuk yang di pegangnya terlepas dari tangan dan jatuh pecah ke lantai.
Chaerin membelalakan matanya saat ia melihat darah mengalir dari kepala Ethan sampai ke dagu dan menetes ke lantai.
Di raihnya wajah Ethan dan di lihatnya kepala Ethan dari berbagai sudut untuk memeriksa di mana yang terluka.
"Aku baik-baik saja" ucap Ethan melepaskan tangan Chaerin dari wajahnya dan menatap wanita itu tersenyum.
Chaerin tidak merasa bahwa Ethan baik-baik saja. Memang benar Ethan menyakitinya dengan mengerem mobil secara mendadak dan membuat kepalanya terbentur, tapi Chaerin hanya mendapatkan benjolan kecil di dahi, rasanya tidak sepadan dengan luka Ethan saat ini.
Chaerin segera berlari membangunkan seisi rumah untuk segera menyelamatkan Ethan yang kepalanya mungkin saja berlubang.
*
Ethan dengan wajah masam mengaduk-aduk salad untuk sarapan paginya. Kepalanya masih berdenyut akibat pukulan Chaerin, kemarin malam ia terpaksa pergi ke rumah sakit karena Chaerin terus merengek padanya, padahal ia sendiri merasa luka di kepalanya tidak terlalu parah sampai harus melibatkan campur tangan dokter.
Ethan mendapatkan 3 jahitan di kepalanya dan rambutnya harus di cukur sedikit di area luka. Dan itulah penyebab moodnya sangat buruk sampai dengan hari ini.
Ethan meletakan sendok dan garpunya, tidak ada satu sendokpun makanan yang berhasil masuk ke mulutnya, ia sedang tidak berselera untuk makan.
"Aku pergi sekarang, Sean susul aku jika sudah selesai" ucap Ethan lesu.
Ethan mendekati Chaerin dan mengecup kening Chaerin sebelum ia pergi bekerja.
Ethan sudah beberapa langkah keluar dari ruang makan dan Chaerin berlari mengejarnya.
"Kepalamu baik-baik saja?" Chaerin menarik ujung jas Ethan dari belakang untuk mencegahnya pergi.
"Aku sangat baik, tapi perasaanku sedang buruk sekarang, aku tidak pernah kehilangan rambut sebelumnya?" Ethan memegangi tangan Chaerin dan berbalik.
"Aku sedikit merasa bersalah karena sudah memukulmu, tapi sebenarnya kau pantas untuk menerima itu, tapi tetap saja aku harus minta maaf" mengerakkan matanya ke kiri dan ke kanan mencoba mencari pengalihan dari pengakuan rasa bersalahnya.
"Mulutmu cuma bisa di gunakan untuk minta maaf?" Ethan berjalan mendekati Chaerin perlahan.
"Kalau tidak mau menerima permintaan maafku, ya sudah!"
Chaerin sudah ingin berbalik dan pergi tapi Ethan dengan cepat menarik Chaerin dan merengkuh tubuhnya, tidak menyisakan jarak sedikitpun di antara mereka.
"Kau harus minta maaf dengan cara yang lain"
Ethan perlahan mendekatkan wajahnya kearah Chaerin hingga bibir mereka bersentuhan.
Di awali dengan kecupan lembut, Chaerin perlahan membuka sedikit mulutnya dan membiarkan Ethan mengambil alih. Lidah Ethan perlahan masuk menyapu setiap sisi mulut Chaerin, Chaerin membalas Ethan dengan mengisap lidah pria itu.
Ethan menggiring Chaerin berjalan menuju tembok tanpa melepaskan ciumannya, membuat Chaerin bersandar di sana.
Ethan merengkuh pinggang Chaerin lebih erat dari sebelumnya, dan memegang tengkuk wanita itu untuk memperdalam ciuman mereka, sedangkan Chaerin mengalungkan tangannya ke leher Ethan.
Ethan mengalihkan ciumannya ke telinga Chaerin perlahan, di jilatnya dan di gigitnya kecil daun telinga Chaerin yang memerah, Chaerin melenguh dengan suara sexynya membuat Ethan lebih bergairah.
Ethan turun ke leher Chaerin meninggalkan beberapa bekas merah di sana lalu turun lagi ke dada Chaerin. Di remas-remasnya dada kencang Chaerin yang masih tertutup pakaian, satu persatu Ethan melepaskan kancing baju Chaerin hingga menampakan bra berwarna merah terang yang seakan-akan menggoda Ethan untuk segera melepaskannya.
Hanya tinggal satu pengait lagi dan bra Chaerin terlepas, tapi sebuah suara menghentikan Ethan.
"Kalian sedang apa?"
Sean berdiri mematung memandangi Chaerin dan Ethan dengan wjaah kebingungan.
Ethan dengan cepat melepaskan jasnya dan menutupi tubuh Chaerin yang hampir setengah telanjang.
Christopher yang baru sampai langsung bisa menebak apa yang terjadi, pria tua itu bergegas menutup mata Sean dangan tangannya dan menarik Sean untuk kembali masuk.
"Kau gila! Agh aku malu sekali" Chaerin menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Ethan menggaruk-garuk belakang kepalanya, ia juga tak kalah malu di banding Chaerin.
Ia merasa sudah tertangkap basah melakukan hubungan **** di depan anak-anak.
"Sudah terlanjur, ayo lanjutkan di kamar"
Ethan mengangkat Chaerin dan menggendongnya di bahu.
__ADS_1
"Turunkan aku, ini sudah jam berapa, kau harus pergi kerja!" Chaerin berteriak-teriak minta di lepaskan tapi Ethan tidak menggubrisnya.
"Kau harus bersiap-siap karena aku tidak akan membiarkanku keluar dari kamar hari ini" ucap Ethan dengan kilatan nakal di matanya.