BOYFRIENEMY

BOYFRIENEMY
ETHAN YANG DINGIN


__ADS_3

Setelah kembali dari rumah sakit untuk melihat Bear, Chaerin mengeluh sangat lelah dan langsung berlari menuju kamarnya dengan wajahnya yang girang, meninggalkan Ethan yang masih berada di depan pintu, di sambut oleh Christopher.


Ethan tidak terlihat baik saat ini, Christopher pikir mungkin ada sesuatu yang terjadi pada tuannya yang menyebabkannya diam mematung di depan pintu, tanpa satu patah katapun yang terucap dari bibirnya. Setibanya di rumah, biasanya Ethan akan memerintahkan sesuatu tapi tidak kali ini.


Christopher memikirkan sesuatu untuk memulai pembicaraan, tapi belum sempat ia mengucapkan kata pertama, Ethan akhirnya bersuara, setelah keheningan yang panjang.


"Cris, kau pikir aku punya kekurangan?"


Christopher di buat bingung dengan pertanyaan dari tuannya, di tambah lagi raut wajah Ethan yang terlihat kecewa. Tidak biasannya Ethan terlihat muram, mungkin ini adalah kali pertama Christopher melihat wajah mendung Ethan setelah 20 tahun kebersamaan mereka.


Pertanyaan Ethan juga sangat aneh bagi Christopher. Ethan tidak pernah menanyakan bagaimana pandangan orang lain terhadap dirinya, Ethan selalu melakukan yang terbaik supaya tidak di pandang rendah oleh orang lain.


"Anda sempurna tuan" Christopher menjawab dengan sopan.


Bukan jawaban seperti itu yang diinginkan Ethan. Dia ingin jawaban jujur tentang bagaimana dirinya, bukannya jawaban untuk menyenangkan hatinya.


Ethan berdecak kesal, suasana hatinya sedang buruk dan sekarang mendengar perkataan Christopher membuatnya semakin buruk.


"Bagaimana bisa aku sempurna? Perkataanmu lebih terdengar seperti hinaan dari pada pujian" Ethan menatap Christopher tajam, dan pria tua itu hanya bisa menunduk.


"Maaf tuan" Christopher membungkuk lebih rendah untuk meminta maaf, pahal pinggangnya tidak dalam kondisi yang baik.


"Sudahlah" Ethan mengibaskan tangannya memerintahkan Christopher untuk bangun. "Buatkan aku Earl grey, aku akan berada di ruang kerjaku sepanjang hari"


Ethan berjalan meninggalkan Christopher, naik ke lantai dua menuju arah kamarnya.


Ethan membasuh wajahnya berkali-kali, berharap bisa membuang rasa malu yang di terimanya sejam yang lalu.


Bayangan tentang Chaerin yang menolaknya membuatnya gusar. Ethan tahu bukan kali ini saja Chaerin pernah menolaknya, Chaerin sudah menolaknya berkali-kali sampai Ethan lupa untuk menghitungnya. Tapi penolakan Chaerin kali ini sangat menyakiti hatinya.


Ethan meninju cermin di hadapannya sampai pecah, menyisakan bercak darah di sela retakan cermin.


Konyol memang, mengingat selama ini tidak ada satu orangpun wanita yang pernah menolaknya, hanya dirinya yang berhak untuk menolak.


Padahal dia sudah membuang jauh harga dirinya untuk seorang wanita bernama Chaerin. Tapi balasan dari wanita itu tidak sebanding dengan harga dirinya yang sudah ia buang.


Entah kenapa Ethan langsung merasa jatuh cinta pada Chaerin sejak awal pertemuan mereka. Ethan bahkan memaksa Chaerin untuk menikah dengannya.


Chaerin wanita yang cantik, ia tidak pernah mentaati peraturan apapun, bagi wanita itu hidup adalah bagaimana ia bersenang-senang dengan dirinya sendiri tanpa peduli dengan orang lain, dan kebebasaan adalah yang terpenting baginya, jauh melebihi uang, dan juga ia bukan wanita lemah lembut yang akan mengalah, sifat keras kepalanya sangat mirip dengan Ethan. Mungkin itulah yang menyebabkan Ethan menyukainya.


Karena selama ini wanita di sekitarnya selalu bersikap baik untuk menarik perhatiannya. Tapi Chaerin berbeda, dia memiliki sesuatu yang bisa membuat Ethan jatuh berlutut di hadapannya.


Ethan membalut perban pada tangannya yang terluka akibat pecahan cermin, dia terbiasa mengobati dirinya sendiri.


