
Bukan sesuatu yang baru jika seorang Ethan Zie memberikan pekerjaan tanpa memperdulikan waktu. Bisa di bilang mungkin batasan waktu untuk bekerja pada Ethan adalah hingga kiamat tiba.
Seperti malam ini, sudah lewat tengah malam, hanya dengan panggilan telpon, ia memberikan perintah pada asistennya, Sean.
Sean, pria tinggi dengan wajah kaku, kulitnya pucat seperti tidak ada setetepun darah yang mengalir di tubuhnya, rahangnya tajam setajam tatapan matanya, dia sangat suka berpakaian gelap, tidak ada satupun pakaiannya yang berwarna cerah. Kecuali gelang dari benang merah yang melilit tangan kirinya.
Matanya berwarna biru bening, sebening butiran embun yang membeku, dan rambutnya berwarna putih seperti salju di awal musim dingin begitu pula dengan alis dan bulu matanya.
Sean tidak suka berkeliaran di siang hari, dia lebih senang melakukan pekerjaannya di malam hari, apalagi jika itu tengah malam. Seperti malam ini.
Bukan tanpa alasan, terlahir sebagai albino membuatnya sangat sensitif dengan sinar matahari. Dia selalu mengunakan pakaian panjang dan sarung tangan saat bepergian di siang hari, juga kacamata hitam untuk menutupi matanya yang sensitif.
Orang yang tidak mengenalnya mungkin akan berfikir dia adalah orang yang aneh, memakai pakaian tebal pada musim panas dan memakai pakaian tipis saat musim dingin, tubuhnya seakan terbalik mengenali dua cuaca yang sangat bertolak belakang itu.
Terlahir albino bukan berarti Sean terbatas untuk melakukan apapun, tubuhnya memang kurus dan terlihat sangat lemah, tapi percayalah dia lebih kuat dari kelihatannya.
Jika tidak bertemu dengan Ethan 12 tahun yang lalu, mungkin Sean tidak akan bisa hidup sampai dengan sekarang.
Sean lahir di sebuah desa terpencil di atas gunung yang masih terbelakang masalah peradaban modern.
Penduduk desa itu percaya bahwa anak yang lahir albino adalah suatu kesialan, dan dewa akan mengutuk dan menghancurkan desa mereka jika anak itu tidak segera di jadikan tumbal untuk persembahan.
Ethan menemukan Sean saat sedang melakukan ekspedisi ke gunung untuk mencari tempat yang cocok untuk membuat ladang opium sebagai bahan baku pembuatan heroin.
Sean yang masih berusia 8 tahun tergeletak tak sadarkan diri di atas batu besar, tulang rusuknya patah, dan tulang belakangnya bergeser, ia juga mengalami cedera kepala parah. Sudah pasti ia di lemparkan dari atas tebing, beruntung pohon yang tumbuh di pinggiran tebing menahannya supaya tidak jatuh langsung ke bawah.
Ethan melupakan tujuan utamanya dan segera bergegas membawa Sean turun dari gunung, menggendongnya di belakang punggungnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Untuk ukuran orang yang jatuh dari tebing yang tinggi, Sean masih bisa di katakan beruntung, karena bisa bertahan hidup.
Tapi sialnya walaupun Sean berhasil di selamatkan, ia kehilangan kemampuan kognitifnya. Sean tidak berprilaku seperti anak normal berumur 8 tahun pada umumnya, ia lebih terlihat seperti anak berkebutuhan khusus dengan IQ 40, bisa di bilang Sean menderita autis. Dokter bahkan tidak bisa menjanjikan kesembuhan untuknya.
Ethan harus sabar menghadapi Sean, di umurnya yang ke 8 tahun Sean tidak bisa mengikat tali sepatunya sendiri, tidak bisa mengancingkan pakaiannya, tidak bisa memegang sendok dengan benar saat makan dan lebih suka makan langsung dengan tangan, ia bahkan tidak bisa menuliskan namanya sendiri, dan ia bicara seperti bayi yang bergumam tidak jelas, sampai pada akhirnya satu tahun kemudian Sean mengucapkan kata pertamanya.
Tapi sebuah keajaiban terjadi, saat Christopher, kepala pelayannya, tiba-tiba membangunkan Ethan di tengah malam untuk menunjukan apa yang sedang di lakukan oleh Sean.
