BOYFRIENEMY

BOYFRIENEMY
FESTIVAL


__ADS_3

Sudah beberapa minggu sejak kemunculan Ethan.


Pria itu tidak pernah terlihat lagi, tidak pernah mengunjungi Chaerin ataupun Maple di sekolah. Chaerin berfikir, mungkin Ethan sudah lelah mengejarnya.


Ethan mungkin hanya ingin menahannya dan Maple.


Terbukti dengan adanya, puluhan pria berjas hitam yang masih saja lalu lalang di sekitar rumahnya.


Saat Maple pergi sekolah, ada dua orang pria berjas itu memisahkan diri dari yang lain dan mulai mengawal Maple dari jauh, begitupun dengan Chaerin. Kemanapun ia pergi, ia tidak pernah benar-benar sendirian lagi sekarang. Dan Chaerin tidak bisa berbuat apa-apa, marahpun akan sia-sia.


Para tetangga yang tidak tahu menahu, mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya mereka. Dan sekarang terdapat gosip yang menurut Chaerin sangat aneh muncul di lingkungan tempat tinggalnya.


Tentang adanya agen rahasia yang sedang menyelidiki suatu kasus besar.


Dan yang paling aneh bagi Chaerin adalah, kepindahan mendadak para tentangganya.


Rumahnya langsung di hancurkan dan sekarang sedang di bangun sesuatu, Chaerin tidak tahu sedang di lakukan pembangunan apa karena tertutup, tapi Chaerin yakin pasti bukan rumah.


*


Karena hari ini adalah hari festival, Maple bangun lebih pagi dari pada biasanya, bahkan sebelum Chaerin membangunkannya.


Maple meloncat dari tepat tidurnya dan berlari ke kamar mandi, menyikat giginya hingga bersih dan mencuci wajahnya dengan sabun khusus untuk bayi.


Chaerin selalu menyuruh Maple untuk mandi sebelum pergi ke sekolah, tapi Maple tidak pernah mau, ia akan menangis meraung-raung dengan suara menggelegar jika terus di paksa, Maple sangat benci dingin, dan di rumah mereka tidak ada pemanas air.


Chaerin masuk ke dalam kamar mandi membawa satu ember air panas yang baru saja di rebusnya, khusus untuk mandi Maple.


Dan Maple langsung begidik, ia sudah bersiap-siap lari tapi Chaerin menghalangi pintu.


"Aku tidak mau mandi!" teriakan Maple menggema di kamar mandi kecil yang hanya berukuran 2x2.


"Kau sudah tidak mandi kemarin dan langsung tidur, jadi sekarang kau harus mandi, mama sudah merebus air supaya airnya terasa hangat, tidak akan dingin" bujuk Chaerin dengan suara super lembut.


Chaerin meraih Maple dan berusaha melepaskan bajunya, tapi Maple berontak.


"Aku tidak mau mandi, tidak mau, tidak mau, tidak mau!" Maple mulai merengek dan sebentar lagi bisa di pastikan ia akan menangis.


"Jika kau tidak mandi, nanti akan ada ulat yang keluar dari pori-pori kulitmu, mereka akan menggeliat-geliat, sangat mengerikan" Chaerin pura-pura ketakutan.


"Mama pasti bohong"


"Kau ingat anjing yang ada di pinggir sungai, tubuhnya di penuhi ulat, dan sangat bau, itu karena ia tidak mau mandi dan hanya main-main di pinggir sungai" ucap Chaerin menakut-nakuti, padahal anjing itu memang sudah mati dan kerumuni belatung.


"Tapi Nana bilang anjing itu sudah mati"


"Dia tidak mati, dia cuma tidur" Chaerin kembali berbohong.


"Apa kau mau saat nanti kau tampil di atas panggung saat festival keluar ulat dari kulitmu dan teman-temanmu akan lari ketakutan"


Maple terdiam, ia sepertinya sudah termakan kebohongan Chaerin.


Dengan wajah lesu, akhirnya Maple setuju untuk mandi pagi ini.


Chaerin bersorak dalam hatinya. Akhirnya untuk ke sekian kalinya ia berhasil menipu anaknya yang polos.


*


Chaerin sampai di gerbang sekolah Maple, dan ia terkejut dengan apa yang ia lihat.


Puluhan pria berjas hitam, yang Chaerin yakini adalah anak buah Ethan.


"Mereka ada di mana-mana seperti hantu" keluh Chaerin sambil terus berjalan memasuki area sekolah.


