
Chaerin sedang berdandan di temani beberapa pelayan yang juga sedang sibuk menata gaun yang akan di pakai Chaerin malam ini pada pesta ulang tahun Ethan, sekaligus pesta perayaan menyambut tahun baru.
Chaerin sudah memilih gaunnya sejak berminggu-minggu yang lalu, ia membeli 10 gaun, berkeliling seharian penuh, bahkan menemui desainer ternama dari paris untuk membuatkannya gaun yang sesuai dengan keinginannya, tapi pada akhirnya ia hanya mengenakan satu gaun sederhana yang di belinya dari toko pinggir jalan dengan diskon 30% untuk acara malam ini.
Christina beberapa kali mengeluh tentang gaun yang akan di pakai Chaerin itu yang di nilainya sama sekali tidak berkelas. Christina sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk Chaerin tapi tidak ada gunanya, Chaerin sangat keras kepala, kepalanya mungkin terbuat dari bongkahan bijih besi.
Chaerin menjulurkan tangan ingin meraih gelas minumnya di pinggiran meja, cuaca yang panas dan segerombolan orang yang sekarang sedang menggerumbunginya membuatnya gerah.
Tanpa sengaja Chaerin mendorong frame foto yang ada di dekat gelasnya dan membuatnya terjatuh, pecahan kaca dari frame itu berhamburan di lantai di dekat kaki Chaerin.
Chaerin refleks memegangi dadanya yang seketika berdegup kencang, entah kenapa perasaannya menjadi tidak nyaman.
Para pelayan langsung kalang kabut membereskan pecahan kaca itu, mereka takut Chaerin akan terluka, dan nyawa mereka akan melayang di tangan Ethan.
"Apa ini pertanda buruk?" seorang pelayan berisik pada temannya yang lain, tapi bisikan kecilnya itu bisa di dengar oleh Christina.
"Tidak ada hal buruk terjadi hanya karena kaca pecah, berhenti percaya takhayul!" bentak Christina.
Chaerin memandangi foto dirinya dan Ethan yang tergeletak di lantai dengan perasaan yang masih tidak nyaman.
"Berikan itu padaku"
Seorang pelayan langsung mengambil foto yang di tunjuk dan memberikannya pada Chaerin.
*
Inguk berjalan santai menuju pintu masuk sambil membawa undangan khusus berwarna hitam gold dengan barcode di sisi belakang undangan itu.
Seorang petugas melakukan scan barcode pada undangan yang di bawa Inguk, untuk melihat apakah benar orang yang membawa undagan itu memang orang yang di undang.
Petugas mengerutkan dahi saat melihat layar pemindai yang menampilkan data si pemilik undangan. Pria di hadapannya agak kurus, dengan mata dan rahang yang tajam, sementara profil yang tertera di layar pemindai menampilkan seorang pria yang cukup berisi dan benguk wajah yang sangat berbeda.
"Anda benar Johnny Gao, dari China?" petugas memperhatikan Inguk dari atas sampai bawah untuk mencari kemiripan pria itu dengan profil di layar.
Inguk mengeluarkan dompetnya dan menunjukan kartu identitasnya sekilas untuk membuktikan bahwa ia memang Johnny Gao, hanya beberapa detik dan Inguk menyimpan kembali kartu identitasnya kembali.
Inguk sudah ingin berjalan masuk tapi dua orang penjaga menghalangi pintu masuk dan tidak membukkakan jalan.
"Aku diet ketat dan melakukan operasi di beberapa bagian, aku belum sempat foto ulang untuk ID-ku, haruskah aku menelpon Ethan dan mengadukan sikap kalian yang kurang ajar ini?" Inguk mengancam penuh percaya diri dengan kebohongannya.
Inguk dengan wajah kesal mengambil handphone dari kantung blezernya dan berpura-pura menekan beberapa nomer.
"Baiklah anda bisa masuk, selamat datang tuan Johnny Gao" ucap petugas itu menunduk sambil memberi kode kepada kedua penjaga untuk menyingkir dan memberikan jalan.
Inguk bergegas masuk dan langsung berbaur di tengah kerumunan tamu-tamu yang lain untuk menyembunyikan diri.
"Hampir saja aku ketahuan, agh aku yang tampan ini mana mungkin bisa menyamar menjadi pria jelek" inguk merutu sambil merapikan blezernya di depan sebuah cermin besar seukuran tubuhnya di dekat pangung pemain musik.
