
Maple menangis tak bersuara sambil menggenggam ujung bajunya erat.
Di hadapannya seorang anak bersama ibunya sedang berdebat dengan seorang guru wali kelas.
"Ini hanya perkelahian kecil antar anak-anak, Maple mungkin hanya tidak sengaja mendorong Ashley, dan lagi Ashley hanya tergores sedikit, kita tidak harus membesar-besarkan nya," guru muda itu berucap sopan kepada ibunya Ashley.
"Perkelahian kecil?! Anakku di dorong jatuh hingga terluka. Ashley coba jelaskan apa yang terjadi, kenapa anak ini mendorongmu?" perintah ibu Ashley pada anaknya dengan nada marah.
"Maple memaksa ingin meminjam sepatu dan baju balet milikku, aku tidak mau meminjamkannya dan Maple langsung marah" ucap Ashley pelan dengan mata sembab karena habis menangis.
"Kau dengar? anak ini bermasalah, dia punya tempramen buruk yang membahayakan anak-anak lain, aku tidak ingin Ashley satu sekolah dengan anak macam ini.
Guru wali kelas berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan Maple, di elusnya kepala anak itu lembut.
"Benar begitu? Kau mendorong Ashley karena dia tidak mau meminjamkanmu sepatu dan baju baletnya?" tanya guru itu perlahan.
Maple hanya menunduk dan mengangguk pelan tanda mengiyakan.
"Aku cuma mau mencobanya sekali" ucap Maple pelan.
"Minta ibumu membelikanmu, kenapa juga kau menginginkan barang milik Ashley. Apa penghasilan ibumu di bar tidak cukup? Bukannya dia melacurkan diri tiap malam di bar, seharusnya ia punya banyak uang. Tidak ada yang tahu siapa ayahmu, anak haram sepertimu benar-benar membuat sakit kepala" ucap ibu Ashley merendahkan.
"Jangan hina mamaku!" Maple berteriak dan mendorong wanita berblezer biru itu dengan segenap kekuatan tangan kecilnya.
Tapi seperti sudah bisa di duga, kekuatan dari anak berusia 7 tahun tidak sepadan dengan orang dewasa. Ibu Ashley balas mendorong Maple dan membuat ia jatuh terjerembab ke lantai, dan kepalanya terantuk kaki meja hingga berdarah. Kali ini Maple tidak bisa menahan suara tangisnya.
Guru wali kelas segera membantu Maple untuk berdiri dan memandang wanita di hadapannya geram, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Ayah Ashley adalah seorang jaksa dan ibunya seorang pengusaha yang berteman dekat dengan kepala sekolah, salah seorang kerabatnya juga pejabat daerah yang sangat berpengaruh, akan jadi masalah jika berurusan dengan orang yang punya kekuasaan semacam itu.
"Aku punya papa!" Maple kembali berteriak di sela isak tangisnya.
"Yah kalaupun ada aku yakin ayahmu adalah salah seorang preman pecandu narkoba yang sering kali keluar masuk penjara!"
"Anda seharusnya tidak bicara seperti itu di depan anak-anak!"
"Apa hakmu berteriak padaku seperti itu, kau pikir kau siapa? Aku hanya sedang mendidik anak itu. Kau selalu membela anak-anak nakal karena itulah kenakalan mereka semakin menjadi-jadi. Apa kau sudah panggil ibunya untuk datang? aku harus minta ganti rugi karena anakku terluka!" ibu Ashley meninggikan suaranya.
"Tapi Maple juga terluka karena anda!" guru muda itu tidak bisa lagi menahan amarahnya, Maple memang bersalah tapi tidak seharusnya anak sekecil Maple di perlakukan dengan kasar.
Seseorang mengetuk pintu ruang konseling dan pintu terbuka.
Sean masuk ke dalam ruangan di susul oleh Ethan yang langsung menghampiri Maple, sedangkan Sean hanya berdiri di samping pintu yang sudah ia tutup kembali.
Belasan pria berjas hitam berbaris rapi di koridor sekolah, mereka adalah pengawal yang Ethan bawa. Bukan hanya di koridor, di pintu masuk, di gerbang dan halaman sekolahpun di penuhi penjaga berjas hitam yang siap siaga memantau situasi.
Ethan biasanya hanya membawa beberapa orang untuk mengawalnya saat pergi keluar. Tapi saat ini berbeda. Ia akan menemui anaknya yang sangat berharga, ia tidak ingin musuh, atau rival bisnisnya mengetahui keberadaan Maple dan berniat menyakitinya.
