BOYFRIENEMY

BOYFRIENEMY
MENGAMBILNYA KEMBALI


__ADS_3

George terikat di kursi dengan tubuh penuh luka, darah kering tampak jelas di wajahnya sampai ke leher mengotori kerah bajunya.


Sepertinya malaikat pembawa nasib buruk sedang mengikutinya. Chaerin berhasil kabur dari Lady Castle, membuat kemarahan Ethan meledak.


Entah bagaimana Chaerin bisa mendapatkan pistol dan menembak para anak buahnya yang sedang berjaga. Chaerin tidak kabur sendirian, sebelumnya ada beberapa orang yang datang ke Lady Castle sebagai tamu, tapi pada akhirnya mereka malah membuat keributan dan membantu Chaerin untuk kabur.


George dengan suka rela harus menerima kemarahan Ethan, membiarkan tubuhnya menjadi samsak tinju untuk tuannya yang tanpa ampun memukulinya sampai-sampai dua giginya patah.


Sebelum melapor pada Ethan, George sudah lebih dulu mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Chaerin beserta orang-orang yang membantunya untuk kabur, tapi sayangnya Chaerin bagaikan hilang di telan bumi. Sosok dirinya bahkan tidak tertangkap oleh kamera cctv di sekitar Lady Castle, Padahal George yakin wanita itu tidak mungkin bisa lari jauh.


Sean menyeringai, di lihatnya George yang sudah tidak berdaya, bahkan pria di hadapannya itu tidak bisa mengangkat kepalanya sedikit hanya untuk sekedar melihat kedatangannya. Hanya ringisan kecil yang keluar dari mulutnya yang masih terasa anyir karena darah.


Selama satu bulan penuh, ia di ikat di atas kursi, hanya di beri makan dan minum seadanya. Dan setiap hari Ethan pasti menyempatkan diri untuk datang hanya untuk mendaratkan satu pukulan di wajahnya, paling tidak.


"Suasana hati tuan Ethan sedang buruk, dan kau membuatnya semakin parah, harusnya kau jaga wanita itu baik-baik" Sean memainkan pisau yang ada di tangannya, di putar dan di lemparannya ke udara lalu di tangkapnya kembali seakan benda itu hanya sebuah ranting kayu kecil yang tidak berbahaya.


George tersenyum getir "aku hanya sedang tidak beruntung, sudah lama aku tidak melihatnya semarah itu, wanita itu lebih berharga dari yang ku kira" suara pelannya hampir tidak terdengar, tapi Sean punya pendengaran cukup tajam.


Sean menghentikan permainan pisaunya dan menggeleng pelan.


"Sebenarnya kau sangat beruntung"


Sean memotong tali yang mengikat George. Sean hanya mengangkat bahunya saat George memandangnya penuh tanya.


"Dia melepaskanku begitu saja?" George berusaha bicara normal sambil menahan sakit di rahangnya yang mungkin sekarang sudah bergeser.


"Chaerin sudah di temukan, dan kau punya tugas baru"


"Katakan pada tuan Ethan aku akan melakukannya, berikan aku kesempatan terakhir, dan aku tidak akan mengecewakannya lagi" George mendongak, matanya berbinar, menunjukan kesungguhannya.


*


Mona menjulurkan tangan, tapi Ethan mengabaikannya, ia masih bersandar di kursi besarnya sambil menekan pelipisnya.


Baru kali ini, ia merasa langit hampir runtuh dan perlahan-lahan menimpanya. Belum selesai satu masalah dan tiba-tiba masalah lain muncul, membuat pikirannya terpecah belah ke berbagai arah.


"Aku sudah bicara pada ayahku, dan ia setuju untuk membantumu, jadi jangan khawatir, Gold Medical akan baik-baik saja"


Mona mengelus-elus punggung tangan Ethan berharap pria berjas hitam di hadapannya itu menjadi lebih tenang.


Tapi satu hal yang tidak Mona ketahui.


Ethan menempatkan masalah perusahan dan hal lainnya di peringkat 100, sedangkankan peringkat 1 sampai 99 adalah milik Chaerin yang kabur lebih dari satu bulan, tanpa ada kabar tentang keberadaannya.