Inguk berkeliling menikmati pesta, bercengkrama dengan tamu-tamu lain dan menggoda gadis-gadis yang terlihat sendirian. Orang-orang yang datang ke pesta Ethan pastilah orang-orang berpangkat tinggi dan kaya, inguk tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mencari keuntungan.
Menjalin kedekatan dengan orang-orang kaya dan berpengaruh amat sangat menguntungkan, mungkin saja suatu hari nanti ia bisa menipu salah satu di antara mereka dan menguras habis hartanya.
Sebagai seorang penipu Inguk lebih banyak menggunakan otak dan mulut, ketimbang anggota tubuh yang lain. Siapapun yang mendengar Inguk bicara hampir semuanya percaya dengan kebohongan yang di ucapkan pria itu, apalagi jika itu adalah wanita.
Tapi tujuan utama Inguk datang ke pesta ulang tahun Ethan malam ini bukanlah mencari mangsa untuk di tipu, biarlah itu menjadi selingan sambil melakukan tujuan utamanya. Ia sedang mencari Chaerin.
Beberapa bulan yang lalu ia di kagetkan dengan berita pernikahan Ethan Zie dan juga Chaerin. Awalnya Inguk hanya berfikir bahwa temannya itu sangat beruntung bisa menikah dengan pria kaya yang hartanya tidak akan pernah habis walau seluruh uangnya di bakar untuk persembahan. Inguk sempat berencana untuk menemui Chaerin dan meminta uang padanya karena wanita itu sekarang kaya.
Tapi fakta yang tidak sengaja di ketahuinya, membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak, setiap malam dirinya di hantui mimpi buruk tentang Chaerin, dan hati nuraninya berkata bahwa ia harus bisa membawa Chaerin pergi, dan menjauhkannya dari Ethan, sesegera mungkin.
Dari tengah kerumamunan, Inguk bisa melihat ke arah pintu masuk, di sana ada Johnny Gao yang asli datang bersama istrinya dan sedang di cegat oleh petugas keamanan.
Inguk bergegas memikirkan cara untuk bisa menemukan Chaerin secepatnya sebelum ia ketahuan.
Seorang pelayan yang membawa sampanye di atas nampan tidak sengaja menabrak Inguk dan menumpahkan minuman di pakaiannya. Tapi lebih tepatnya, Inguk sendiri yang sengaja menabrakan dirinya.
"Maaf tuan saya tidak sengaja, jika anda berkenan saya bisa membersihkannya...." ucap pelayan itu khawatir.
"Tidak apa, aku akan membersihkannya sendiri, bisa kau tunjukan padaku di mana toilet?" ucap Inguk dengan senyum ramahnya.
Pelayan itu menunjuk ke arah sudut ruang pesta.
"Saat melewati lorong itu anda harus berbelok ke kanan"
Inguk mengangguk paham dan langsung meninggalkan pelayan itu sambil menepuk-nepuk blezernya yang basah. Ia memang ingin ke toilet untuk bersembunyi, tapi setelah sampai di persimpangan lorong, Inguk melihat sebuah tangga di ujung lorong.
Alih-alih berbelok ke kanan, Inguk malah berjalan lurus memasuki lorong, dan naik menunju lantai atas menggunakan tangga kecil yang biasa di gunakan oleh para pelayan.
Inguk bergegas berbunyi di balik gorden saat beberapa pelayan wanita melewatinya, dan samar-samar ia mendengar nama Chaerin di sebut.
"Aku sudah cukup stres bekerja melayani tuan Ethan, dan sekarang istrinya pun hampir sama menyebalkannya" gerutu seorang pelayan kepada temannya.
"Sudahlah, kita harus cepat sebelum nona Clara mengamuk" ucap pelayan yang lainnya.
Inguk keluar dari persembunyiannya dan memperhatikan sebuah kamar di mana para pelayan itu keluar, ia yakin bahwa itu adalah kamar Chaerin.
Inguk memegang handle pintu dan memutarnya perlahan, ada rasa ragu dalam hatinya, mungkin saja bukan Chaerin yang ada di kamar itu tapi orang lain, dan akan lebih buruk jika yang ada di kamar itu adalah Ethan.
__ADS_1
Rasa ragu di hatinya seketika sirna saat ia menemukan sosok yang di carinya, seorang wanita memakai gaun merah pendek yang terbuka di bagian belakangnya, membuat wanita itu terlihat sangat sexy walau hanya di lihat dari belakang.
Chaerin sedang mengobrol dengan seorang wanita yang memakai pakaian pelayan tapi dengan model yang sedikit berbeda dengan pelayan yang di lihatnya sebelumnya
"Inguk!" Chaerin langsung terperanjat saat melihat Inguk ada di hadapannya, pria itu sudah menghilang selama berbulan-bulan dan tiba-tiba ada di sini, ini kejutan yang tak terduga.
