
Chaerin sudah lima menit berdiri di depan pintu masuk kediaman Ethan di lantai 45 Gold Tower.
Di depan pintu itu terlihat dua orang petugas keamanan yang berjaga.
Tidak ada satu orangpun dari mereka yang berani menegur Chaerin. Merka hanya menunduk untuk memberikan hormat dan bergerak untuk membukakan pintu, karena mereka tahu siapa Chaerin. Tapi Chaerin menahan mereka dan membiarkan pintu tetap tertutup.
Saat Chaerin memasuki Gold Tower, ia sudah menguatkan hatinya untuk bertemu dengan Ethan.
Setelah mendengar cerita dari Bear tentang semua yang terjadi, serta kesalahpahaman tentang GD yang memang sengaja ingin membunuh Bear, padahal kenyataan adalah sebaliknya. Chaerin memutuskan untuk menemui Ethan untuk membuat segalanya jelas.
Tapi saat berada di depan pintu besar berwarna keemasan itu, hati Chaerin mulai ragu.
Apa tujuan sebenarnya ia ingin bertemu dengan Ethan? Apa gunanya ia sekarang bertemu dengan Ethan?
Chaerin tidak ingin dirinya di anggap wanita tidak tahu diri karena kembali ke rumah ini lagi, setelah sebelumnya ia melukai Ethan dan pergi, tanpa menghiraukan Ethan yang berusaha keras untuk memberi penjelasan padanya.
Rasa bersalah Chaerin membuatnya berfikir keras apakah ia harus melangkah maju, atau kembali memasuki lift dan pergi dari tempat itu.
Chaerin sudah ingin berbalik, tapi tiba-tiba ia mendengar suara pintu di buka.
Christopher berjalan tertatih di pegangi oleh seorang laki-laki seumuran Sean, yang tidak pernah di lihat Chaerin sebelumnya, ia mungkin pelayan baru.
"Anda akan pergi lagi, tanpa mengucapkan salam pada pria tua ini, nona Chae?" suara lemah Christopher membuat Chaerin kembali berbalik dan menatap pria itu beberapa saat.
"Tidak... Aku...."
"Ayo masuk, Lia sudah selesai memasak steak nanas kesukaanmu" Christopher berbalik dan memasuki rumah.
Dan dengan langkah ragu-ragu, Chaerin mengekori Chris dari belakang.
Saat memasuki rumah Chaerin melihat Ethan yang sedang tergesa-gesa menuruni tangga dari rantai 2 sambil memegang lembaran kertas yang entah apa yang tertulis di atasnya.
Jonathan mengekori Ethan dari belakang sambil memegang map hitam yang terlihat kosong.
Ethan menghentikan langkahnya saat ia sadar Chaerin ada di hadapannya.
Ia tertegun beberapa saat dan sadar kembali saat Jonathan tidak sengaja menabrak tubuhnya yang berhenti mendadak.
"Maaf tuan" Jonathan menunduk sambil berkomat kamit mengomeli dirinya sendiri yang sangat ceroboh.
Jika dalam keadaan biasa Ethan pasti akan marah besar dan Jonathan mungkin akan kehilangan kepalanya, tapi tidak untuk sekarang. Ethan hanya menatap Jonathan sebentar lalu pandangan mata kosongnya kembali kepada Chaerin.
"Kau di sini?" satu kalian berhasil terlontar dari mulut Ethan.
Chaerin memutar otaknya, mencoba membuat alasan yang masuk akal, kenapa ia bisa berada di sini.
"Aku dengar dari Sean kau menyuruh Lia memasak steak nanas setiap hari, aku datang untuk steak nanas" sebuah alasan konyol terucap dari mulut Chaerin, ia tidak bisa berfikir dengan jernih dan malah menjadikan steak nanas sebagai alasan.
Chaerin langsung berjalan berbelok ke kiri, ke arah dapur, ia bisa menemukan dapur tanpa kesulitan karena ia memang tidak pernah lupa setiap sudut dari rumah yang pernah ia tempati bersama Ethan itu dulu.
Ethan menggaruk-garuk belakang kepalanya dan menatap Christopher penuh tanya.
"Ini memang hampir waktunya makan malam" Christopher dengan cepat mengikuti Chaerin, pria tua itu tidak tahan melihat raut wajah bodoh tuannya yang tidak bisa membaca situasi.
*
Chaerin memasukan potongan nanas panggang yang sudah di lumuri dengan saus kedalam mulutnya yang menganga lebar.
Ia di buat tersiksa dengan situasi yang nampak tidak nyaman ini. Sangat canggung seakan mereka baru pertama kali makan bersama dan sebelumnya tidak pernah saling mengenal.
