
Matahari sudah hampir tenggelam saat seorang sopir suruhan Ethan tiba di gudang terbengkalai tempat Chaerin bersembunyi sementara ini.
Chaerin sudah tahu tentang kedatangan sopir itu, karena malam sebelumnya Bear sudah mengatakan padanya bahwa ia baru saja bertemu Ethan dan pria kaya itu ingin makan malam bersama.
Chaerin sebenarnya penasaran, bagaimana dan kenapa mereka bertemu. Bear juga tidak menjawab saat Chaerin bertanya alasan mereka bisa bertemu, seperti ada yang di sembunyikan oleh Bear darinya.
"Dia bilang, dia mencintaimu Chae" Bear dengan polosnya membicarakan masalah cinta dengannya, padahal dirinya sendiri tidak pernah terlibat hubungan percintaan dengan wanita manapun.
"Kau percaya omong kosong yang di lontarkan oleh pria kaya?" Chaerin tersenyum menghina.
Chaerin masih duduk di atas sofa sambil mengisap dalam rokoknya, dirinya tidak berniat sedikitpun bergerak untuk pergi dengan sopir yang di kirimkan oleh Ethan.
Bagaimanapun Ethan adalah seorang yang besar, dia di kelilingi oleh wanita-wanita cantik dan sexy lebih dari dirinya, jadi tidak seharusnya dirinya menanggapi ucapan Ethan dengan serius.
"Memangnya siapa aku? Aku hanya seorang wanita kasar yang sama sekali tidak memiliki kelebihan kecuali pandai berkelahi"
Kalimat itu di gumamkan Chaerin setiap kali dia teringat tentang pernyataan cinta Ethan terakhir kali, atau saat ia teringat tentang bagaimana hangatnya bibir seorang Ethan Zie pada saat pria itu mencuri sebuah ciuman kecil darinya.
Seorang Ethan Zie ceo tampan dari perusahaan farmasi terkemuka, ia mampu mempekerjakan ribuan karyawan, aset propertinya mencapai miliaran dolar, ia juga memegang 15% saham milik perusahaan waralaba bidang retail terkemuka dunia. Dengan semua kelebihannya itu Ethan bisa mencari wanita lain yang lebih pantas untuknya.
Dan pernyataan cinta Ethan tempo hari, adalah hal tergila yang pernah di dengar Chaerin seumur hidupnya.
Chaerin bahkan tidak pernah bermimpi akan ada pria di kehidupannya. Apalagi itu adalah seorang Ethan, entah keberuntungan atau malah sebuah kesialan yang sekarang ini sedang di hadapinya.
Ini adalah dunia nyata, bukannya dongeng Cinderella yang bisa mendapatkan hati sang pangeran hanya dengan sekali berdansa. Atau tentang si kaya dan si miskin jatuh cinta karena takdir yang terlalu naif.
"Anggap saja makan malam ini sebagai rasa terima kasih, dia pernah menolongmu saat kau berada di Lady Castle" Bear terus berusaha untuk membujuk Chaerin.
"Aku sudah memberikannya kontraktor korup itu sebagai hadiah, jadi aku dan dia impas"
Bear menggaruk keningnya mencoba memikirkan apa lagi alasan yang masuk akal untuk menyuruh Chaerin pergi "Beberapa hari yang lalu Inguk mendatanginya dan meminta uang padanya, Ethan memberikan banyak uang"
Tentu saja ucapan Bear itu sebuah kebohongan, karena Inguk tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar sama sekali sejak pertemuan terakhir mereka.
"Si brengsek itu!" Chaerin membuang Putung rokoknya ke lantai dan menginjaknya "berani-beraninya dia!"
Chaerin menggenggam tangannya kuat menahan rasa marahnya pada Inguk.
Dengan sangat terpaksa Chaerin akhirnya bersedia untuk pergi. Ia merasa masih berhutang pada Ethan karena si bodoh Inguk malah meminta bayaran.
"Aku akan kembali secepatnya"
Chaerin melambaikan tangannya pada Bear, dan di belakangnya Bear tersenyum, bukan Senyum bahagia, tapi senyum getir yang tampak menyedihkan.
"Aku akan melindungimu, sama seperti kau yang selalu melindungiku" Bear bermonolog di dalam hatinya.
*
Chaerin hanya memakai pakaian seadaanya, sangat tidak cocok untuk acara makan malam. Tapi ia ingin menunjukan pada Ethan bahwa ia benar-benar tidak tertarik padanya.
Chaerin meyakinkan dirinya bahwa ia sama sekali tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan Ethan. Walau di paksakan hubungan mereka pasti tidak akan berakhir dengan baik.