Ia bisa saja memanggil pelayan untuk merawat tangannya yang terluka, tapi Ethan sangat benci saat ada orang yang berani menyentuh anggota tubuhnya, tentu saja kecuali Chaerin. Ethan mungkin akan sangat bersyukur jika Chaerin mau menyentuhnya.


Tapi saat teringat pelukan mereka beberapa jam yang lalu, jantung Ethan kembali berdetak dengan cepat. Sepertinya jantungnya belum siap untuk melakukan hal yang lebih.


"Sepertinya kau sedang dalam keadaan kurang waras. Aku menandatangani surat nikah konyol itu bukan karena aku ingin, tapi kau mengambil kesempatan saat aku sedang dalam keadaan yang buruk. Ya kau bisa menganggap aku istrimu, tapi jangan harap aku akan satu kamar denganmu atau atau tidur bersamamu"


Lagi-lagi perkataan Chaerin tiba-tiba muncul di kepalanya. Ethan buru-buru mengalihkan perhatiannya pada hal lain, dia tidak bisa selamanya di hantui oleh perkataan kejam Chaerin.


Ethan tidak pernah bisa benar-benar marah ada Chaerin. Ia hanya agak kesal dan malu dengan sikap Chaerin yang mengatakan hal tersebut di depan banyak orang, terlebih lagi ia mengatakannya di depan para pegawainya.


Ethan bisa saja memaksa Chaerin untuk tidur dengannya, dan menggunkan Bear untuk mengancamnya. Tapi Ethan sadar, sebuah hubungan yang di paksakan tidak akan berakhir dengan dengan baik. Ethan sudah memutuskan untuk mendekati wanitanya itu secara perlahan, sampai Chaerin bahkan tidak akan sanggup untuk pergi.


Chaerin punya ruang tersendiri di dalam hatinya saat ini. Ethan bahkan menyesali perbuatannya di kapal pesiar tempo hari, ia tidak bisa menahan amarnya dan berakhir dengan mencekik Chaerin. Ethan bersumpah pada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah melakukannya lagi, ia juga tidak keberatan jika Chaerin ingin membalasnya.


Ethan sudah selesai berpakaian sehabis membersihkan dirinya.


Ethan duduk di atas kursi kerja empuknya yang terbuat dari kulit sapi kualitas terbaik, tubuhnya tersandar dan kepalanya menengadah ke atas, sesekali ia berputar-putar melihat langit-langit ruang kerjanya yang di cat berwarna merah dengan lukisan bunga Aster berwarna emas.


Siapapun yang melihatnya sekarang mungkin akan berpikir kalau Ethan sudah gila, dia sersenyum sendiri dengan wajah kemerahan, lalu kemudian wajahnya berubah masam. Tingkahnya sama sekali tidak terlihat seperti bos mafia pimpinan Gold Dragon yang arogan.


"Teh anda tuan"


Christopher meletakan nampan berisi poci teh dan juga sepiring cemilan untuk tuannya.


Tapi Ethan tidak sadar akan kehadiran Christopher, dia masih saja memandangi langit-langit.


"Tuan" Christopher menyentuh bahu Ethan pelan untuk menyadarkannya dari lamunan. Seketika Ethan tersadar dan duduk tegak dengan wajah terkejut tapi sedetik kemudian dia langsung bisa mengendalikan ekspresinya.


"Siapa yang mengizinkanmu menyentuhku?"


"Maaf tuan, saya hanya...." Christopher menunduk, tangannya gemetar, dia tidak berani memandang Ethan yang pastinya sekarang sedang marah padanya.


"Pergi"


Mendengar perintah tuannya Christopher langsung berbalik berniat untuk pergi, tapi sesuatu dalam dirinya menahannya. Menurutnya ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengajukan pengunduran diri.


Ethan sangat sibuk setiap harinya. Mereka memang tinggal di rumah yang sama tapi sangat sulit untuk bisa bertemu dengan Ethan karena jadwal pekerjaannya yang tidak tentu.

__ADS_1


"Tuan"


"Kau belum pergi??"


"Bisa saya bicara sebentar"


Christopher mendapat perhatian penuh dari Ethan sekarang, dari nada suaranya Christopher terdengar serius dan itu membuat Ethan penasaran.


"Mmmm, ada masalah?"


"Umur saya sekarang sudah tidak muda lagi, saya rasa ini saat yang tepat untuk saya berhenti bekerja, itupun jika anda mengizinkan tuan"


Christopher memang sekarang memang sudah tidak muda lagi. Usianya hampir menginjak 70, dan bekerja sebagai kepala pelayan yang mengurusi segala hal di rumah besar milik tuannya ini cukup membebaninya.


