BOYFRIENEMY

BOYFRIENEMY
AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Chaerin membuka matanya perlahan, kepalanya pusing dan perutnya terasa tidak nyaman, seperti sedang ada mixer besar mengaduk-aduk perutnya membuatnya ingin memuntahakan semua makan malamnya.


Di ingatnya semalam dia minum cukup banyak, dia tidak pernah kuat minum sebelumnya, dia selalu ambruk bahkan sebelum gelas pertama habis. Tapi tadi malam adalah rekor terbaiknya, satu botol penuh wine dari tahun 1992, wine berkualitas yang tidak boleh di sia-siakan.


"Kau sudah bangun sayang?"


Chaerin menajamkan penglihatannya yang agak kabur karena baru bangun tidur, mencoba untuk mengetahui siapa yang bicara padanya. Chaerin bisa menebak suara siapa itu, tapi dia tidak cukup yakin, dirinya masih agak mabuk dan mungkin itu mempengaruhi pendengarannya.


Seorang pria berdiri di hadapannya memakai bathrobe longgar yang memperlihatkan dada bidangnya. Pria itu menyapukan handuk pada rambutnya yang basah, senyum manis menghiasi wajahnya yang tampan, di tambah rambut basahnya yang menetes ke lantai membuatnya terlihat seksi.


Chaerin tertegun beberapa saat sebelum akhirnya sadar apa yang terjadi.


Dia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan mendapati dirinya tidak berpakaian, bahkan tanpa sehelai benang pun. Baju yang kemarin di pakainya berserakan di lantai, bukan hanya pakainya, tapi ada pakaian lain yang dia sudah tahu itu milik siapa.


"Dasar **** gila!"


Chaerin memegang selimutnya dengan erat, seakan selimut itu akan terbang menjauh jika ia melepaskannya.


Ethan tertawa jenaka melihat tingkah Chaerin yang di luar dugaannya.


Dia menjatuhkan handuk yang di pegangnya. Di dekatinya Chaerin perlahan sampai wajah mereka berdua saling berdekatan hanya menyisakan sedikit jarak.


"Bagiamana dengan morning ****?"


Pertanyaan Ethan di balas Chaerin dengan pukulan keras dengan bantal.


"Kau mati hari ini brengsek!"


"Hei apa salahku!" Ethan merebut bantal dari tangan Chaerin.


"Kenapa kau bisa ada di kamarku, kenapa aku bisa tidur denganmu! Kau sudah berjanji, dasar sialan!"


Chaerin memaki Ethan dengan sekumpulan kata mutiara penuh amarah, dan Ethan hanya terdiam mendengarkan semua sumpah serapah wanita itu dengan hikmat.


"Kau lupa? Kau yang melepaskan pakaianmu lebih dulu, menari-nari untuk menggodaku dan menarikku ke atas ranjang, kau juga bilang kau sangat mencintaiku. Aku tidak punya pilihan lain, kau pikir aku bisa tahan dengan godaan semacam itu, aku ini seorang pria" Ethan tersenyum jahil dengan memasang raut wajah seakan terpaksa.


"Kapan aku melakukannya? Kau gila!!"


Chaerin bangkit dari tempat tidur dan menyeret Ethan keluar kamar masih dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Chaerin membanting pintu dan mengambil napas panjang, sebelum akhirnya terduduk di lantai sambil menutupi wajahnya dengan tangan.


"Aku akan menunggumu untuk sarapan, jadi cepat turun" suara Ethan terdengar dari balik pintu.


"Agh sial, alkohol memang pembuat masalah besar" gumam Chaerin.


*


Kemarin malam


"Berikan aku separuh dari saham DDshine yang kau dapatkan, tanpa aku kau tidak akan bisa mendapatkannya" Chaerin duduk di sofa depan perapian, cuaca dingin membuat kakinya terasa beku, duduk dekat perapian adalah pilihan yang bagus.


"Jujur saja, tanpamu aku tetap bisa mendapatkannya" ucap Ethan angkuh.


Ethan duduk di hadapan Chaerin, dirinya membawa satu botol anggur beserta dua gelas besar.


"Ck untuk ukuran orang kaya, kau sangat pelit" gumam Chaerin dan Ethan hanya tersenyum sambil menuang wine ke dalam gelas.


"Aku akan memberikannya pada Sean, lagipula aku tidak tertarik dengan benda elektronik, otakku tidak cukup cerdas untuk tahu mekanisme kerja sesuatu mesin, aku bahkan tidak bisa mengatur alarm di ponselku. Aku hanya mengerti tentang obat-obatan"


Ethan menyodorkan gelas berisi wine ke pada Chaerin.