Setiap tahun sekali sekolah Maple mengadakan festival bakat, dimana anak-anak akan tampil di atas panggung menyanyikan lagu, menari, atau menampilkan drama pendek dari dongeng anak-anak.


Ini tahun pertama Maple berpartisipasi, dan sebagai ibu, entah kenapa Chaerin sangat gugup, padahal Maple yang tampil pun merasa biasa-biasa saja.


Maple akan menari balet bersama teman-temannya dan juga ia berpartisipasi dalam drama, walaupun hanya peran kecil.


Chaerin merasa sangat bangga, gadis kecilnya yang manja dan suka menangis akan tampil di atas panggung.


Chaerin bahkan menyiapkan kamera untuk mengabadikan pengalaman pertama anaknya itu saat tampil di depan banyak orang.


Chaerin sedang menyusuri lorong untuk mencari letak aula dimana Maple akan tampil, saat seorang menarik tangan Chaerin kuat dan ingin membawa Chaerin ke arah toilet.


Chaeri berusaha mengenali siapa sebenarnya yang tiba-tiba menariknya dengan kasar, dan ia ingat, wajah angkuh itu. Ibunya Ashley.


Belum sempat masuk ke dalam Toilet, segerombolan pria berjas hitam menodongkan senjata kearah ibu Ashley, membuat wanita itu terkejut dan reflek melepaskan tangan Chaerin lalu mengangkat tangan seperti seorang penjahat yang tertangkap polisi.


"Anda tidak apa-apa, nona Clara?" ucap salah satu pria yang berjas hitam itu.


Chaerin mengangguk perlahan. Dan para pria beban itu menurunkan senjatanya.


Sekarang Chaerin sadar bahwa anak buah Ethan yang di tugaskan untuk mengikutinya, bukan untuk mengekangnya, tapi untuk melindunginya.


Chaerin selama ini selalu di permalukan oleh ibu Ashley setiap rapat wali murid, dan Chaerin pikir ini adalah saatnya ia membalas dendam, mumpung ia punya banyak bodyguard, sekarang ia terlihat seperti orang penting yang sangat berkuasa.


"Apa maumu?!" ucap Chaerin dengan wajah angkuh dan nada suara di tinggikan.


"Aku hanya ingin bicara berdua denganmu" ucap ibu Ashley bergetar, terlihat ia masih sangat ketakutan.


"Kau bisa bicara di sini"


Chaerin mengibaskan tangannya sebagai isyarat para anak buah Ethan itu membubarkan diri, awalnya Chaerin ragu, apa mereka akan mendengarkan perintah darinya atau tidak, tapi ternyata berhasil, hanya dalam waktu beberapa detik, para pria itu sudah membubarkan diri dan hanya memperhatikan Chaerin dari jauh.


"Apa yang kau inginkan?" Chaerin melipat tangannya dan mengangkat dagunya tinggi, sementara ibu Ashley hanya menunduk.


"Aku minta maaf karena tidak mengenalimu sebagai Clara Zie, istri dari Ethan Zie, aku tidak tahu, maaf karena aku sering bersikap kasar padamu, tolong maafkan aku" ibu Ashley berucap sambil menggosok-gosokan kedua tangannya.


"Ethan pasti sudah menghancurkan orang ini, sampai-sampai ia membuang harga dirinya untuk minta maaf" batin Chaerin.


"Aku tahu kau datang padaku bukan hanya untuk minta maaf" ucap Chaerin sinis.


"Suamiku hampir di pecat dari pekerjaannya, tolong bujuk suamimu untuk mencabut tuntutannya, jika aku dan suamiku masuk penjara, keluarga kami bisa hancur, Ashley akan sangat malu memiliki orang tua seperti kami" ibu Ashley memelas.


Wanita yang biasanya sangat angkuh di hadapannya dan merasa paling berkuasa, sekarang malah menghiba di hadapannya.


Chaerin membuang nafasnya kasar, wanita di hadapannya ini membawa-bawa nama anaknya dan itu membuat Chaerin tidak nyaman. Bagaimanapun ia juga adalah seorang ibu, ia ingin di banggakan oleh anaknya. Jadi ia tahu persis bagimana perasaan ibu Ashley sekarang ini.


"Ethan bukan orang yang mudah di bujuk, jadi jangan terlalu berharap" ucap Chaerin ketus lalu meninggalkan ibu Ashley yang masih menunduk di belakangnya.