Sean duduk di kelilingi tumpukan buku yang berserakan di lantai, tangannya bergerak memegangi pulpen dan menuliskan sesuatu di kertas. Tentu saja hal itu membuat Ethan heran karena Sean bahkan tidak pernah bisa menulis seberapa keras pun ia mengajarinya.
Christopher memberikan selembar kertas penuh coretan yang di pungutnya dari lantai kepada Ethan.
Sean berhasil memecahkan persoalan rumit korelasi aljabar dan geometri, padahal Ethan dan juga Christopher tidak pernah mengajarinya tentang matematika sebelumnya.
Setelah itu keajaiban lain terus bermunculan. Sebelum memberikan surat kabar pagi untuk Ethan, Sean selalu membacanya lebih dahulu, dan ia hanya membutuhkan waktu 3 menit untuk menyelesaikan sebuah koran dengan 10 halaman, bahkan Sean juga ingat kata demi kata yang tertulis di sana tanpa ada satupun yang terlewat olehnya.
Oleh karena itu Ethan selalu mengantar Sean setiap pagi saat ia pergi untuk bekerja ke perpustakaan kota untuk mengabiskan waktunya dengan membaca buku, Ethan akan menjemput Sean di sore hari, atau bahkan malam hari saat dirinya terlalu sibuk untuk pulang lebih cepat, tapi Sean tidak pernah mengeluh sedikiditpun. Sean selalu menurut apapun yang di katakan oleh Ethan tanpa pernah membantah.
Bagi Sean yang sejak umur 8 tahun sudah terobsesi dengan Ethan, apapun yang perintahkan Ethan padanya sama dengan sabda Tuhan.
Sean bahkan bersedia mengorbankan nyawanya, jika itu adalah permintaan dari Ethan.
Ethan memanfaatkan kelebihan Sean itu dengan sangat baik, dengan bantuan Sean ia bahkan bisa membangun Gold Medical dan membuatnya bisa sebesar sekarang. Sean termasuk orang yang berperan penting dalam kerhasilan Ethan selama ini. Dan di bandingkan dengan dulu, kemampuan kognitif Sean mulai berkembang, walaupun terlambat.
Sean berjalan cepat menembus jalanan malam, di ikuti tiga orang pria berjas hitam di belakangnya, yang menyeret seseorang masuk ke dalam ruang bawah tanah.
Ruangan itu lembab dan terdapat genangan air di lantai, bau busuk menyengat memenuhi ruangan itu. Tapi tanpa terganggu sedikitpun Sean masih menjalankan tugasnya, sedangkan tiga orang lainnya berusaha mati-matian untuk menahan diri supaya tidak muntah.
"Saluran pembuangan pasti tersumbat lagi" seseorang mengeluh sambil menutupi hidungnya dengan tangan.
"Bersihkan tempat ini saat kita selesai, akan sangat memalukan jika tuan GD datang kesini dan mendapati tempat ini seperti lubang pembuangan sampah" Sean berucap tanpa ekspresi.
"Ya tuan Sean" ucap ketiga pria bersamaan.
Sean memandang orang yang ada di hadapannya dengan raut wajah datar. Perintah dari Ethan adalah sesuatu keharusan, itulah sebabnya Sean bahkan tidak memperdulikan hujan deras yang mengguyurnya di tengah malam ini.
Sean bisa saja sakit, tapi ia menolak untuk berhenti, melakukan tugas dari Ethan adalah prioritas utamanya, dan Ethan bukan tipe orang yang akan dengan senang hati memberikan kelonggaran.
"Ampuni aku" seorang pria gempal berlutut sambil menggosok-gosokan kedua tangannya untuk memohon ampunan.
Tapi hati dingin Sean sama sekali tidak tersentuh, walaupun darah segar mengalir dari kening pria itu, akibat pukulannya dengan tongkat besi.
Pria itu adalah seorang pengusaha yang sempat bekerja sama dengan Ethan, tapi kerja sama keduanya tidak berlangsung dengan baik, dan Sean mendapatkan tugas untuk membereskannya.
"Bawa dia" mendengar perintah, anak buah Sean langsung bergerak untuk menyeret pria itu lagi.
