BOYFRIENEMY

BOYFRIENEMY
DIA BUKAN MANUSIA


__ADS_3

"Hancurkan semuanya jangan ada yang tersisa" Ronan memerintah anak buahnya untuk menghancurkan segala sesuatu yang ada di laboratorium bawah tanah Ethan.


Entah apa yang merasuki tuannya itu, di jam 3 pagi, Ethan menelponnya yang mengatakan hal yang mengejutkan tentang pembubaran Gold Dragon.


Jadi di sinilah Ronan sekarang, mengangkut Nshade yang tersisa dan juga bahan bakunya keluar saat hari masih gelap untuk di pindahkan ke tempat lain dan membuat ruang bawah tanah tempatnya bekerja ini seakan hanya sebuah laboratorium penelitian obat biasa.


Ronan bertanya-tanya masalah apa yang terjadi sampai tuannya rela menyudahi bisnisnya dari pembuatan dan penjualan Nshade yang berharga jutaan dolar.


Ronan menyadari bahwa Ethan mulai menutup bisnis ilegalnya satu persatu, di mulai dari menutup Lady Castle. Awalnya ia berfikir bahwa serangan Bear tempo hari adalah penyebab di tutupnya Lady Castle. Tapi sekarang ia sadar bahwa Ethan mungkin sengaja membiarkan pria itu membuat kekacauan.


Dengan kekuasaan dan kekuatannya, tidak mungkin Ethan tidak bisa menyingkirkan satu tikus kecil yang merusak bisnisnya.


Lady Castle mungkin masih bisa di pahami, karena tempat itu awalnya di buat hanya untuk memancing para **** berpangkat tinggi dan orang-orang berpengaruh, yang nantinya akan di manfaatkan oleh Ethan. Tapi membubarkan Gold Dragon adalah sesuatu yang lain.


Gold Dragon sudah berdiri selama bertahun-tahun dan orang-orang mengenalnya sebagai organisasi mafia narkoba dengan reputasi luar biasa. Dari penjualan narkoba Gold Dragon hampir bisa menguasai dunia, dari Gold Dragon jua lah Ethan bisa membangun perusahaan besar dengan banyak anak perusahaan.


Jika orang normal di tanya harus membubarkan Gold Dragon atau tidak, pasti jawabannya adalah tidak, membubarkan Gold Dragon sama saja dengan mengabaikan tambang emas yang ada di depan mata.


Hanya dengan menjual satu ampul Nshade seseorang bisa menjadi kaya raya, jika di bandingkan dengan menjual ribuan obat-obatan yang di produksi oleh Gold medical, tentu saja perbedaannya sangat jauh.


"Sepertinya Ethan sedikit demi sedikit mulai menghancurkan dirinya sendiri" Ronan bermonolog dalam hatinya sambil mengawasi anak buahnya yang bekerja mondar-mandir.


"Jangan sampai ada yang rusak, atau kalian akan membayarnya dengan kepala kalian!"


*


"Aku ambil semuanya, dari sini sampai ujung sana" Chaerin menunjuk deretan tas dengan berbagai macam model yang di pajang di etalase.


Penjaga toko hanya berdiri tanpa menghiraukan ucapan Chaerin yang hanya di anggapnya bercanda. Selama ini tidak ada yang membeli tas di toko itu lebih dari 1 setiap pembelian, tapi Chaerin malah ingin membeli 7, padahal harga satu tas mencapai puluhan ribu.


Christina mengangguk pada penjaga toko sebagai isyarat bahwa nonanya itu sedang serius, tapi penjaga toko itu tetap tidak menghiraukan dan hanya membalas Christina dengan senyum ramah.


"Apa aku terlihat miskin!" Chaerin meninggikan suaranya dan perhatian orang-orang sekitar seketika terarah padanya.


Penjaga toko masih dengan senyum di wajahnya menggeleng, mencoba untuk tetap bersikap ramah.


"Kau lihat ini, dengan ini aku bisa membeli semuanya bahkan dirimu!" Ucap Chaerin angkuh sambil menunjukan black card-nya.


Tapi bukannya cepat membungkus semua belanjaannya, penjaga toko itu malah memanggil petugas keamanan karena ia mencurigai Chaerin mencuri kartu itu dari seseorang.