*


Chaerin duduk di kursi penontong baris nomer 3 dari depan, di persiapkannya kamera yang sudah ia bawa, memfoto sesuatu di sekitarnya untuk mengecek apakah kamera berfungsi dengan baik, atau tidak. Dan ternyata........


"Dasar kamera tua!" Chaerin melemparkan kameranya ke dalam tas jinjingnya.


Sebelum berangkat Chaerin sudah memeriksa denga teliti. Kamera itu masih menyala dan kondisinya sangat baik, tapi saat penting seperti ini kameranya malah sama sekali tidak menyala, membuatnya frustasi.

__ADS_1


Terpaksa ia menggunakan ponselnya untuk mengabadikan penampilan Maple, walaupun kamera di ponselnya tidak cukup bagus.


"Aku sudah menyuruh orang-orangku untuk melakukan dokumentasi, jadi kau tidak perlu sibuk merekam apapun, nikmati saja pertunjukannya"


Chaerin tidak sadar ada seseorang yang duduk di sebelahnya, dan ia kenal betul siapa pemilik suara itu.


Chaerin menengok ke samping, melihat ke asal suara, dan Ethan ada di sana, dengan senyum yang sangat menawan, memegang buket bunga yang cantik.


*


Maple menari dengan lincah, berputar-putar dengan ujung jari-jari kakinya sambil merentangkan tangan bersama-sama dengan anak-anak lain yang tidak kalah lincah.


Dia memang bukan penari utama, tapi Maple membuat para penonton terkesima dengan penampilannya yang memukau.


Di akhir tarian seluruh anak membungkukan badan untuk memberi hormat kepada penonton.


Riuh suara tepuk tangan memenuhi aula.


Tak terkecuali Ethan dan Chaerin yang ikut bertepuk tangan dengan bangga.


Saking semangatnya, Ethan sampai tidak sadar berdiri dan bersorak-sorak seperti anak gadis melihat penampilan grup idolanya.


Ethan melambai ke arah Maple, tapi anak itu tidak melihatnya dan berjalan masuk ke belakang panggung.


Chaerin menarik-narik Ethan supaya pria itu duduk kembali ke kursinya, sekarang ia dan Ethan sedang menjadi pusat perhatian karena tingkah gila Ethan yang makin menjadi, padahal Maple sudah tidak ada lagi di atas panggung.


Ethan yang terlalu senang mengabaikan Chaerin dan masih saja bertingkah seperti fans fanatik.


"Kalian lihat, yang paling cantik adalah anakku, yang megang pita warna biru!" teriak Ethan memberi tahu semua orang di sekitarnya, walaupun mereka sama sekali tidak peduli. Bagi mereka anak mereka pastilah yang terbaik.


Chaerin menepuk dahinya dengan tangan, ia sudah tidak tahan lagi menahan malu, diam-diam ia meninggalkan kursinya dan pergi ke luar.


Ethan menyadari ketiadaan Chaerin di sampingnya dan langsung melihat ke sekeliling untuk mencari sosok wanita itu. Dan di lihatnya Chaerin sudah berada jauh di depan pintu aula.


Ethan bergegas meraih buket bunga yang di letakannya di kursi sampingnya yang kosong dan segera mengejar Chaerin. Ia punya hal penting yang ingin ia katakan pada wanita itu. Hal yang mungkin akan membuat amarah Chaerin padanya sedikit mereda.


Chaerin duduk di kursi panjang di depan kelas yang kosong, banyak orang tua murid lain yang juga berada di sana, tapi kelihatannya mereka menjaga jarak dari Chaerin.


Mereka menatap seakan Chaerin memiliki kesalahan terhadap mereka semua. Sedikit tatapan kasihan, jijik, dan sebagian besar merendahkan.


Ethan tahu betul karena ia pernah merasakan hal yang sama, di pandang sebelah mata, dan dia anggap hama pengganggu yang harus di singkirkan dan di asingkan oleh orang-orang sekitar.


Segerombolan wanita terlihat membentuk satu kelompok dan saling berbisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah Chaerin.


Ada juga seorang pria paruh baya yang bertengkar dengan istrinya karena pria itu mencuri-curi pandang untuk melihat Chaerin.


Yah, pria itu tidak bisa di persalahkan sepenuhnya.


Chaerin memang tampil sangat mencolok di bandingkan orang tua murid lainnya yang berpakaian rapi dan sopan.