Christopher menunduk, menunggu reaksi apa yang akan di tunjukan oleh tuannya.


Ethan mendengus dan kembali bekerja membaca setiap laporan yang belum sempat ia periksa saat di kantor.


"Tidak, aku menolak, kau harus tetap berada di sini. Jangan lakukan pekerjaan apapun jika kau memang tidak mau" ucap Ethan acuh.


"Tapi tuan...." Christopher masih berusaha membujuk Ethan untuk menerima pengunduran dirinya.


"Kau membantah ku Cris?"


Ethan menatap Christopher tajam mengintimidasi, seperti elang yang siap untuk menerkam mangsanya.


"Tidak tuan, maafkan saya" pria tua itu tidak sanggup lagi untuk membantah, dia hanya membungkuk pelan dan berlalu pergi keluar dari ruang kerja tuannya.


*


Mata Chaerin seketika berbinar saat melihat satu persatu makanan yang di bawa masuk ke ruang makan oleh para pelayan untuk makan malam. Chaerin hampir meneteskan air liurnya. Ia sudah tidak sabar untuk makan.


Chaerin tidak makan berhari-hari karena karena ia sangat stres memikirkan Bear, tapi setelah melihat Bear di rumah sakit dalam keadaan hidup, membuat nafsu makannya kembali. Ia bahkan bisa memakan seekor gajah sekarang.


Chaerin sudah siap dengan garpu dan sendok nya untuk mulai menyantap makanan, tapi tidak ada satupun orang di meja makan yang mempersilahkannya untuk makan. Ethan, dan Christopher yang juga ada di meja tersebut hanya diam seperti menunggu seseorang.


Chaerin baru ingat bahwa si pria putih pucat belum bergabung bersama mereka.


"Maaf tuan saya terlambat" Sean akhirnya muncul, menunduk hormat ke pada Ethan dan mengambil tempat tepat di sebelah Christopher.


Ethan menggambil pisau dan garpu lalu mulai memotong steak yang ada di hadapannya, diikuti Christopher. Dan Chaerin langsung menusuk steaknya dengan garpu dan memakannya tanpa memotongnya.


Christopher sudah ingin menegur Chaerin untuk makan dengan lebih sopan, tapi melihat Ethan yang bahkan tidak berkomentar apapun membuatnya mengurungkan niatnya dan melanjutkan makan tanpa memperdulikan Chaerin.


Wanita itu memotongkan daging steak milik Sean dan menyuapi pria itu makan seperti anak kecil.


Chaerin tidak begitu memperhatikan Sean karena terlalu bersemangat dengan makanannya, tapi kemudian ia tanpa sengaja melihat ke arah Sean dan di buat bingung karenanya. Kenapa seorang pria berumur 21 tahun yang mempunyai tangan dan kaki lengkap tidak makan makanannya sendiri dan harus di suapi.


"Aku baru tau kita punya bayi besar di sini" Chaerin berucap sarkastik.


Ethan dan Christopher paham betul di tujukan kepada siapa cibiran yang di ucapkan oleh Chaerin. Tapi Sean tidak mengerti dan malah melihat ke sekitar untuk menemukan bayi besar yang di maksud oleh Chaerin.


Hongjung kembali menyodorkan potongan daging ke arah Sean dan langsung di sambut oleh Sean dengan girang, ia memakan makannya tanpa terganggu dengan tatapan sinis Chaerin yang merasa diabaikan.


"Kau bisa berhenti menyuapinya, dia sudah besar dan bisa makan sendiri, kenapa kau memanjakannya!" Chaerin menatap Hongjung dan menunjuknya menggunakan garpu.


Hongjung berlagak tuli dengan tidak menghiraukan ucapan Chaerin, ia masih saja mengurusi Sean yang makan dengan lahap nya.


Chaerin merasa sangat kesal, ia merasa rumah yang di tempatnya saat ini penuh dengan orang gila. Seperti Ethan yang punya tempramen buruk dan berubah-ubah, dan sekarang ada Sean yang bersikap kekanakakan. Sean bahkan meminum susu dari gelas dot berbentuk dinosaurus bertanduk. Ia coba menebak kejutan apa lagi yang akan di lihatnya di rumah besar ini.


"Nona, makan saja makanan anda, kami yang ada di sini bahkan tidak berkomentar dengan cara makan anda yang.............."


