
Pria berperawakan tinggi dengan tubuh besar dan kulit agak gelap, menarik tangan Maple secara paksa.
Pria itu berusaha memasukan Maple ke dalam mobilnya, orang-orang di sekitar hanya menyaksikan kejadian itu tanpa melakukan apa-apa.
Kebanyakan dari mereka berfikir bahwa pria itu adalah orang tua Maple yang ingin membawa anaknya pulang, karena Maple bermain di dalam kolam dan walaupun kolam itu dangkal, tetap saja berbahaya untuk anak-anak, apalagi anak seusia Maple.
Pria itu bicara dengan lembut pada Maple dan tersenyum, membuat kesan ia adalah pria baik. Padahal Maple sudah meronta-ronta dan menangis kencang ingin di lepaskan, tapi orang di sekitar tidak peduli dan tidak ingin ikut campur.
Entah datang dari mana, Sean tiba-tiba melayangkan tinjuanya ke wajah pria itu, membuat pria itu terhuyung ke samping dan pegangannya pada Maple terlepas.
Maple segera berlari ke arah Sean, dan memeluk kaki Sean erat seperti yang biasa anak itu lakukan.
Sean menarik tangan Maple, melepaskan pelukan anak itu, dan melangkah maju ke arah pria yang memegangi pipinya kesakitan, rahangnya mungkin tergeser karena tinju Sean yang begitu keras.
Sean mencengkram leher pria itu, membuatnya kesulitan bernafas, tangannya bergerak ke sana kemari ingin menggapai Sean, tapi tidak cukup panjang.
Pria itu sebenarnya jauh lebih besar dari Sean, tapi entah kenapa kekuatannya tidak sebanding dengan tubuhnya yang besar.
Sean tersenyum sinis.
Pria itu menatap Sean ngeri, Sean seperti kerasukan, matanya menampakan kilatan berbahaya, raut wajahnya yang tenang dan juga senyumnya, menyiratkan bahwa ia benar-benar ingin membunuh, tanpa ada satu kesempatanpun untuk meminta ampun.
"Hanya aku, yang boleh jahat padanya!" Sean mengencangkan cengkramannya.
Pria di hadapannya sudah mulai lemas, tapi Sean tidak peduli.
"Uncle Sean" Mapel menarik ujung baju Sean, di tengah tangisannya.
Sean melepaskan cengkramannya pada pria itu, mendorongnya ke samping, sampai pria itu jatuh tersungkur ke tanah.
Orang-orang yang ada di sana langsung menyadari kesalahan mereka. Seorang anak akan menjadi korban penculikan tapi mereka tidak berbuat apapun.
Banyak dari mereka merasa bersalah, tapi tetap saja mereka tidak melakukan apapun. Padahal seharusnya mereka cepat menelpon polisi.
"Bawa dia, giling tubuhnya sampai hancur, sisakan organ dan bola matanya, untuk di sumbangkan, itupun jika organnya masih sehat" ucap Sean pelan, supaya tidak ada yang mendengarnya.
Perintah Sean langsung di laksanakan oleh dua orang berjas hitam yang sedari tadi berada di samping Maple untuk menjaganya.
Mereka membawa pria itu masuk ke dalam mobilnya sendiri dan menghilang di tengah padatnya lalu lintas kota.
Sean mengalihkan pandangannya pada Maple. Maple terlihat sangat ketakutan, ia memengagi pergelangan tangannya yang sakit, tubuhnya bergetar, dan tangisannya pun tidak juga reda.
Sean berjongkok mensejajarjan dirinya dengan Maple.
Maple segera memeluk Sean erat, mengalungkan tangannya ke leher Sean, dirinya merasa aman sekarang berada di dekat pria itu.
Sean mendorong tubuh Mapke supaya menjauh darinya, memegangi bahu anak itu dan meremasnya.
"Berhenti menangis, atau aku akan mencongkel matamu keluar, supaya kau tidak bisa lagi menangis seumur hidup" Sean melototi Maple, tapi anak itu sama sekali tidak merasa terancam.
Maple segera menghentikan tangisannya, dan hanya tersisa dengusan ingus, dan Maple melap hidungnya menggunakan ujung lengan bajunya.
Sean melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Maple karena anak itu terlihat kedinginan.
"Kau sangat kotor, aku menyuruhmu membersihkan dirimu tapi kau malah makin kotor" keluh Sean.