Ia takut jika tidak bisa bertemu dengan wanita itu lagi, ia takut kalau-kalau Chaerin tahu bahwa ia sebenarnya adalah GD dan membencinya, ia takut Chaerin akan berada dalam bahaya, ia takut akan seribu kemungkinan di luar sana yang membuatnya terpisah dari Chaerin. Mungkin terkesan berlebihan tapi Chaerin menjadi alasannya untuk mulai menyukai dunia ini.


Ethan menarik tangannya sepelan mungkin dan menatap Mona dengan wajah serius, ia sedang tidak ingin di ganggu siapapun, tapi Mona malah datang dan membuatnya makin tertekan. Mona berjanji akan membantu perusahannya dengan syarat Ethan harus menikah dengannya.


Ethan tidak habis pikir dengan wanita itu, mereka hanya bertemu satu kali dan tiba-tiba saja meminta untuk di nikahi dengan alasan perusahaan.


Jika Mona mengajaknya menikah dua bulan yang lalu sebelum ia bertemu dengan Chaerin, Ethan mungkin tanpa ragu akan berkata iya, karena Mona memiliki apa yang Ethan inginkan. Tapi sekarang, tumpukan emas bahkan permata sekalipun tidak akan bisa membuatnya menikahi wanita itu, karena perasaannya pada Chaerin lebih berharga dari pada itu semua.


"Kau sangat cantik, kau bisa bertemu dengan pria lain yang mencintaimu, bukan aku" Ethan berusaha bicara setenang mungkin, menutupi rasa kalutnya karena Chaerin, Ia masih berusaha menjaga imagenya sebagai pria baik yang ramah di hadapan Mona.


"Tidak masalah jika kau tidak mencintaiku, kau hanya perlu berpura-pura" Mona memeluk Ethan dari belakang meletakan dagunya di bahu Ethan.


Ucapan Mona membuat Ethan ternganga, kesan pertama Mona sebagai wanita terhormat nan kaya hilang seketika, di gantikan sosok wanita murahan bodoh yang hanya mengandalkan perasaanya untuk segala sesuatu.


"Tuan, maaf mengganggu Anda tapi...." seorang wanita memakai setelan kantor rapi menerobos masuk ke ruangan Ethan tanpa mengetuk terlebih dahulu. Wajahnya terlihat ketakutan, wanita itu meremas-remas tangannya mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Sean yang juga berada di ruangan itu segera bersiap untuk membentak wanita itu tapi di dahului oleh Ethan.


"Di mana sopan santunmu!" Ethan membentak sekretarisnya, memberinya tatapan marah yang membuat wanita itu tertunduk.


"Tapi tuan, di bawah.........!"


"Apa! Tahan mereka! Dasar tidak berguna!"


Ucapan wanita itu tertahan oleh teriakan Sean yang sedang berbicara melalui headset bluetooth yang terpasang di telinganya.


Ethan memandang Sean, mencoba menangkap apa sebenarnya yang membuat wajah Sean seketika berubah tegang.


"Ada orang yang memaksa untuk masuk, mereka membawa senjata api dan menyerang petugas keamanan, saya akan turun dan memeriksanya" Sean menunduk dan berlari keluar dari ruangan tuannya.

__ADS_1


"Kosongkan gedung ini, evakuasi semua orang untuk keluar!" Sean mendorong sekertaris Ethan yang berdiri tepat di depan pintu dan menghalangi jalan sampai terjatuh. Sean sama sekali tidak memperdulikannya bahkan kata maaf pun tidak terlontar dari mulutnya, Sean tidak punya waktu untuk bersikap lemah lembut.


"Anda juga sebaiknya pergi nona Shine!" Sean bicara sambil lalu, tapi Mona bisa menangkap kilat mata Sean yang terlihat mengerikan.


"Wow hei Sean lama tidak bertemu, kau terlihat semakin pucat, apa kau terlalu banyak minum susu? Ah sepertinya kau sedang buru-buru, apa terjadi sesuatu?"