"Ya aku bisa melihatnya sekarang, kau bahkan tidak cukup cerdas dalam memilih gelas yang cocok untuk wine, ini gelas beer" Chaerin mengangkat gelas yang di sodorkan Ethan dan menunjukannya dengan wajah menghina.


"Aku yakin kau punya bakat di bidang perbandingan gelas, siapa yang peduli jenisnya, yang penting aku bisa mengisinya dengan air" Ethan menunjukan gelas miliknya.


"Kau mungkin lupa jika aku pernah bekerja di Lady Castle sebagai tukang cuci piring"

__ADS_1


Chaerin mendengus, meletakan gelas kembali ke atas meja dan mengembalikannya pada Ethan.


"Aku tidak terlalu suka minum, jadi silakan kau saja yang menikmatinya"


Chaerin ingin beranjak dari sofa tapi ucapan Ethan menahannya.


"Bagaimana dengan Gold Hospital, aku bisa memberimu setengah dari saham milikku"


Chaerin membatalkan niatnya untuk pergi dan kembali duduk di condongkannya tubuhnya ke arah Ethan dan di tatapnya mata pria itu lekat-lekat.


"Kau serius? Apa itu artinya aku bisa menjadi pimpinan di sana?" Chaerin terlihat sangat tertarik.


"Tentu saja tidak, itu sama saja memberikanmu pinata lucu yang siap kau hancurkan"


Chaerin mundur dan mendengus "Jadi apa gunanya!" Air muka Chaerin seketika berubah.


"Paling tidak orang-orang tidak akan mengabaikan perintahmu karena kau termasuk pemegang saham terbesar, kau juga bisa dapat kuasa penuh untuk perawatan Bear"


Chaerin langsung tersenyum sumringah saat mendengar nama Bear di sebut.


"Yang terpenting, kau kaya. Ah dan juga sebagai istriku, kau akan mendapatkan perlakuan yang sama sepertiku"


Chaerin langsung bersorak kegirangan.


"Kau tidak boleh menarik ucapnmu" Chaerin melototi Ethan, dan Ethan mengangguk yakin.


"Karena aku kaya, aku bisa membeli apapun yang aku inginkan"


"Jika kau menginginkan sesuatu, kau bisa memintanya padaku, kau berkata seolah-olah aku tidak bisa memberimu apa-apa"


"Aku sekarang kaya, untuk apa aku minta padamu" Chaerin mengejek Ethan dengan menjulurkan lidahnya.


"Aku bahkan belum memberikannya padamu, tapi kau sudah sangat sombong" Ethan tersenyum geli.


Chaerin tidak peduli dengan ucapan Ethan dan masih tersenyum.


Ethan beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Chaerin yang masih sibuk dengan khayalan dirinya sebagai wanita kaya.


Berjalan-jalan di jalanan kota paris sambil memegang tali kekang poodle putih besar, melenggang anggun dengan memakai tas dari kulit ular asli, sepatu heels yang di taburi berlian dan gaun merah panjang dengan belahan sampai ke paha, dan jangan lupa kaca mata hitam dan drop earring panjang yang menjuntai sampai ke bahu.


Chaerin sudah mulai keterlaluan dengan khayalannya.


Baru lima menit Ethan pergi, sekembalinya dari toilet Ethan tidak mendapati Chaerin di sofa tempatnya duduk sebelumnya. Ethan bahkan mengecek ke luar ruangan kalau-kalau Chaerin berada di luar.


Ethan samar-samar mendengat suara isak tangis di sudut ruangan.


Ethan laugsung menghampiri sumber suara, dan benar saja, Chaerin sedang meringkuk di samping guci besar sambil menangis memeluk lututnya, di sampingnya tergeletak botol wine kosong. Melihat tingkah Chaerin yang terlihat tidak waras Ethan yakin Chaerin pasti sudah meminum isinya sampai habis.


Ethan menekan pelipisnya, dirinya bingung apa yang harus di lakukan. Ethan lebih suka mendengar omelan dan kemarahan Chaerin daripada tangisannya.


Ethan menarik Chaerin supaya wanita itu bangun dari tempatnya.


Chaerin mengangkat wajahnya dan menatap Ethan dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.


"Kau kejam sekali!" Tangisan Chaerin mulai meledak tanpa alasan, sambil memukuli Ethan.


"Kau mabuk? kenapa menangis, ayo bangun aku antar ke kamar"


"Kau bilang kau mencintaiku tapi kau punya calon istri"


"Calon istri? Siapa?"


"Mona, wanita kaya berambut panjang yang cantik itu, seharusnya kau tidak menikah denganku, menikah saja denganya karena kalian sama-sama kaya, cantik dan tampan" tangisan Chaerin semakin nyaring.


