BOYFRIENEMY

BOYFRIENEMY
HARI PERNIKAHAN


__ADS_3

"Ku dengar-dengar di akan menikahi seorang pelacur" pria bertubuh tinggi berjas Burberry memegang segelas kopi berdiri menenunggu pintu lift terbuka.


Berita tentang pernikahan Ethan dan Chaerin memang sudah tersebar, mematahakan segala rumor yang beredar tentang hubungan Ethan dan Mona.


Di tv dan media cetak telah ramai dengan berita pernikahan dengan wanita biasa, bukan kalangan selebriti, apalagi konglomerat.


Entah dari mana asalnya, rumor yang mengatakan Chaerin dulunya bekerja di rumah pelacuran tersebar luas dan menjadi bahan pembicaraan orang-orang.


Walaupun tv dan media cetak tidak menampilkan berita tersebut, tapi para pengguna internet menggila dan menyebarkan berita tersebut, sampai tidak ada yang bisa benar-benar menghapusnya.


"Direksi bahkan tidak bisa berbuat apa-apa, menurutku CEO kita itu sudah gila, ia lebih memilih pelacur di bandingkan nona Shine yang terhormat" satu lagi pria berjas abu yang juga menunggu lift.


"Cinta itu kadang memang buta, bukankah pernikahannya malam ini?" ucap pria lain di pojok kiri di samping pria berjas Burberry, tangannya di silangkannya ke dada.


"Ya ya malam ini, dan di antara kita bertiga tidak ada satupun yang di undang, karena kita hanya karyawan biasa, bos kita itu sangat sombong, seharusnya dia mengundang seluruh karyawan, memangnya perusahaan ini akan tetap berjalan tanpa karyawan"


"Baru saja perusahaan keluar dari krisis dan sekarang perusahaan kembali terancam. Untungnya saham perusahaan kita tidak turun terlalu jauh karena skandal memalukan ini" pria berjas abu membuang napas lega.


"Aku jadi penasaran, secantik apa istri dari tuan Ethan. Karena dia dulunya seorang pelacur, apa kalian pikir ia mau tidur denganku semalam jika aku membayarnya" pria pojok kiri tertawa sambil membayangkan hal liar di dalam kepanya.


"Tolong ajak aku juga" pria berjas Burberry tertawa di ikuti dua orang temannya yang lain.


Di belakang mereka Sean sudah mengepalkan tangannya kuat, dirinya menahan amarah karena tiga orang pria di hadapannya itu sedang menghina tuannya.


Sean sudah ingin memukuli mereka tapi sebuah tangan menahannya.


Chaerin, memegangi tangan Sean yang terkepal dan menepuk-nepuknya, Chaerin mengangguk dengan senyuman seolah mengatakan bahwa tidak apa-apa dan biarkan dirinya yang menanganinya.


"Aku sudah sering mendengar penghinaan macam itu, aku akan membereskan mereka" ucap Chaerin berbisik.


Chaerin mengedipkan sebelah matanya pada Sean. Dan Sean tidak memberikan reaksi apapun, ia terlihat dingin seperti biasa pada Chaerin.


"Sean sepertinya kau harus menghubungi bagian HRD dan suruh mereka untuk mencari 3 karyawan baru" Chaerin membesarkan suaranya.


Spontan tiga orang pria di depan lift berbalik dan mendapati Sean bersama dengan Chaerin, dan juga seorang wanita berpakaian pelayan yaitu Christina.


Dan pas sekali pintu lift terbuka, ketiga pria itu langsung menyingkir untuk memberikan jalan untuk Sean dan Chaerin. Terlihat raut wajah menyesal dan juga khawatir di wajah mereka, bahkan tangan mereka juga mulai gemetaran. Mereka baru saja ketahuan menjelek-jelekkan istri bos, tentu saja mereka khawatir masa depan mereka terancam.


"Kalian juga harus masuk, ayo"


Chaerin mendorong ketiga pria itu untuk masuk ke lift dengan di bantu oleh Christina. Ketiga pria itu tidak bisa menolak dan hanya menurut pada Chaerin.


Pintu lift telah tertutup.


"Agh aku sangat benci pria jelek berpenghasilan rendah dengan otak yang kotor, haruskah aku membersihkan kepala mereka" ucap Chaerin seakan-akan sedang berbicara kepada Sean.


Chaerin memandang ketiga pria itu secara bergantian, dan pria itu hanya menunduk. Mereka belum pernah melihat Chaerin sekalipun, tapi melihat kedekatan Chaerin dan Sean serta seorang pelayan keluarga Zie yang mengikuti Chaerin, ketiga pria itu langsung tahu bahwa Chaerin adalah istri dari atasan mereka.