"Oh hei, lama tidak bertemu" Inguk melambaikan tangannya kaku dan berjalan mendekat Chaerin, diiringi tatapan penuh selidik dari Christina.
"Tidak apa Chris, dia temanku, Ethan pasti mengundangnya ke sini" ucap Chaerin saat menyadari wajah Christina berubah menjadi tidak bersahabat.
"Ya, Ethan mengundangku sebagai tamu vip" ucap Inguk berbohong dengan wajah meyakinkan.
"Wah ini kejutan, dia tidak mengundangmu saat pesta pernikahan kami dan malah mengundangmu di hari ulang tahunnya" ucap Chaerin polos, masih menyangka bahwa Ethan memang mengundang Inguk untuk datang.
"Bisa aku bicara berdua dengan Chaerin, kami butuh privasi" Inguk memutus ucapan Chaerin dan menatap Christina.
Christina menatap Chaerin dan menunggu perintah dari majikannya itu. Dan setelah Chaerin mengangguk, Christina langsung meninggalkan kamar untuk membiarkan Inguk dan Chaerin berdua untuk bicara.
"Kita harus pergi dari sini" bisik Inguk cepat sambil meraih lengan Chaerin dan berusaha menariknya untuk bangun.
"Pergi? Kemana?"
"Kemana saja, yang penting kita harus pergi dari sini"
"Kau menghilang selama berbulan-bulan, dan sekarang datang untuk mengajakku pergi. Jangan bilang kau suka padaku dan mengajkku untuk kabur bersama, aku ini sudah menikah!"
"Aku suka padamu?! Aku sudah pernah bilang padamu kalau aku tidak terlalu suka wanita berdada besar!"
"Lalu kenapa? Hari ini ulang tahun Ethan, aku tidak bisa pergi, kau pasti sudah gila karena terlalu lama di jalanan" ucap Chaerin ketus sambil mendorong kepala Inguk dengan jari telunjuknya.
"Iya aku memang sudah gila, aku seharusnya tidak berada di sini untuk menyelamatkanmu dari GD!" inguk meremas-remas rambutnya karena kesal dengan dirinya sendiri.
"Menyelamatkanku? Tempat ini di jaga dan di awasi kamera cctv selama 24 tanpa henti, kau tidak harus menyelamatkanku dari apapun, tempat ini sangat aman, Ethan tidak akan pernah membiarkan GD mendekatiku"
"Apa kau bodoh, tempat ini adalah tempat paling berbahaya. Aku tidak tahu apa alasan dia menikahimu, mungkin dia memang sejenis sikopat yang menikmati saat-saat bahagia sebelum membunuh mangsanya, atau dia memang sudah gila sejak lahir, dia tidak akan melindungimu!"
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, berhenti berputar-putar dan katakan padaku dengan jelas, apa maksudmu Ethan adalah psikopat, dan apa hubungannya dengan GD?" desak Chaerin yang mulai di buat bingung dengan ucapan Inguk.
Inguk mundur ke arah belakang pintu saat ia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.
Tiba-tiba pintu terbuka dan Ethan masuk ke dalam kamar.
"Sudah siap?" Ethan meraih tangan Chaerin dan menciumnya lembut.
"Ehm ya, tapi........"
Dari balik pintu Inguk menggelengkan kepalanya dan meletakan jari telunjuknya di bibir isyarat supaya Chaerin tetap diam.
"Kau harus cepat, ada banyak orang yang ingin aku perkenalkan padamu, juga kita akan melakukan wawancara singkat dengan salah satu majalah"
Chaerin tidak menghiraukan ucapan Ethan dan langsung menutup pintu dan menguncinya.
Ethan merasa kebingungan sebentar dengan tingkah Chaerin yang aneh, tapi tanpa berfikiran buruk sedikitpun, Ethan mengabaikan tingkah aneh Chaerin dan turun ke lantai bawah sendirian.
"Jelaskan padaku, atau aku akan memanggil Ethan untuk membunuhmu!" ancam Chaerin sambil menarik kerah Inguk dan membawa pria itu keluar dari persembunyiannya di belakang pintu.
"Dengarkan aku baik-baik, dan tahan emosimu saat mendengarnya" ucap Inguk sambil menarik turunkan tangannya menyuruh Chaerin untuk mengatur nafas.
Chaerin mengangguk cepat, ia di buat penasan dengan apa yang akan di katakan oleh Inguk.
