
Bayangan tentang kebersamaannya bersama Chaerin membuat Ethan tidak bisa menahan senyumannya, bahkan pada saat rapat bersama team perencanaan dari Gold Medical yang di mulai sejak sejam yang lalu
Para anggota rapat bahkan saling berbisik, membicarakan betapa anehnya ceo mereka.
Biasanya Ethan memang orang yang ramah, dan mudah tersenyum di depan para karyawannya. Tapi senyumannya kali ini sangat berbeda. Semua orang tahu pasti suatu hal yang baik baru saya terjadi dan membuat pria itu sangat senang.
"Tuan Ethan, bagaimana menurut Anda?" Seorang pria dengan jas abu mencondongkan dirinya ke arah Ethan, menanti jawaban dari atasannya itu.
Padahal sedikitpun Ethan tidak mendengar apa yang baru saja pria itu sampaikan.
"Tentang mengirim bantuan obat-obatan ke daerah terpencil di asia selatan" Sean dengan sigap menjelaskan kembali maksud dari pertanyaan yang di ajukan pada tuannya.
Ethan mengangguk mengerti dan kemudian duduk dengan tegap, meninggalkan pikiran gilanya tentang Chaerin dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Maksudmu obat-obatan yang belum selesai kita uji coba?"
"Ya tuan, kita bisa mengirimkannya sebagai bantuan, itu akan menaikan reputasi perusahaan kita, sekaligus menyelesaikan tahap uji coba kita dengan melihat apakah ada efek samping dalam pemakaian obat tersebut" pria berjas abu itu menjelaskan dengan penuh semangat.
"Menurut saya, cara itu juga sangat efektif, itu akan menghemat biaya dan mempersingkat waktu, membuat kita mendapatkan hasil uji coba dalam waktu singkat" kali ini pria dengan dasi bercorak monochrome menimpali, di sambut anggukan oleh semua peserta rapat kecuali Ethan yang masih mencerna maksud dari ucapan karyawannya itu.
"Ide yang sangat bagus, perusahaan kita mendapatkan banyak keuntungan jika hal itu dilakukan, kalian sangat cerdas" Ethan mengangguk setuju, senyuman di lemparkannya kepada setiap orang yang ada di ruang rapat, membuat mereka semakin percaya diri dengan usulan mereka.
"Sean, ambil obat itu dan bagikan kepada mereka satu persatu"
Sean segera menjalankan perintah Ethan dan mulai berkeliling membagikan satu persatu obat kepada anggota rapat. Sedangkan semua orang di ruangan itu di buat bingung olehnya.
"Aku terpikirkan ide yang lebih bagus, dari pada aku mengeluarkan banyak biaya untuk mengirim obat-obatan itu ke Asia Selatan. Kenapa tidak ku gunakan karyawanku yang ada di sini, aku bisa mengawasi kalian setiap hari dan mengetahui efek samping apa yang di timbulkan oleh obat-obatan itu, itu lebih praktis dan lebih menguntungkan" Ethan kembali tersenyum dengan senyum yang sama dengan sebelumnya.
Tapi atmosfer di tempat itu tiba-tiba berubah menjadi mencekam. Para anggota rapat menarik napas panjang dan membuangnya kasar.
"Tapi tuan, tidak mungkin kami meminum ini, ini bahkan belum selesai di uji coba dan mungkin masih
berbahaya jika di konsumsi"
Pria dengan jas abu berdiri dengan berani dan mulai memprotes Ethan. Dengan peserta lain juga mulai riuh menolak perintah Ethan yang meminta mereka untuk meminum obat tersebut.
"Jadi maksudnya, orang-orang yang berada Asia Selatan sana, kebal terhadap obat-obatan yang berbahaya? Mereka pantas untuk di jadikan kelinci percobaan di banding kalian?" Ethan menatap pria itu tajam, tatapan matanya seperti mata pedang yang menghunus tepat ke jantung lawannya.
"Tidak, maksud saya...... team kami hanya ingin membantu perusahaan dengan memberikan usulan yang masuk akal, saya tidak bermaksud menjadikan mereka kelinci percobaan atau apapun itu" pria itu balik bicara pada Ethan sambil terbata.
