
Christopher berlari tergesa-gesa untuk membukakan pintu sebelum tuannya sampai. Dia hapal betul sifat tuannya yang kadang bisa sangat tempramental.
Pria tua itu pikir bisa istirahat lebih cepat hari ini karena Sean berkata bahwa tuannya akan menghadiri sebuah pesta dan tidak akan pulang malam ini. Tapi ternyata dia salah, sopir yang membawa Ethan menelpon dan berkata dia akan segera pulang. Pria tua itu tidak punya pilihan lain selain bangun dari tidurnya yang baru berlangsung selama 20 menit.
Sebuah peraturan tidak tertulis kalau sebagai seorang kepala pelayan dia harus siap sedia 24 jam, termasuk saat tuannya datang, untuk sekedar membukakan pintu.
Ia harus bersiap membukakan pintu dan menyambut kedatangannya, jangan sampai tuannya sampai ke depan pintu terlebih dahulu.
Pakaian Ethan masih basah dan tubuhnya menggigil kedinginan ketika sampai di rumah.
Christopher membungkuk saat Ethan melewatinya. Pria tua itu dengan sigap menutup pintu kembali dan mengikuti Ethan dari belakang.
Christopher pikir mungkin ada sesuatu yang terjadi pada tuannya yang menyebabkannya pulang tanpa menghadiri pesta yang sudah di tunggu-tunggu nya, akan ada banyak orang penting di sana dan itu adalah kesempatan Ethan untuk kenal lebih banyak orang untuk membantu bisnisnya.
Ethan orang yang sangat di siplin untuk urusan pekerjaan, dan Chris tahu benar akan hal itu, sikap tidak profesional dengan mengabaikan hal penting seperti ini bukanlah sifat Ethan.
Dia ingin bertanya, tapi di tahannya, karena Ethan sangat tidak suka orang lain ikut campur dalam urusannya.
Tapi melihat keadaan tuannya yang pulang dalam keadaan basah dan kedinginan membuat pria tua berkacamata itu khawatir, bagaimanapun Christopher sudah melayani Ethan selama 20 tahun, membuat pria itu mau tak mau memiliki perhatian lebih padanya.
"Saya akan mengambil handuk dan membuatkan teh hangat untuk anda"
"Tidak"
Christopher ingin segera berlalu menuju dapur tapi ucapan Ethan menahannya.
"Aku hanya akan berganti pakaian, kau bisa kembali tidur Chris"
"Saya akan menyiapkan pakaian anda" Christopher menunduk.
"Istirahatlah Chris, aku akan melakukannya sendiri"
Christopher menatap Ethan dengan tatapan penuh tanya. Ethan tidak bersikap seperti dia yang biasanya. Wajahnya di penuhi senyuman dan dia menolak untuk di layani, padahal biasanya, untuk hal kecil sekalipun Ethan selalu berteriak memanggil Christopher walaupun itu di tengah malam.
"Baik tuan, terima kasih"
Christopher membungkuk lebih rendah tanpa memperdulikan keadaan pinggangnya yang sakit sejak minggu lalu.
Ethan berjalan meninggalkan Christopher, naik ke atas manuju lantai dua dimana kamarnya berada.
Sedangkan Christopher belum bisa meluruskan pinggangnya dengan benar karena terlalu lama membungkuk, ia memang sudah terlalu tua untuk tetap bekerja.
Christopher punya rencana untuk mengundurkan diri tahun depan, tapi sepertinya pengunduran dirinya harus di percepat karena kesehatannya semakin memburuk akhir-akhir ini.
"Sepertinya perasaannya sedang baik, aku tidak seharusnya khawatir berlebihan, mestinya aku mengkhawatirkan pinggangku lebih dahulu" Christopher memukul-mukul belakang pinggangnya dengan tangan, dan berjalan bungkuk untuk kembali masuk ke dalam.