Ucapan Christopher tertahan saat Ethan menggebrak meja makan dengan tangannya yang masih memegang pisau. Di tatapnya Chaerin dan Christopher secara bergantian, sebagai isyarat agar mereka berdua diam.


"Aku paling benci pertengkaran di meja makan" ucapan singkat dari Ethan membuat suasana seketika hening.


Chaerin menunduk sesaat lalu membanting garpunya, wanita itu meninggalkan meja makan dengan perasaan kesal. Kepada Ethan, Sean, dan terlebih pada Christopher.


"Wanita itu!" Christopher memasukan potongan kecil daging kedalam mulutnya dan mengunyahnya kasar.


"Perhatikan ucapanmu Chris, dia istriku" Ethan menatap Christopher dengan matanya yang tajam.


Christopher langsung berdiri dan membungkuk 90 derajat untuk meminta maaf.


"Maaf tuan" Christopher sadar dengan ucapannya yang terdengar sangat kasar, padahal ia sedang membicarakan istri dari tuannya.


Christopher masih sadar akan posisinya, walaupun Ethan memperlakukannya dengan baik dan bahkan ia bisa makan di meja yang sama, ia hanya seorang pelayan, tidak akan lebih dari itu sampai kapanpun.


"Jika kau bersikap buruk padanya, aku jua akan bersikap buruk padamu"


Ethan meletakan pisau dan garpunya, lalu melap mulutnya menggunakan serbet.

__ADS_1


"Aku sudah selesai, aku kan berada di ruang kerjaku jadi bawakan aku teh. Juga bawakan makanan untuk Chaerin, ia mungkin masih lapar karena tidak menyelesaikan makannya"


Ethan beranjak meninggalkan ruang makan dan pergi menuju ruang kerjanya. Ia melewati Christopher yang masih terus membungkuk, tanpa menghiraukan pria tua itu sama sekali.


Christopher mengangkat tubuhnya dan mencoba meluruskan pinggangnya. Ia sudah tua dan pinggangnya semakin hari makin sakit saat ia membungkuk terlalu rendah.


Christopher membuang napasnya dan kembali duduk untuk melanjutkan makan malam.


*


Chaerin duduk di samping air mancur yang ada di taman buatan milik Ethan. Tempat itu di penuhi dengan bunga-bunga dan juga rerumputan, semuanya terlihat seperti sungguhan, tapi pada kenyataanya itu hanya bunga dan juga rumput plastik. Tapi Chaerin cukup senang berada di sana karena itu adalah satu-satunya tempat yang membuatnya merasa bebas.


Chaerin berharap Ethan akan membelanya saat makan malam tadi, tapi kenyataanya Ethan malah membentaknya, bukan hanya dia, tapi Christopher juga.


Ethan terlihat aneh saat kembali dari rumah sakit. Ia tidak bicara sepatah katapun, ia juga bahkan menghindari kontak mata, Ethan bersikap sangat dingin seakan tidak peduli pada Chaerin. Tingkah Ethan itu membuat Chaerin agak kurang nyaman karena selama ini Ethan selalu bicara banyak hal padanya dan selalu perhatian, dan juga marah.


"Dia mungkin sedang dalam masa pubertas" gumam Chaerin


Sebelumnya Ethan terlihat sangat perhatian dengan berjanji akan terus merawat Bear, tapi dengan syarat bahwa Chaerin tidak boleh membatalkan surat nikah yang sudah di tandatanganinya dan tinggal bersama Ethan. Ethan melarang Chaerin untuk keluar rumah dengan alasan apapun, segala gerak geriknya di pantau 24 jam.


Chaerin hidup bagaikan di sangkar emas, Ethan memberinya segala hal, perhiasan, pakaian bermerek, sepatu dan tas mahal, tinggal di rumah mewah dengan belasan pelayan yang siap melayaninya setiap waktu.


Tapi paling tidak hidupnya sekarang ini jauh lebih baik daripada berada di Lady Castle. Walaupun kebebasannya di batasi.


Chaerin memang setuju untuk menikah, karena memang ia sudah menandatangani surat nikah sebelumnya, tapi Chaerin menolak untuk berada di kamar yang sama dengan Ethan, ia juga tidak ingin tidur bersama Ethan. Dan dengan ajaibnya, Ethan menyetujui hal tersebut, membuat Chaerin lega.


Christopher datang menghampiri Chaerin dengan membawakan buah-buahan yang di susun di atas nampan perak. Pria tua itu lalu duduk di kursi di hadapan Chaerin, tapi Chaerin mengabaikan kehadiran Christopher dan membuang wajahnya.