"Sebagai seorang pebisnis aku suka idemu, tapi sebagai manusia aku menentangnya" Ethan berkata yakin, seolah ia memang berhati sangat baik.
"Maaf tuan"
"Tidak apa, jangan di pikirkan, tolong letakan surat pengunduran diri kalian semua di atas mejaku paling lambat sore ini , atau kalian bisa mengirimnya via email. Jika lewat dari batas waktu yang aku tentukan, kalian akan di pecat dengan tidak hormat"
Keadaan mulai riuh dan semuanya mempertanyakan keputusan Ethan yang secara tidak langsung memecat mereka, hanya karena ide bodoh mereka.
"Anda tidak bisa melakukan ini, kami tidak melakukan kesalahan apapun, lagi pula rencana itu belum
terealisasikan sama sekali" seorang karyawan wanita berteriak protes tanpa memperdulikan statusnya.
"Aku hanya mempekerjakan manusia di perusahan ini, aku tidak butuh Monster"
Ethan berdiri dan berjalan meninggalkan ruang rapat, meninggalkan para karyawannya yang mencaci makinya, atas keputusan tidak rasionalnya.
Sean mengikuti Ethan di belakang, sesekali dia tersenyum tipis saat mengingat ucapan terakhir Ethan.
"Ada yang lucu Sean?" Ethan menyadari tingkah Sean yang mengeluarkan suara tawa kecil di belakangnya.
"Mereka Monster? Bagaimana dengan kita" Sean berucap sambil menampakan senyum polosnya.
"Kita? Kita juga adalah monster, tapi monster yang besar. Monster besar akan menyingkirkan monster-monster yang lebih kecil seperti mereka supaya mereka tidak mengganggu"
"Monster terlalu menyeramkan, boleh saya menjadi dinosaurus?"
Ethan tersenyum geli karena ucapan polos dari Sean, melihat Sean bertingkah layaknya anak kecil seperti ini merupakan hiburan tersendiri untuknya.
"Tentu, ingatkan aku untuk memberikanmu buku tentang dinosaurus supaya kau bisa mempelajarinya"
"Benarkah tuan? Terima kasih" buku adalah salah satu dari ribuan hal yang paling di sukai Sean.
Ethan melihat kebawah dan melihat tali sepatu Sean yang tidak terikat. Sebenarnya ia sudah melihatnya sejak pagi saat mereka pergi ke kantor, tapi Ethan mengabaikannya. Lama kelamaan Ethan sendiri menjadi tidak nyaman dan khawatir jika Sean mungkin akan tersandung dan jatuh.
Ethan berjongkok meraih tali sepatu Sean yang terlepas dan mencoba untuk mengikatnya dengan kuat. Jika orang yang tidak mengenal Ethan ataupun Sean melihatnya, orang akan berfikir jika Sean adalah bosnya.
__ADS_1
"Hongjung tidak mengikatkan tali sepatumu tadi pagi?" Ethan sedang membicarakan pelayan yang di pekerjakannya khusus untuk mengurus Sean.
"Saya melepaskan ikatannya karena saya ingin berlatih mengikatnya sendiri"
"Lain kali, biarkan Hongjung yang melakukannya, kau mungkin akan jatuh dan terluka jika tali sepatumu tidak terikat dengan benar"
Sean mengganguk cepat. Sean memukul-mukul kepalanya sendiri, mencoba menghukum dirinya yang telah membuat Ethan khawatir.
"Lupakan saja" Ethan mengibaskan tangannya. "Jangan ikuti aku Sean, aku akan pergi ke suatu tempat sendiri"
"Anda harus menghadiri pesta peresmian cabang baru dari DDshine malam ini, membangun kemitraan dengan tuan Shine membuat kita memperoleh banyak keuntungan, Anda tidak boleh melewatkan kesempatan ini"
"Tenaga saja, aku akan menghadirinya, aku dengar tuan Shine punya anak perempuan yang cantik, tentu saja aku tidak akan melewatkannya"
Ethan menyeringai, entah apa yang ada di kepalanya saat ini, tapi bisa di pastikan bahwa itu bukan hal yang baik.
*
"Memikirkanku?"
Chaerin tersentak kaget saat tiba-tiba Ethan muncul dihadapannya.