Ethan berjalan setengah berlari karena dia memang sudah sangat terlambat. Ia telah selesai berganti pakaian dan merapikan rambutnya yang tadinya berantakan.
Ethan sudah hampir sampai ke pintu utama saat Christopher menghentikannya dengan berdiri lebih dahulu di depan pintu bersama seorang pelayan lain yang memegang nampan berisi teko teh dan cangkir kristal.
"Silakan minum tehnya tuan, untuk menghangatkan tubuh anda" Christopher menyodorkan secangkir teh.
"Minggir, aku sedang terburu-buru, kau pikir kau siapa, berani menghalangi jalanku!" Tatapan tajam Ethan tidak mengganggu Christopher sama sekali, pria tua itu tidak bergeming sedikitpun untuk membiarkan tuannya lewat.
Bukannya Chris tidak takut pada Ethan, tapi kekhawatiran nya pada kesehatan tuannya itu jauh lebih menakutkan baginya, dia mungkin tidak akan bisa tidur dengan tenang malam ini, jika membiarkan Ethan pergi setelah sebelumnya Ethan pulang dalam keadaan yang buruk.
"Anda datang dalam keadaan basah dan kedinginan, Anda mungkin akan sakit"
Ethan mendengus kesal, menepis tangan Christopher dan membuat gelas yang di pegang pria tua malang itu jatuh dan pecah di atas lantai granit abu. Tapi perlakuan kasar Ethan itu tidak tidak bisa membuat Christopher menyingkir.
Dalam hatinya Christopher sudah berteriak menyuruh dirinya sendiri berhenti, dan cepat menyingkir, Ethan bisa saja melakukan hal kejam padanya. Tapi ia masih tegap berdiri menghalangi tuannya mengabaikan kata hatinya.
Christopher kembali mengambil cangkir di atas nampan dan menuangkan teh ke dalamnya. Dan sekali lagi ia sodorkan pada tuannya.
"Minggir tua bangka sialan!"
"Saya akan memastikan anda baik-baik saja tuan"
Dengan sangat terpaksa Ethan merebut cangkir yang di pegang oleh Christopher dan meminumnya sampai tidak tersisa satu tetespun.
Dia sedang buru-buru sekarang, tidak mungkin dia membuang waktunya berdebat dengan kakek-kakek keras kepala.
"Kau puas! Agh kenapa ini sangat pahit" Ethan meludah sembarang berusaha menghilangkan rasa pahit di lidahnya.
Setelah puas menggerutu, Ethan melempar gelas ke arah Christopher pelan dan di tangkap Chris dengan mudah.
"Hati-hati di jalan tuan"
Christopher tersenyum lebar sambil membungkuk, ia senang karena Ethan akhirnya mengalah padanya. Pria tua itu lalu melangkah ke samping dan membiarkan Ethan lewat.
__ADS_1
Sedangkan Ethan melemparkan tatapan matanya yang tajam pada Christopher.
"Aku harus memberikan pelajaran pada si tua bangka ini saat aku kembali nanti"
*
"Ethan, ini pesta yang hebat kan"
Dentuman suara musik meredam suara dari seorang pria yang berdiri di samping Ethan sambil menari tidak beraturan, membuatnya harus meninggikan suara supaya lawan bicaranya bisa mendengar ucapannya. Ethan hanya mengangguk tanda setuju, tidak ada niatan sedikitpun untuk membuka mulutnya, selain untuk meminum wiski yang ia pegang.
Sudah hampir satu jam Ethan hanya duduk di bar dan meminum wiski. Tapi matanya menjelajah, menyapu seluruh ruang pesta itu bahkan di setiap sudut, ia mencari sesuatu yang membuatnya tertarik.
Sudah lama Ethan menantikan pesta yang di adakan di hotel mewah ini, banyak orang-orang besar yang datang. Ethan tidak bisa hanya diam di tempat, dia bukan tipe orang yang mudah puas dengan apa yang sudah di capainya sekarang. Ia harus membangun relasi yang bagus untuk membuat dirinya semakin kokoh. Tapi berapa kali pun Ethan melihat, tidak ada satupun yang bisa menyokongnya untuk jadi lebih kuat. Ia merasa percuma datang ke tempat ini.