Chaerin melambaikan tangannya di ambang pintu di ikuti 3 orang di belakangnya. Salah satu dia antara mereka tangannya di ikat dengan tali ke belakang dan wajahnya di tutupi dengan kain hitam seperti seorang terpidana mati, sedangkan dua lainnya memegang long gun yang di ikatkan ke bahu. Chaerin sendiri menenteng sebuah revolver klasik berwarna kekuningan.


Sean tidak bisa menahan rasa terkejutnya karena kehadiran Chaerin yang tiba-tiba. Ia bahkan mematung di depan pintu untuk beberapa detik sebelum akhirnya mengeluarkan pistol dari balik jasnya, mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menarik slide supaya peluru terdorong ke kamar peluru dan siap untuk di tembakan.


Sean mengarahkan mulut pistol tepat ke kepala Chaerin, tapi wanita itu tidak ketakutan sedikitpun, walaupun ia tahu, kepalanya mungkin saja akan berlubang.


Chaerin mengangkat tangannya ke udara seakan ia menyerah tanpa melepaskan revolver dari genggaman tangannya.


Orang yang mengikuti Chaerin di belakang pun seakan tidak perduli dengan Sean dan hanya berdiri diam dengan wajah santai sementara di belakang mereka para petugas keamanan berdatangan dan juga mengacungkan senjata.


Para anak buah Chaerin bukannya tidak sadar situasi, mereka bisa saja mati karena datang membuat kekacauan di perusahaan besar, melawan puluhan orang bersenjata sedangkan mereka hanya bertiga, kedatangan mereka sama saja dengan bunuh diri. Tapi mereka sangat percaya dengan pimpinan mereka, Chaerin tidak mungkin menempatkan mereka dalam bahaya.


"Sayang" Chaerin melambai dengan manja ke arah Ethan.


Ethan membalas lambaian Chaerin kaku, dirinya masih tidak percaya, bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah Chaerin, wanita yang memenuhi kepalanya dan tidak menyisakan sedikitpun celah untuk hal lain yang harus di pikirkan.


"Tuan Ethan!"


Teriakan Sean membuat Ethan tersadar, dirinya tak seharusnya terlihat seperti pria bodoh dan tidak berwibawa di hadapan orang-orang hanya karena seorang wanita. Ethan menegakan tubuhnya, merapikan jasnya dan memasang wajah serius.


Cintanya kepada Chaerin memang membuatnya lemah, tapi ia masih harus mempertahankan harga dirinya, apalagi di hadapan para bawahannya.


"Kau bisa pergi" Ethan menunjuk sekretarisnya yang berjongkok di samping sofa kerena ketakutan. Mendengar perintah Ethan, wanita itu segera bangkit dan berlari keluar ruangan, menerobos petugas keamanan yang mengacungkan senjata.


"Kau juga" kini telunjuk Ethan beralih pada Mona yang masih berdiri mematung di belakang kursinya.


Mona gemetar ketakutan, sudah sewajarnya wanita lemah sepertinya takut saat melihat orang-orang yang membawa senjata dan membuat keributan.


"Antar nona Shine"


Petugas keamanan yang di tatap oleh Ethan segera tanggap, di tariknya Mona untuk segera di bawanya keluar.


"Dia tidak akan menyakitiku, pergilah" Ethan menepis tangan Mona dan petugas keamanan segera membawanya keluar.


Ethan berjalan mendekati Chaerin, di tatapnya wanita itu dari jarak dekat.


"Dia masih terlihat sangat cantik" tanpa sadar Ethan tersenyum.


"Aku bisa saja menembak kalian, dan mengatakan pada polisi bahwa aku hanya membela diri" ucap Sean, mengeratkan genggamannya pada pistol.


Ethan menahan tangan Sean, di rebutnya pistol dari tangan asistennya itu dan di lepaskannya magazine dari pistol lalu membuangnya berlawanan arah.


Sean tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Ethan, sudah sangat jelas Chaerin adalah sebuah ancaman tapi Ethan malah melindunginya.


"Aku dengar kau kabur dari Lady Castle, kau memang hebat!" Ethan bertepuk tangan pelan dan Chaerin tersenyum bangga.


"Terima kasih atas pujiannya tuan Ethan" Chaerin menurunkan tangannya dan memberikan revolver yang di pegangnya kepada salah seorang anak buahnya di belakang.


