BOYFRIENEMY

BOYFRIENEMY
BAGAIMANA JIKA AKU MENIKAH?


__ADS_3

Satu bulan sebelumnya.


Ethan terbaring di atas tempat tidur kecil berselimutkan kain tipis yang di lapisi dengan gorden berdebu, tubuhnya menggigil kedinginan, keringat dingin membasahi wajahnya sampai menetes ke bantal. Mulutnya meracau mengucapkan kata-kata tidak jelas yang tidak bisa di mengerti oleh siapapun.


Chaerin baru kembali dari toilet dengan membawa handuk kecil yang telah di basahi untuk mengompres dahi Ethan, berharap semoga panas di tubuh pria itu segera turun.


Sebelumnya Chaerin sudah mengganti pakaian Ethan yang basah karena keringat. Satu-satunya baju yang pas untuk ukuran tubuh Ethan hanya kaos berwarna jingga jelek yang sudah di pakai Chaerin lebih dari lima tahun, terdapat sobekan di sana-sini serta sablon bergambar kucing di bagian depannya pun mengelupas, baju itu sebenarnya sudah tidak layak pakai dan pantas untuk di jadikan lap pel.


Ethan pasti tidak pernah memakai baju murah sebelumnya, Chaerin sebenarnya tidak tega memakaikan baju itu, tapi apa boleh buat, dirinya tidak punya pilihan, ia tidak mungkin membiarkan Ethan tidak berpakaian.


Chaerin membuang napasnya kasar, di ceknya suhu tubuh Ethan dengan punggung tangannya, sudah lebih dari dua jam dan keadaannya tidak juga membaik.


"Hei brengsek buka pintunya! Dia akan mati jika tidak segera di bawa ke rumahnya sakit!"


Mungkin ini sudah ke seribu kalinya Chaerin berteriak, Chaerin tahu ada orang di balik pintu, tapi mereka berlagak tuli dan tidak menghiraukan teriakannya.


Chaerin menendang pintu itu berkali-kali, dan meninjunya berkali-kali jua sampai buku-buku jarinya terluka.


"Apa kau datang hanya untuk merepotkan huh!" Chaerin memandang Ethan kesal, bukan rasa kesal yang sebenarnya tapi ia kesal karena khawatir.


Chaerin duduk di samping tempat tidur sambil memegangi tangan Ethan, tiba-tiba terdengar dering handphone yang berasal dari kantung Coat yang di pakai Ethan. Buru-buru Chaerin mengambil handphone itu, di lihatnya layar telpon menampilkan sebuah nama.


Sean calling.


Dengan tidak tahu dirinya Chaerin mengangkat telepon tersebut, ia berharap bisa menolong Ethan untuk keluar dari kamarnya yang sempit supaya bisa pergi ke rumah sakit, jika terlalu lama di sini, Chaerin khawatir keadaan Ethan mungkin akan menjadi lebih parah.


"Hei Ethan ada di sini, cepat jemput dia" belum lagi orang yang menelpon mulai berbicara, Chaerin langsung berucap tanpa jeda sedikitpun, membuat Sean di sebrang sana hening beberapa saat.


"Siapa ini? Di mana tuan Ethan?"


"Ini aku Chaerin, kau tahu pelacur dari Lady Castle, astaga aku malu menyebut diriku sendiri sebagai pelacur. Kau Sean kan? Pria kurus pucat yang sering datang bersama Ethan? Jemput bosmu ini sekarang juga"


Hening sejenak, di sebrang sana Sean sedang berfikir apa yang harus di lakukan nya, karena sebelumnya Ethan pernah berkata jika ia tidak ingin di ganggu sama sekali jika sedang bersama Chaerin, apapun alasannya.


"Baiklah nona Chae saya tidak akan mengganggu kalian"


Terdengar suara dengung panjang, tanda telpon terputus.


Chaerin berteriak berkali-kali memanggil Sean, ia tahu Sean tidak akan bisa mendengarnya karena sambungan sudah terputus, tapi ia masih tetap berusaha, mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya. Seseorang pasti akan berfikir jika Chaerin memelihara puluhan anjing di dalam mulutnya.