"Tidak! Tidak! Ampuni aku, akan ku lakukan apapun, katakan pada tuanmu aku akan menandatangani kontraknya. Jika kalian membunuhku, kalian tidak akan mendapatkan apa-apa"
Pria itu memegangi kaki Sean, tapi Sean malah menendangnya sampai terbanting ke belakang, tidak ada sedikitpun rasa iba dalam dirinya. Kesetiannya terhadap Ethan sudah menutup hati nuraninya rapat-rapat.
Ethan selalu berkata jika mengasihani orang lain adalah sebuah kelemahan, dan untuk bertahan di dunia yang gila ini, rasa kasihan sama sekali tidak di butuhkan.
Kata-kata Ethan selalu menjadi pengingat Sean dalam menjalankannya tugasnya, seberat apapun, atau semengerikan apapun itu.
Sean mengambil handphonenya dan mencoba untuk menghubungi tuannya.
"Dia bilang, dia kan menandatangani kontraknya, haruskah saya terima penawarannya?"
"Aku sudah muak dengannya, habisi saja dia"
Sean mengangguk paham sebelum menutup telpon, di pandangnya pria yang sudah tidak berdaya itu meringkuk di lantai sambil menangis, dia pasti sudah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, sekeras apapun dia memohon. Bahkan menjilat sepatu Ethan pun tidak akan menyelamatkannya dari kematian.
"Masukan tubuhnya ke penggilingan, pastikan dia hancur sampai ke tulang"
__ADS_1
Dengan wajah datar tanpa ekspresi, Sean mengambil saputangan dari kantong coatnya dan membersihkan tangannya yang terkena bercak darah sambil menyaksikan kematian dari pria yang sudah membuat tuannya marah.
Sean mengalihkan pandangannya saat melihat tubuh pria itu di masukan ke mesin penggilingan, untuk beberapa detik terdengar suara teriakan kesakitan yang menyayat hati lalu suasana kembali hening seperti semula.
Sean menghela nafasnya lega, dia sudah selesai melakukan pekerjaannya dengan baik. Walaupun itu bukan tugas terakhir untuk malam ini, masih ada pekerjaan lain yang menunggunya.
Tujuh tahun sudah Gold tower berdiri, yang batu pertamanya di letakan sendiri oleh Ethan.
Ethan berusaha sangat keras untuk bisa membangun kerajaannya sendiri setelah sebelumnya ia hidup bagai budak dengan hinaan dari orang-orang.
Bertahun-tahun Ethan tinggal di jalanan, melakukan bisnis kotor menggunakan nama GD sampai akhirnya dia bisa menjadi pimpinan mafia paling di segani se-Asia, bahkan pengaruh organisasi yang pimpinnya sudah mulai menyebar ke negara barat.
Semua orang yang berkecimpung di bisnis kotor pasti tahu siapa itu Gold Dragon, dan pimpinannya yang kejam, GD. walaupun tidak ada satupun dari mereka yang pernah berhadapan langsung dengan GD untuk melihat wajahnya.
Gold tower merupakan gedung pencakar langit setinggi 50 lantai. Sedangkan 5 lantai teratas merupakan kediaman pribadi untuk Ethan.
Kediaman Ethan total memiliki 16 kamar yang sepuluh di antaranya di tempati oleh pelayan.
Ethan tak ada bedanya dengan hidup di dalam sebuah istana sebagai raja, seluruh ruangan di desain bernuansa Gold dengan bantuan lampu-lampu kristal besar berharga fantastis, juga lukisan-lukisan antik di dinding yang juga memakai frame gold.
Fasilitas yang ada pun tidak main-main. Kolam renang besar, lapangan golf, arena boling, gym, game center, bioskop, perpustakaan dan juga jacuzzi yang di buat sedemikian rupa mirip dengan kolam besar di tengah hutan.
Di atap gedung, terparkir belasan helikopter yang siap membawa Ethan kemana saja. Di tempat lain, Ethan bahkan memiliki pesawat jet pribadi, dan juga kapal pesiar yang jumlahnya lebih dari satu.
Fungsi utama Gold tower adalah sebagai kantor pusat Gold Medical, dan kantor untuk anak perusahaan yang lain di bawah nama Gold grup yang semua di pimpin oleh Ethan Zie.
Tapi di balik megahnya Gold tower, hanya segelintir orang yang tahu apa sebenarnya yang ada di dalamnya.