Sean berdiri dan melangkah menuju mobil di ikuti oleh Maple, yang berpegangan erat padanya.
Saat di dalam mobil, Maple sama sekali tidak ingin jauh dari Sean, ia memeluk lengan Sean erat. Dan saat Sean setengah tertidur, Maple naik ke pangkuan Sean bersandar pada dada pria itu.
"Menjauh dariku"Sean berucap pelan, ia sadar Maple tengah duduk di pangkuannya, tapi ia sedang tidak ingin bergerak untuk memindahkan anak itu. Saat mobil sedang melaju, entah kenapa ia selalu merasa mengantuk.
"Duduk kembali di tempatmu, atau kau akan aku lempar keluar jendela" Sean mengeluarkan ancaman, masih dengan matanya yang tertutup.
Dengan berat hati, Maple turun dari pangkuan Sean dan duduk kembali ke tempatnya, ia menatap Sean dengan wajah lagunya, lalu menunduk dan menangis tanpa suara.
Baru satu langkah saat Sean menginjakan kakinya ke dalam rumah.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sean.
__ADS_1
Ethan menarik Maple, lalu menggendongnya, dan menyerahkan Maple pada Chaerin.
Ethan merasa sangat marah saat melihat keadaan Maple, tubuhnya basah, lengan dan lututnya terluka, Maple menggigil kedinginan, dan ia menangis sesungukan.
"Apa yang kau lakukan padanya!"
Ethan menampar Sean sekali lagi, dan Sean itu hanya diam menerima kemarahan dari tuannya, tanpa menjelaskan apapun, atau memberi alasan.
"Anda sudah puas?" Sean mengangkat wajahnya.
Sean menatap Ethan nanar, terlihat genangan air mata di pelupuk matanya, dan wajahnya tidak terlihat dingin seperti biasa, lebih seperti seorang yang tengah menahan kesedihan.
Ethan yang berniat untuk memukul Sean lagi, menurunkan tangannya.
Ini pertama kali ia mendengar Sean menyela saat sedang di marahi, dan ini juga pertama kalinya ia melihat raut wajah Sean yang terlihat sedih. Walaupun dulu saat kecil Sean sering menangis, tapi ia tidak pernah nampak sedih.
"Aku memukulmu terlalu keras?" Ethan memelankan suaranya, ia jadi merasa bersalah pada Sean.
Ethan ingin meraih bahu Sean, tapi Sean segera menjauhkan dirinya dari Ethan.
"Kalau sudah puas, saya akan pergi"
Sean menunduk hormat pada Ethan, lalu berjalan melewati Ethan ke lantai dua menunju kamarnya.
Ethan di buat terkejut dengan sikap Sean yang tiba-tiba. Tapi di dalam hati, Ethan merasa sangat senang dan bangga dengan sikap Sean saat ini.
"Akhirnya, dia bisa mengeksperikan dirinya seperti orang-orang normal" Ethan tersenyum sangat cerah, ia merasa bangga pada dirinya sendiri karena telah berhasil mendidik Sean, ini salah satu pencapaian terbesarnya.
"Anda tidak seharusnya merasa senang, saat orang lain merasa sedih" Hongjung menatap Ethan kesal lalu berjalan mengikuti Sean.
Bukannya Hongjung tidak takut pada Ethan, tapi ia merasa Ethan sudah keterlaluan, kenapa ia sangat tidak pengertian, padahal Sean untuk pertama kali dalam 29 tahun hidupnya merasa sangat sedih.
Hongjung dengan telaten menggosok punggung Sean dengan handuk lembut yang sudah di lumuri sabun.
Sean tidak pernah bisa mandi sendiri. Sebelum Hongjung bekerja, Ethan dan Christopherlah yang bergantian memandikan Sean, walaupun kebanyakan di lakukan oleh Christopher.
Dan saat Hongjung mulai bekerja, semua tugas yang menyangkut Sean di serahkan kepada wanita tua itu.
Mulai dari memandikan Sean, memakaikannya baju, menata rambutnya, mengikat tali sepatunya, menyuapinya makan, bahkan membacakan buku cerita, atau bersenandung sebelum Sean tidur.
Hongjung selalu menjaga Sean siang dan malam.