"Dasar sialan!"


Chaerin melemparkan handphone Ethan kelantai, ia sangat kesal, telpon tadi adalah cara satu-satunya cara untuk bisa membawa Ethan keluar, tapi dengan seenaknya Sean malah memutus sambungan telpon dan mengabaikannya.


Apalagi handphone Ethan terkunci, Chaerin tidak bisa membuka kuncinya dan kembali menelpon Sean.


Hanya tombol panggilan yang bisa di gunakan, Chaerin tidak mungkin menghubungi 911, jika petugas ambulan ke sini maka akan ada gosip tersebar tentang ceo dari perusahaan terkemuka ternyata pergi ke tempat pelacuran, Chaerin tidak bisa membuat citra Ethan rusak.


Tapi di tengah kegelisahannya, sebuah ide gila melintas di kepalanya. Melupakan Ethan sejenak dan beralih memikirkan dirinya sendiri, karena dirinya juga perlu untuk di selamatkan.


Chaerin menekan 12 nomer, dan melakukan panggilan melalui handphone Ethan. Nomer yang di tujunya sudah di hafalnya selama bertahun-tahun di luar kepala.


"Bear, ini aku"


"Chae, ini benar kau, astaga kenapa kau baru menghubungiku sekarang, aku sangat khawatir, apa GD memberimu banyak pekerjaan sampai-sampai kau terlalu sibuk untuk menelpon"


Chaerin tersenyum senang saat mendengar suara lawan bicaranya di telpon, suara yang tidak bisa di dengarnya selama sebulan ini, biasanya setiap hari Chaerin selalu mendengar suara melengking besar milik Bear saat pria itu mulai cerewet tentang berbagai hal.

__ADS_1


Bear adalah orang terdekatnya.


"Jangan sebut nama si sialan itu, aku muak mendengarnya. Bagaimana di sana, apa baik-baik saja?"


Chaerin segera mengalihkan pembicaraan, ia tidak mungkin berkata jika ia di tipu oleh Ronan dan terjebak di rumah pelacuran, reputasinya sebagai bos gangster akan tercoreng.


"Sangat kacau, polisi menggeledah tempat kita dan banyak orang-orang kita yang tertangkap, kami tercerai-berai sekarang, semuanya sulit di kendalikan tanpamu"


Bear berbicara dengan suara yang tidak jelas, seperti ada sesuatu yang mengganjal di mulutnya. Chaerin sudah bisa menebak jika Bear sekarang sedang makan, tidak ada hal lain yang bisa di lakukan pria itu selain makan, tidur, dan berkelahi.


"Tenang saja, aku akan kembali, aku sedang terjebak di suatu tempat dan tidak bisa keluar, bantu aku keluar dari sini"


"Terjebak?! Astaga bagaimana bisa, tentu saja aku akan membantumu, di mana kau sekarang"


"Kau tahu Castle Hotel, di lantai 12 Castle Hotel terdapat tempat bernama  Lady Castle, tempat pelacuran elit di pusat kota Seoul, korea?"


"Entahlah Chae, aku tidak pernah mendengarnya tapi akan aku cari tahu"


"Anak pintar, di mana kau sekarang dan anggota yang lain?"


"Aku lari ke Vietnam, dan ada beberapa anggota lain bersembunyi di China, Filipina dan Thailand, kami benar-benar terpecah-belah sekarang"


"Kumpulkan siapa saja dari mereka yang masih ingin bekerja denganku, bawa mereka ke Seoul, tepat satu minggu dari sekarang, buat kekacauan di lady Castle"


"Baiklah"


"Aku mengandalkanmu Bear, oh iya dan jangan coba menelpon ke nomer ini lagi"


"Baik, sampai bertemu minggu depan, aku dan anggota yang lainnya akan menghancurkan tempat itu untukmu"


Ia memandangi Ethan yang masih tertidur, di ambilnya handuk kecil yang ada di dahi Ethan yang mulai mengering dan ia kembali menuju kamar mandi membasahi handuk itu dengan air dingin lalu meletakkannya kembali ke dahi Ethan.