"Pria yang kau nikahi itu............... adalah GD, orang yang membuatmu menjadi pelacur di Lady Castle, dan orang yang membuat Bear terbunuh" ucap Inguk dengan nada di buat sedikit dramatis.
"Kau bercanda?" Chaerin tertawa terbahak-bahak. "Kau baru menonton film action?"
Inguk mengeluarkan handphonenya dan menunjukan beberapa foto.
Di foto pertama, terlihat Ethan bersama George berjalan di pinggir jalan di sekitar Lady Castle, dan dalam foto itu terlihat George menunduk sangat rendah saat berasa di dekat Ethan.
"Dia memang sering ke sana, tentu saja dia akrab dengan si brengsek George" Chaerin menepik foto itu dan masih berfikiran positif pada suaminya.
Inguk menunjukan foto kedua, di mana ada George, Ronan, dan Sean dalam satu frame.
"Si putih ini, asisten Ethan kan? Dan Ronan adalah orang kepercayaan GD" Inguk menunjuk satu persatu orang yang adala dalam foto itu.
Keyakinan Chaerin mulai goyah, foto itu sangat nyata jadi tidak mungkin itu adalah foto palsu, apalagi George, Ronan dan Sean terlihat sangat dekat di sana.
Berikutnya bukan lag foto yang di tunjukan oleh Inguk, tapi video. Video yang di ambil dari rekaman cctv, saat Sean berjalan tergesa-gesa keluar dari Lady Castle dan masuk ke dalam mobil.
"Si putih keluar dari Lady Castle beberapa saat setelah Bear masuk dan membuat keributan di sana"
Dari video itu pikiran positif Chaerin kepada Ethan hampir terkikis sepenuhnya.
Inguk menunjukan foto terakhir, foto saat Ronan memasuki sebuah mobil.
"Kau pasti tahu betul, ini mobil siapa" ucap Inguk dramatis.
"Dari mana kau dapatkan ini?" tanya Chaerin penasaran.
__ADS_1
"Aku bertemu seseorang wanita mabuk di bar saat aku lari ke China, dia bilang dia mengenal GD, dia pernah melihatnya saat transaksi narkoba, dan dia bilang hidup bosnya berada di tangan GD. Wanita itu membeberkan segalanya, aku bahkan bertemu dengan bosnya dan mendapatkan semua bukti ini"
"Aku tidak bisa mempercayai ini, Ethan bukan GD, aku yakin bukan, aku akan bertanya langsung padanya"
Tanpa bisa di cegah oleh inguk, Chaerin keluar kamar dan turun ke lantai bawah untuk mencari Ethan.
Amarah Chaerin berada di puncak kepalanya, ia ingin mendengar langsung dari mulut Ethan, apakah benar bahwa ia adalah GD.
Dalam perjalanan turun tangga, Chaerin sempat-sempatnya merebut sebuah pistol dari seorang penjaga, dan penjaga itu segan untuk mengambil pistolnya kembali dari Chaerin, karena wanita yang merebut pistolnya itu adalah istri dari bosnya.
Saat menemukan Ethan, Chaerin langsung menodongkan pistol itu pada Ethan di tengah semua orang.
Sebagian orang berfikir bahwa Chaerin sedang bercanda dan malah bertepuk tangan, tapi sebagian lainnya yang tahu bahwa pistol yang di pegang Chaerin adalah asli langsung menyingkir dan ketakutan.
"**** gila, kau selama ini menipuku?!" teriak Chaerin sambil menahan air matanya.
"Apa maksudmu? Letakan itu, semua orang sedang melihat" bujur Ethan.
"Kau GD?" tanya Chaerin dengan suara parau.
Ethan kaget sesaat lalu menunduk, pria itu tidak menyangka bahwa Chaerin akan tahu secepat ini.
"Aku bisa jelaskan, tenangkan dirimu, kita harus bicara" sekali lagi Ethan membujuk.
Ethan ingin menyentuh tangan Chaerin dan membawa wanita itu pergi ke tempat lain untuk bicara, ia tidak ingin bertengkar di tengah banyak orang, yang nantinya akan menciptakan banyak rumor, tapi Chaerin menepis tangan Ethan.
Beberapa penjaga sudah bersiap di belakang Chaerin dan menunggu aba-aba dari Ethan untuk melumpuhkan Chaerin.
"Kau tidak menyangkalnya, jadi benar kau adalah GD?" tidak terasa bulir kecil air mata jatuh di pipi Chaerin.