Ia sudah berhasil bicara dengan tuan Shine, ceo dari DDshine, perusahan elektronik terbesar se-Asia. Dan pertemuan mereka berjalan baik, Shine bahkan mengundang Ethan untuk makan malam di rumahnya. Dan tentu saja Ethan tidak akan menolaknya.
"Hei kau hanya akan diam di sini, ayolah nikmati pestanya"
Pria yang bicara padanya itu adalah Brian Ricci, anak dari Arnoldo Ricci, orang yang selama ini di cari-cari oleh Chaerin.
Mereka memang berteman cukup akrab, walaupun sebenarnya Ethan sangat membencinya, bukan hanya Brian, Ethan juga benci pada banyak orang, dia benci pada orang tuanya, terlebih dia sangat benci pada dunia ini.
"Aku tidak menyangka, seorang GD mau datang ke pesta semacam ini"
Ethan menarik kerah Brian dengan kasar dan menatap tepat ke manik pria itu.
"Sudah ribuan kali ku katakan, jangan panggil aku GD di tempat seperti ini, kecuali kau ingin mulut sialanmu itu ku robek"
Ethan melepaskan cengkeramannya dan mendorong Brian menjauh darinya. Suatu hari nanti Ethan benar-benar akan membunuh pria itu untuk membungkam mulutnya untuk selamanya.
"Maaf aku lupa, hehe" Brian berkata sambil menggaruk belakang kepalanya, dan tertawa kecil seakan dia tidak punya kesalahan apapun. Sikap Brian membuat Ethan semakin jengkel.
"Jika kau hanya diam di sini, kau tidak akan kenal dengan mereka, ayolah kau datang ke sini untuk bertemu orang-orang hebat kan"
"Mereka hanya ikan kecil di tengah lautan, aku tidak membutuhkan orang-orang macam itu. Lagipula aku sudah berhasil bertemu dengan tuan Shine walaupun ia tidak bisa lama berada di sini"
Ethan kembali menenggak minumannya.
"Ya kau benar, jika di pikir-pikir, hanya aku yang berada di level yang sama denganmu" Brian merebut gelas Ethan dan meminumnya tanpa permisi.
Ethan hanya membiarkannya, dan melemparkan senyuman penuh penghinaan pada Brian.
"Kau mirip sekali seperti ayahku, setiap kali buka mulut, yang keluar hanya penghinaan yang di tujukan padaku, ayahku mungkin akan sangat senang jika yang terlahir sebagai anaknya bukannya aku tapi kau"
"Benarkah, kalau begitu aku akan menggeser keberadaanmu"
Brian tertawa menanggapi ucapan sarkastis dari Ethan, sampai matanya berair.
"Kau tidak akan tahan punya ayah sepertinya, dia sangat cerewet dan keras kepala"
Sekejap muncul bayangan Chris saat Brian berbicara tentang Arnoldo. Christopher juga sama cerewet dan keras kepalanya.
"Aku juga punya satu yang seperi itu di rumah" ucap Ethan menahan senyumnya.
"Bagaimanapun, aku akan mewarisi semua hartanya, termasuk perusahan dan bisnis ilegalnya juga, satu-satunya hal baik darinya, hanya uang" Brian menegaskan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Pemikiran bodohmu itulah yang menyebabkanmu pantas di hina"
"Aku baru terpikirkan sekarang, kau tidak punya keluarga dan hidup sendirian, kepada siapa kau akan mewariskan hartamu jika kau mati nanti? Kau harus menikah dan mendapatkan anak laki-laki" Brian menepuk-nepuk bahu temannya itu dan terus berceloteh tentang bayangannya terhadap masa depan Ethan, yang bahkan tidak pernah di pikirkan oleh yang empunya diri.