Kamar Hongjung tepat berada di sebelah kamar Sean. Dan atas permintaan Sean, di buatlah pintu yang menghubungkan kamar mereka berdua. Sehingga Hongjung bisa lebih leluasa mengakses kamar Sean, jika pria itu memerlukan sesuatu.
Hongjung tidak hanya sebagai seorang pelayan bagi Sean, tapi juga orang tua, karena Hongjunglah yang paling banyak menghabiskan waktu dengannya.
"Angkat dagumu"
Beralih dari punggung ke leher, Hongjung menggosok leher Sean perlahan sampai ke pundak dan dadanya.
"Kau sudah besar sekarang, bahumu sangat lebar, dulu kau sangat kecil sampai bisa ku masukanmu kedalam tas belanjaan" Hongjung tertawa sambil menepuk-meluk bahu Sean.
Sean hanya diam, menatap riak air di bathtub karena tetesan air dari rambutnya.
"Kau sudah makan malam?"
Sean hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Hongjung.
"Bagaimana kalau setelah mandi kita makan kue coklat, ayo kita makan diam-diam supaya tidak ketahuan tuan Christopher" ucap Hongjung bersemangat, mencoba membuat Sean tertarik.
"Apa tuan Ethan sudah makan?" Sean mengalihkan pembicaraan, tanpa menanggapi ucapan Hongjung sebelumnya.
Sean mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Hongjung.
"Ya, tuan Ethan sudah makan bersama dengan nona Clara"
Jawaban Hongjung membuat Sean kembali menunduk.
"Tuan Ethan tidak lagi menungguku untuk makan malam" gumam Sean pelan.
__ADS_1
Hongjung mengelus kepala Sean lembut.
"Hanya malam ini, tuan Ethan biasanya selalu menunggumu untuk makan malam, jangan khawatir" Hongjung berusaha menenangkan Sean.
"Hongjung, jika kau menikah dan punya anak, apa kau akan meninggalkanku?" Sean menatap Hongjung nanar.
Hongjung menahan air matanya supaya tidak jatuh saat melihat wajah Sean, wanita tua itu sebelumnya tidak pernah melihat Sean sesedih ini.
Biasanya Sean akan menampakan wajah datarnya atau sesekali ia akan tersenyum saat melakukan hal yang ia sukai.
Sean yang sedih membuatnya sangat terluka.
"Mana mungkin aku menikah, diusiaku yang sudah sepantasnya mati ini" Hongjung menyapu setetes air mata di pipinya dan tertawa.
"Kalau begitu, menikah saja denganku" ucap Sean polos.
"Astaga, aku sedang di lamar oleh pria muda" Hongjung sekali lagi tertawa.
Di peluknya Sean dengan erat, sambil mengelus-elus rambut pria itu.
"Kau boleh menempel padaku selamanya, aku senang bisa bersamamu setiap saat, aku sangat bersyukur bisa menghabiskan waktuku denganmu, melihatmu tumbuh sampai sebesar ini" Hongjung tidak bisa menahan air matanya, pelukannya pada Sean semakin erat, dan Sean pun ikut manangis.
*
Hongjung memakaikan piyama onesie berbentuk dinosaurus pada Sean. Sean punya banyak sekali piyama onesie berbentuk binatang, tapi pria itu sangat suka yang berbentuk dinosaurus.
Sean sudah selesai menyikat gigi dan bersiap untuk tidur, saat tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.
Tanpa di persilakan, Ethan masuk ke dalam kamar, ia melihat Sean sedang berdiri di depan cermin sambil melihat matanya yang agak bengkak.
"Bisa kau keluar" Ethan menatap Hongjung yang sedang merapikan tempat tidur.
Wanita tua itu langsung paham dan keluar dari kamar, berdiri di depan pintu, menunggu Ethan keluar dengan sabar.
"Kau sudah mau tidur?" Ethan memulai pembicaraan dengan agak sedikit canggung.
"Iya, anda perlu sesuatu tuan?" Sean berbalik dan menatap Ethan, wajahnya terlihat dingin seperti biasa, tidak ada lagi raut wajah sedih seperti sebelumnya.
"Tidak, aku hanya khawatir, pukulanku mungkin terlalu keras dan membuatmu sakit" Ethan ingin menyentuh pipi Sean, tapi Sean segera menghindar.
"Tidak sakit sama sekali" ucap Sean singkat.