Biasanya saat makan malam adalah saat yang paling menyenangkan.
Christopher biasanya akan makan dengan tenang tanpa membuat suara, tapi kadang ia akan berkomentar jika ada bagian dari makanannya yang tidak bisa ia kunyah, karena giginya memang sudah tidak lengkap lagi, dan itu menjadi bahan olokan bagi Chaerin, semua orang akan tertawa dan suasana menjadi hangat.
Atau Chaerin akan mengganggu Sean dengan melemparkan kacang polong ke dalam gelas dinosaurusnya, dan Sean akan marah lalu berhenti makan, sedangkan Hongjung akan merayu Sean dengan memberikannya sosis dan juga mengeluarkan kacang polong dari gelas menggunakan sendok lalu memarahi kacang-kacang tidak berdosa itu.
Atau, Chaerin sama sekali tidak ikut makan malam bersama, karena dirinya sedang bersenang-senang bersama dengan Ethan.
Semua momen manis yang terjadi di rumah ini delapan tahun yang lalu, tergambar jelas di kepala Chaerin seperti potongan-potongan video. Dan ia menjadi semakin menyesal.
"Kau tidak apa-apa?" Ethan memeperhatikan Chaerin yang menunduk dengan mengganggam garpunya kuat, dan bahunya terlihat bergetar.
Dan sebuah sisakan terdengar.
Ethan langsung bangun dari kursinya dan menghampiri Chaerin, memeluk tubuh wanita itu erat sambil mengelus punggungnya.
Di biarkan Chaerin menangis sejadi-jadinya di dalam dekapannya.
Christopher dan seluruh pelayan yang ada di ruang makan, langsung paham akan situasi, dan pergi meninggalkan Ethan dan Chaerin yang memang memerlukan waktu untuk diri mereka.
Memerlukan waktu hampir setangah jam untuk membuat Chaerin kembali tenang, dan Ethan dengan sabar berdiri di tempatnya tanpa bergerak satu langkahpun.
"Sudah lebih baik?" Ethan menunduk melihat wajah Chaerin yang kacau, matanya bengkak, dan hidungnya berair, bekas hitam di bawah mata dari linernya yang luntur membuat wajah Chaerin terlihat sangat lucu.
Ethan sangat ingin tertawa melihat wajah Chaerin saat ini, tapi Chaerin mungkin akan membunuhnya jika ia berani tertawa.
__ADS_1
Chaerin mengangguk pelan. Ethan meraih wajah Chaerin dan menyapu sisa-sisa air mata yang ada di pipi wanita itu dengan jari-jemarinya.
"Matamu pasti sakit karena menangis terlalu lama, mau ku panggil ambulance?" Ethan tersenyum memandangi wajah Chaerin, yang walaupun sangat kacau, tapi baginya masih sangat cantik.
"Kau mau ku pukul supaya bisa ku panggilkan ambulance juga!" Chaerin tersenyum sedikit karena lelucon Ethan, tapi masih dengan ancaman keluar dari mulutnya.
"Sudah lama aku tidak melihatmu tersenyum, akhirnya aku bisa mati dengan tenang sekarang" senyum Ethan semakin lebar.
Ethan duduk kembali ke kursinya dan mendorong gelas berisi air putih ke arah Chaerin. Wanita itu harus mengisi kembali cairan dalam tubuhnya setelah sebelumnya ia menangis dan air matanya terkuras.
"Sudah bertemu dengan Bear?"
Ethan memulai pembicaraan kembali setalah ia melihat Chaerin telah selesai minum.
"Iya, tapi dia tidak sebesar dulu, nama Bear sudah tidak cocok lagi untuknya" Chaerin meremas-remas tangannya, ia tidak tahu harus bicara apa pada Ethan.
Ethan tertawa kecil sambil membayangkan bagaimana perubahan Bear yang dulunya berbadan besar mirip seokor beruang, tapi sekarang tubuhnya kurus seperti seekor kera.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, padahal kau punya banyak kesempatan" ucapan tiba-tiba Chaerin menghentikan tawa Ethan, dan atmosfir antara mereka berdua berubah menjadi lebih serius.
"Tentang aku adalah GD?"
"Bukan, tapi tentang kau adalah anak itu" Chaerin bicara tertunduk sambil memprhatikam ujung jari tangannya.
"Itu bukan hal membanggakan yang harus aku ataupun kau ingat. Aku sangat bersyukur bertemu denganmu dan Bear pada saat itu, dalam 15 tahun hidupku, akhirnya aku punya nama"
Ethan tersenyum sambil menatap Chaerin, mata mereka saling bertemu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Chaerin kembali menunduk.