"Terimakasih sudah meminjamkan handphonemu padaku, aku akan membalasmu ketika aku keluar dari sini"


Chaerin mencium dahi Ethan dengan lembut sambil menyapukan tangannya ke rambut hitam milik pria berparas tampan itu.


*


Sekarang


Angin dingin merembes masuk dari celah jendela yang sedikit terbuka. Ethan menyentuh lehernya yang terasa dingin dan Sean dengan sigap langsung menutup jendela rapat-rapat.


Loyalitas Sean pada Ethan memang tidak bisa di bandingkan dengan apapun, bahkan angin pun tidak di perbolehkannya menyakiti tuannya.


Ethan sedang duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit sambil membaca buku. Sudah dua hari ia berada di rumah sakit dan yang di lakukan nya hanyalah tidur, makan, dan membaca buku. Di atas nakas terdapat lima buah buku yang di tumpuk menjadi satu dan semuanya sudah di baca Ethan hingga selesai.


Bagi Ethan yang setiap harinya selalu sibuk bekerja, saat-saat seperti ini adalah sebuah liburan yang sangat jarang, jadi ia akan menikmatinya semaksimal mungkin.


Ethan bukannya sedang sakit tapi ia sengaja membuat dirinya terlihat sakit akibat penyerangan di Gold tower beberapa hari yang lalu, untuk membuat masyarakat bersimpati kepadanya. Terkadang drama sampah yang penuh dengan kebohongan akan lebih mudah membuat orang-orang terpengaruh, seperti sekarang ini.


"Wartawan masih saja menunggu di bawah, padahal cuaca sedang dingin" Sean melihat segerombolan orang memegang kamera dari balik kaca jendela yang berembun.


"Biarkan saja mereka, kemarin mereka berlomba-lomba untuk mengarang cerita yang menyudutkan ku, dan sekarang mereka berpura-pura khawatir dengan keadaanku" Ethan membalik halaman bukunya.


"Ya tuan, banyak sekali artikel tentang anda yang hampir terbunuh karena di serang oleh kepala kontraktor itu, membuat masyarakat simpati dan kembali menunjukan perhatian pada anda, mereka juga mengucapkan kata-kata penyemangat di situs web Gold Medical, mengirimkan surat beserta hadiah, saham Gold Medical juga mengalami kenaikan" Sean beralih duduk di sofa sambil memandang Ethan yang masih sibuk dengan bukunya.


"Sean, kau tahu aku sangat pendendam, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan" Ethan mengalihkan pandangannya dari buku ke Sean.

__ADS_1


Sean segera mengangguk pelan "tentu tuan, saya akan membuat orang-orang yang dulu berpaling dari anda beralih sujud di kaki anda dan memohon"


Ethan hanya mengangkat sebelah alisnya tanda bahwa ia puas dengan jawaban Sean dan kembali sibuk dengan bukunya.


Sean tersenyum, di tuangkannya teh dari teko ke dalam gelas keramik berukiran emas dan lalu meminumnya.


"Teh buatanmu memang yang terbaik" Sean mengangkat gelasnya dan tersenyum pada Christopher yang sedang mengupas apel di samping Ethan. Dan Christopher membalas senyuman Sean dengan acungan pisau. Sean terkekeh.


Sudah berkali-kali Ethan menyuruh Chris untuk pulang dan diam saja di rumah, tapi pria tua itu terlalu paranoid, dirinya khawatir akan terjadi sesuatu pada tuannya dan memilih untuk berada sedekat mungkin dengannya.


Ethan tiba-tiba menutup buku tebalnya dan menarik punggungnya untuk bisa duduk tegap. Tiba-tiba dirinya teringat akan sesuatu.


"Bagaimana keadaanya?" Ethan bergumam sangat pelan, tapi Chris yang berada sangat dekat dengannya bisa mendengar gumaman itu dengan jelas.


Christopher menghentikan kegiatannya mengupas apel dan memandang Ethan aneh.