"Sean mengalami kecelakaan saat usia 8 tahun dan ia kehilangan kemampuan kognitifnya, bisa di katakan ia autis"


Christopher akhirnya berhasil menarik perhatian Chaerin. Wanita itu ternganga menunjukan keterkejutannya.


"Dia tidak terlihat sepeti anak autis"


Chaerin mengambil sebiji anggur dan memasukannya ke dalam mulutnya. Harus ia akui, ia sekarang ini sedang lapar karena tidak bisa makan banyak tadi.


"Tuan Ethan sangat tekun mengajarinya segala hal, tapi sayangnya tidak semua hal bisa di lakukannya. Sean tidak bisa mengikat tali sepatunya, tidak bisa memegang sendok dan garpu dengan benar, tidak bisa mengancingkan pakaiannya sendiri, dan tingkahnya kadang masih kekanakan, ia sering kali menelan mentah-mentah informasi yang di dapatnya tanpa bisa berimprovisasi atau memikirkan baik dan buruk"


Chris memberikan anggur yang sudah di buang tangkainya untuk Chaerin.


Wajah Chaerin seketika berubah, ia sangat merasa bersalah karena berkata kejam kepada Sean.


"Tapi bukankah ia sangat pintar?"


"Ya, sisi baik dari kecelakaan yang di alaminya adalah, ia mengalami sindrom savant, ia jenius angka, ia bisa ingat setiap kata dari apa yang pernah ia baca, ia juga belajar sesuatu dengan cepat hanya dengan sekali lihat"


"Ah, ternyata si putih pucat itu punya kekurangan dan kelebihan yang membingungkan" Chaerin menghela napasnya.


"Jangan panggil aku si putih pucat, namaku Sean, tuan Ethan yang memberikan nama itu padaku, karena aku adalah hadiah dari tuhan untuknya" Sean muncul entah dari mana dan langsung duduk di antara Chaerin dan Christopher.


"Aku tidak yakin apa Ethan benar menganggapmu hadiah. Agh si brengsek itu" Chaerin membuang napasnya kasar, mengingat bagaimana Ethan bisa berubah menjadi sangat kejam.


Sean secara tiba-tiba mengambil pisau buah yang da di atas nampan dan mengarahkannya pada Chaerin.


Sean menggeram, matanya menunjukan bahwa sekarang ini ia sedang serius dan siap untuk melukai Chaerin.


Chaerin memundurkan tubuhnya untuk menghindari acungan pisau Sean, itu hanya pisau buah tapi tetap saja itu bisa melukainya.


"Sean letakan!" Christopher memegangi tangan Sean dan berusaha membuat pria itu melepaskan pisau di tangannya.


"Ia tidak serius, letakan piasunya!"


Christopher sekuat tenaga merebut pisau itu dari tangan Sean dan berhasil, tapi tatapan mata Sean masih saja tertuju pada Chaerin, tatapan mata tajam menakutkan yang siap untuk membunuh.


"Hongjung!" Christopher berteriak.


Dengan tergopoh-gopoh Hongjung datang menghampiri Christopher.


"Bawa Sean ke kamarnya"


Perintah Christopher langsung di lankasankan oleh Hongjung, wanita itu memegangi lengan Sean dan menariknya pelan supaya Sean mengikutinya ke kamar.


"Aku, akan membunuhmu nanti"


Ucap Sean dengan giginya yang gemeretak menahan marah sebelum akhirnya berbalik mengikuti Hongjung menuju kamarnya.


"Kau tidak boleh menghina tuan Ethan di hadapan Sean, ia sangat terobsesi pada tuan Ethan"


Ucapan Christopher mendapat anggukan ragu-ragu dari Chaerin yang masih terkejut dengan perubahan tingkah Sean yang tiba-tiba .


"Tuan Ethan punya tempramen yang buruk, saat ia marah ia bisa sangat kasar, tapi ia juga bisa bersikap lembut dan baik dan ucapan burukmu bisa saja melukai hatinya. Ini hanya saran, tapi lebih baik jaga sikapmu, jika ia marah, kau mungkin akan kehilangan nyawamu"

__ADS_1


Christopher berdiri lalu pergi meninggalkan Chaerin yang kebingungan.


Christopher berkata dengan raut wajah datar dan nada suaranya sepeti seorang yang perhatian, tapi Chaerin malah merasa bahwa kalimat yang di ucapkannya adalah sebuah ancaman.


__ADS_2