Ethan adalah orang yang terhormat, sedangkan dirinya hanya seorang mantan bos gangster, reputasi buruknya pasti akan berpengaruh buruk juga bagi Ethan yang mempunyai reputasi tak tercela.
Chaerin jua masih punya tujuan yang harus di capainya. Ia harus bisa bertemu dengan GD, karena Chaerin percaya, bahwa hanya GD yang tahu dimana keberadaan Antoni Greco, ada alasan tersendiri yang membuat Chaerin rela mati untuk bisa menemukan pria itu.
Alasan yang membuatnya rela untuk mempertaruhkan seluruh hidupnya. Alasan kenapa dia masih bisa bertahan di dunia gila yang sudah menyiksanya selama bertahun-tahun ini. Alasan yang membuat anak yang seharusnya hidup dengan bahagia harus tumbuh dengan rasa dendam yang menyakitkan.
Alasan yang membuatnya sekuat sekarang, bahkan untuk berhadapan dengan raja iblis sekalipun.
*
Chaerin pikir dia akan di bawa ke restoran mewah di penthose dan menikmati anggur dari tahun 1982. Tapi ternyata dia malah di bawa ke atap gedung pencakar langit, yang entah ada berapa lantai.
Di sana Ethan menunggunya, berpakaian rapi dengan jas dan sepatu kulit yang kelihatannya mahal sambil membentangkan tangan menyambut kedatangan wanita tercintanya.
Ethan berdiri di depan sebuah helikopter yang siap untuk lepas landas, rambut pria itu beterbangan tak tentu arah karena angin.
__ADS_1
Cahaya matahari sore yang kemerahan seakan hanya menyorot ke arah Ethan, pria itu terlihat bersinar, senyumnya seperti malaikat yang turun dari langit , tatapan matanya yang teduh membuat hati menjadi damai seketika.
Chaerin menatap Ethan terpesona untuk beberapa detik sebelum akhirnya tersadar dan membuang wajah ke arah lain untuk menutupi tingkah konyolnya yang tidak bisa berhenti menatap Ethan.
Ethan berhasil membuat dirinya menjadi pusat dunia untuk sesaat. Terutama dunia Chaerin.
"Dasar wanita gila, apa yang kau pikirkan, terlihat sedikit keren bukan berarti kau harus suka padanya, kau harus ingat dia si brengsek yang suka pergi ke tempat pelacuran, ia pasti sudah tidur dengan banyak wanita, Chaerin sadarkan dirimu!"
Chaerin meruntuki dirinya dalam hati, sedangkan Ethan tersenyum melihat Chaerin yang salah tingkah.
"Bukankah kita akan makan malam? Kenapa malah membawaku ketempat ini tuan Ethan?" Ucap Chaerin ketus.
Akhirnya Chaerin berbicara terlebih dahulu, mencoba membuat dirinya terlihat biasa saja walaupun sebenarnya hatinya sedang sibuk merapikan kekacauan yang di sebabkan oleh Ethan.
Tanpa menjawab pertanyaan, Ethan meraih tangan Chaerin dan menuntunnya untuk memasuki helikopter.
Chaerin sebenarnya ingin menolak, ia sangat takut dengan ketinggian, tapi kalau ia menolak dengan alasan itu, Ethan pasti akan meremehkannya, Chaerin sangat benci saat orang-orang meremehkannya dan menganggapnya lemah.
Sepanjang perjalannya Chaerin menutup matanya, tubuhnya gemetaran tapi berusaha di tahannya sekuat tenaga.
Sedetikpun Chaerin tidak berani membuka matanya, padahal melihat pemandangan kota dari atas sangatlah indah dan tujuan Ethan membawanya menggunakan helikopter adalah untuk menunjukannya pemandangan indah tersebut.
Tapi sekeras apapun Ethan membujuknya, Chaerin sama sekali tidak ingin membuka matanya.
Ethan akhirnya menyadari ketakutan wanita itu dan berusaha membuat Chaerin merasa lebih baik dengan memegang tangannya, tapi segera di tepis oleh Chaerin.
Ethan membuang napasnya kasar, dirinya di buat sangat kesal dengan tingkah Chaerin, entah ini penolakan Chaerin yang keberapa, karena wanita itu selalu menolaknya tanpa memperhatikan perasaanya.
Ethan membayangkan kembali momen saat Chaerin memanggilnya sayang beberapa hari yang lalu, walaupun Chaerin mengatakan itu dengan nada mengejek, tapi membayangkan hal itu kembali membuat kemarahannya sedikit mereda.
Dan lagi mana mungkin Ethan marah pada wanita yang di cintainya, itu akan meninggalkan kesan yang buruk dan membuat Chaerin mungkin akan semakin membencinya.
Ethan memutuskan untuk tetap diam selama penerbangan ini, dia hanya memandangi wajah Chaerin selama 30 menit sampai helikopter akhirnya mendarat.