Ethan tidak bisa berkata apa-apa, dirinya memang bersalah karena tidak jujur pada Chaerin dari awal tentang siapa dirinya.
Tapi Ethan sudah membuang nama GD jauh-jauh demi Chaerin, ia tidak ingin di anggap brengsek oleh Chaerin, dan sedikit demi sedikit memperbaiki kesalahannya. Di mulai dari ditutupnya Lady Castle dan di bubarkannya Gold Dragon.
Ethan sebenarnya menunggu waktu yang tepat untum mengungkapkan segalanya, termasuk dirinya yang sudah mengenal Chaerin sejah 20 tahun yang lalu.
Tapi siapa sangka Chaerin akan tahu bahwa dirinya adalah GD lebih cepat dari perkiraan dan membuat segalanya kacau.
"Kenapa kau melakukan ini padaku, kau senang bisa mempermainkanku!" lagi-lagi Chaerin berteriak.
"Chae, kau tahu aku sangat mencintaimu, aku punya penjelasan atas segalanya"
"Kau membunuh Bear!!" tangis Chaerin pecah.
"Kau lihat sendiri bahwa Bear masih hidup, aku tidak membunuhnya"
"Dokter Lim berkata bahwa tidak ada harapan untuk Bear, tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa jantungnya!"
Chaerin mengarahkan pistol ke kepalanya sendiri dengan putus asa. Hidupnya sudah tidak berati lagi sekarang. Tidak ada lagi Bear teman terbaiknya, dan dendam yang di simpannya sejak lama tidak berhasil terbalaskan, dan sekarang saat ia merasa hidupnya sempurna, tenyata suaminya membohonginya.
Ethan memerintahkan kepada para penjaga untuk mundur menjauhi Chaerin, ia tidak ingin Chaerin merasa lebih tertekan dan benar-benar menarik pelatuk untuk menembak kepalanya.
Para penjaga segera mengevakuasi para tamu untuk segera keluar dari kediaman Ethan itu, tak lupa satu persatu ponsel mereka di sita dan di priksa kalau-kalau ada yang memfoto, merekam video ataupun suara. Kejadian yang terjadi saat ini, tidak boleh tersebar ke luar.
"Chae jangan lakukan itu, jangan melukai dirimu sendiri, kau bisa menembakku sebagai gantinya" ucap Ethan pasrah.
Inguk berlari turun dari lantai atas dengan cepat dan langsung merebut pistol yang di pegang oleh Chaerin. dan seketika Ethan merasa lega.
"Kita harus pergi dari sini secepatnya" bisik Inguk sambil melihat penjaga di sekeliling meraka.
Kali ini Inguk yang memegang pistol yang di keluarkannya dari balik jasnya dan mengarahkannya pada para penjaga yang bersiap untuk menangkapnya dan Chaerin.
Chaerin menarik pelatuk untuk menembak dirinya sendiri, tapi Inguk berhasil meraih tangan Chaerin dan membuat arah tembakan berubah, membuat peluru menusuk masuk ke bahu kanan Ethan.
Sean bersiap untuk membalas Chaerin tapi Ethan menahannya.
"Aku minta maaf, aku Seharusnya jujur padamu sejak awal, kita bisa memulai kembali dari awal, jadi tolong maafkan aku" Ethan memegangi bahunya yang bercucuran darah.
"Kita berakhir, tidak ada yang harus di mulai kembali"
"Jika kau berani mengikutiku, aku anggap kau secara terang-terangan ingin aku mati"
Chaerin menarik Inguk dan membawanya keluar. Tidak ada satupun penjaga yang mengikuti Chaerin.
Ethan di penuhi rasa bersalah dan dengan sangat terpaksa membiarkan Chaerin pergi.
Sean melepaskan jasnya dan menutupi tubuh Ethan dari kepala untuk menyembunyikan tangisan Ethan yang meledak walaupun tampa suara.
Rasa sakit di bahunya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit hati dan rasa bersalah yang di rasakan Ethan setelah kepergian Chaerin. Sean berusaha menenangkan Ethan dengan memeluknya erat.
Sedangkan para penjaga masih sibuk menggiring tamu untuk keluar karena pesta sudah di hentikan total.
*
Ethan melihat kotak kado di kamarnya, kado yang belum sempat di berikan oleh Chaerin.
Ethan membuka kotak itu perlahan dan melihat isinya, hanya selembar foto usg hitam putih. Dengan tulisan di belakang fotonya.
__ADS_1
"Tidak sabar ingin mendengar ia memanggilmu papa"
Dan lagi-lagi tangisan Ethan pecah di tengah malam.