"Kanapa kau ada di sini? Jangan bilang kau datang karena aku menyatakan cintaku padamu saat terakhir kita bertemu" ucap Ethan sinis.


"Oh ayolah, kau pikir aku ini wanita bodoh yang akan percaya dengan mulut busukmu itu, aku tidak terlalu berharap pada pria kaya, jadi jangan terlalu senang hanya karena aku memanggilmu sayang" Chaerin terkekeh, sambil menyapu hidungnya dengan jari telunjuk, cuaca yang dingin membuat hidungnya berair.


"Jadi apa yang kau inginkan dari pria kaya ini, sampai kau repot-repot untuk datang kemari, aku bisa saja memberitahukan George dan kau mungkin akan kembali ke Lady Castle" Ethan mengangkat sebelah alisnya mencoba untuk mengintimidasi Chaerin.


"Kau tahu aku tidak takut pada George"


"Dan juga denganku"


"Ya aku juga tak takut padamu"


"Lalu"


"Aku datang untuk memberikanmu hadiah, jadi suruh anak buahmu menurunkan senjata mereka dan pergi"


Ethan diam sejenak untuk berfikir, hadiah apa yang dimaksud oleh Chaerin, hadiah apa yang bisa di berikan Chaerin padanya yang sudah memiliki segala hal.


"Kalian dengar? Pergi!" Ethan akhirnya mengeluarkan perintah, di sambut pelototan oleh Sean.

__ADS_1


Para petugas keamanan segera menurunkan senjata mereka dan satu persatu meninggalkan ruangan. Dalam sekejap, ruangan Ethan yang tadinya riuh kembali tenang. Para petugas keamanan sudah membubarkan diri sepenuhnya.


"Bear, berikan padanya" merasa keadaan sudah cukup kondusif Chaerin akhirnya bersuara.


Pria bertubuh besar dengan otot-otot tebal menyelimuti tubuhnya, menyeret pria yang terikat di sebelahnya dan mendorongnya untuk mendekati Ethan.


Pria bertubuh gempal itu jatuh tepat di hadapan Ethan. Ethan menatap Chaerin penuh tanya dan Chaerin menggerakkan tangannya tanda bahwa ia mempersilakan Ethan untuk membuka hadiah darinya.


Perlahan Ethan menjulurkan tangannya untuk menjangkau kain yang menutupi wajah pria itu, Ethan penasaran siapa sebenarnya wajah di balik kain hitam itu, ia sempat berfikir bahwa itu adalah George karena Chaerin sangat membencinya, tapi ia ingat bahwa ia menahan George di ruang bawah tanah, tidak mungkin George bisa bersama Chaerin.


Sean yang merasa tidak sabar segera mengambil alih, di tariknya kain penutup itu dan orang yang ada di baliknya membuat Sean terkejut, begitu pula dengan Ethan.


Ethan melotot ke arah Sean, dirinya merasa tidak di hargai karena Sean menyelanya.


"Maaf tuan, saya takut Anda terluka" Sean menunduk dan mundur berapa langkah, membiarkan Ethan melihat pria itu lebih dekat.


"Hadiah yang luar biasa" Ethan menyeringai. Di tariknya rambut pria itu membuatnya mendongak hingga Ethan bisa melihat wajahnya dengan jelas.


"Kau **** yang mencuri dariku"


Ethan mengayunkan tangannya ke udara dan mendaratkan pukulan ke wajah pria gempal itu sekuat tenaga sampai pria itu terpental ke samping.


Sean menggaruk keningnya, dirinya tidak menyangka hari ini akan ada banyak sekali kejutan, di mulai dari ajakan menikah dari Mona, kemunculan Chaerin, dan sekarang kontraktor korup yang menipu Ethan ada sini, dan lagi yang membawanya adalah Chaerin.


Pria gempal itu masih di pukuli oleh Ethan tanpa bisa melawan karena tangannya yang di ikat, ia bahkan tidak bisa berteriak karena mulutnya di sumpal. Chaerin bahkan menutup matanya saat Ethan mulai mengamuk, tidak pernah di sangka olehnya sebelumnya bahwa Ethan bisa semengerikan itu.