Helikopter yang di tumpangi Ethan dan Chaerin mendarat di atas sebuah kapal pesiar yang tengah berada di tengah lautan.
Kapal ini bukan kapal pesiar yang biasa membawa turis untuk berlibur mengarungi lautan. Ini adalah salah satu kapal pribadi milik Ethan. Nama Ethan tertulis jelas di badan kapal sebagai tanda kepemilikan. Dan Ethan berencana mengganti nama kapalnya dengan nama Chaerin.
"Kita sampai nona Chae"
Akhirnya Chaerin memberanikan diri membuka mata, dia keluar dari helikopter di bantu oleh Ethan. Tubuhnya masih agak gemetar tapi sekarang sudah lebih baik karena mereka sudah mendarat.
Ketakutan Chaerin seketika hilang entah kemana saat melihat hamparan lautan yang biru, di tambah cahaya kemerahan dari matahari terbenam, juga terlihat beberapa lumba-lumba berenang seakan melompat.
Pemandangan yang tidak mungkin akan di jumpainya dengan mudah di tempat lain.
Chaerin bahkan tanpa sadar mengambil handphone di saku celananya dan mengabadikan momen langka yang baru saja di lihatnya pertama kali itu.
"Kau menyukainya nona Chae?" Senyum bahagia Chaerin membuat Ethan tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya.
Chaerin baru sadar akan keberadaan Ethan, sangat memalukan menunjukan sisi lembut dirinya seperti ini di depan orang seperti Ethan yang selalu mempermainkan perasaannya dengan kata-kata cinta, seharusnya dia menunjukan sisi kuat dirinya.
"Lumayan" hanya satu kata yang berhasil keluar dari mulut Chaerin.
Chaerin menyimpan handphonenya kembali ke dalam kantong celananya dan beranjak dari tempatnya berdiri.
Padahal Chaerin masih ingin menikmati pemandangan indah di hadapannya, tapi harga dirinya sama sekali tidak memberikannya izin untuk itu.
Ethan tersenyum dengan bangga, tidak sia-sia usahanaya menyiapkan kapal pesiar beserta helikopter dan segala *****-bengek lainnya, walaupun Chaerin hanya berkata lumayan.
"Bagaimana kalau berikan aku sebuah ciuman mesra sebagai tanda terimakasihmu untuk tempat yang lumayan ini"
Chaerin memandang Ethan sesaat, dan senyum sinis tersungging di bibir merahnya.
"Kau bisa mencium lumba-lumba itu sepuasmu tuan, silakan"
Chaerin mendorong Ethan kasar supaya pria itu menjauh dari hadapannya.
__ADS_1
Bukannya marah, Ethan malah tersenyum dengan penolakan Chaerin. Mungkin sekarang dia sudah mulai terbiasa dengan penolakan dari wanita berambut panjang itu.
*
Jalanan kota terlihat basah karena guyuran hujan yang turun sejak sore tadi, baru saja hujan berhenti dan menyisakan banyak genangan air di jalanan.
Bear melangkah pasti, sepatu bot coklatnya beberapa kali menginjak genangan air, membuat cipratan ke berbagai arah, cipratan air bercampur tanah itu bahakan mengotori ujung celananya, tapi pria berperawakan besar itu sama sekali tidak peduli.
Di balik Coat hijau yang di pakainya, Bear menyembunyikan Assault Rifle yang di gantungnya di punggung.
Bear berjalan begitu cepat hingga beberapa kali ia menyenggol pejalan kaki lainnya. Beberapa orang memakinya karena tidak hati-hati saat berjalan, tapi, banyak dari mereka yang memilih untuk diam setelah melihat ukuran tubuh Bear yang besar dan wajahnya yang terlihat tidak bersahabat.
Saat tiba di tempat tujuannya, Bear langsung mendobrak pintu masuk Gold Hotel, dan langsung menuju lantai 12 menggunakan lift, sambil mengeluarkan senapan yang di sembunyikannya.
Bear menembak secara membabi buta, dengan bantuan fully automatic Assault Rifle yang di bawanya.
Bear bergerak cepat untuk masuk, dirinya tidak bisa membuang waktu lebih lama, sebentar lagi polisi pasti akan mendapat laporan tentang kekacauan di tempat ini dan akan beradatangan kemari.
Bear sudah sangat percaya diri dan percaya bahwa ia tidak akan mati malam ini, tapi ternyata yang terjadi sama sekali berbeda dari rencana awalnya.
Lusinan pria menghadangnya, dan Bear yakin mereka semua adalah anak buah George. Segerombolan pria itu menyerbunya dan beberapa menembakinya, tapi untungnya Bear berhasil menghindar.