Chaerin mengenakan baju kaos berwarna putih yang di ikat di bagian bawahnya memperlihatkan pusarnya yang bertindik, tidak lupa pula jeans sobek dan sepatu boots semata kaki berwarna hitam.


Selama Ethan mengenal Chaerin, memang begitulah cara wanita itu perpakaian, tidak ada yang bisa merubah Chaerin. Bagi sebagian orang, Chaerin terlihat seperti wanita murahan, apalagi ia bekerja di bar.


Tapi bagi Ethan pakaian Chaerin yang sekarang ini terhitung wajar, karena Chaerin pernah berpakaian lebih parah dari pada ini.


"Kau sangat cantik hari ini" ucap Ethan sembari duduk mengambil tempat tepat di samping Chaerin.


Chaerin mengangkat wajahnya dan melihat sekeliling, sebelum kembali melihat ke layar ponselnya.


"Ada banyak kursi kosong, duduk sana di tempat lain! Dan jangan bicara sok akrab denganku" ucap Chaerin ketus.


Chaerin pikir, setelah beberapa minggu tidak terlihat, Ethan akhirnya menyerah, tapi ternyata Ethan malah muncul lagi secara tiba-tiba. Dan bodohnya hatinya terasa senang dengan kehadiran pria itu.


"Kita harus terlihat akrab, aku tidak ingin orang-orang bicara buruk tentang Maple" Ethan berucap pelan sambil melemparkan senyum pada sekelompok orang tua murida yang sedang mengibrol di hadapannya.


Chaerin hanyadiam tanpa merespon ucapan Ethan karena ia berfikir bahwa apa yang di ucapkan memang ada benarnya.


"Dan aku harus duduk di sini, aku punya alasan...." Ethan mendekatkan dirinya pada Chaerin dan mwrangkul bahu wanita itu mesra.


Chaerin sudah ingin menepis tangan Ethan, tapi ia teringat dengan ucapan Ethan sebelumnya tentang orang-orang yang akan berbicara buruk tentang Maple. Jadi Chaerin mengurungkan niatnya.


"Semua orang harus tahu bahwa kau adalah istriku, kau punya suami, dan kau bukan pelacur yang bekerja di bar"


Chaerin tersenyum sinis.


"Kau lupa? Kau yang membuatku menjadi pelacur. Aku sudah sejak lama terbiasa dengan panggilan itu, jadi abaikan saja"


Ethan menghela nafas, ia sadar bahwa ia adalah orang yang dulu mengirim Chaerin untuk bekerja di Lady Castle untuk menjadi pelacur. Ethan merasa gejolak aneh dalam hatinya, rasa bersalahnya kembali muncul.


"Aku tidak akan menyangkal itu, aku menyesali hal itu seumur hidupku, tapi itu sudah berlalu, kau hanya boleh tidur denganku"


Ethan memasang wajah serius, dan Chaerin sadar, ucapan Ethan barusan bukan sekedar ancaman kosong.


Walaupun Ethan sangat baik terhadap dirinya, tapi tidak bisa di pungkiri bahwa Ethan tetaplah GD, pimpinan mafia Gold Dragon yang kejam. Ethan bisa saja membuat Chaerin tidur dengannya dengan cara paksa.


"Kenapa kau bisa ada di sini, Maple memberitahumu tentang hari festival?" Chaerin buru-buru mengalihkan pembicaraan.


"Guru wali kelas menelpon, dan memintaku untuk datang ke sini, dia bilang Maple akan tampil"


"Aku baru tahu ternyata kau lemah terhadap permintaan wanita muda" Chaerin tersenyum, bukan senyum manis, tapi senyum menghina.


"Yahh wanita itu lumayan cantik juga..." Ethan menggantung kalimatnya.


Chaerin menatap Ethan tajam, ia sedikit sakit hati, Ethan memuji wanita lain di hadapannya dengan senyum bodoh.


"Tapi istriku jauh lebih cantik" ucap Ethan dengan senyum yang semakin lebar.


Ethan meletakan buket bunga yang sedari tadi di pegangnya ke pangkuan Chaerin. Dan Chaerin langsung mengembalikan kembali buket itu pada Ethan.


"Kau bisa berikan itu langsung pada Maple, ia akan senang jika menerimanya langsung darimu"


"Ini untukmu, kau masih suka mawar merah?" Ethan meletakan bunga itu kembali di pangkuan Chaerin.


Chaerin sudah hendak protes dan mengembalikan bunga itu kembali pada Ethan saat sebuah suara menghentikan niatnya.