Ethan terlihat berbeda dari terakhir kali Chaerin melihatnya. Pria itu memotong rambutnya lebih pendek, dan di sisir ke belakang dengan menyisakan sedikit rambut yang jatuh menutupi dahinya, membuatnya lebih kharismatik. Di tambah lagi dia memakai pakaian kasual berupa baju kaos lengan panjang.
Ethan tersenyum sangat lebar, pria itu sangat senang bisa bertemu Chaerin di sela kesibukannya.
"Apa aku sangat mempesona sampai-sampai kau bahkan sulit untuk berkedip?"
Mendengar ucapan Ethan, Chaerin segera mengalihkan pandangannya. Tidak bisa di pungkiri, Chaerin memang
terpesona pada Ethan untuk beberapa saat.
"Kenapa kau ada di sini? Ini bukan tempat yang pantas untuk pria terhormat sepertimu" lagi-lagi ucapan sarkastis keluar dari mulut Chaerin.
Dalam hati sebenarnya Chaerin tidak ingin bicara kasar pada Ethan, tapi entah kenapa setiap kata yang keluar
dari mulutnya pasti terkesan tidak ramah. Hidupnya yang tidak mudah membuatnya tumbuh menjadi wanita yang kasar.
"Aku ingin bertemu denganmu, tapi tidak bisa karena George sekarang memberimu tugas di dapur, bukan lagi melayani tamu" ucap Ethan dengan nada kecewa.
"Ya ini lebih baik, dari pada aku harus melayani pria jahanam di luar sana. Ada banyak wanita cantik yang siap melayanimu di luar, jadi lebih baik kau pergi dari sini daripada bajumu kotor"
"Aku tidak ingin yang lain, aku hanya ingin bertemu denganmu, jadi aku akan membantumu, supaya pekerjaanmu bisa cepat selesai dan kau bisa menemaniku"
Ethan meraih sarung tangan karet berwarna pink yang tergantung di samping bak cuci piring. tanpa risih sedikitpun di pakainya saruang tangan itu, menarik-narik ujung jari-jarinya sehingga mengeluarkan suara berdecit kecil.
Ethan tersenyum, dengan bangga di tunjukannya kedua tangannya yang di bungkus sarung tangan.
Tingkah Ethan membuat Chaerin tersenyum, tapi dengan cepat senyum itu segera sirna, di gantikan dengan raut wajah penuh penyesalan.
Mungkin ini adalah senyum pertamanya setelah sekian lama. Kehidupan yang kejam membuatnya tidak bisa tersenyum dengan leluasa, apalagi setelah kematian ibunya.
Setiap ia ingin tersenyum, wajah ibunya selalu terlintas di kepalanya, membuatnya menelan senyuman itu dengan pahit.
Chaerin merasa berdosa pada ibunya, karena sudah hidup bahagia sendirian, sedangkan ibunya harus merasakan dinginnya lantai penjara selama 20 tahun sebelum akhirnya di eksekusi mati atas kesalahan yang tidak pernah di perbuatanya. Tidak terasa Chaerin meneteskan air matanya.
Cipratan air kran yang sengaja di siramkan Ethan menyadarkan Chaerin dari lamunannya.
Chaerin menatap Ethan dengan tatapan kesal, sekarang wajah dan pakaiannya basah karena ulah Ethan. Berani-beraninya pria di sampingnya itu menyiramnya dengan air.
Pria kaya memang tidak punya sopan santun dan memperlakukan seseorang sesuai dengan keinginannya.
"Jangan tunjukan tangisanmu di hadapan orang lain, jangan biarkan orang lain menganggapmu lemah, kau bilang tempat ini penuh dengan musuhmu kan?" Ethan memandang Chaerin dengan matanya yang teduh.
Kekesalan Chaerin terhadap Ethan menguap dan hilang begitu saja saat mendengar perkataannya yang menyentuh. Ternyata ada alasan kenapa Ethan bersikap kurang ajar, walaupun Chaerin masih merasa sedikit kesal.
"Kau pikir kau siapa, boleh menyiramku huh"
Tangan Chaerin perlahan bergerak meraih selang air tanpa di sadari Ethan. Dan secara tiba-tiba ia menyemprotkannya pada Ethan. Membuat pria itu mundur dan menutupi wajahnya dengan tangan.