"Aku dengar dari Bear, kau menutup Lady Castle dengan sengaja, jauh sebelum Bear ke sana"
Ethan mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Chaerin.
"Dan Ronan pernah memgeluh tentang kau yang tiba-tiba membubarkan Gold Dragon tanpa alasan yang jelas, sesaat setelah kita menikah"
Dan lagi-lagi Ethan mengangguk.
"Dan kau juga membunuh George untuk menyelamatkan Bear?"
"Sebenarnya Sean yang membunuh George, atas perintahku, jadi, ya, kau bisa anggap aku pembunuhnya"
"Kenapa kau melakukan itu? Apa untungnya bagimu"
"Aku tidak pernah berniat sedikitpun membunuh George, tapi ia mengabaikan perintahku, aku tadinya berharap dengan menutup Lady Castle, aku bisa menebus semua dosaku padamu, dan aku bisa melindungimu dari ............" Ethan menggantung ucapannya.
Hampir saja ia menyebutkan nama Arnoldo dan Chaerin pasti akan bertanya-tanya siapa orang itu. Ia tidak ingin Chaerin penasaran dan akhirnya ia tahu bahwa Arnoldo adalah Antoni Greco, orang yang di cari-carinya selama ini.
"Kau tidak harus merasa bersalah. Jika dulu aku tidak meremehkanmu dan menerimamu bekerja untukku, kau tidak harus menjalani hidup seperti ini"
Ethan mengambil nafas dalam dan mengembuskannya keras.
"Kau seharusnya marah, dan mencaci makiku, kenapa kau malah menjadi lemah seperti ini, kau tidak terlihat seperti Chaerin"
Ethan berlagak memperhatikan Chaerin dari atas sampai ke bawah dengan wajah serius.
"Berhenti menggodaku! Sangat memalukan" ucap Chaerin sambil melotot, diiringi senyum jahil dari Ethan.
"Kau meninggalkan Maple di suatu tempat?" Ethan baru sadar bahwa ia sama sekali tidak melihat anak perempuannya di manapun.
"Aku menitipkannya pada Sean, Maple terlihat sangat menyukai Sean, jadi aku meminta Sean untuk membawa Maple jalan-jalan" ucap Chaerin santai, tampa tahu bahaya apa yang akan terjadi.
"Kau tidak boleh meninggalkan Maple bersama Sean, Sean sangat benci anak-anak!" Ethan memekik histeris dengan wajah khawatir.
Di tempat lain
Sean menatap lurus ke depan, dia sama sekali tidak perduli dengan anak perempuan yang duduk di sampingnya sambil memakan ice cream.
__ADS_1
Sean juga sangat suka ice cream, tapi Christopher selalu membatasinya memakan makanan manis nan dingin itu dengan alasan gigi Sean tidak cukup kuat untuk makan makanan manis terlalu sering.
Sewaktu kecil Sean sangat sering sakit gigi karena giginya berlubang, Sean selalu menangis dan membuat Ethan juga Christopher kewalahan. Ada beberapa giginya yang di cabut dan di gantikan dengan gigi palsu, sebagian giginya yang masih bisa di selamatkan di tambal, dan harus kontrol ke dokter satu bulan sekali.
Sean menyuruh semua bodyguard yang biasa mengikuti Maple untuk pergi. Bukannya ia senang bisa berdua dengan Maple, tapi ia jengah jika terlalu banyak orang di sekitarnya. Jika bukan karena permintaan Chaerin, Sean juga tidak ingin berlama-lama bersama Maple.
Sejak awal bertemu, Sean sudah tidak begitu suka dengan Maple. walaupun Maple sangat lucu dan menggemaskan, anak itu mudah sekali menangis. Maple juga mengambil hampir seluruh perhatian Ethan darinya, itu adalah penyebab utama mengapa Sean membenci Maple.
Ethan yang pada dasarnya memang sangat menyukai anak-anak, membuat Sean kadang cemburu. Ia akan bersikap kasar dan tidak segan menyakiti anak-anak tidak berdosa itu, untuk menjauhkannya dari Ethan.
Dan jujur saja, saat ini, Sean sedang memikirkan cara bagaimana cara menyingkirkan Maple.
Maple sangat suka menempel pada Sean, dan itu membuat Sean semakin kesal, belum lagi rengekan dan celotehan Maple, yang memenuhi telinganya. Sean sudah cukup sabar selama 30 menit terakhir.
Sean berdiri, merapikan pakaiannya dan perlahan melangkah meninggalkan Maple.