Christina mencoba untuk menghalangi para petugas keamanan yang ingin menyeret Chaerin keluar dari toko.


"Lepaskan dia, atau kalian mungkin akan berada dalam masalah besar. Walau terlihat seperti wanita murahan, tapi dia istri dari ceo Gold medical" Mona datang entah dari mana.


Mona tampak anggun seperti biasa, ia memakai dres putih dengan kerah v yang menunjukan sedikit belahan dadanya, juga heels berkilauan yang bertabur batu permata.


Setelah mendengar perkataan Mona, para petugas keamanan langsung melepaskan Chaerin dan menunduk untuk minta maaf.


Chaerin menatap Mona lekat-lekat, di lihatnya wanita itu dari atas sampai bawah. Mona memang sangat berbeda dari dirinya yang urakan, pantas saja penjaga toko menganggapnya gelandangan yang sedang bergaya.


"Senang bertemu denganmu lagi, dan selamat atas pernikahanmu dan Ethan, sayang aku tidak bisa hadir untuk memberi ucapan selamat langsung pada kalian. Dan juga aku minta maaf mewakili para karyawanku yang berlaku tidak sopan karena tidak mengenalimu" Mona menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Ya aku juga sangat kecewa kau tidak bisa datang, seharusnya pernikahanku akan semakin meriah dengan kehadiranmu yang datang membawa sekotak tisu" Chaerin membalas perkataan Mona sarkartis sambil menyambut tangan wanita itu dan tersenyum termanis yang ia punya.


"Jujur, aku sudah melupakan Ethan, aku memang sangat menyukainya, tapi aku lebih suka pada pria yang juga menyukaiku"


"Itu bagus" Chaerin mengangguk, tapi ia tidak percaya ucapan Mona seratus persen. Tidak mungkin melupakan orang yang di cintai dengan begitu cepat.


"Bungkus semua pesanannya" Mona memerintahkan penjaga toko dan wanita itu dengan sigap langsung melakukan perintah Mona.


"Anggap saja ini kado pernikahan dariku"

__ADS_1


Christina menerima 7 buah tas yang sudah di bungkus rapi dengan kotak-kotak mewah berwarna gold.


Mona melangkah maju untuk mendekati Chaerin dan membisikan sesuatu padanya.


"Ini hanya saran sebagai sesama wanita, kau tidak seberuntung yang kau kira, lebih baik tinggalkan Ethan secepatnya sebelum kau menyesal, karena dia bukan manusia, tapi monster"


Mona kembali mundur, tersenyum sejenak lalu berbalik meninggalkan Chaerin dan Christina.


Chaerin berdiri mematung, mencoba mencerna apa arti dari ucapan mona yang menyebut Ethan sebagai monster.


"Dia mungkin hanya iri dan sedang menghasutku" Chaerin meyakinkan dirinya di dalam hati.


"Nona Clara, apa yang harus saya lakukan pada tas-tas ini?" Christina memandangi tumpukan kotak yang hampir setinggi tubuhnya.


"Buang saja semuanya"


Chaerin menendang tumpukan kotak itu dan pergi, menerobos kerumunan orang yang penasaran dengan kegaduhan yang di buat olehnya.


*


Ethan mengayunkan kapak pemadam kebakaran yang di pegangnya dan seketika sebuah kepala dengan mata melotot menggelinding di lantai. Sebuah tubuh tanpa kepala ambruk ke lantai marmer, darah segar mengalir deras dari lehernya.


Kamar hotel yang di sewa oleh Arnoldo seketika berubah menjadi tempat pembantaian. Bercak darah mengotori lantai dan juga dinding.


Arnoldo memanggil seluruh anak buahnya untuk menghadapi Ethan. Tapi dari 20 orang hanya tersisa lima yang masih bisa berdiri tegap dengan 2 kaki walau sekarang mereka gemeratan.


Sisanya sudah terkapar dengan kaki dan tangan terpotong juga usus yang berburai keluar, beberapa juga kepalanya sudah tidak lagi menyatu dengan tubuh.