Ethan hanya diam dan tidak menanggapi ucapan bodoh Brian, Ethan tidak pernah mengharapkan sebuah pernikahan di dalam hidupnya, terlebih memiliki anak, itu sangat jauh dari rencana hidup masa depannya. Walaupun perkataan Brian ada benarnya.
"Wah kau beruntung malam ini bung, kita baru membicarakannya, dan wanita itu muncul"
Ethan menajamkan penglihatannya ke arah yang di tunjuk oleh Brian.
Seorang wanita cantik muncul dari balik pintu, memakai gaun biru tua, kakinya yang panjang semampai terlihat sexy. Sekali lihat pun Ethan langsung tahu bahwa dia berasal dari keluarga terhormat nan kaya.
"Mona Shine, anak semata wayang dari ceo DDshine, dia berada satu level di atasmu, kalau kau bisa mendapatkannya, maka perusahaan raksasa elektronik dunia itu, akan jadi milikmu. Kauu sudah menaklukan ayahnya dan sekarang taklukan anaknya" Brian berbisik, dan Ethan sangat tertarik dengan wanita itu sekarang.
"Dia juga cantik" sambung Brian.
"Chaerin jauh lebih cantik" gumam Ethan tanpa sadar.
"Siapa?" Brian menatap Ethan meminta penjelasan atas ucapannya barusan.
"Maksudku, ya dia memang cantik, aku akan mendapatkannya malam ini"
Ethan segera mengalihkan pembicaraan. Entah kenapa nama Chaerin terlontar dari mulutnya. Wajah Chaerin bahkan sekarang sedang berputar-putar di atas kepalanya. Jantungnya mulai berdegup tidak menentu lagi, perasaannya berubah menjadi tidak nyaman, rasa bersalah tiba-tiba muncul menguasai dirinya. Ethan memukul-mukul dadanya , mencoba membuat dirinya merasa lebih baik, tapi tidak juga berhasil.
__ADS_1
"Lihatlah dirimu, kau bahkan gugup padahal belum memulainya" Brian mencibir, tanpa tahu sebab yang sebenarnya.
"Ethan Zie dari Gold Medical?" Tanpa terduga Mona mendekati Ethan terlebih dahulu.
Wanita itu mengulurkan tangannya dan di sambut Ethan dengan lembut.
"Mona Shine? kau bersinar seperi namamu"
"Kau berbakat membuat seorang wanita tersanjung tuan Zie" senyum malu-malu Mona mengembang, dan wajahnya mulai memerah.
"Wah aku pikir itu cuma rumor, tapi aku melihatnya secara langsung malam ini, tidak ada wanita yang bisa menolak pesona dari Ethan Zie. Lebih baik aku pergi saja, selamat bersenang-senang"
Dengan penuh pengertian Brian segera menjauh dari dua sejoli yang baru bertemu itu, memberikan mereka privasi. Brian melambaikan tangannya dan menghilang di balik kerumunan.
"Aku sering mendengar tentangmu, kau bahkan lebih tampan dari yang ku kira"
Mona mendekatkan dirinya pada Ethan, mencoba membuat pria di hadapannya itu tertarik padanya.
Tapi tanpa melakukan itupun, dari awal Ethan sudah tertarik padanya, lebih tepatnya pada DDshine dan kenyataan bahwa dia adalah satu-satunya yang akan mewarisinya.
"Jika kau menggodaku lebih dari ini, mungkin kita akan berakhir di tempat tidur nona Shine"
"Kau sangat jujur dan polos, aku suka" Mona terkekeh dan menjauhkan dirinya dari Ethan, membuat mereka terpaut jarak.
Ethan dan Mona menghabiskan waktu sepuluh menit untuk mengobrol, tidak sulit bagi Ethan mengambil hati wanita itu, apalagi Mona memang sudah menunjukan ketertarikannya, membuat Ethan semakin mudah menjeratnya.