Dan orang yang paling di waspadai oleh Ethan tidak lain dan tidak bukan adalah Arnoldo Ricci, karena sampai saat ini, pria itu tidak juga menyerah untuk menghancurkan Ethan.
Ethan meraih Maple dan langsung menggendongnya, menenggelamkan Maple kecil ke dalam pelukannya.
"Jangan menangis papa di sini" Ethan menepuk-nepuk punggung Maple, mencoba membuatnya tenang.
Maple melingkarkan tangannya ke leher Ethan sambil trus menangis. Sebenarnya dirinya bingung kenapa ada seseorang yang tiba-tiba datang dan mengaku sebagai papanya, tapi suasana hatinya yang kacau membuatnya tidak bisa berhenti menangis dan bertanya. Kehadiran Ethan entah kenapa membuat Maple merasa nyaman dan aman seketika.
Ibunya Ashley dan juga guru wali kelas memandang Ethan dengan tatapan heran, pria di hadapannya memakai pakaian mahal, dari atas sampai bawah, di tambah lagi ucapan Ethan yang mengatakan bahwa ia adalah ayah Maple membuat kejutan tersendiri bagi mereka.
Sejauh yang mereka tahu, Maple bukanlah dari keluarga kaya, dan ia hanya tinggal berdua dengan ibunya yang bekerja di bar, tidak pernah ada yang tahu siapa dan di mana ayahnya.
"Kau ayahnya Maple?" Ibunya Ashley bertanya untuk memastikan.
"Kau terlihat tidak asing" tambahnya lagi sambil mencermati wajah Ethan.
"Sean suruh supir untuk bersiap-siap, kita harus ke rumah sakit" Ethan tidak menghiraukan pertanyaan dari ibu Ashley dan berjalan menuju pintu untuk membawa Maple keluar.
"Bukankah kau Ethan Zie dari Gold Medical, dan kau adalah Sean?" Wali kelas menunjuk Ethan dan Sean secara bergantian, ia mengenal Ethan karena pria itu sering muncul di televisi dan majalah, walaupun akhir-akhir ini ia jarang tampil di media, tapi wajah tampan Ethan mudah di hafal semua orang. Dan setelah menggantiakan Ethan memimpin Gold medical, Sean juga sekarang cukup terkenal.
"Kau guru wali kelas Maple? Senang bertemu denganmu. Aku Ethan, ayah Maple" Ethan mengambil kartu nama dari kantung jasnya dan memberikannya pada wanita muda itu.
"Kau bisa menghubungiku kapan saja jika terjadi sesuatu pada Maple di sekolah. Dan aku akan sangat menghargai jika kau mau menjadi saksi dalam persidangan nantinya" ucap Ethan sopan.
__ADS_1
"Saksi?"
"Ya, dia melukai anakku" Ethan menatap tajam ke arah ibunya Ashley dan wanita itu balas menatap Ethan tanpa rasa takut.
"Aku juga akan melakukan gugatan atas tuduhan pencemaran nama baik, untuk penghinaan yang di lakukannya terhadap istriku dengan menyebutnya sebagai pelacur"
"Kalau bukan pelacur, lalu di sebut apa wanita yang bekerja di bar melayani para lelaki itu. lagipula anak sialan itu sendiri yang lebih dulu melukai anak ku, aku yang seharusnya menuntutmu" Ibu Ashley berkacak pinggang memandang Ethan dengan angkuh, walau dalam hati ia agak sedikit takut karena Ethan bukanlah orang biasa.
"Perkelahian anak-anak berumur 7 tahun dengan hanya luka gores, aku rasa itu tidak bisa di bawa sampai ke pengadilan. Lain halnya dengan penganyayaan pada seorang anak oleh orang dewasa" Ethan bicara dengan penuh percaya diri.
"Suamiku adalah jaksa, kau pikir mudah melawanku di pengadilan" ibu Ashley tetap dengan tingkah angkuhnya.
"Aku mengatakan ini bukan untuk mengancammu, tapi anggap ini peringatan. Suamimu akan segera di pecat, akan aku pastikan itu" tatapan mata Ethan yang tajam membuat ibu Ashley tertunduk, ia ingin balas mengancam Ethan tapi tidak satu katapun mampu ia ucapkan.
Ethan membuang muka dan keluar dari ruang konseling bersama Maple yang masih menangis di gendongannya.