Brian meringkuk ketakutan di balik sofa putih yang sekarang warnanya sudah berubah kecoklatan karena darah. Ia khawatir kalau-kalau ia akan menjadi korban amukan Ethan.


Sejak awal Brian memang sudah tahu bagaimana sifat asli temannya itu, tapi ia belum pernah melihat Ethan semarah Ini. Tidak Ada lagi senyum ramah di wajahnya, di gantikan dengan seringai menakutkan dengan kilatan liar di matanya.


Ethan terkekeh senang saat melihat darah yang menggenang di lantai, ia bahkan melompat-lompat di atasnya dan membuat sepatunya meninggalkan bekas saat melangkah. Lima orang anak buah Arnoldo yang tersisa tidak berani maju untuk melawan Ethan.


Seorang anak buah Arnoldo memberanikan diri untuk menyerang Ethan dengan sebuah pisau belati berukuran kecil, hanya itu senjata yang ia punya sekarang, karena sebelumnya pistol yang di pegangnya di hancurkan oleh Ethan.


Ethan berusaha menghindar tapi gagal dan pisau itu malah tertancap di bahu kirinya.


"Ini sama sekali tidak sakit, kau mau tahu bagaimana rasa sakit itu?" Ethan menyunggingkan senyum sambil mengayunkan kapaknya.


Kapak itu tertancap tepat di dahi, di antara kedua mata. Dan sekali lagi Ethan tertawa seperti orang yang kerasukan.


Di lain sisi, saat Ethan sedang sibuk, Arnoldo pergi ke luar mengendap-endap. Sean yang menyadarinya berusaha untuk mengejar Arnoldo tapi kalah cepat, Arnoldo sudah lebih dahulu menaiki lift.


Sean menembaki pintu lift membabi buta, dan membukanya dengan paksa. Lift sudah turun cukup jauh ke bawah dan tanpa peduli seberapa tinggi, Sean melompat, ia mendarat dengan dua kaki, tapi karena posisi yang kurang tepat, kaki kanannya terkilir.


Sean menginjak-injak bagian atas lift, mencoba membuat lubang supaya ia bisa masuk ke dalam.


Dari dalam lift Arnoldo menembaki Sean, beruntung tidak ada satupun peluru yang berhasil mengenainya.


Sean merubah rencananya, ia tidak lagi berusaha masuk ke dalam lift, tapi malah menembaki tali baja berusaha membuatnya putus.


Sean berpegangan pada tangga besi di pinggiran lorong lift sambil masih menembak, dan pas saat peluru terakhir, tali baja yang menahan lift terputus, membuat lift meluncur jatuh ke bawah.


Sean tersenyum sesaat lalu turun melalui tangga untuk sampai ke lantai di bawahnya dan keluar melalui pintu lift.


Sean bergegas lari cepat menuju lantai pertama menggunakan tangga darurat walaupun kakinya sulit untuk di bawa berlari, ia sangat ingin melihat bagaimana ekspresi wajah Arnoldo saat si tua bangka itu mati, jatuh dari ketinggian.


Orang-orang berkerumun saat petugas datang untuk membuka pintu lift, termasuk Sean yang sudah tidak sabar melaporkan keberhasilannya membunuh Arnoldo kepada Ethan.


Tapi bukan Arnoldo yang ada di dalam lift itu, dari jas hitam yang di pakainya, Sean tahu bahwa pria itu adalah anak buah Arnoldo.

__ADS_1


"Aghh sial!"


Sean berteriak kesal sambil berlari kembali menemui Ethan di lantai atas.


Ethan duduk bersandar di atas sofa sambil membentangkan tangan di atas sandaran, ia mengambil rokok dan juga pematik dari kantor salah seorang anak buat Arnoldo yang terkapar tak bernyawa di hadapannya.


Ethan mengisap rokoknya dalam-dalam lalu meniup keluar asap melalui hidung dan mulutnya.


"Kau lihat Brian, ayahmu meninggalkanmu, sepertinya ia tidak peduli entah kau hidup atau mati" ucap Ethan, nada suaranya sudah mulai terdengar seperti Ethan yang biasanya.


Brian memberanikan diri keluar dari tempat persembunyiannya yang tepat berada di belakang Ethan. Ia lalu duduk di samping Ethan dan ikut merokok bersama.