"Tempat ini sangat berisik, haruskah kita pergi ke tempat lain?" Mona memeluk lengan Ethan manja dan balas Ethan dengan senyuman serta anggukan tanda setuju.
*
Ethan merengkuh tubuh Mona, melemparnya ke atas tempat tidur dan segera menindihnya, di lumatnya habis bibir tipis wanita berambut panjang itu yang di poles dengan lipstik merah secara membabi buta, serta tangannya tidak henti-hentinya menggerayangi tubuh sexy wanita yang pelan-pelan melepas pakaiannya itu sehingga kini ia hanya mengenakan pakaian dalam, membuat Ethan semakin di penuhi nafsu.
Mona mendorong Ethan ke samping dan mengambil alih, membuat dirinya sekarang berada di atas. Di lepaskannya satu persatu pakaian yang masih melekat di tubuh pria yang masih berusaha menciuminya itu.
Kini Ethan kuasai oleh insting liarnya, yang sebagian karena pengaruh alkohol.
Saat Ethan sudah di puncak birahinya, bayangan Chaerin muncul di kepalanya, dan kembali berputar-putar, menatap dirinya.
Saat Mona hampir berhasil membuka ikat pinggang yang di pakai oleh Ethan. Ethan menarik tangan wanita itu dan mendorongnya menjauh.
Ethan duduk mematung di tepi ranjang, tatapan matanya yang kosong menatap lurus ke depan, ia mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba menyadarkan dirinya, dia juga memukul-mukul dadanya yang entah kenapa terasa sesak.
"Kau tidak apa-apa?" Mona menyentuh bahu Ethan lembut, ia di buat khawatir karena sikap Ethan yang tiba-tiba berubah.
"Aku harus pergi ke suatu tempat"
Ethan bergegas memakai pakainya kembali walaupun berantakan, dan segera bergegas keluar dari kamar hotel itu, diiringi tatapan bingung dari Mona.
*
"Bukakan kamar Chaerin!"
George di kejutkan oleh kedatangan Ethan yang tiba-tiba, ini tidak pernah terjadi sebelumnya, Ethan selalu datang dengan pemberitahuan terlebih dahulu.
"Tapi tuan..."
Tatapan Ethan membuat George bungkam seketika dan mau tidak mau harus mengikuti kehendak tuannya itu.
George berlari ke lantai tiga dan diikuti Ethan.
"Kunci pintunya, dan jangan di buka sebelum ku perintahkan!"
"Baik tuan"
Ethan masuk ke kamar Chaerin perlahan. Di perhatikannya wajah wanita yang selalu muncul di dalam kepalanya itu sedang lelap tertidur, wajahnya bagaikan malaikat yang menyejukkan hati.
Ethan merasakan sesak di dadanya mulai berkurang, di gantikan rasa bersalahnya makin membesar semakin lama ia melihat wajah Chaerin.
Chaerin terbangun saat mendengar derit pintu yang di tutup, dan dengan segera dia sadar bahwa dia tidak lagi sendirian di dalam kamar, walaupun ia tidak tahu siapa, karena keadaan yang gelap, hanya lampu tidur kecil di sisi tempat tidur yang menjadi satu-satunya penerangan.
"Kenapa kau bisa ada di sini! Keluar! Kau ingin mati!"
Ethan tidak bisa menahan dirinya, dia berjalan cepat menuju Chaerin dan memeluknya erat. Chaerin hanya mematung setelah sadar bahwa pria di hadapannya adalah Ethan.
"Si brengsek Ethan?" Chaerin merasa pelukan Ethan melemah setelah beberapa saat.
"Maafkan aku"
Setelah mengucapkan itu Ethan ambruk, tapi beruntung Chaerin masih bisa menopang tubuhnya.
__ADS_1
"Si sialan ini datang hanya untuk pingsan di kamarku?!!" Chaerin membuang napasnya kasar dan menggerutu, dia menyumpahi Ethan yang merusak tidurnya yang tenang.