"Emm ya, syukurlah kalau tidak sakit. Kau ingin tidur kan? Aku akan membacakanmu buku cerita"
Ethan berjalan menuju rak buku di sisi kanan kamar dan memilih-milih buku untuk di bacakannya. Dulu Ethan sering membacakan buku cerita untuk Sean sebelum tidur, tapi sejak Sean berumur 15, Ethan berhenti melakukannya, ia berfikir bahwa Sean sudah cukup dewasa untuk tidur tanpanya.
"Tidak perlu memaksakan diri, anda pasti sangat sibuk, anda harus menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan nona Chae dan juga Maple, karena kalian tidak bertemu cukup lama"
Ucapan sarkastis dari Sean membuat Ethan berhenti memilih buku dan berbalik menatap Sean dengan heran.
"Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya, kau selalu senang jika menghabiskan waktu denganku"
Ethan membuang nafasnya kasar, ia tidak mengerti dengan tingkah Sean saat ini yang sangat bertolak belakang dengan dirinya yang biasanya.
"Aku sangat senang saat melihat kau sudah bisa mengeksperikan emosimu, tapi aku tidak ingin melihatmu seperti ini. Apa aku berbuat sesuatu yang membuatmu marah?"
"Saya sama sekali tidak marah, saya hanya ingin menjadi lebih pengertian. Jika saya bersikap baik pada nona Chae dan juga Maple, anda tidak akan mengusir saya dari rumah ini, dan saya masih bisa melihat anda setiap saat" ucap Sean polos dengan wajah datarnya.
Mendengar ucapan Sean, hati Ethan merasa sakit, ia tidak menyangka bahwa Sean akan sangat sensitif seperti ini.
"Kau tersinggung dengan ucapanku di telpon? Kau tahu aku tidak serius, aku hanya sedikit khawatir pada Maple" Ethan berjalan mendekati Sean dan berhenti tepat di depan pria itu.
Ethan memijat-mijat kepalanya, ia sedang berfikir bagaimana caranya menjelaskan pada Sean, bahwa ucapannya di telpon itu hanya sekedar ancaman kosong.
Ethan memang merasa sangat marah saat melihat keadaan Maple saat pulang. Ethan memukul Sean hanya untuk memberi pria itu pelajaran supaya lain kali ia bisa menjaga Maple dengan lebih baik, karena Ethan yakin, Sean tidak sejahat itu dan sengaja membuat Maple terluka.
"Saya tahu anda lebih mencintai Maple" ucap Sean, masih dengan wajah datarnya.
"Aku juga mencintaimu, kau ingat, aku memberimu nama Sean karena kau adalah hadiah dari tuhan untukku yang paling berharga. Jadi jangan menganggap ucapan konyolku itu terlalu serius, kamu mengerti" Ethan memegang bahu Sean, mencoba meyakinkan pria itu.
Ethan merasa salah sudah mengatakan hal yang kejam pada Sean, padahal ia tahu bahwa Sean sangat terobsesi padanya, dan ucapannya itu bisa membuat Sean sakit hati.
"Jika saya memang begitu berharga, kenapa saya di beri nama Sean Miler, seperti Christopher. Bukannya Sean Zie, sepertimu?"
Ethan terdiam, pegangannya pada bahu Sean terlepas. Ia tidak pernah berfikir bahwa Sean akan menanyakan hal itu padanya.
Pada awalnya Ethan merasa kasihan pada Sean, karena itulah ia menolong Sean dan membawanya ke rumah sakit, Ethan berencana meninggalkan Sean setelah itu.
Saat itu, hidupnya sudah cukup sulit, sangat mmustahil baginya untuk merawat seorang anak, apalagi anak itu menderita cacat mental.
Ethan berkali-kali meninggalkan Sean di perpustakaan kota, ataupun di pinggir jalan. Tapi hati nuraninya membuatnya kembali menjemput Sean, sampai akhirnya ia menyerah.
Christopher menawarkan diri untuk mengadopsi Sean di bawah namanya, dan Sean akhirnya punya identitas, masuk ke sekolah dan hidup seperti anak lainnya.
Ethan tidak mungkin mengatakan itu semua pada Sean. Sudah bisa di pastikan, Sean akan merasa lebih sedih dari sebelumnya dan ia juga pasti akan kecewa.
"Saya sangat lelah, saya ingin beristirahat" Sean tersenyum, senyuman yang membuat perasaan Ethan semakin tidak nyaman.
__ADS_1