Maple berlari dari ujung koridor sambil berteriak "Mama" dengan suara cemprengnya.


Anak itu masih menggunakan pakaian balet, tapi ia melepas sepatunya dan berlari tanpa alas kaki.


Ethan segera bangun dan membentangkan tangannya menyambut Maple.


Ethan sengaja menunduk rendah supaya ia bisa memeluk Maple saat anak itu sampai padanya.


Maple memeluk Ethan sangat erat, mengalungkan tangannya ke leher pria itu dan mencium pipinya beberapa kali.


Orang-orang di sekitar mulai melihat ke arah Ethan dan Maple, dengan tatapan penuh selidik.


Sebagian dari mereka mengenali Ethan sebagai CEO Gold Medical, tapi mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Maple adalah anak dari Ethan Zie. Mereka selama ini berfikir bahwa Maple lahir tanpa ayah.

__ADS_1


"Papa datang? Papa tadi melihatku?" tanya Maple bersemangat, ia sangat senang karena akhirnya ia bisa membanggakan papanya pada teman-temannya yang selalu menyebutnya tidak punya papa.


Ethan mengangguk cepat, jawaban untuk pertanyaan Maple. Dan Maple mengeratkan pelukannya pada Ethan.


Ethan kembali duduk di samping Chaerin dan membiarkan Maple duduk di atas pangkuannya sambil bermanja-manja.


"Aku akan jadi fans beratmu mulai dari sekarang" ucap Ethan sambil menciumi puncak kepala Maple gemas.


Ethan juga tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menciumi wajah anak perempuannya itu, saking gemasnya.


Chaerin menarik telinga Ethan untuk menghentikan tingkah Ethan yang mulai keterlaluan.


Chaerin mengambil tisu basah khusus bayi dari dalam tasnya dan mengambil satu lembar. Kulit Maple agak sensitif, itu sebabnya ia selalu memakai produk perawatan bayi untuk Maple.


Di lapnya wajah Maple yang basah karena ciuman Ethan, tidak di biarkannya jejak Ethan tertinggal di wajah manis anak perempuannya itu.


"Dia bukan mainan, jangan meludahinya sembarangan!" Chaerin mempelototi Ethan yang memasang wajah polos seakan ia tidak berdosa sama sekali.


"Aku ingin menciummu, tapi kau pasti akan membunuhku jika aku melakukannya, jadi untuk sekarang aku hanya akan menciumi Maple" ucap Ethan dengan bibirnya di monyongkan.


Chaerin menutup mulut Ethan dengan tisu bekas yang di gunakannya untuk mengelap wajah Maple dengan kesal.


"Awas saja kalau kau berani" Chaerin mengapalkan tangannya, dan membuat Maple tertawa.


Maple membalikan badan dan menepuk-nepuk tangan Ethan.


"Papa jangan khawatir, mama memang suka marah-marah dan mengancam untuk memukul, tapi mama tidak pernah memukulku sama sekali" ucap Maple polos.


Dan Ethan menanggapinya dengan senyuman sambil melirik ke arah Chaerin.


"Aku rasa itu hanya berlaku untukmu"


*


Festival sudah selesai.


Acara terakhir dari Festival adalah pertunjukan drama dari para murid, dan Maple berperan sebagai pohon.


Bukan peran yang penting sama sekali, siapapun bisa berperan sebagai pohon. Tapi itu sudah cukup membuat Chaerin dan Ethan bangga pada anak perempuannya itu.


Maple sempat terjatuh saat di atas panggung karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya yang memakai kostum, tapi dengan cepat anak itu bangkit kembali.


Saat Maple jatuh Ethan sudah akan berlari ke atas panggung untuk membantu Maple, tapi Chaerin menahan Ethan sekuat tenaga.


Ethan bukan hanya akan mempermalukan dirinya dan Maple tapi juga akan merusak acara penutupan itu, dan semua akan kacau.


Kadang Chaerin tidak habis fikir dengan Ethan yang kadang gegabah dan bodoh tapi kadang juga penuh perhitungan dan sangat rasional.


Perasaan sayang Ethan pada Maple membuat pria itu bodoh seketika.


*


Ethan dan Chaerin sedang menunggu Maple yang sedang berganti pakaian.


Mereka berdiri bersebelahan di depan ruang ganti. Chaerin sudah menyuruh Ethan untuk pergi berkali-kali, tapi Ethan sama sekali tidak menggubrisnya, ia tetap saja kekeh berdiri di samping Chaerin walau tanpa bicara sedikitpun.