Karena situasi tidak berjalan sesuai rencana, Bear sekarang sama sekali tidak perduli jika ia mati malam ini, atau jika ia akan tertangkap oleh polisi dan di hukum dengan berat.
Selama ia bisa membunuh George, apapun yang akan terjadi setelahnya, ia sama sekali tidak perduli.
Bear menaiki lift untuk menuju lantai 13, tempat kamar para tamu berada. Dari cerita yang di dengarnya dari Chaerin, George lebih sering berada di lantai 13 untuk menyambut para tamu dan berjaga, kalau-kalau ada jalang miliknya yang berusaha untuk kabur.
Ternyata benar. Setelah pintu lift terbuka, wajah sosok George langsung menyambut dirinya.
Bear sudah bersiap untuk menembak saat pintu lift terbuka, tapi sayangnya George berhasil menghindar dengan menjadikan salah satu anak buahnya sebagai tameng untuk menerima rentetan tembakan dari Bear.
George berlari ke dalam, dan memerintahkan seluruh anak buahnya untuk maju menghadapi Bear yang masih berada di dalam lift sambil menembakan puluhan peluru.
Bear keluar dari lift, menginjak belasan tubuh tak bernyawa yang tergeletak di lantai. Bear merasa kasihan pada anak buah George yang mati untuk melindungi tuan Meraka, seakan nyawa mereka sama sekali tidak ada harganya.
Bear melangkah masuk mengikuti arah kemana George pergi. Tapi ia tidak melihat ke sekitar.
Dari balik pintu kamar yang terbuat dari kayu, George menembak keluar, pelurunya menembus pintu dan berasil mengenai Bear tepat di dadanya.
Dengan susah payah Bear berusaha untuk tetap tegap berdiri, menembakan serentetan peluru yang menghancurkan pintu tempat George bersembunyi. Tapi sayangnya tubuhnya tidak bisa bertahan lebih lama.
Penglihatannya perlahan kabur dan tubuhnya melemah. Bear jatuh kelantai dengan wajah menadah ke atas, ke arah langit-langit.
Terlintas di kepalanya momen saat dirinya dan Chaerin pertama bertemu. Saat Chaerin mengulurkan tangannya terlebih dahulu padahal semua orang, bahkan seluruh dunia menolak untuk menerimanya.
Mereka berbagi makanan, berbagi tempat tinggal, dan berbagi penderitaan yang sama. Mereka melakukan hal buruk di masa muda mereka untuk mendapatkan uang.
Saat mereka beranjak dewasa, mereka sepakat untuk membuat tempat peminjaman uang ilegal yang di samarkan menjadi rumah jagal hewan. Siapapun yang tidak bisa membayar kembali hutang mereka, maka harus membayarnya dengan organ milik mereka, entah itu mata, ginjal, atau bahkan seluruh isi tubuh mereka akan di keluarkan.
Sebenarnya yang lebih pantas untuk menjadi pimpinan gang adalah Bear karena ia jauh lebih kuat, tapi Bear sudah cukup puas dengan menjadi si nomer dua, karena baginya Chaerin selalu menjadi nomer satu, sejak saat itu mereka sama sekali tidak pernah terpisahkan.
Gelak tawa George terdengar, Bear samar-samar melihat bayangan George yang keluar dari kamar tanpa ada luka sedikitpun di tubuhnya.
George beberapa kali menendang tubuh Bear yang tergeletak di lantai.
"Kau punya tubuh yang besar, tapi kau sangat lemah, kau bukan tandinganku"
Gelak tawa George kembali terdengar, tapi tidak berlangsung lama. Sebuah peluru panas menembus tempurung kepalanya, membuat George langsung jatuh ke lantai dengan mata yang membelalak.
Seorang pria berpakaian hitam berjalan mendekati George yang sudah tidak bernapas. Ia berjongkok dan mengambil pistol yang masih di genggam erat oleh George.
"Kau di perintahkan untuk mengosongkan tempat ini dan membiarkan beruang besar bermain sendirian, tapi kau terlalu lancang dengan mengubah rancana" bisik pria itu dengan suara seraknya yang pelan diiringi senyuman licik dari bibirnya yang berwarna kemerahan.
"Aku sebenarnya tidak berniat untuk membunuhmu, tapi sepertinya aku agak mabuk, aku terlalu banyak minum red wine tadi, haruskah aku meminum darahmu juga? Ini adalah akhir yang bagus untuk orang yang mengabaikan perintah sepertimu. Semoga kau mati dengan tenang dan ayo bertemu lagi di neraka"
Pria itu tersenyum sinis, sedangkan George mencoba menggapai pria itu, ingin melawannya.
__ADS_1
Bear yang masih sadar bisa melihat jelas siapa pria berpakaian hitam itu, dan ia mengenalnya dengan cukup baik.