"Hei berhenti! Kau bilang tidak ingin bajuku kotor!" Ethan masih tetap berusaha untuk menutupi wajahnya supaya tidak basah, walaupun sia-sia, tentu saja tubuh dan wajahnya tetap basah.
"Kau harus ku mandikan sampai bersih!"
Sebuah spons cuci piring yang masih penuh dengan busa mendarat tepat di kepala Ethan. Chaerin tertawa
__ADS_1
terbahak-bahak, melihat Ethan yang basah kuyup di hadapannya dengan spons cuci piring di atas kepala.
Ethan berjalan mendekati Chaerin yang masih tertawa dengan lepasnya. Dia tangkapnya tangan Chaerin dan di rebutnya selang yang di pegang wanita itu lalu di lemparnya sembarang.
"Aku bilang berhenti, aku harus pergi ke suatu tempat setelah ini, aku tidak mungkin bisa pergi dengan keadaan seperti ini"
Ethan menatap Chaerin tajam sambil masih memegang tangannya. Jarak di antara keduanya hanya terpaut beberapa sentimeter, membuat Ethan bisa merasakan hembusan napas Chaerin, begitupun sebaliknya.
Ethan menuntun tangan Chaerin mendekat ke dadanya, meletakkannya di sana dan membiarkan Chaerin merasakan degupan jantungnya yang tidak bisa ia kendalikan.
"Kau merasakannya?"
Chaerin mengangkat wajahnya dan menatap Ethan dengan wajah kebingungan, apa yang di maksud oleh pria itu.
"Sejak aku bertemu denganmu, rasanya ada yang aneh dengan diriku, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, wajahku memanas, dan aku tidak bisa mengendalikan diriku"
Ethan memandang Chaerin tepat di manik matanya, berharap wanita di hadapannya itu menangkap pernyataan cinta yang ia utarakan.
Chaerin mendorong Ethan menjauh dan memberinya tatapan mematikan yang sanggup mengintimidasi siapapun.
"Apa kau pecandu narkoba? Itu bukan karna aku, tapi sepertinya kau memang sedang sakit! Dasar sialan bisa bisanya menyalahkan ku atas penyakit yang kau derita" Chaerin mendengus sambil menyilangkan tangannya.
Ethan di buat terkejut sekaligus bingung dengan reaksi yang di tunjukan oleh Chaerin, reaksi Chaerin sekarang
ini benar-benar di luar ekspektasinya.
"Dia terlalu polos atau bodoh"
"Ya kau benar, sepertinya aku memang sakit, dan semakin parah jika berada di dekatmu"
Ethan tersenyum terpaksa, ia merasa malu karena sudah bicara omong kosong yang tidak di mengerti oleh wanita
di hadapannya itu.
"Baguslah, itu artinya kau harus menjauh dariku karena aku bisa saja membunuhmu"
"Tolong bunuh aku secara perlahan"
Lagi-lagi ucapan Ethan kembali membuat Chaerin tersenyum.
"Kau bilang kau harus pergi ke suatu tempat, kalau kau pergi sekarang, kau mungkin masih sempat untuk berganti pakaian" ucap Chaerin ketus sambil masih tersenyum.
"Kau benar, aku akan pergi sekarang, aku tidak tahu kapan aku bisa kembali ke sini, jadi jaga dirimu" Ethan melepaskan sarung tangan karet yang di pakainya dan meletakkannya di samping bak cuci, ia bahkan belum mengunakan sarung tangan itu untuk mencuci apapun.
Ethan menyentuh puncak kepala Chaerin, mengelusnya sebentar lalu berbalik untuk pergi.
Chaerin menatap punggung Ethan yang perlahan menghilang di balik pintu dapur.
Di letakannya tangannya ke dada dan di rasakannya detakan jantungnya yang juga tidak keruan sejak Ethan pertama kali muncul, detakan yang sama yang ia rasakan pada dada Ethan.
"Agh sial, aku tidak boleh menyukainya!"
*Catatan Author
Menurut kalian, kenapa Chae tidak boleh menyukai Ethan?
A. Ethan bukan tipe Chaerin
B. Ethan terlalu baik
C. Ethan adalah orang kaya
D. Chaerin mau fokus cuci piring dulu
__ADS_1