Chaerin tidak punya niat untuk bicara pada Ethan, dan Ethan sedang menyusun kata-kata untuk mengatakan sesuatu pada Chaerin.


"Saat terakhir bertemu saya pikir kalian sedang ada masalah, sepertinya saya salah" wali kelas Maple keluar dari ruang ganti sambil membawa Maple bersamanya.


"Kau mungkin tidak tahu karena kau belum menikah, tapi pertengkaran kecil suami istri memang sering terjadi" ucap Ethan menanggapi.


Chaerin langsung membuang muka dan mendengus.


"Jadi menurutnya ini hanya pertengkaran kecil!" Chaerin mengomel di dalam hatinya.


"Para guru dan orang tua murid bertanya-tanya kenapa anda ada di sini, mereka pikir anda akan datang sebagai tamu dan mengisi acara karena anda memang sangat suka anak-anak, tapi anda datang sebagai orang tua murid, dan itu membuat mereka kaget. Banyak dari mereka yang tidak sadar bahwa ibunya Maple adalah istri anda, Clara Zie, saya juga awalnya tidak sadar"


Wali kelas Maple tersenyum sangat manis, dan Ethan membalas senyumannya tak kalah manis.


"Dan sekarang aku harap mereka sadar dan memperlakukan istri dan anakku dengan baik"


"Iya, anak-anak lain berfikir Maple tidak punya ayah, tapi ternyata dia punya ayah yang hebat"


"Ehm, Maple ayo pulang"


Chaerin menarik tangan Maple dan membawa anak itu untuk pergi tanpa mengucapkan salam pada guru wali kelasnya.


Sedari tadi Ethan dan guru muda itu mengobrol berdua, mengabaikan keberadaan Chaerin, dan itu membuat Chaerin agak jengkel.


Ethan segera menunduk untuk memberikan salam pada guru wali kelas Maple dan dengan cepat mengejar Chaerin yang sudah cukup jauh.


Ethan menarik Maple, membuat Maple melepaskan gandengan tangannya dari Chaerin. Ethan lalu menggendong anak perempuannya itu dan berjalan di samping Chaerin.


"Turunkan Maple, dia bisa berjalan sendiri!"


"Dia pasti kelelahan, aku akan menggendongnya"


"Sepertinya, aku tidak cukup tegas padamu, kau pikir dengan bertingkah seperti ini, aku akan memaafkanmu? Aku menahan diriku, karena ini adalah sekolah Maple dan aku tidak ingin membuat Maple menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Jadi turunkan Maple sekarang dan pergi"


Chaerin menghentikan langkahnya dan menatap Ethan tajam.


"Aku terlalu tidak tahu malu jika mengharapkan maaf darimu, aku hanya ingin menjadi ayah yang baik untuk Maple, tolong beri aku kesempatan" ucap Ethan dengan wajah memelas.


Ethan mengambil nafas panjang dan membuangnya. Di tatapnya Chaerin tepat di manik matanya.


"Maaf karena aku tidak jujur, bahwa aku adalah GD. Aku takut kau akan marah dan meninggalkanku jika kau tahu. Aku sangat menyesal, aku ingin memutar balikan waktu, ke saat sebelum aku mengirimu ke Lady Castle, aku sudah menghancurkan hidupmu, aku benar-benar minta maaf"


Ethan tertunduk.


"Baguslah jika kau menyesal, kau harus hidup dengan penyesalan itu sampai kau mati, itu bari setimpal. Jadi pergi dari hadapanku dan jangan pernah muncul lagi, bawa semua orang-orangmu, aku tidak memerlukan perlindungan dari mereka"


"Abaikan saja mereka. Kau tahu, karena aku adalah pimpinan mafia aku punya banyak sekali musuh, aku tidak ingin kau dan Maple dalam bahaya"


"Orang yang paling berbahaya di dunia ini sekarang ada di hadapanku, bercerminlah"


Chaerin mengambil Maple paksa dari gendongan Ethan. Chaerin menggandeng tangan Maple sangat erat, supaya Ethan tidak bisa merebutnya lagi.


"Bear bilang, dia sangat merindukanmu!"


Teriakan Ethan menghentikan langkah Chaerin.


Chaerin berbalik menatap Ethan dengan mata berkaca-kaca.


"Dia masih hidup?"


 


 

__ADS_1


__ADS_2