"Tangan Anda terluka tuan" Sean menangkap tangan Ethan untuk menghentikan kegilaannya. Jika terus di lanjutkan pria itu mungkin saja akan mati dan akan ada masalah besar jika itu sampai terjadi.


Sean memberikan saputangannya pada Ethan untuk membersihkan tangannya yang kotor karena darah. Ethan menyambutnya dan segera menyapu noda darah di tangannya cepat lalu membuang saputangan kotor itu ke lantai.


"Kau takut padaku?" Ethan mendekati Chaerin dan berdiri tepat di hadapannya.


Chaerin perlahan membuka matanya dan wajah tampan Ethan adalah hal pertama yang di lihatnya.


"Tidak, aku hanya tidak menyangka, aku pikir kau pria yang.........." tidak bisa di pungkiri Chaerin sedikit takut pada sikap kasar Ethan yang tidak di sangka-sangkanya


"Maaf jika aku menakutimu, aku kadang bisa sangat temperamental saat sedang marah, terima kasih atas hadiahnya"


Ethan meraih rambut Chaerin yang berantakan, di sisirnya menggunakan jari-jarinya dan menyelipkannya ke belakang telinga wanita itu, hingga wajah cantik Chaerin terlihat jelas. Chaerin mengangkat wajahnya dan mensejajarkan matanya dengan Ethan.


"Kalian gila! Kita tidak sedang berada dalam drama percintaan berdarah, jadi hentikan akting konyol kalian!"


Inguk, pria tinggi yang datang bersama Chaerin tiba-tiba bersuara, ia di buat kesal dengan tingkah Ethan yang menggoda Chaerin sedangkan Chaerin juga hampir jatuh dalam godaannya. Dasar wanita naif.


"Ayo pergi, kita tidak punya urusan lagi di sini"


Pria sipit dengan kantung mata besar itu berbalik, di ikuti Bear yang sudah lebih dulu siap untuk pergi.


"Chae ayo kita pergi" bear berbalik dan memegang tangan Chaerin untuk membawanya pergi.


Chaerin sudah ingin mengikuti Bear dan inguk tapi Ethan menahannya. Bear terpaksa melepaskan Chaerin dan pergi mengikuti inguk meninggalkan Chaerin. Pria itu paham bahwa mungkin Chaerin punya sesuatu yang ingin di bicarakan dengan Ethan secara pribadi.


Ethan melepaskan jasnya dan memakaikannya pada chaerin. Baru beberapa menit lalu Chaerin melihat Ethan yang sangat kasar, dan sekarang Ethan bersikap sangat lembut padanya seperti sebelum-sebelumnya.


"Di luar sangat dingin dan kau hanya memakai pakaian tipis, aku sudah bilang padamu sebelumnya, jaga dirimu sendiri dengan baik" Ethan merapikan jas yang di pakaiannya pada chaerin memastikan semua terkancing supaya cuaca dingin tidak bisa menyakiti wanitanya.


"Jangan terlalu baik padaku, mungkin aku akan salah paham"


"Akan lebih baik jika kau salah paham" Ethan terkekeh.


Chaerin menatap Ethan serius, ia memberanikan dirinya untuk mendekat ke arah Ethan, lebih dekat sampai ia bisa mencium aroma napas pria itu. Chaerin mencium Ethan singkat tidak lebih dari satu detik tapi momen itu sukses membuat jantung keduanya terasa hampir meledak.


"Terakhir kali kita bertemu, kau mencuri ciuman dariku, aku datang untuk mengambilnya kembali'"


Chaerin berbalik dan berjalan dengan mantap untuk meninggalkan ruangan Ethan.


"Chaerin!"


Suara Ethan yang memanggilnya membuat Chaerin menghentikan langkahnya dan setengah berbalik.


"Kau yakin tidak ingin mengambil bunga sekaligus pajaknya?" Ethan menyentuh pipinya kanannya dengan jari telunjuk dan Chaerin langsung paham maksud dari pria itu.


Chaerin tersenyum geli, pada saat sepeti ini Ethan masih saja bisa membuatnya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2