Di dalamnya terdapat pabrik pembuatan heroin sekala besar dan juga laboratorium.
Tidak ketinggalan ruang operasi untuk memanen organ yang akan di perdagangkan beserta ruang khusus penyimpanannya.
Bukan hanya lantai di bawah tanah itu saja. Tapi Ethan juga memiliki lahan puluhan hektar yang di tumbuhi opium sebagai bahan baku pembuatan obat terlarang itu.
Semua bisnisnya ada dalam satu tempat dan tidak ada yang mencurigainya selama ini.
"Pekerjaan bagus Sean, kau bisa menyelesaikannya bahkan sebelum matahari terbit"
Ethan meminum tehnya dan bersandar ke sofa dengan nyaman.
Sean duduk tepat di hadapan Ethan, ikut menikmati Earl grey green tea hangat yang baru saja di buat oleh Christopher, kepala pelayannya. Ini adalah teko ke dua untuk malam ini.
"Sudah menjadi tugas saya tuan" Sean tertunduk sungkan.
Tubuhnya menggigil akibat kedinginan tapi berusaha di tahannya, bajunya juga masih basah.
"Ku lihat di luar hujan, apa kau kehujanan Sean?"
Itu hanya sebuah pertanyaan untuk berbasa-basi, orang tolol sekalipun pasti tahu bahwa Sean pasti kehujanan karena rambut dan bajunya basah.
"Saya tidak apa-apa tuan"
Jawaban Sean seketika membuat Ethan tertawa, dia merasa beruntung memiliki orang dengan loyalitas kerja setinggi Sean.
"Seharusnya kau berganti pakaian sebelum menemuiku"
"Anda tidak memerintahkan saya untuk berganti pakaian"
Ethan menekan pelipisnya, ia merasa sudah melakukan segala yang ia bisa untuk mendidik Sean, tapi di umurnya yang ke 21 Sean masih saja masih bertingkah sepeti anak kecil yang naif.
"Jika kau merasa kedinginan kau harus memakai selimut, jika kau lapar kau harus makan, jika kau mengantuk kau harus tidur, jika kau kelelahan kau harus istirahat, jika kau sakit segera periksakan dirimu ke dokter. Kau tidak harus menunggu perintah dariku untuk hal dasar seperti itu, kau mengerti?"
Ethan memakaikan mantel bulu berwarna hijau miliknya kepada Sean.
"Tugas dari anda adalah hal yang paling utama, saya tidak boleh tidur, makan ataupun istirahat saat bertugas"
"Itulah kenapa kau harus menimbang-nimbang apa yang harus kau lakukan dan jangan hanya terpaku pada satu hal, itulah yang di lakukan oleh orang pada umumnya"
Sean mengangguk pasti, entah dirinya memang mengerti atau ia hanya ingin menghentikan Ethan yang mulai menceramahinya.
"Anak pintar" Ethan mengelus kepala Sean dan Sean tersenyum senang mendapatkan perlakukan lembut dari tuannya.
__ADS_1
"Jadi, sudah menemukan sesuatu tentang Chaerin?"
Sean mengangguk cepat.
"Mungkin anda tidak akan suka mendengar ini, tapi orang yang di cari oleh Chaerin adalah Antoni Greco, dia meninggal 20 tahun yang lalu dalam kebakaran pabrik yang menewaskan 36 pekerja"
Sean menyerahkan setumpuk kertas berisi data para korban kebakaran di pabrik itu, beserta data diri pemiliknya, Antoni Greco. Dan juga kumpulan kliping koran tahun 1998 yang di potong dan di susun lalu di tempelkan di atas kertas.
Antoni Greco meninggal di usia 45 tahun, sangat di sayangkan dia meninggal di usia semuda itu padahal bisnisnya sedang berjalan dengan baik.
"Seharusnya Chaerin tidak mencari orang yang sudah lama meninggal"
"Ibu Chaerin, bernama Clairine, dia menjadi sekretaris pribadi dari Antoni Greco selama 10 tahun. Wanita itu melaporkan kecurangan dan juga bisnis ilegal dari Antoni sehingga Antoni terancam. Hanya berselang satu bulan terjadi kebakaran di pabrik yang menewaskan Antoni dan pekerja pabrik lainnya, dan yang menjadi tersangka utama adalah sekertarisnya, Clairine"
Ethan meletakan cangkir tehnya ke atas meja dan berusaha memusatkan perhatiannya pada cerita Sean.