Maple yang sadar akan di tinggalkan segera bangkit dan berlari mengejar Sean, menjatuhkan ice cream yang masih belum habis di makannya.
"Uncle mau ke mana?" Maple berhasil mengejar Sean dan memegang tangan Sean, dengan tangannya yang penuh dengan noda ice cream.
Sean segera menepis tangan Maple dan mengambil sapu tangan dari balik jaketnya, di lapnya tangannya yang kotor akibat ulah Maple, dan di lemparnya sapu tangan itu pada Maple.
"Kau sangat menjijikan" Sean mendengus dan kembali lanjut berjalan.
"Tunggu, aku mau ikut" Maple merengek, ia kini telah selesai membersihkan tangannya dengan sapu tangan yang di berikan oleh Sean.
"Aku tidak mau bersama dengan anak yang kotor"
Maple memperhatikan dirinya, bajunya memang agak kotor karena noda ice cream, sepatunya juga penuh dengan tanah, karena ia baru saja selesai bermain di kotak pasir.
"Bersihkan dirimu di sana, jangan keluar dari kolam itu sampai aku kembali" Sean menunjuk kolam air mancur kecil hiasan taman yang airnya tidak terlalu dalam, hanya selutut anak kecil.
"Kapan uncle akan kembali?" tanya Maple polos.
"Saat kau sudah bersih" Sean menjawab acuh.
Maple langsung berbalik dan berlari menuju air mancur, membiarkan dirinya di guyur air sampai seluruh tubuhnya basah kuyup. Entah kenapa anak itu sangat menurut pada Sean, padahal Maple sangat benci yang namanya mandi.
"Aku akan mandi sampai bersih supaya uncle cepat kembali" Maple berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya.
Sean tersenyum sinis lalu berbalik dan meninggalkan Maple, ia sama sekali tidak peduli dengan nasib anak itu. Sean berniat untuk meninggalkannya dan pulang ke rumah.
Maple bisa sangat manis, dan tingkah lucunya kadang meluluhkan hati Sean, membuat wajah dinginnya berubah cerah dengan senyuman, bahkan Sean pernah tertawa lepas saat mendengar cerita lucu dari Maple.
Tapi rasa Cemburu Sean pada Maple membuat pria itu mengabaikan perasaan bahagianya karena Maple.
Sean duduk bersandar di jok mobil bagian belakang.
Sopir yang mengemudikan mobil merasa heran saat Sean kembali sendirian, padahal sebelumnnya ia mengantarkan Sean pergi ke taman dengan seorang gadis kecil, anak dari tuannya.
"Kenapa kau belum juga jalan?"
"Nona Maple tidak bersama anda?" sopir itu memberanikan diri untuk buka suara.
"Tidak!" jawab Sean singkat dengan nada acuh.
"Aku lelah, ayo pulang"
Sean menutup matanya, dan berusaha untuk tidur, menghilangkan sakit kepalanya, akibat stres, karena Maple yang menempel padanya seperti permen karet.
Mobil melaju secara perlahan, kecepatan tidak lebih dari 20.
Sean meraba kantung jaketnya, di ambilnya handphone yang sudah bergetar selama lebih dari satu menit itu dari sana. Di lihatnya layar handphone itu, nama Ethan tertera di sana dengan emoticon hati berwarna biru.
Sean hanya menatap handphonenya sampai benda itu berhenti bergetar, tapi tidak lama benda persegi itu bergetar kembali.
Dengan malas, Sean menekan tombol hijau, dan meletakan handphone di sebelah telinganya.
"Dimana Maple?" suara Ethan terdengar tinggi di seberang sambungan telpon.
"Ada" Sean menjawab singkat.
Di seberang sambungan telpon, terdengar suara Ethan berdecih.
"Cepat bawa Maple pulang! Jika terjadi sesuatu pada Maple, kau jangan pernah kembali ke rumah ini dan bertemu denganku" Ethan mematikan sambungan telpon secara sepihak.
Tubuh Sean sekektika bergetar, rasa takut menyelimuti dirinya, jantungnya berdegup sangat kencang, dan peluh dingin bercucuran di keningnya.
Ethan memang sering marah padanya, atau bahkan memukulnya. Tapi Ethan tidak pernah sekalipun mengancam.
Jika Ethan mengancam akan membunuhnya, Sean mungkin hanya akan mengabaikannya, karena dirinya memang sudah sering dekat dengan kematian.
Tapi jika Ethan membuangnya, dan tidak ingin melihatnya lagi, maka itu sama saja dengan akhir dunia.
Karena dunia Sean, adalah Ethan.
__ADS_1
"Putar balik, kembali ke tempat tadi"