"Bukannya kita baru saja pulang dari rumahnya, aku memperkenalkanmu sebagai istriku, dan aku menolak Mona!"


Seketika tangisan Chaerin terhenti, di tatapnya Ethan dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Oh iya, aku lupa" Chaerin bangkit dan tersenyum, lalu berjalan melewati Ethan dengan langkah gontai karena mabuk.


Ethan menatap Chaerin heran, baru pertama kali ini ia melihat Chaerin dalam keadaan mabuk dan ternyata kacau sekali.


Chaerin tiba-tiba berbalik dan mencengkram kerah baju Ethan.


"Jika kau berani bermain dengan wanita lain di belakangku, aku akan membunuhmu dengan tanganku, kau mengerti"


"Tapi kenapa? Kau tidak menyukaiku, aku rasa aku bisa bermain dengan wanita lain sesukaku, karena pernikahan kita tidak bahagia"


"Aku sangat menyukaimu" Chaerin memeluk Ethan dengan sangat erat tanpa mau melepaskannya.


"Benarkah?" Ethan balas memeluk Chaerin dengan senyum di wajahnya.


"Dan aku mencintaimu" ucap Chaerin pelan.


Ethan langsung melepaskan pelukan Chaerin dan mendorongnya sambil masih memegang bahu wanita itu.


"Katakan sekali lagi" Ethan mencoba untuk menajamkan pendengarannya, kalau-kalau tadi ia salah dengar.


"Aku mencintai Ethan Zie"


"Apa!"


"Kau tuli? Aku bilang aku mencintaimu"


"Ya ya telingaku agak tuli, tolong katakan lebih keras" Ethan mengambil ponselnya dan siap melakukan perekaman video.


"Aku sangat mencintai Ethan Zie!" Chaerin berteriak sambil membentangkan tangannya ke udara.


Ethan tidak bisa menahan tawanya, dirinya merasa terhibur dengan tingkah Chaerin yang di liar kendali. Dan siapa sangka Chaerin akan menyatakan cinta padanya.


*


Ethan tertawa tapi tertahan, ia bisa menangkap raut wajah kesal Chaerin yang masih memandangi video di ponselnya.


"Kau pikir ini lucu!" Chaerin melotot ke arah Ethan, ia berdiri lalu melempar ponsel Ethan ke lantai.


Kali ini Ethan benar-benar tidak bisa lagi menahan tawanya, entah kenapa kemarahan Chaerin menjadi sangat lucu baginya.


"Kau bisa lempar atau hancurkan ponselku, tapi asal kau tahu, aku sudah menyalin video itu ke banyak tempat supaya aku bisa melihatnya di manapun dan kapanpun, mulai sekarang video itu adalah tontonan favoritku" Ethan tersenyum jahil.


Ethan menadahkan tangannya, dan seorang pria berpakaian rapi yang di kenal Chaerin sebagai kuasa hukum pribadi Ethan bernama Jonathan menyerahkan sesuatu. Dan di teruskan Ethan pada Chaerin.


"Clara Zie?!" Chaeri terbelalak melihat id card dan juga pasport dengan foto dirinya, tapi bukan dengan nama Chaerin, tapi Clara Zie.


"Itu identitas baru untukmu, dan kalian semua, mulai sekarang panggil dia nona Clara"


Ucapan Ethan di sambut ucapan ya serempak, dari para pelayan dan orang-orang yang bekerja di kediaman Ethan.


"Nama ini terlalu........ Aku benci nama yang terlalu feminim, kau harusnya bertanya padaku sebelum memberiku nama baru" Chaerin melepar id dan pasport miliknya ke atas meja makan dengan kesal.


"Dulu, kau yang memeberiku nama, dan sekarang giliranku" ucap Ethan sambil memainkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


Chaerin menatap Ethan bingung, apa maksud pria itu, kapan dia memberinya nama?


"Kenapa aku memberimu nama, memangnya aku ibumu!"


Chaerin sudah mengangkat tangannya untuk memukul Ethan, tapi Ethan berhasil menangkap tangan Chaerin lalu menarik wanita itu untuk lebih dekat dengannya. Ethan menyentuh wajah Chaerin lembut dan menciumnya dengan mesra, dan Chaerin sama sekali tidak melawan.


"Ayo kita hampir terlambat, aku ada meeting dengan investor, jadi kita harus selesai fitting baju pengantin sebelum jam satu" Ethan menarik tangan Chaerin.


"Jika bajunya jelek, aku tidak akan memakainya!"


"Kalau begitu tidak usah memakai apapun, aku tidak keberatan" Ethan mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Chaerin, dan mendapat pukulan keras di punggung oleh Chaerin.


"Dasar sinting!"

__ADS_1


__ADS_2