*
Maple meringis kesakitan saat kapas antiseptik menyentuh lukanya. Tangan kecilnya memegangi lengan Ethan erat tanpa mau melepaskannya sedikitpun.
Sean melotot ke arah Maple dan di balas Maple dengan juluran lidahnya. Sean merasa Maple sangat mirip dengan Chaerin, dan baginya itu sangat menyebalkan.
"Sudah, untuk sementara usahakan lukanya tidak terkena air" dokter menepuk-nepuk kepala Maple dan memberikannya sebuah lolipop besar.
"Terima kasih" Ethan tersenyum pada dokter dan menuntun Maple turun dari kursi tinggi tempat ia duduk.
Maple terpaku memandangi Ethan tanpa bergerak dari tempatnya berdiri padahal Ethan sudah menarik tangannya untuk membawanya pergi.
"Anda siapa?"
Akhirnya setelah dirinya tenang, Maple mulai mempertanyakan siapa pria yang bersamanya itu.
"Mama tidak memperbolehkanku bicara dengan orang asing" ucap Maple polos.
Ethan berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Maple, menatap anak itu tepat di matanya dan berfikir apa yang harus di katakannya pada Maple, mengaku bahwa ia adalah ayahnya setelah sekian lama pasti membuat Maple terkejut, Ethan berfikir keras untuk merangkai kata-kata supaya Maple bisa mengerti.
"Dia ayahmu" Ethan sudah ingin bicara tapi Sean menyela cepat.
Ethan melotot, ia kesal karena Sean mengambil alih salah satu momen paling penting dalam hidupnya.
Sean menunduk dan mundur menjauh dari Ethan dan Maple, memberikan mereka ruang untuk bicara berdua.
Sean memegangi pipinya yang entah kenapa terasa ngilu, ingatan akan tamparan Ethan sebulan yang lalu menjadi trauma baginya.
"Itu tidak mungkin, Mama bilang papaku sudah mati" ucap Maple yakin, padahal selama ini ia selalu menyangkal ucapan mamanya.
Ethan terlihat kecewa mendengar ucapan Maple, bisa-bisanya Chaerin mengatakan bahwa ia sudah mati, itu sama saja dengan mendoakannya.
"Kau lihat ini, ini fotoku dengan Mama mu" Ethan menunjukan fotonya dengan Chaerin di dompetnya, foto yang sama persis seperti milik Chaerin yang di robeknya.
Maple memandangi Ethan bingung, untuk anak usaia 7 tahun, kemunculan Ethan yang mendadak tidak bisa di cerna oleh otaknya.
"Benarkah?"
Ethan mengangguk semangat sambil tersenyum secerah mungkin.
Mapel tiba-tiba memeluk Ethan sangat erat dan Ethan balas memeluknya.
"Bagaimana bisa papa selamat dari ikan paus?" Maple melepaskan pelukannya dan memandang Ethan dengan wajah serius.
"Paus?"
"Ya, Mama bilang kalau papa di makan ikan paus besar" Maple mengatakannya sambil melebarkan tangannya untuk mendeskripsikan kata besar.
Suara kikikan Sean terdengar, ia sama sekali tidak menyangka Chaerin akan memberikan alasan konyol seperti itu. Dan sekali lagi Ethan mempelototinya.
"Saat berada di jepang, aku selalu mengajak Jiji ke pantai dekat rumah untuk menunggu papa, berharap ikan paus memuntahkan makanannya" Maple mulai menangis dan Ethan memeluknya.
Ia tahu betapa Maple sangat menyayanginya walaupun mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
"Papa tidak boleh di makan ikan lagi" tangisan Maple semakin nyaring membuat orang-orang di sekitar mereka menatap penasaran.
__ADS_1
"Tidak akan, papa sudah membunuh ikannya dan membuatnya menjadi sushi" ucap Ethan asal sambil menggendong Maple untuk membawanya pulang.
"Apa sushinya enak?"
"Lumayan, kau ingin mencobanya?"
"Bisa bungkuskan juga untuk Mama?"
Ucapan polos Maple membuat suasana yang tadinya serius berubah menjadi lebih riang.
Sepanjang perjalanan, Ethan tidak henti-hentinya tertawa karena tingkah polos Maple dan juga pertanyaan-pertanyaan konyol darinya.
Sean yang jarang tertawa pun di buat tertawa terbahak-bahak saat Maple bercerita kalau ia pernah ingin punya adik dan Chaerin membuatkannya adik dari adonan roti, saat roti selesai di panggang roti itu tidak bergerak dan Chaerin bilang kalau adiknya sudah mati, jadi Maple menangis dan membawa roti itu ke belakang rumah untuk di kuburkan.