"Pada akhirnya wanita itu di jatuhi hukuman mati, tepat satu bulan yang lalu setelah 20 tahun di penjara. Aku mendengar bagian ini dari Ronan" Ethan memotong ucapan sean cepat.
"Iya, setelah ibunya msuk penjara, Chaerin di tempatlan di panti asuhan. Tapi hanya dua bulan di sana, ia dan salah seorang temannya kabur"
Sean menunjukan foto sekelompok anak yang memegang baner bertuliskan 'Panti Asuhan Angel wing' yang ada di layar tabletnya.
"Ini adalah Chaerin, dan ini adalah Austin, anak yang kabur bersama Chaerin" Sean secara bergantian menunjuk anak perempuan dan laki-laki yang ada di foto tersebut.
"Sudah ku duga, itu benar dia, dan temannya yang gemuk" Ethan tersenyum, di iringi tatapan bingung drai Sean.
"Kalau begitu tidak ada yang perlu aku khawatirkan, orang yang di cari oleh Chaerin ternyata sudah mati" Ethan beranjak dari sofa dan berniat kembali ke meja kerjanya.
"Tidak tuan, Antoni Greco masih hidup, dia memalsukan kematiannya dan menyembunyikan dirinya. Anda mengenalnya dengan sangat baik" Sean kembali menyambung ucapannya yang sempat terputus.
"Siapa?"
"Arnoldo Ricci"
Seketika Ethan ternganga, ia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, nama yang yang di sebutkan oleh Sean sangat di kenalnya.
"Maksudmu Arnoldo dari keluarga Ricci? Mafia Italia yang membantu kita menyelundupkan narkoba memasuki pasar Eropa?"
"Iya tuan, saya tidak berharap anda akan membantu Chaerin dan membuat masalah dengan Arnoldo"
Ethan menjatuhkan dirinya ke sofa kembali. Seketika kepalanya di penuhi oleh berbagai macam pilihan yang membuatnya kebingungan.
Chaerin sedang mencari Arnoldo Ricci, di sisi lain Arnoldo adalah orang yang berperan penting untuk bisnisnya, sangat tidak mungkin Ethan dengan senang hati menyerahkan Arnoldo untuk di eksekusi oleh Chaerin, itu sama saja dengan menghancurkan bisnisnya, dan merobohkan kerajaan yang telah di bangunnya selama bertahun-tahun ini.
Chaerin dan Arnoldo, sama-sama orang yang penting, dalam hal yang berbeda.
"Apa Chaerin tahu tentang Antoni dan Arnoldo adalah orang yang sama?"
"Tidak tuan, saya rasa Chaerin terjebak di jalan buntu"
"Baguslah" Ethan membuang napasnya lega. "Jangan pernah biarkan Chaerin, bertemu dengan Arnoldo, ataupun Brian, ataupun keluarga Ricci yang lainnya"
"Baik tuan" Sean segera mengangguk paham.
"Istirahatlah" Ethan beranjak dari sofa dan kembali ke meja kerjanya.
"Tidak tuan, saya liat anda sangat sibuk, saya akan membantu anda" Sean ikut berdiri dan menghampiri Ethan.
Ethan menatap Sean, berusaha mencari alasan supaya Sean segera pergi, kerena ia ingin memikirkan sesuatu sendiri.
Dan lagi Sean kelihatan begitu kelelahan dan kedinginan walaupun di tutupinya sekuat tenaga.
"Besok lakukan pemeriksaan kesehatan, aku ingin melihat bagaimana kesehatanmu, aku tidak mau bekerja dengan orang yang sakit"
"Tapi...."
"Apa kau sedang membantah ku?"
"Tidak, maaf tuan"
Sean tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia segera keluar dari ruang kerja Ethan dengan hati yang tidak enak karena membiarkan tuannya bekerja sendirian.
Catatan Author
hai semuanya, apa kabar?
maaf ya aku updatenya lama tapi untuk kedepannya aku usahakan untuk up lebih cepat
minimal satu minggu sekali
__ADS_1
doakan tanganku kuat mengetik, dan ide di kepalaku mengalir deras, sederas air hujan yang datang bersama rindu ehe (> y <)*