"Aku juga tidak peduli apa dia hidup atau mati, aku hanya peduli pada uangnya, itulah kenapa aku bertahan di sisinya walaupun aku selalu di remehkan"


Ethan menatap Brian yang terlihat lesu.


Tiba-tiba pintu kamar terbanting dan Sean muncul dengan keringat membasahi pelipisnya.


"Dia berhasil kabur" ucap Sean dengan nafas tersengal-sengal.


Ethan refleks menatap Brian yang masih mengisap rokoknya seperti tidak ada beban di hidupnya.


"Kalau kau ingin membunuhnya pergi saja ke rumah, papa pasti ada di sana" ucap Brian santai.


"Aku tidak gila. Ada puluhan bahkan ratusan orang yang berjaga di sana dengan ketat. Kecuali jika ada seseorang yang bersedia membantuku" Ethan menatap Brian, ia berharap pria itu mengerti bahwa ia sedang meminta bantuan.


"Jangankan membantumu untuk masuk, aku pulang ke rumah saja itu mustahil. Jika aku pulang ke rumah dalam keadaan hidup, papa pasti akan mencurigaiku sebagai kaki tanganmu. Lebih baik kau bunuh saja aku di sini sekarang, daripada aku mati di tangan papa" ucap Brian pasrah.


"Akan menguntungkan jika kau berada di salah satu pihak" Ethan menghela nafas.


"Aku hanya ingin bersikap netral, memihak salah satu dari kalian memang menguntungkan, tapi tidak untukku"


Ethan hanya tertawa kecil, ia sangat setuju dengan ucapan Brian. Pria itu tidak akan mendapatkan keuntungan apapun.


"Papa bukan orang yang bisa menerima kekalahannya, dia pasti akan mencarimu dan kau harus bersiap-siap, orang-orang terdekatmu juga mungkin akan ada dalam bahaya"


Brian berdiri menepuk-nepuk pahanya untuk membersihkan debu yang menempel pada celannya.


"Jika nanti kau merindukanku, aku akan berada di Hawai, menari Honolulu sepanjang hidupku. Aku tidak ingin terlibat lagi dengan kalian"


Brian melambaikan tangannya dan menghilang di balik pintu.


"Sean, bersihkan tempat ini secepat mungkin, jangan sampai ada satupun yang mencurigaiku. Juga hapus semua rekaman kamera cctv di sekitar sini, jangan ada yang terlewat"


Ethan berjalan keluar sambil menyeret kaki kirinya yang terluka, salah satu anak buah Arnoldo memukul kakinya dengan kursi, dan ada kemungkinan kakinya patah.


Ia satu persatu mulai merasakan sakit pada tubuhnya yang terluka.


"Ini normal, sehabis olahraga memang biasanya tubuh akan terasa sakit" Ethan bergumam sambil terus berjalan.


*


Ethan meringis kesakitan saat dokter Lim mengeluarkan sebutir peluru yang bersarang di punggung kanannya.


Giginya menggigit kuat handuk yang di gulung menjadi bulatan kecil untuk menahan sakit. Ethan sebelumnya sudah di suntik bius tapi obatnya bekerja sangat lambat sedangkan peluru di tubuh Ethan harus segera di keluarkan.


Dokter Lim, dengan sangat hati-hati mencungkil keluar peluru dari tubuh Ethan. Bukan hanya satu peluru tapi ada tiga dan tersebar di beberapa tempat.


Ada satu peluru yang hampir saja mengenai jantung, kalau saja tidak tertahan oleh tulang rusuk, dan sebagai akibatnya tulang rusuk Ethan retak, dan harus segera di operasi.


"Bisa kau selesaikan operasinya dengan cepat, aku harus pulang ke rumah" ucap Ethan lemas.

__ADS_1


"Mana boleh pulang setelah operasi, anda harus di rawat di sini paling tidak satu minggu" ucap dokter Lim dengan nada sedikit di tinggikan, ia sangat khawatir dengan keadaan Ethan yang bisa di bilang sangat buruk.


"Istriku, menungguku di rumah" ucap Ethan lemas lalu mulai hilang kesadaran karena efek anastesi.


__ADS_2