Ethan menyadari tatapan penuh selidik Christopher. Pria tua itu punya insting yang tajam dan itu membuat Ethan tidak nyaman. Ethan menepuk-nepuk buku ke telapak tangannya, ia sedang berfikir untuk membicarakan tentang Chaerin kepada Christopher dan juga Sean, bagaimanapun mereka berdua adalah orang yang paling dekat dengannya, dan pantas untuk di mintai pendapat.


"Menurut kalian, bagaimana jika aku menikah?"


Ethan mengucapkannya ragu-ragu, dirinya mencoba untuk menebak-nebak bagaimana reaksi yang akan di tunjukan oleh keduanya.


Sebuah dentingan beruntun terdengar saat pisau yang terbuat dari stainles jatuh bertabrakan dengan lantai kramik rumah sakit. Christopher tidak sadar pisau itu terlepas dari tangannya, dan untungnya tidak mengenai kakinya.


Christopher ternganga untuk waktu yang lama, itu hal paling gila yang pernah di dengarnya selama 20 tahun ia bekerja pada Ethan, pria tua itu hanya tertunduk sambil menekan pelipisnya bertanda bahwa ia tidak suka dengan pernyataan dari tuannya itu.


Sedangkan Sean terlonjak saat cairan teh panas tumpah ke pangkuannya, menembus celana jeans biru muda penuh sobekan yang di pakainya. Sean menepuk-nepuk pahanya berusaha menghilangkan rasa panas yang seakan membakar kulit putihnya yang langsung berubah kemerahan.


"Saya rasa nona Shine bukan wanita yang tepat, dia.............." ucapan Sean terhenti, ia sedang mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan seorang Mona Shine.


"Saya tidak punya hak untuk ikut campur tuan, saya hanya akan ikut bahagia untuk anda" ucapan manis dari Christopher sangat berbanding terbalik dengan ekspresi wajah yang di tunjukannya.


Christopher pernah bertemu dengan Mona Shine sekali saat Ethan mengajak nona muda itu makan malam di rumah, dan bagi Christopher, Mona Shine bukan wanita yang cocok untuk tuannya. Sikapnya terlalu sombong, angkuh, manja, dan tidak berguna. Menurut Chris, Ethan harus memiliki pasangan yang kuat dan bernyali besar, sama seperti tuannya itu.


"Mulutmu mengatakan ya, tapi wajahmu menjelaskan hal lain padaku" Ethan menepuk bahu Chris dan membuat pria tua itu menatapnya. "Tenang saja, aku tidak akan menikahi Mona Shine, selain uang dia tidak punya kelebihan apapun"


Ethan mengibaskan tangannya, dan berbalik memandang Sean. "Kau harus berhenti terkejut secara berlebihan"


"Jadi dengan siapa Anda akan menikah? Ada wanita kaya lain yang sedang anda incar?"


Sean dan Christopher terdiam, menunggu dengan tenang jawaban apa yang akan di katakan oleh Ethan.


Ethan menarik napas panjang, lalu di hembuskannya perlahan. Ia sangat gugup, ia terlihat seperti seorang yang melakukan ujian SIM untuk pertama kali. Padahal ia hanya akan bicara pada kedua bawahannya.


"Chaerin"


Hanya satu kata dan itu sukses membuat Sean dan Christopher ternganga.


Bukan lagi secangkir teh yang tumpah, tapi satu teko teh beserta gelasnya jatuh terbanting ke lantai dan pecah berkeping-keping, setelah tanpa sengaja kaki panjang Sean menyenggolnya. Sean sangat terkejut sampai-sampai tanpa sadar ia berdiri menengadah keatas sambil menutupi matanya dengan tangan.


"Tuan anda serius?!"


Christopher memandang Sean bingung karena reaksi Sean yang sangat berlebihan, sepertinya wanita bernama Chaerin itu jauh lebih parah dari pada Mona Shine.


"Siapa itu Chaerin?"


Dengan wajah polos Christopher memandang Ethan, dan Ethan hanya tersenyum dengan wajahnya yang mulai memerah karena malu.

__ADS_1


__ADS_2