"Christina" Chaerin menadahkan tangannya.


"Ya nona"


"Lipstik ku"


Christina langsung merogoh kantongnya dan mengambil sebuah lipstik merah untuk di berikan pada Chaerin.


"Angkat kepala kalian, kalian adalah laki-laki, di mana harga diri kalian jika kalian menunduk segan kepada seorang pelacur" ucap Chaerin sarkastik.


Chaerin mengoleskan lipstick di bibir ketiga pria itu dan membuat mereka seperti badut, Sean bahkan ikut membuat coretan di wajah mereka.


Walaupun wajah Sean tetap terlihat kaku dan dingin tapi Sean sangat menikmati kegiatannya mencoret wajah ketiga karyawan itu, Sean memperlakukan mereka sepeti kertas gambar.


"Jadilah pecundang dalam satu hari ini, jika kalian membersihkannya, kalian akan berurusan denganku lagi, aku masih ingat wajah kalian bertiga"


Pintu lift terbuka.


Chaerin, Sean dan Christina keluar dari lift meninggalkan ketiga pria yang tersandar lesu menggenggam erat pegangan lift untuk menahan diri mereka supaya tidak jatuh.


Bukan hanya mencoret-coret wajah mereka dengan lipstik, Chaerin juga menendang **** mereka satu persatu sebagai hukuman terakhir.


"Christina"


"Ya?"


"Hapus rekaman cctv di lift"


"Baik akan segera saya laksanakan"


"Memangnya siapa mereka, berfikir bisa tidur denganku, ku pikir mereka bahkan tidak bisa tidur dengan wanita manapun lagi"

__ADS_1


Chaerin berjalan dengan senyum puas di wajahnya setelah berhasil memberi pelajaran pada pria penggosip.


"Owh kau ke sini honey" Ethan bangun dari kursinya dan menyambut kedatangan Chaerin dengan pelukan hangat, tidak lupa tangan nakalnya menepuk-nepuk pantat Chaerin beberapa kali.


"Perhatikan di mana kau meletakan tanganmu itu tuan Ethan" Chaerin mendorong Ethan menjauh.


"Kau, dari atas sampai bawah adalah milikku, jadi aku bebas menyentuhmu di manapun"


"Kau makin kurang ajar dasar brengsek"


"Kau harus berhenti memanggilku brengsek, cobalah untuk memanggilku sayang lain kali"


Chaerin mendengus sambil tersenyum mendengar ucapan Ethan.


"Kau datang di saat yang tidak tepat honey, aku akan rapat. Kau mau ikut?"


"Aku boleh ikut?" Seketika mata Chaerin berbinar.


"Ayo" Ethan menggandeng tangan Chaerin sepanjang jalan menuju ruang rapat.


Ethan menghentak meja dengan kedua tangannya membuat seisi ruangan terkejut termasuk Chaerin.


"Apa kau bilang? Tidak penting!"


Mata Ethan memerah begitu pula wajahnya. Semua orang di ruangan itu tahu bahwa Ethan sedang marah. Dan ini kali pertama mereka melihat Ethan seperti ini. Sebelumnya Ethan juga sering marah, tapi wajahnya masih tetap tersenyum, sangat berbeda dengan sekarang yang lebih terlihat sepeti monster.


"Haruskah aku menyuguhkan air kubangan lumpur untuk kalian di rapat berikutnya? Supaya kalian tahu bagaimana rasanya?!"


Semua orang terdiam, tidak ada satupun yang berani menatap Ethan.


"Beraninya kalian menunda proyek pembangunan saluran air bersih itu, beraninya kalian bersikap seolah-olah kalian adalah bosnya!"


"Di bandingkan saluran air bersih yang tidak ada untungnya untuk kita, kita bisa menggunakan anggaran pembangunan saluran itu untuk perluasan cabang. Saya tahu Anda adalah orang yang baik, tapi Anda juga harus memikirkan perusahaan" seseorang menyanggah ucapan Ethan dengan berani.


"Ini perusahaan milikku, aku yang membangunnya, aku yang berkuasa di sini, siapa kau berani menentangku. Jangan lupa siapa yang mengisi rekening kalian dengan uang selama ini hingga kalian bisa hidup" Ethan menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu dengan mata tajamnya.


"Tapi dana perusahaan...."


"jika aku hanya menginginkan uang seperti kalian, aku tidak akan membangun Gold Medical, tapi aku akan membangun pabrik senjata!"


Ethan melemparkan gelas kaca yang ada di atas meja ke arah orang yang sejak tadi berani menentang perintahnya.