"Apa yang di pikirkan Chaerin saat membuat kebohongan gila semacam itu" Ethan menutup matanya dengan tangan dan tertawa.
Sepanjang jalan terasa sangat menyenangkan bersama Maple.
*
Christopher mendorong cepat kursi rodanya ke depan pintu untuk menyambut kedatangan tuannya.
Kabar bahwa Ethan akan membawa anaknya pulang membuatnya sangat bahagia, ia bahkan menyiapkan kamar untuk Maple dengan perabot dan dinding berwarna pink, juga puluhan boneka dan mainan untuk anak perempuan. Padahal Ethan hanya berencana membawa Maple pulang sebentar, dan lalu mengantarkannya kembali pulang.
Ethan tidak berani mengambil Maple dari Chaerin, karena itu akan membuat Chaerin mengamuk dan makin membencinya.
"Kau cantik seperti nona Chae" Christopher mengelus wajah Maple dengan tangan keriputnya.
Maple memandang Ethan untuk mencari jawaban siapa pria tua di hadapannya.
"Dia kepala pelayan di sini, kau bisa panggil dia Christopher"
"Mama bilang aku tidak boleh memanggil orang tua dengan namanya, jadi aku akan memanggilnya kakek, senang bertemu denganmu kakek" Maple menunduk untuk memberikan salam.
"Nona Chae mendidiknya dengan sangat baik" Christopher tersenyum bahagia melihat Maple yang sangat sopan.
"Sifat mereka berdua sangat bertolak belakang, walaupun wajah mereka mirip tapi anak ini punya sopan santun" celetuk Sean menjelekan Chaerin.
Dan untuk kesekian kalinya Ethan melotot ke arahnya dan Sean langsung minta maaf.
*
Chaerin berlari memasuki ruang konseling dan mendapati guru wali kelas Maple di sana.
Guru wali kelas Maple terlihat terkejut dengan kedatangan Chaerin. Guru itu berfikir untuk apa lagi Chaerin datang padahal Maple sudah di jemput oleh ayahnya.
"Anda ke sini?"
"Ya, maaf terlambat, dimana Maple? Masalah apa lagi yang di buat anak itu?" tanya Chaerin masih dengan nafasnya yang terengah-engah.
"Ibunya Ashley ingin membawa masalah ini ke pengadilan"
"Apa! Hanya karena perkelahian anak-anak dia mau memperpanjang masalah ini sampai ke pengadilan? Wanita kaya di dunia ini memang selalu gila!" sejuta sumpah serapah keluar dri mulut Chaerin, ini adalah kesempatan bagus untuk bicara kasar, karena selama ini ia selalu menjaga kata-katanya di depan Maple, ia tidak ingin Maple meniru sifat buruknya.
"Awalnya memang sepertinya akan selesai jika anda datang dan minta maaf seperti biasa. Tapi ayah Maple datang dan membuat ibu Ashley terprovokasi" jelas guru wali kelas itu.
"Ayah Maple? Siapa?" tanya Chaerin bingung, selama ini yang selalu berpura-pura sebagai ayah Maple adalah Inguk, tapi sudah berbulan-bulan Inguk menghilang dan ia tidak tahu kabar darinya. Inguk memang memiliki hobi menghilang dan datang sesuka hatinya.
"Setelah saya lihat lebih jelas, ternyata anda memang istrinya, saya dulu sekali pernah melihat anda di berita" ucap guru wali kelas Maple, membuat Chaerin semakin kebingungan.
"Apa maksudnya? Istri siapa?" tanya Chaerin lagi.
"Ethan Zie, CEO Gold Medical"
Chaerin membelalakan matanya saat wanita di hadapannya itu menyebut nama Ethan.
Memorinya seakan di putar ulang, saat awal bertemu sampai akhirnya ia kabur dari pria itu.
"Jangan bilang, kalau Ethan membawa Maple pergi"
"Iya, Tuan Ethan, membawa Maple pergi" guru wali kelas Maple mengangguk dengan wajah tanpa dosa
__ADS_1
"Kenapa kau biarkan si brengsek itu membawa anakku!!" Chaerin mulai histeris.
"Bukankah dia ayahnya??" guru wali kelas itu tampak kebingungan melihat reaksi Chaerin yang berlebihan. Seperti seorang ibu yang anaknya baru saja di culik.