"Aku yakin tidak ada satupun dari kalian yang mampu bertahan walau hanya sehari. Tapi anak-anak itu harus bertahan satu tahun lagi sampai proyek air bersih yang aku janjikan selesai! Aku sama sekali tidak membutuhkan orang-orang seperti kalian"


Ethan sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya, sedikit lebih lama di ruang rapat itu bisa membuatnya jadi hilang kendali dan membunuh semua orang di sana.


"Sean, urus mereka, pastikan mereka juga meminum air kotor, seumur hidup mereka"


Ethan berjalan cepat keluar ruangan, di susul oleh Chaerin yang sangat khawatir.


Ethan membanting pintu ruang kerjanya, ia melemparkan dirinya ke atas sofa, wajahnya menengadah ke atas, sedangkan tangannya sibuk memijat-mijat keningnya.


"Ethan kau tidak apa-apa?" Chaerin mendekati Ethan dan duduk di sebelahnya.


"Rasanya aku hampir gila" ucap Ethan pelan.


Chaerin menggenggam sebelah tangan Ethan, mencoba membuat pria itu lebih tenang.


"Banyak orang yang tidak peduli dengan kehidupan orang lain hanya karena mereka tidak pernah menjalaninya" ucap Ethan pelan.


"Aku juga pernah minum air dari pancuran air mancur di taman, saat aku pertama kali datang ke kota" Chaerin memeluk lengan Ethan dan bersandar kepada-nya.


"Aku bertahan hidup dengan minum air keruh yang bercampur tanah, setiap hari aku hanya makan rumput-rumputan yang aku temui, aku juga hampir mati keracunan. Aku tidak ingin anak-anak lain mengalami hal yang sama sepertiku" Ethan meneteskan sebulir kecil air mata.


Chaerin tertegun, ini pertama kalinya ia melihat Ethan menangis. Pria kuat sepeti Ethan ternyata punya sisi lemah dalam dirinya. Sepertinya kehidupan pria itu di masa lalu tidaklah mudah.


"Aku tahu sekarang kenapa kau sangat ahli dalam hal obat-obatan, kau makan rumput setiap hari sampai kau bisa membedakan yang mana tanaman yang bisa menyembuhkan yang mana yang beracun, pengalaman memang yang terbaik. Aku bangga padamu"


Chaerin mengacungkan kedua jempolnya dengan senyum bangga yang tidak di buat-buat. Membuat Ethan juga ikut tersenyum.


Ethan merebahkan kepalanya ke dada Chaerin sedangkan tangannya memeluk pinggang Chaerin dengan erat.


"Aku harus mengisi ulang dayaku, biarkan aku seperti ini sebentar saja"


Chaerin tidak keberatan sama sekali dan malah mengelus kepala Ethan lembut.


*


Chaerin memakai gaun putih panjang berhiaskan mutiara dan juga batu safir, dirinya terlihat sangat cantik, berjalan di atas altar di dampingi oleh Christopher menuju ke arah Ethan.

__ADS_1


Ethan tak henti-hentinya tersenyum, melihat pengantinnya yang bagaikan bidadari perlahan berjalan ke arahnya.


Rasa gugup dan senang bercampur menjadi satu, ia tidak menyangka, hal yang selama ini tidak pernah di bayangannya terjadi, bahwa dirinya akhirnya menikah. Bahkan lebih baik lagi, ia menikahi wanita yang sangat di cintainya, tidak ada hal yang lebih membahagiakan di bandingkan ini.


Ethan mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Chaerin yang melepaskan gandengannya dari Christopher.


Christopher memberikan ucapan selamat di atas mimbar dengan mata yang berkaca-kaca.


Suasana seketika berubah haru saat Christopher mulai menceritakan tentang Ethan dan dirinya yang sudah bersama selama 20 tahun, bagaimana suka dan duka yang mereka lalui bersama, bagaimana Ethan berjuang sangat keras untuk bisa sukses seperti sekarang. Dan sekarang waktunya Ethan hidup bersama dengan orang lain, orang yang akan menemaninya seumur hidup, dan menggantikan dirinya untuk menjaga Ethan mulai sekarang.


Sebagian dari tamu undangan tidak bisa menahan air mata ketika Christopher memeluk Chaerin dan tersenyum dengan hangat, sebelum turun dari mimbar.


Sean akhirnya naik ke atas mimbar menggantikan Christopher yang kembali ke tempat duduknya.


Sean hanya berdiri mematung selama dua menit sambil menunduk sedangkan tamu undangan dengan sabar menunggu apa yang akan di katakan oleh pria muda itu.


"Aku membencimu karena kau bodoh, kau juga merebut semua perhatian tuan Ethan dariku. Tapi karena kejadian di lift tadi pagi, mungkin aku akan mulai menyukaimu, aku suka menggambar mengunakan pensil merah milikmu"


Semua tamu undangan saling berpandangan mencoba mencerna apa yang di ucapkan oleh Sean, termasuk Ethan yang langsung memandang Chaerin dengan wajah penuh tanya dan hanya di jawab Chaerin dengan satu kata "rahasia"


Sean turun dari mimbar diiringi suara tepuk tangan dari para tamu undangan, mereka tidak mengerti apa yang di ucapkan Sean, tapi mereka melihat Ethan bertepuk tangan dan itu adalah kode keras bahwa mereka juga harus bertepuk tangan.


Di meja paling belakang di sudut, Ronan bersama istrinya menikmati hidangan utama berupa lobster di sertai white wine dengan kadar alkohol rendah.


Ethan memang secara pribadi mengundang Ronan dalam acara pernikahannya.


Sebenarnya Ethan ragu dengan keputusannya itu, karena jika orang-orang tahu Ronan yang notabene adalah seorang anggota Gold Dragon datang ke pernikahannya, mungkin akan ada gosip yang menyebar tentang hubungan dirinya dan Gold Dragon. Walaupun itu benar.


Tapi melihat pria tua itu yang begitu perhatian pada Chaerin, bahkan dalam setiap kesempatan Ronan selalu bertanya dengan hati-hati, bagaimana keadaan Chaerin saat ini, membuat Ethan tidak punya pilihan, selain memperlihatkannya langsung, bahwa Chaerin baik-baik saja.


"Dia anak yang sering kau ceritakan?"


Ronan mengangguk seadanya.


"Aku tidak menyangka anak itu akan menikah dengan bosmu" Rika memandang Chaerin dari jauh, memuji betapa cantiknya Chaerin saat mengenakan gaun pengantinnya.


Walaupun tidak mengenal Chaerin secara langsung dan hanya mendengarnya melalui suaminya, tapi Rika sudah jatuh cinta pada Chaerin seperti mencintai anaknya sendiri.


"Sudah ku bilang dia bukan anak-anak" ucap Ronan dengan suara seraknya.


"Ayo kita ke sana dan ucapkan selamat padanya" Rika menarik lengan Ronan untuk membujuk suaminya itu.


"Tidak, akan ada keributan besar jika Chaerin melihatku"


"Kau melakukan hal yang buruk padanya ya?" Rika memukul belakang Ronan cukup kuat.


"Kau saja yang temui dia, tapi jangan sebutkan namaku" ucap Ronan acuh sambil meminum winenya.


"Huh" Rika hanya melenguh pelan dengan wajah kecewa.


*


Rika ingin menemui Chaerin yang sedang berada di ruang pengantin tapi dua orang penjaga yang berada di pintu masuk menghalanginya. Tapi beruntung Sean datang dan mengenali Rika sebagai istri Ronan dan mempersilahkannya masuk.


"Selamat atas pernikahanmu" Rika memberikan sebuah kotak kecil berisi sepasang anting panjang.


"Maaf apa aku mengenalmu?"


Chaerin menatap bingung wanita yang ada di hadapannya, ia sama sekali tidak ingat pernah mengenal wanita itu sebelumnya.


"Kau memang tidak mengenlku, tapi aku mengenalmu, aku banyak mendengar tentangmu dari suamiku" ucap Rika tersenyum lembut.


"Suamimu? Siapa? Apa kau istri Christopher, tapi dia bilang dia tidak pernah menikah"


"Bukan, aku bukan istri tuan Christopher. Aku minta maaf tapi suamiku tidak mau namanya di sebutkan. Tapi sedikit petunjuk, dia bekerja untuk suamimu"


Rika mengalihkan pandangannya ke arah Ethan yang berdiri tepat di samping Chaerin.


"Ya" ucap Ethan singkat.


"Siapa?"


"Rahasia"


Chaerin mendengus kesal mendengar jawaban Ethan padahal ia begitu penasaran.


"Yah siapapun suamimu itu, tolong katakan padanya terima kasih. Kau satu-satunya orang yang datang mengunjungi ku, aku tidak punya keluarga ataupun teman. Aku sangat senang, terima kasih" ucap Chaerin dengan senyum mengembang di wajahnya.


Rika juga ikut tersenyum, memeluk Chaerin.

__ADS_1


"Kau bisa anggap aku keluarga ataupun temanmu" ucap Rika pelan.


__ADS_2